maybeshewill


If things are going good, enjoy them while they are here. If things are going bad, don’t worry it won’t last forever.

~~~

Sebelum aku mulai bercerita, sebelum aku mulai mengungkit-ungkit cerita nyata, aku mau menggambarkan suasana kepalaku beberapa minggu terakhir; terus beradaptasi pada suasana baru, terus membuat suatu standar, terus menemukan arti di balik cerita dan terus melamun pada satu senyuman.

Malam itu langit mendung dengan peluang air mata rintik-rintik. Head set melantun lagu-lagu sedih, pipiku kaku kedinginan di tempat yang pernah kita sebut “kamar kita”. Tempat yang baru aku sadari seperti neraka yang bisa kusebut rumah. Dari jendela  kamar aku bisa melihat masa depan kita menuju ke arah yang sama namun tersendat di banyak tempat. Berbicara dalam hati “We can work it out” harus, karena kalau tidak aku bisa terlunta-lunta seperti sampah di pinggir pantai. Kita memaksakan diri ingin segera menuju what’s next selanjutnya. Dan akhirnya aku bisa bangga pada diriku bahwa “kita”, ternyata sudah berlalu.

“Kamu masih punya mimpi besar untuk jadi orang” katanya.

Orang? Siapa? Kenapa dia bisa berlagak bijaksana disaat seperti ini, kadang kesuksesan berbanding lurus dengan frekuensi jalan-jalan ke luar negeri. Di satu titik aku merasa cukup menjalani yang sudah aku punya saja. Di titik ini kadang kita bisa sangat sinis dan sensitif, titik dimana pasangan harus segera sadar bahwa hubungan mulai tidak sehat. Tapi kadang juga manusia malah menikmati sesuatu yang tidak sehat, bahkan sampai kecanduan.

Kembali tentang satu senyuman.

Senyuman yang aku tangkap dengan jaring kupu-kupu beberapa minggu terakhir, senyuman yang melayang-layang di langit cerah, senyuman yang tidak pernah letih bermain-main di kepalaku, membuat suasana indah seperti nyata, karena sebelumnya suasana indah hanya buah-buah khayalan buatku.

The world always looks brighter from behind her smile.

Senyumnya membuatku sadar, bahwa sesuatu yang buruk akan segera berakhir, dan karena senyumnya adalah baik, aku mau menikmatinya setiap hari.

Will she still smile for me in the morning?

~~~

The Art of Moving On


If you are brave to say “Good bye”, life will reward you with a new “Hello”

Aku mau bermain-main dalam kepalaku sebentar, mengingat sedikit dari beberapa pegalaman, dan masuk kedalam fase yang manusiawi, fase dimana saat harus meninggalkan sesuatu yang berharga_sesuatu yang hampir tidak bisa ditinggalkan. Pada awalnya aku menjadi manusia bingung, terus mencari apa yang salah dari diriku, apa yang terlewat yang aku tidak perhatikan, dan akhirnya aku mau belajar untuk melupakan untuk meneruskan hidup.

Umumnya orang baru sadar betapa berharganya hal yang dia miliki, justru ketika hal itu sudah hilang dari kehidupannya. Aku percaya bahwa, kamu (pembaca) pernah masuk dalam fase kehilangan dan pencarian, itu sebabnya sangat penting untuk membiarkan hal-hal tertentu berlalu.

Lepaskan saja. Biarkan. Orang perlu mengerti bahwa hidup ini tidak pasti; kadang kita menang, kadang kita kalah. Jangan harapkan imbalan, jangan harapkan pujian atas usahamu, jangan harapkan kejeniusanmu dikenal orang atau cintamu dimengerti. Tutup lingkarannya. Bukan karena gengsi, ketidakmampuanmu, atau arogansi, tapi karena apapun hal itu sudah tidak sesuai lagi dengan hidup kita. Tutup pintu, hapus catatan, bersihkan rumah, buang debu. Berhentilah menjadi diri kita yang dulu dan jadilah diri kita yang sekarang.

Aku tahu tidak semudah itu, karena akupun sedang  mengalaminya. Selalu saja kita menghadapi satu titik dimana kita menyerah untuk Move On, titik dimana kita tidak bisa maju_satu langkahpun, selalu ada kejadian dalam hidup kita yang menghalangi kemajuan kita: suatu trauma, kelelahan yang sangat menyakitkan, kekecewaan pada suatu hubungan yang tidak berjalan dengan semestinya, bahkan kemenangan yang tidak kita pahami, bisa membuat kita menjadi pengecut dan menghalangi kita bergerak maju.

Aku pernah mendengar cerita seorang teman yang baru saja berpisah dari pasangannya, katanya; “Sekarang aku bisa menikmati kebebasan yang selalu aku impikan”. Tapi itu bohong. Tak seorang pun yang menginginkan kebebasan semacam itu. Kita semua menginginkan teman hidup_lebih dari sekedar teman. Kita semua ingin ada seseorang disisi kita untuk menikmati keindahan pantai di Bali atau gunung-gunung di Kintamani, untuk membahas buku, film, lagu-lagu, atau bahkan hanya untuk berbagi sehelai selimut tipis dalam kedinginan malam.

Lebih baik kelaparan daripada kesepian. Karena kalau kita kesepian, dan yang saya maksud adalah kesepian karena terpaksa, bukan atas pilihan sendiri, kita akan merasa seakan-akan bukan lagi bagian dari apa-apa, tapi berada bersama orang lain dan membuat kita merasa seakan kita tidak penting dalam hidup mereka lagi, adalah jauh lebih buruk daripada merasa sendirian dan kesepian.

Kejadian 2:18

Menyatakan, TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Wahyu 21:5

“Lihatlah, Aku akan menjadikan segala sesuatu menjadi baru!”

Ada lagi yang mau aku tambahkan dari tulisan ini. Setelah kita berhasil melupakan masa lalu, dan meninggalkan sesuatu yang sulit ditinggalkan. Sebelum kita mencintai orang lain, sebaiknya kita tahu dan memahami diri kita sendiri terlebih dahulu.

Mungkin kalau bisa aku gambarkan seperti ini; Seseorang yang aku cintai bukanlah orang yang menggenapkan setengah lingkaran yang  aku punya. Aku harus menjadi utuh satu lingkaran terlebih dahulu dan dia juga merupakan lingkaran yang utuh. Jadi bukan dengan berkata “Aku tidak bisa hidup tanpamu” melainkan “Aku lebih suka hidup bersamamu”.

“Move on. It’s just chapter of past. Don’t close the book, just turn the page.” 🙂