Corniche of Tears

“Its so hard to let it go, when you meant the world to me.” ~miamou


Corniche of Tears


You never really back home. You never been go out. You still here, laying your body for the last time, at place where nobody know your name

You may not know why,

You may not know how,

Much easier to act strong then to act weak for you. You could fight the fear but you couldn’t handle a single tear. Because your body needs to float all over the pain and needs to start it all over again, until you hear those strangers inside you sounds like they singing about “Home”.

Is not a sin if you just want to witnesses her again.

I thought I see your tears,

I thought I hear your fears,

Remember what I say;

“The home was not exist, once you step outside. Is not there anymore.”

She sat down and wept, right at edge of the Corniche. Put our eyes straight through eyes right to the deepest side of our heart. We know how fast this flower will blossom and die right after for just a moment. Quite close to what we needs, and far away from where the sea and city meets.

There was only two big question ‘we’ (Human) wants to understand from the Universe;

“When should we start and when should we stop?

Her glisten eyes strive to reflect those city lights from the place where we stand. I saw the lights melting on her tear drops, flow to the tops, they flew and tend to resist the gravity, they floating away above our world. They comes back as a storm, strike between her eyes, and she began again to cry.

You can make a different, and tell a different story. Your heart, can safe my world.

“Those city lights, will light up her street, down where the sea and city meets. May all your suffer soon be gone.


“Those reflected lights from her eyes, they will light up your street, maybe one day they will bring her back to you.”


Plot on this post was  inspired by my selection of related songs: Tribute to Ramelia – Ram, Christmas Lights – Coldplay, One Heart – Ana Criado. And some Books: Theres No New York Today(tidak ada new york hair ini) – Unknown, The Zahir – Paulo Coelho, Plot Of Love – Mia (lost and found author), By The River Piedra I Sat Down And Wept – Paulo Coelho.

Each part and paragraph of this story was indirectly talking to me at one of my random sleepless night. It will tells you how love can somehow transform into everything, way far beyond imagination. Those songs and books i assume as the tools, my memories will reincarnate into “whisper” that express word by word and place to place. This story will brings past to every moment in future, the pills are actually good, and this simple plot will somehow, Remain.


Love “in order to understand, i destroyed myself.” ~F. Pessoa, 1762 (Mt. Lourdes- France).


Passed years seem safe ones, vanquished ones, while the future lives in a cloud, formidable from a distance. ~mia

“If they don’t lost existence, and if they can beat the distance. Believe me, love is not about win or loose. Its really not a game to play.” ~mia



I was here for a moment, then she was gone.

When you don’t believe your own eyes anymore, and hardly can’t remember your name.

Then silhouettes holds the past along with moments.

Suddenly they appear almost everywhere.

They’re behind your eyes.


When they loose existence, they will lost in distance.

“I have learned that if you must leave a place that you have lived in and loved and where all your yesteryears are buried deep, leave it any way except a slow way, leave it the fastest way you can. Never turn back and never believe that an hour you remember is a better hour because it is dead. Passed years seem safe ones, vanquished ones, while the future lives in a cloud, formidable from a distance.” ~mia

The Love Deserve

You deserve a love that takes away the lies and brings you illusion, coffee, and poetry. ~miamou


You deserve a love that wants you disheveled, with everything  and ask the reasons that wake you up in a haste, with everything and demons that won’t let you sleep.

You deserve a love that makes you feel secure, able to take the world when it walks beside you; that feel your embrace are perfect for its skin.

You deserve a love that wants to dance with you at beginning until end of party, that goes paradise every time it looks into your eyes and never gets tired of studying your expressions.

You deserve a love that still love you when your legs turn into root, your finger into twigs and your hair into leafage.

You deserve a love that listens when you sing, that support you when you act like a fool, that respect your freedom; that accompanies you when you fly and isn’t afraid to fall.

You deserve a love that takes away the lies and brings you illusion, coffee, and poetry.

dedicated to the love that ends my journey


Blue Dreaming

Blue Dreaming: “its one of many stuff that i actually really like it, it was always uplift my morning as soon as I’m awake. I don’t know what it is exactly, but i know it was happy feeling. Overall. Eventually. Its good at the end.” ~miamou



You are the shadow to my night ~ did you feel us?
Another star falls then you fade away
Afraid our aim is out of sight, when we are blindfolded
Wish to see us, alight.

“This dream.”

“Was it all only was my fantasy?”

“Or you only imaginary?”

“Where are you now?”


“Under the sea, another dream?”

Another dreams,
one of creepy faces at random bar starring at me, speaks other language, and they’re talking it to me.

“These shallow blue waters never met what I needed”

“I’m letting go a deeper dive, and come up in milky way galaxy”

“Eternal silence of the sea. I guess so, its Atlantis.”

All that i care to remember, everything was only blue.

Even in this words. Even its just a dream.

Blue Dreaming: “its one of many thought that i actually really like it, it was always uplift my morning as soon as I’m awake. I don’t know what it is exactly, but i know it wasn’t the answer.  Its good at the end. Eventually. “



“Let me give back your sanity, so you can leave all the lunacy behind. Let me remind the promise that we thought we’ll never look behind.” ~miamou

Tonight, I’m waiting in line to get to where you are, float on every sleepless night just to find what truly lasts.


Pieces of my life try to recognize my past tonight.

Tonight, I’m closing down to this fairytale.

And I put all my heart to collect what was mine, and finally find you.

Maybe tonight it’s time to fall in love with you.

And if you stay, I will say;

Let me give back your sanity, so you can leave all the lunacy behind. Let me remind the promise that we thought we’ll never look behind, twahachteck.” ~miamou

The Adventure Fireflies on Every Last Zip of Beers

”Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.” ~miamou

Di kafe pinggir pantai itu, ia meneguk kenangan. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi, benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima tanpa akhir. Itulah yang menggelisahkannya, karena ia tahu segalanya tak pernah lagi sama. Segalanya tak lagi sama, seperti ketika ia menciumnya pertama kali dulu.


scott_450Dulu, ketika dia masih suka mengenakan dress backless, agar tattoo di punggungnya akan merekah indah. Saat senyumnya masih seranum buah mangga mudah. Dengan rambut dikepang ke samping hingga di atas buah dadah. Saat itu ia yakin: ia tak mungkin bisa bahagia tanpa dia. ”Aku akan selalu cinta, sayang….” Kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan di tengah dentuman lagu Trance itu. I still miss you….

Tapi mengapa bukan sendu lagu itu yang ia katakan dulu? Ketika segala kemungkinan masih berpintu? Mestinya saat itu ia tidak berlagak membiarkan dia pergi, karena saat itu ia berada di suatu jalan yang tidak ada jalan kembali, atau ia akan melawan arah dan mati karena bertabrakan dengan masa lalu. Mestinya jangan biarkan dia bergegas meninggalkan kafe ini dengan kejengkelan yang akhirnya benar-benar membuatnya tak pernah kembali.

Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaannya. Kenangannya. Itulah yang membuatnya selalu kembali ke kafe ini. Kafe yang seungguhnya telah banyak berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi, segalanya masih terasa sama dalam kenangannya. Ya, selalu ke kafe ini ia kembali, kembali bertarung dengan kenangan. Untuk gelas bir ketiga yang bisa menjadi keempat dan kelima. Seperti malam-malam kemarin, barangkali gelas bir ini pun hanya akan menjadi gelas bir yang sia-sia jika yang ditunggu tidak juga tiba.

”Besok kita ketemu, di kafe kita dulu?”

Ia tak percaya bahwa dia akhirnya meneleponnya.

”Kok diam….”


”Bisa kita ketemu?”


”Tunggu aku,” dia terdengar berharap. ”Meski aku tak yakin bisa menemuimu.”

Tiba-tiba saja ia berharap kali ini takdir sedikit berbaik hati padanya: semoga saja kekasihnya tiba-tiba mati overdosis dengan obat-obatan yang biasa kita pernah konsumsi bersama sambil bercinta, hingga perempuan yang masih dicintainya itu tak merasa cemas menemuinya.

Menemui? Apakah arti kata ini? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi untuk apa? Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari ciuman-ciuman masa lalu itu? Masa yang harusnya mereka jangkau dulu. Dulu, ketika ia masih berbaring bersama di pantai berkarang itu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut yang saat itu digerai hingga di atas dada, dan pasir berantakan di badanya. Ketika ia yakin, ia tak mungkin bahagia tanpa dirinya, bukan karena sebotol wine, bukan karena happy five, atau tarian mabuk diatas tubuhnya di tempat tidur malam sebelumnya.

Ah, ia jadi teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara ciuman-ciuman yang terasa gemetar dan diam-diam mengerang.

”Aku selalu membayangkan, bila nanti kita mati, kita akan menjelma menjadi sepasang kunang-kunang.”

Dia tersenyum, kemudian mencium pelan. ”Tapi aku tak mau mati dulu.”

”Kalau begitu, biar aku yang mati dulu. Dan aku akan menjadi kunang-kunang, yang setiap malam mendatangi kamarmu….”

”Hahaha,” dia tertawa renyah. ”Lalu apa yang akan kamu lakukan bila telah menjadi kunang-kunang?”

”Aku akan hinggap di dadamu, tepat di ujung putingmu, dan menyala seterang-terangnya.”

Dada yang membusung. Dada yang kini pasti makin membusung karena makin bertumbuh dimakan umurnya. Pun dada yang masih ia rindu. Dada yang sarat kenangan. Dada yang akan terlihat mengilap ketika seekor kunang-kunang hinggap di atasnya.

”Kunang-kunang…mau ke mana? Ke tempatku, hinggap dahulu….” Ucapnya, menggoda.

Ia bersenandung sambil membuka satu per satu kancing dress backlessnya. Dia yang hanya memejam. Ia seperti melihat seekor kunang-kunang yang perlahan keluar dari kelopak matanya yang terpejam. Seperti ada kunang-kunang di keningnya. Di pipinya. Di hidungnya. Di bibirnya. Di mana-mana. Kamar penuh kunang- kunang beterbangan. Tapi tak ada satu pun kunang-kunang hinggap di dadanya pualam. Dada itu seperti menunggu kunang-kunang jantan.

Ia selalu membayangkan itu. Sampai kini pun masih terus membayangkannya. Itulah yang membuatnya masih betah menunggu meski gelas bir ketiga sudah tandas. Selalu terasa menyenangkan membayangkan dia tiba-tiba muncul di pintu kafe, membuat ia selalu betah menunggu meski penyanyi itu telah terdengar membosankan menyanyikan lagu-lagu yang ia pesan.

Ia hendak melambai pada pelayan kafe, ingin kembali memesan segelas bir, ketika dilihatnya seekor kunang-kunang terbang melayang memasuki kafe. Kemudian kunang-kunang itu beterbangan di sekitar panggung. Di sekitar kafe yang ingar bingar namun terasa murung. Murung menapak geliat lidah pada tiap jeda tubuhnya. Murung mengharap tiap geliat di liat tubuhnya mengada. Lagi. Di sini. Menjadi nanti.

Adakah kunang-kunang itu pertanda? Adakah kunang-kunang itu hanya belaka imajinasinya? Penyanyi terus menyanyi dengan suara yang bagai muncul dari kehampaan. Dan kafe yang ingar ini makin terasa murung. Tiba-tiba ia menyaksikan ribuan kunang-kunang muncul dari balik keremangan, beterbangan memenuhi panggung. Hingga panggung menjadi gemerlapan oleh pendar cahaya kunang-kunang yang berkilau kekuningan.

Gelas birnya sudah tidak berbusa. Hanya kuning yang diam. Tidak seperti kunang-kunang beterbangan gemerlapan berpendar kekuningan. Kuning di gelas birnya mati. Sementara kuning di luar birnya gemerlapan. Hidup. Ia jadi teringat pada percakapan mereka dulu. Dua hari sebelum dia memilih hidupnya sendiri. Percakapan tentang bir dan kunang-kunang.

”Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.”


”Karena di dalam matamu seperti hidup ribuan kuang-kunang. Aku selalu membayangkan ribuan kunang-kunang itu berhamburan keluar dari matamu setiap kau merindukanku.”

”Tapi aku tak pernah merindukanmu.” Dia tersenyum.

”Kamu bohong, kenapa harus berbohong hanya untuk jawaban yang sesimple itu?….”

”Aku tak pernah membohongimu. Kamu yang selalu membohongiku.”

Ia memandang nanar. Seolah tidak yakin apa yang ia dengar salah atau benar. Bohong baginya adalah dusta yang direncanakan. Sementara apa yang ia lakukan dulu adalah pilihan. Dan pilihan hanyalah satu logika yang terpaksa harus diseragamkan. Oleh banyak orang. Olehnya….

”Tidak. Aku tidak bohong.”

”Semakin kau bilang kalau kau tidak bohong, semakin aku tahu kalau kamu berbohong.”

Ia tak menjawab. Tapi bergegas menciumnya. Dengan rakus dan gugup. Begitulah selalu, bila ia merasa bersalah karena telah membohonginya. Seolah ciuman bisa menyembunyikan kebohongannya. Tapi ia tak bohong kalau ia bilang mencintainya. Ia hanya selalu merasa gugup setiap kali nada suaranya terdengar mulai mendesaknya. Karena ia tahu, pada akhirnya, setelah percakapan dan ciuman, dia pasti akan bertanya: ”Apakah kau akan menikahiku?”

Ia menyukai ciuman. Tapi, sungguh, ia tak pernah yakin apakah ia menyukai pernikahan. Kemudian ia berteka-teki: ”Apa persamaan bir dengan kunang-kunang?” Dia menggeleng.

Keduanya akan selalu mengingatkanku padamu. Bila kau mati dan menjelma jadi kunang-kunang, aku akan menyimpanmu dalam botol bir. Kau akan terlihat kuning kehijauan. Tapi kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa meminta segelas bir, tetapi kita tak pernah bisa meminta takdir.

Seperti ia tak pernah meminta perpisahan yang getir.

”Aku mencintaimu, tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu….”

Hidup pada akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti kematian. Semua akan mati karena itulah hukuman yang sejak lahir sudah manusia emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar ataupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang?

Pada saat ia tahu, bahwa pada akhirnya perempuan yang paling ia cintai itu benar-benar menikah—bukan dengan dirinya—pada saat itulah ia menyadari ia tak menang, dan perlahan-lahan berubah menjadi kunang-kunang. Kunang-kunang yang mengembara dari kesepian ke kesepian. Kunang-kunang yang setiap malam berkitaran di kaca jendela kamar tidurnya. Pada saat itulah ia berharap, dia tergeragap bangun, memandang ke arah jendela, dan mendapati seekor kunang-kunang yang bersikeras menerobos kaca jendela. Dia pasti tahu, betapa kunang-kunang itu ingin hinggap di dadanya. Sementara suaminya tertidur pulas dan puas di sampingnya.

”Aku memilih menikah dengannya, karena aku tahu, hidup akan menjadi lebih mudah dan gampang ketimbang aku menikah denganmu.”

Itulah yang diucapkannya dulu, di kafe ini, saat mereka terakhir bertemu.

”Jangan hubungi aku!”

Lalu dia menciumnya. Lama. Bagi ia, ciuman itu seperti harum bir yang pernah terhapus dari mulutnya.

Barangkali, segalanya akan menjadi mudah bila saat itu diakhiri dengan pertengkaran seperti kisah dalam sinetron murahan. Misal: dia menamparnya sebelum pergi. Memaki-maki, ”Kamu memang laki-laki bajingan!” Atau kata-kata sejenis yang penuh kemarahan. Bukan sebuah ciuman yang tak mungkin ia lupakan.

Dan kini, seperti malam-malam kemarin, ia ada di kafe kenangan ini. Kafe yang harum pantainya telah kalah oleh sebotol bir. Kafe yang mengantarkannya pada sebuah ciuman panjang di bibir. Kafe yang selalu membuatnya meneguk kenangan dan kunang-kunang dalam bir. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima?

Ini gelas bir keenam!

Dan ia masih menunggu. Ia melirik ke arah penyanyi itu, yang masih saja menyanyi dengan suara sendu. Ia melihat pelayan itu sudah setengah mengantuk. Tinggal ia seorang di kafe. Barangkali, bila ia bukan pelanggan yang setiap malam berkunjung, pasti pelayan itu sudah mengusirnya dengan halus. Sudah malam, sudah tak ada lagi waktu buat meneguk kenangan.

Pada gelas kedelapan, akhirnya ia bangkit, lalu memanggil pelayan dan membayar harga delapan gelas kenangan yang sudah direguknya habis. Ya, malam pun hampir habis. Sudah tak ada waktu lagi buat kenangan. Sudah tidak ada kenangan dalam gelas bir kedelapan. Setiap kenangan, pada akhirnya punya akhir bukan? Inilah terakhir kali aku ke kafe ini, batinnya. Besok aku tak akan kembali. Kemudian ia beranjak pergi.


Malam makin mengendap. Tamu terakhir sudah pergi. Diam dan setengah mengantuk, para pelayan kafe membereskan kursi. Bartender merapikan gelas-gelas yang bergelantungan. Sebentar lagi penjaga malam akan menutup pintu.

Pada saat itulah, terlihat seekor kunang-kunang memasuki kafe. Kunang-kunang itu terbang melayang berputaran, sebelum akhirnya hinggap di gelas bir yang telah kosong. Bir terakhirnya.


Ia yang keluar dari pintu kafe dalam keaadan sedikit mabuk, perlahan mengeluarkan cahaya yang berpendar dalam keremangan lampu jalan, ia adalah kunang-kunang yang bertualang dalam setiap kesunyian malam.

Mencari cinta masa lalunya, cintanya. Di dalam setiap botol-botol beer.


Ayin Ha Ra

Namun, sebenarnya, hati saya selalu gaduh. Ketika di tindih tubuhnya saya mengaduh. Karena setelahnya dia akan mengeluh. Bertanya, ke manakah hubungan ini akan berlabuh?.~miamou

Kalimat ini letaknya agak ke kiri, di antara lipatan udara beragam, gelas champagne, dan daftar menu dengan logo pencari lubang tertempel pada “cover”-nya. Kudapan memenuhi meja makan, seperti kudapan lain yang memenuhi di balik seragam Ayra.

Beberapa kalimat agak berantakan, ketika aku mencoba menatap Ayra, nama panggilan yang lebih singkat dari Ayin Ha Ra. Hewan kecil itu terkadang bermain di antara rambut Ayra yang terurai panjang, seperti mengukur jarak antara kesunyian dan pikiran-pikirannya. Cukup rumit.
Beberapa tamu yang datang untuk bermain golf di Elite Golf Club ini, tempat paling innocent untuk segerombol pendosa paling banyak gaya, di dalam ruangan VVVVVIP ini yang namanya sering disebut sebagai Black Widow, karena beberapa karyawati yang bekerja di tempat itu rata-rata korban dari ketamakan diri sendiri akan orgasme, dan akhirnya ditinggalkan oleh si penebar benih untuk menjadi janda di umur muda. Beberapa tamu VVVVVIP tersebut tampak seperti makhluk bodoh, mereka sibuk dengan telepon genggam masing-masing di tempat yang seharusnya lebih baik untuk menghindar dari segala jenis elektronik tai.
Ayra akan menemani mereka untuk menyelam di beberapa titik pembicaraan politik paling kotor yang tidak pernah masuk walau dalam selembar media paling kredibel sekalipun (pengaturan trayek premanisme di kota itu, berjudi hampir seperti yang biasa mereka lakukan di negara Macau sambil mengatur pembagian bisnis kotor lainnya) yang hampir tidak bisa di cerna Ayra yang sedang menuangkan air San Palegrino ke gelas salah satu tamu gendut ber-uang yang jaman sekarang sering di sebut “Gadun”.
Dia tampak gelisah, seperti akan menemani seonggok daging yang masing-masing sibuk bersilat jari dengan touch screen di telepon genggamnya. Tapi paling tidak, sehabis kerja nanti, Ayra akan meringankan beban-beban di rumah seperti susu untuk anak, listrik, internet, indovision, rokok untuk adik laki-lakinya yang malas berkerja, kakeknya yang pensiunan tanpa dana pensiun, dan kebutuhan-kebutuhan rumit lainnya.
Sepulang kerja, Ayra tidak selalu pulang kerumah. Dia melarikan diri dari kerumitan kebutuhan di dalam rumahnya, dan menyapa pelukan tepat setelah membuka pintu kamarku. Masih menggendong tas kulit coklat yang entah di salah satu kantung tas itu terdapat beberapa kartu nama tamu VVVVVIP di tempat dia bekerja. Larut setelah itu, Ayra berbaring sexy agak kesammping memberi jalan untuk cairan yang akan mengalir dalam tubuhnya saat itu. Saya hanya manusia yang berhasrat tanpa uang yang haus akan cinta dan kepuasan mengerang, apapun bentuk dan caranya walau harus berperang. Aku telah rela menjadi binatang yang di kandangi dalam kerumitan di dalam kepala Ayra itu.
Saya tidak pernah bisa meihat matanya terlalu lama, atau dada ini akan meleleh seperti chocolate fondue yang mengalir ke bagian bawah tubuh saya dan stroberi di bagian tubuh lain menjadi ranum dan sangat matang.

Waktu menunjuk pukul sembilan. Di sudut kafe ketiak saya berpeluh. Namun tak bisa mengeluh. Kecuali pada ponsel yang suaranya tak juga melenguh.

Dua belas jam yang lalu ada yang mengaku akan datang. Yang saya harapkan selalu di kafe itu senyumnya manisnya akan mengembang. Ketika melihat saya. Karena berdekatan dengan pujaan hati, katanya. Biasanya kami akan menghabiskan waktu dengan percakapan. Saling bertatapan. Saling bertukar harapan. Harapan untuk bisa merapat dan berdekapan. Di suatu tempat yang jauh dari kegaduhan.

Namun, sebenarnya, hati saya selalu gaduh. Ketika di tindih tubuhnya saya mengaduh. Karena setelahnya  dia akan mengeluh. Bertanya, ke manakah hubungan ini akan berlabuh?

”Kenapa perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang memabukkan.”


Kupu-kupu melebarkan sayapnya tepat di depan bebungaan di mana kami duduk. Ia pun melebarkan jangkauan tangannya di mana tangan saya sedang diam merunduk. Mencoba meredam tawa saya yang sudah terdengar seperti orang mabuk. Tenang gerakannya sangat saya tahu sebenarnya memendam rasa amuk akan segala pertanyaan rumit yang saya tunda jawabanya. Sejujurnya saya tidak pernah berencana untuk menhabiskan hidup di temani dengan rasa was-was akan pekerjaan yang mungkin akan menjatuhkan saya lagi, seperti yang sudah – sudah. Karena itu segera saya kibaskan tangan itu berpura-pura menghalau nyamuk.


Saya memotong kalimatnya. Persis seperti apa yang dilakukan badut-badut ketika berada di atas arena. Berteriak ketika ada yang mengolok-oloknya. Terjatuh. Mengaduh. Berlari. Tanpa berani memaki. Menghilang ke balik panggung. Disertai dengan sorak-sorai dan tawa menggunung.

Sorak-sorai itu yang mengingatkan saya atas kutipan-kutipan yang dituliskan di beberapa buku pemikir. Membuat saya mencibir. Karena ada letupan kembang api di kepalanya. Dan warna-warni serpihan kembang api itu jatuh ke bahunya, meleleh ke dada dan memerah di ujung putingnya. Ia tidak pernah mengetahuinya. Maka, ia tak merasakannya. Ketika serpihan kembang api itu melumatnya. Bahkan ketika saya berkata,

”Kenapa perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang memabukkan.”

Tapi di manakah sekarang ia, setelah hanya itu jawaban yang saya punya?


Terkejut saya ketika bahu ditepuk seseorang perempuan.

”Boleh saya ambil bangku yang tak terpakai?”


Saya tidak bisa menentukan. Saya sudah menunggu dua jam dengan perut kram akibat pil anti depresi yang dosisnya sedikit saya tingkatkan belakangan ini, atau mungkin karena Irish Coffee yang sudah gelas ketiga. Namun ia tak juga datang. Tapi apakah saya harus menyerahkan bangku kosong di sebelah saya ke seseorang? Seseorang yang membutuhkan bangku tambahan di mejanya karena ia bersama banyak teman tak terkecuali perempuan?

”Boleh saya pakai bangkunya, Mas?”

Saya menatapnya.

”Maaf, masih ada yang saya tunggu.”


~~~ ~~~

Real love is the love that sometimes arises after sensual pleasure; if it does, it is immortal, makes you wait even you know he/she will never show up; the other kind of inevitably goes stale, for it lies in mere fantasy.” ~Mia (Moussa Isaac Askey)