How to Catch a Falling Star


One of a million lights in a vast sky that flares up for a brief moment, only to disappear into the endless night forever.

Untuk pertama kalinya gue akan bercerita tentang sejarah “sesuatu” dalam hidup gue. Bukan karena cerita itu sangat penting dan besar, tapi justru karena kesepeleannya yang membuat gue sadar.

Seminggu terakhir ini gue lagi rutin banget dengerin lagunya Eva Cassidy yang judulnya Somewhere Over the Rainbow. Sebagai buktinya, lagu ini ada di peringkat satu di Itunes laptop gue dengan 117 kali play (masih di puter sampe sekarang). Sangat jauh bila dibandingkan dengan peringkat ke-dua yang di duduki Tak Pernah Padam-nya Sandhy Sandoro, cuma 29 kali play (bentar lagi padam beneran nih lagu). Intinya, lagu yang gue denger, ngga pernah kontras sama isi pikiran gue saat itu, bahwa gue masih mikirin “sesuatu”, sesuatu yang berhubungan dengan bintang jatuh. (mungkin “sesuatu”-nya Syahrini lebih populer di dengar, tapi sumpah, yang ini beda), here goes;

Dulu gue pikir bintang jatuh itu adalah sebuah bintang yang lagi show up ke sesama bintang lainnya, masuk ke bumi dan mengeluarkan cahaya, dan kembali ke masa lebih jauh lagi bintang jatuh itu adalah Son Go Ku sama Picolo lagi ngadu kame-kame-ha. Yak, seperti biasanya pikiran gue itu cukup terbelakang di banding dengan anak-anak seumuran gue pada jamannya. Setelah beranjak dewasa, setelah telapak tangan gue sudah tidak berkeringat lagi saat bergandengan dengan pacar, dan setelah menyadari bahwa dunia dewasa ini lebih membuat tubuh gue memproduksi lebih banyak lagi keringat pada saat bersama pacar. Akhirnya gue baru tau bahwa bintang jatuh itu adalah sebuah benda langit yang melintasi bumi, dan oleh fenomena alam yaitu gesekan pada atmosfer membuat benda itu mengeluarkan cahaya, yang mana biasa kita sebut sebagai meteor. Thanks to Google.

Satu hal yang selalu membuat gue tergelitik penasaran, yaitu mitos tentang terkabulnya sebuah permintaan ketika melihat bintang jatuh. Beberapa orang yang percaya dengan mitos itu biasanya langsung make a wish. Kalau mitos itu memang benar adanya, mungkin tadi malem gue udah jadi Aladin. Bedanya, Aladin ngandelin ‘lampu ajaib’nya sambil ngelus-ngelusin lampu ajaib itu, nah gue ngelus-ngelus ‘genteng kos-kosan’ berharap agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti; jebol.

Kembali ke “Sesuatu”,

“Sesuatu” yang terlintas di pikiran gue waktu lihat bintang jatuh malem tadi. Sambil dengerin Eva Cassidy, kedinginan di atas genteng, was-was gentengnya jebol, dan parno kalau tiba-tiba gue ngeliat Lord Voldemort(sebutan keren-nya Leak).

Sesuatu yang sudah dua bulan terakhir gue coba lupain, sesuatu itu adalah; “impian yang hilang”. Seperti bintang jatuh, awal kemunculannya akan terlihat sangat terang, tapi cahaya itu akan meredup di akhir tujuannya, dan hilang.

Impian itu pernah di tawarkan oleh seorang perempuan di dalam hidup gue, perempuan yang menginspirasi gue buat nulis Butterfly, maybeshewill, Whole Hearted dan beberapa tulisan tulus lainnya setelah gue jadian sama dia. Kedatangannya, hanya menyinari hidup gue untuk sementara, dan akhirnya hilang untuk selamanya.

~ ~ ~

Kuta, 2 May, 2012 (20:47) Skype.

“Aku mau hubungan ini serius sayang, aku udah ngga ada waktu lagi buat main-main.” dia menjelasakan dengan lembut.

“Aku juga mau.” sambil menganggukan kepala gue, “umur aku sekarang, kayaknya waktu main-main sudah lewat. Kalau yang kamu maksud itu keseriusan untuk merried, walau baru dalam rencana. Paling lama tiga tahun lagi aku mau bawa kamu ke sana, jadi kamu ngga perlu khawatir. Jalani saja apa yang ada.” jawab gue serius.

“Itu masalah buat aku sayang. Tiga tahun yang kamu rencanain itu terlalu lama, aku ngga mau nunggu selama itu. Kamu tahu ngga berapa umurku tiga tahun lagi? Kamu tahu ngga berapa waktu yang akan terbuang kalau setelah sampai pada saatnya, tiga tahun itu, dan ternyata rencana itu ngga pernah terjadi? maksudku siapa yang tahu?” jawabnya.

“Apa yang aku rencanain, pasti sudah aku pikirin baik-baik, karena aku ngga mau gagal untuk yang kedua kali, aku yakin kamu tahu maksud aku. Tiga tahun yang aku rencanain itu buat ngumpulin uang, supaya semuanya jadi lebih nyaman. Kita ngga perlu memulai dari bawah sayang. Seperti yang kamu tahu, kondisi keuanganku sekarang belum bisa diandalin. Karirku memang berangsur-angsur membaik, dan aku baru bekerja di perusahan besar, begitupun karir model kamu. Menurut aku, inilah kesempatan kita, kesempatan untuk membangun suatu pondasi, dan ngga ada salahnya nunggu sesuatu yang pantas untuk di tunggu.”

“Aku ngga sepenuhnya setuju, maksudku buat apa nunggu kalau kita bisa wujudin dalam waktu dekat.” jawabnya sedikit kecewa.

“Gini deh, bayangin kalau kita married dalam waktu dekat, kamu ngga perlu mikir tentang yang jauh-jauh. Bayangin saja di awal kita memulai semuanya, contohnya seperti acara pernikahan. Sudah pasti kita mau tempat yang layak kan? Sudah pasti kita mau semua tamu puas dengan makanan yang kita siapakan, dekorasi gedung yang kita mau, dan gaun pernikahan yang bisa menjadi bahan pujian sebagian besar tamu. Aku ngga mau pesimis di sini, kita pasti bisa ke sana kalau kita percaya. Dan kalau berkat itu datang, aku ngga akan menunda-nunda lagi.” ucap gue.

“Kalau hanya pesta pernikahan yang jadi beban kamu, biarin itu jadi bebanku sekarang. Maksudku, aku bisa jual mobil, dan aku akan menggantinya dengan mobil yang lebih murah, jadi sisa penjualan mobil itu bisa kita pakai untuk pesta pernikahan yang layak, yang seperti kamu mau sayang. Gimana menurut kamu?” jelasnya dengan penuh semangat.

“Kamu ngga perlu sampai begitu, dan kalau aku mengamini rencana tulus kamu itu, aku akan menjadi laki-laki paling ngga berguna. Aku juga akan kehilangan percaya diri, dan tentu, dasar hubungan ini akan salah. Tapi, karena ini bisa bikin kamu bahagia, aku akan berusaha mewujudkan impianmu ini. Mimpi kita.” Jawab gue.

~Lagu Marry You-nya Bruno Mars berkumandang~

~ ~ ~

Hari berlalu, minggu menjadi bulan dan bulan menjadi tahun (ngga sampe setahun deng). Setelah menjalin hubungan hampir tiga bulan, setelah benturan keras terjadi di sisi otak yang menyimpan sekantung kesabaran dan dengan berjalannya waktu. Akhirnya kita sukses berpisah (baca: Sang of the Break Day). Berubah seolah kita ngga pernah saling kenal. Tidak pernah kenal. Pura-pura tidak tahu sama lipgloss favoritnya, pura-pura lupa dengan ciuman yang terjadi di saat mobil kita berhenti di setiap lampu merah di Bali. Perjanjian yang sangat aneh tapi tetep kita jalanin sampai sekarang.

Menarik nafas dalam-dalam lewat hidung, buang sedikit lewat pantat. (ngga sengaja)

Kutipan di atas adalah sepenggal mimpi yang gue alami belum lama ini, cahayanya persis seperti bintang jatuh yang baru muncul. Mimpi yang terlalu besar untuk di lupain gitu aja, lupa bahwa kita pernah berencana untuk bersama, dan lupa bahwa kita pernah sedekat apa.

Gue jadi sadar. Ketika “sesuatu” itu hadir dalam hidup gue; harapan, cinta, dan mimpi-mimpi gue itu hanya salah satu dari triliunan bintang yang jatuh. Gue ngga perlu make a wish, gue juga ngga perlu berdoa atau memberitakan keindahannya ke semua orang, biarin saja cahaya itu lewat untuk sementara, nikmatin cahayanya selagi ada. Dan kalau cahaya itu tiba-tiba hilang, gue tahu;

Cahaya itu, pasti akan jatuh melintas lagi.

~ ~ ~

If things are going good, enjoy them while they are here. If things are going bad, don’t worry it won’t last forever, because people change, and life goes on.

-gefeliciteerd met jou verjaardag-

Advertisements

Plot of Love


Plot of Love

Lovebirds, yang biasa kita sebut burung parkit, adalah salah satu dari sekian banyak burung di dunia yang menurut gue paling romantis. Menurut gosip-gosip yang menyeruak, katanya setiap burung Lovebirds itu hanya punya satu pasangan. Dan ketika salah satu pasangan mereka mati, pasangan yang ditinggalkan tidak lama kemudian akan mati juga karena sangat sedih. So sweet abis ya? Menurut gue burung Lovebirds juga lebih romantis daripada Anang – Ashanti. Dan, karena ke-sweet-an burung Lovebirds ini, dengan bangga gue jadiin primary picture yang mewakili setiap kata-kata sweet dari cerita ini.

Kata beberapa teman dekat, isi sebagian besar blog ini terlalu serius, galau, cinta-cintaan yang sekarang bisa berbunga-bunga, tapi besoknya bunganya jadi padang tandus, cengeng, childish, sok tahu tentang hidup, serasa paling tahu tentang cinta, gembel, STOP! (iya iya, udah jelas kok)

Tapi, semua komentar di atas ngga bikin gue berhenti nulis, justru bikin gue jadi ngerubah gaya nulis yang biasanya terkesan serius jadi lebih kasual dan enak di baca. Akhirnya disaat gue udah ngga galau mikirin cinta yang banyakan gagal daripada suksesnya, gue nulis Song of the Break Day dalam keadaan happy menari-nari, ngga serius-serius amat, ngga cengeng-cengengan, ngga ngambek-ngambekan, tapi tetep ngga gue lupain suasana sedih dari cerita nyatanya. Alhasil, banyak respon bagus dari beberapa temen dan saudara yang  terpaksa dengan senang hati baca blog gue. Singkatnya, gue dapet sesuatu dari sukesnya cerita terakhir itu, dan sekarang menulis cerita yang berjudul Plot of Love. Dimana suasana hati gue saat ini di ceritakan dengan sangat wajar dan tanpa kaca pembesar. Janji, ngga lebay.

Well, gue sedang jatuh cinta lagi (kaget dong!), dan gue ingin menulis tentang itu.

Now, this is the problem. Gue takut menulis tentang cinta lagi. You know, tulisan tentang cinta, adalah tulisan yang paling susah untuk ditulis. Karena, sangat susah menulis tentang cinta tanpa terlihat dangdut, corny, atau downright menya-menye. Gue ngga mau tulisan yang gue buat jadi terlihat seperti surat cinta mbak-mbak dan mas-mas pembantu rumah: “Kalau kamu jadi bunga, aku jadi lebahnya.” Atau, “Kalau kamu jadi lebah, aku jadi orang yang nimpukin sarang lebahnya… sengat aku sang lebah.” Bisa juga, “Kalau kamu jadi lubang di pohon, aku jadi burungnya.” (oke, kalimat terakhir ini agak ambigu, tapi yah sudahlah)

For me, what i have with you now, lebih dari analogi yang melibatkan binatang.

Tapi kalau mau dianalogikan, let me take a shot: falling in love with you is like; makan kacang kulit sambil nonton bola. Kuambil kacangnnya, kubuka kulitnya, kukunyah, kuambil, kubuka kulitnya, kukunyah, terus kuambil lagi, kubuka lagi kulitnya, dan kukunyah lagi. Namun, aku masih penasaran. Lalu kuambil lagi kacangnya, kubuka kulitnya, kukunyah kembali. Dan aku, tetap penasaran. Terus-terusan begitu, seolah di dalam kulit kacang ada door prize seminggu jalan-jalan bersama Megan Fox di Dubai. Gue bisa menyalahkan ini kepada sifat gue yang gampang ketagihan dan tidak pernah puas, atau kepada dia yang terus menawarkan cita-rasa yang tak kunjung habis. Atau, kepada keduanya.

Tuh kan, analogi kacang kulit gue juga masih belum se-sweet itu.

Maybe i can’t find cool analogies, pretty metaphors, or write a lovely dopey poem like i used to write before. Because i want this to be ultra simple, the most primitive form of telling how i feel: “I love you”.

Baiklah, sebentar lagi gue mau bercerita tentang cinta-cintaan (ngga bosen kan?), gue mau menggambarkan suasana hati gue yang, jujur, sedang berbunga-bunga, tapi seperti janji gue, gue ngga bakal bikin ceritanya jadi lebay. Hanya cerita sederhana tentang cinta, yang semua orang pernah mengalaminya. Agar lebih mengilhami, silahkan duduk cantik, siapin kacang kulit sama secangkir cappucino supaya ngga ngantuk. Selamat menikmati.

~ ~ ~

Seingat gue, kita ngga pernah merencanakan pertemuan pertama. Suatu waktu di minggu siang yang mendung, gue berkunjung ke suatu festifal seni lukisan di Ubud. Gue tertarik mengunjungi festival itu karena di tengah-tengah acara yang di fokuskan untuk membahas lukisan, terdapat seminar kecil yang membahas literatur/penulisan dan puncaknya adalah menampilkan beberapa penulis lokal yang menjadi pembicara.(asiik dapet ilmu gratis).

Selesai menghadiri seminar, gue menyinggahi beberapa stand lukisan dan berhujung pada salah satu galery yang kebetulan, itu adalah galery lukisan orang yang pernah gue kenal. Seorang yang gue kenal beberapa tahun lalu waktu gue masih bekerja di hotel ‘x’. Kita saling menyapa, saling menanyakan kabar dan membuka obrolan tentang hotel terakhir. Waktu itu dia menjalani cross-training di tempat gue bekerja, dan dia adalah anak dari salah satu owner pada hotel ‘x’ itu.

“Keren galery lukisannya, aku ngga tau kamu bisa melukis, dan lukisan kamu bagus-bagus.”

“Ah, kamu berlebihan.” sahutnya sambil melanjutkan menata bingkai-bingkai yang belum rapih.

“Lalu, bagaimana denganmu? aku baru baca blog kamu, kenapa ngga di jadiin buku aja sih? maksud aku, menurut penilaian orang awam sepertiku, kamu sudah cukup baik, bisa menyentuh orang dengan cerita dari setiap kegagalan itu.” ucapnya.

Gue kaget denger kalimat yang keluar dari bibirnya, bangga sih, tapi sebentar, gue ngga mau narsis berlebihan dulu, ngga ada waktu buat narsis saat itu.

“Wow, kamu pernah baca blog aku? Buku ya?” aku menggelengkan kepala sambil menjawab; “aku belum mikir ke sana, ini cuma hobby aja. Seneng deh kamu pernah baca blog aku.” Jawab gue sambil memasang tampang lugu. Terus dalam keaadaan yang sedikit ‘salting’ (nahan narsis), gue nanya balik; “Jadi, judul apa yang paling kamu suka di blog aku?”

“Mmh… Aku suka banget sama satu cerita fiksi tentang penantian. Kalo ngga salah, pertemuan manusia dengan dewi malam, dan kalau ngga salah judulnya ‘Sonador the Goddes of Night‘. Maaf ya, tapi aku agak menyayangkan judul itu hanya bagian dari puluhan cerita pendek lainnya. Menurut aku, judul itu layak kok untuk di jadikan buku. Maksudku, cerita itu hanya perlu di kembangkan sedikit.”

“Aku pernah dengar saran yang sama dari beberapa teman, dan kamu mungkin yang ke sembilan something (pemalsuan jumlah yang spontan). Kadang ada cerita yang memang lebih baik sampai di situ saja. Karena menurutku, cerita itu bisa terasa hambar kalau di kembangkan lagi. Tapi pasti aku pertimbangkan saran kamu.” Jawab gue.

“Aku suka banget lukisanmu yang ini.” Ucap gue, sambil menunjuk salah satu lukisan, dan pura-pura ngerti sama dunia seni lukis. “Kita harus kerja sama suatu saat nanti, mungkin aku akan mengawinkan bakat melukis kamu dengan kebutuhanku akan desain cover blog, atau mungkin cover buku pertamaku suatu saat nanti.” Gue melanjutkan sambil mengedipkan mata. (itu kedip, maksudnya apa coba?)

Dia tertawa kecil. “Tentu, dan kamu jelas harus menghubungiku di saat peluang itu datang, call me anytime.”

Selanjutnya.

Kita saling memberi kontak, besoknya ngebahas lukisan lewat bbm, minggu berikutnya kita janjian ketemu untuk makan siang di restoran ‘bebek tepi sawah’ Ubud, terus makan malam di ‘babi tepi jurang’ (ngarang) dan selanjutnya membahas buku di salah satu cafe di temani segelas cappucino panas. Di cafe itu kita mulai bercerita tentang hal yang tidak lagi berhubungan dengan tulisan atau lukisan, kita mulai nyaman membahas hal yang lebih pribadi, mulai dari;

“Bagaimana dengan keluargamu?” yang gue jawab santai dengan panjang lebar.

“Maaf, kenapa kamu mengahiri hubungan kamu dengan si model?” lemes dengernya, tapi harus di jawab, pertanyaan yang setiap bulan pasti muncul. Please bulan depan jangan ada yang nanya tentang ini lagi ooh Tuhan. Maaf mulai lebay. He eh ngga lagi.

“Apa kabar anak perempuanmu, Samantha?” yang gue jawab santai dengan panjang lebar.

Sampai ke;

“Berapa umur kamu sekarang? kamu belum kepikiran buat nyari temen hidup, maksudku, married?” pertanyaan ini cukup membuat wajah cantiknya merona. Saking cantiknya, jiwa mas-mas gue berontak mau nembak saat itu juga. Setelah bertempur habis-habisan, akhirnya gue memenangi pertarungan sengit melawan mas-mas di dalam diri gue, supaya ngga bertindak dangdut. Maaf atas ke-unyuan yang barusan terjadi.

Dan.

“Bagaimana denganmu, apa kamu ngga nyoba untuk masuk dalam suatu komitmen lagi, menikah lagi?” Gue ngga nyangka dia nanya balik, i was like WTF!? Gue menyembunyikan kepanikan dengan menjawab seadanya; “Kemarin-kemarin sih belum kepikiran, tapi semenjak ketemu kamu, pikiran itu muncul lagi, hahaha.” Kita tertawa kecil sambil menyeruput cappucino yang masih hangat.

Semua hujaman pertanyaan membuat kita semakin dekat, keterbukaan masing-masing mendisain suasana yang semakin nyaman lagi. Kenyamanan yang seolah berbahasa bahwa kita mulai saling membutuhkan saat itu.

Cuaca sore itu semakin gelap, tiupan angin dingin semakin terasa, membuat badan kita menggigil. Gue yang sudah janji untuk mengantarnya pulang tepat sebelum jam delapan malam, untuk menghadiri kebaktian bulanan keluarganya, membuat gue langsung bergegas mengakhiri pertemuan sore yang indah itu. Saat perjalanan di dalam mobil, kita ngga terlalu banyak bicara. Sesekali gue mengangkat pembicaraan di cafe tadi yang masih segar dan lucu untuk di bahas lagi. Dia tersenyum menatap ke seberang jendela mobil, gue menangkap sesuatu yang gue sebut ‘kenyamanan’ dari bahasa tubuhnya, bahwa gue akan mempertahankan suasana seperti ini kapanpun ada kesempatan kita bersama.

Sesampainya di depan garasi rumahnya, gue mengantarnya turun sampai ke pintu;

“Aku langsung pulang ya?” ucap gue,

“Kamu ngga mau mampir ke dalam sebentar? ucapnya sambil memainkan ujung rambutnya dengan jari. (kalau di film ‘HITCH’-nya Will Smith, mainin ujung rambut itu kode minta di kiss), all i have to do is make a first move. Mas-mas dalam diri gue makin berontak nafsu, tanpa basa-basi, gue ketok keras-keras kepala mas-mas itu pake batu sambil tereak “Mampus!”. Gemes gue. Centil amat jadi mas-mas.

“Lain kali aku pasti mampir, lagipula sebentar lagi kebaktian kan mau mulai, kamu siap-siap gih.”

“Mo, kabari aku kalau sampe rumah ya. Soalnya, setelah kebaktian aku mungkin ngga tahu mau ngapain lagi. Thank you for today mo, talk to you later.”

Hari berikutnya semakin banyak pertemuan, semakin banyak cerita, dan masuk semakin dalam; gue ke dalam hari-harinya, dia ke dalam mimpi-mimpi gue. Dan beberapa rutinitas lain, seperti: mengunjungi museum lukisan Antonio Blanco di Ubud, ke taman burung di gianyar untuk melihat segala jenis burung termasuk burung gue lovebirds, dinner bersama keluarga, menghadiri pernikahan sahabatnya, mabuk wine di atas dermaga, mendengar koleksi lagu, tidur dan akhirnya pada suatu pagi yang dingin, dia bangun dalam pelukan gue. Semua berjalan secara alami.

Malam tadi, di dalam selimut yang membelenggu tubuh kita, gue melemparkan satu-satunya kalimat yang sudah ngga pernah keluar dari bibir gue cukup lama, membuat gue sendiri ngga nyaman menyampaikanya.

Malam itu, di dalam selimut itu, akhirnya gue memberanikan diri untuk bilang;

“I love you” kalimat yang murni dari pikiran sadar gue, karena mas-mas mungkin masih di opname.

Dia ngelap keringat di dahi gue dengan kausnya yang sudah terlepas dan di letakan di samping bantal, tanpa menggubris kalimat gue barusan. Lalu;

“Will you still love me in the morning?” dia bertanya.

“I will” jawabku tegas.

~~~

Overall, ini hanya sepenggal pengalaman gue, and i’m glad its written. Kita masih berjalan secara alami, dan sekarang gue lagi seru-serunya belajar lukis dari dia, well lebih tepatnya mengembangkan bakat terpendam gue. Dan dia, lagi bantuin gue untuk koreksi ejaan yang salah di draft buku pertama yang masih mentah sebelum gue kirim ke editor.

Well, janji sudah di tepati, cerita cinta telah tertulis, dan perasaan gue sudah di telanjangi (puas). Sekian cerita cinta-cintaan dari gue, tunggu cerita selanjutnya ya. Di judul berikutnya, gue bakal membuka rahasia tentang “sesuatu“. Mungkin tulisan gue kembali agak serius, tapi tetep ngga akan ada galau-galauan, dan downrightnya masih jokes sehari-hari. Karena menurut sahabat gue, sebut saja si ‘rebek’, dia bilang gini; “hidup udah stress sac, ngga usah lo tambahin sama cerita-cerita galau lagi”. Dan kalimat dari bibir si ‘rebek’ itu, sukses menohok gue cukup dalam. Terima kasih buat saran cerdas kamu rebecca.

~ ~ ~

P.S. : I don’t know what’s going to happen from here on out but I do know is that I want to be with you. I’ve told you how I felt, all my feelings are true. You make me smile, you are always there for me, and you are just simply amazing. I’m so happy that I had the privilege to meet someone like you. We get along so well; the goofyness we share and our conversations are something I’d never trade for anything. I know we can become something special, I hope you see that too cause girl I have to tell you, I want no one else but you.

Convo of Balloons


Sometimes in life you meet that someone who’s just…… .a little “off”

“the Weirdos”

Can anyone else’s sister beat mine? Don’t think so! Ninces is my most favorite weirdos in the world! these are the convo in blackberry massanger between Me and Karina a.k.a Ninces, enjoy 🙂

~ ~ ~

Ninces: Ka, how many helium balloons does it take to lift me off the ground? 🙂

Me: Do you really think i’m into MATH or some scientific calculation? i don’t even know with group it belongs to, math or science.

Ninces: OMG. 4000 balloons. Cool, i want to try. Can u blow me up 4000 helium balloons? each has to be 30cm in diameter, 15 cm radius.

Me: U think this is the movie UP? I’m not gonna blowing 4000 balloons!

Me: U know what we can do? DO IT ON MOCHO (my hamster) OMFG he’s only less than 1 kgs! it takes only two balloons.

Ninces: That’s sounds good ka….but he might get carried away by the wind.

Me: Not outdoor!!! Inside the house can? Up till the ceiling.

Ninces: No, i want it to be in a meadow..so much space.. 🙂

Me: MEADOW?! MEADOW!!!?!?!?!??!? YA THINK i will allow u to let my poor hamster float with helium balloons in a meadow?!?!?!?!?? Don’t be blonde!

Ninces: Don’t worry…i will bring a bow and a few arrows to shoot off balloons if he gets too high off the ground or get carried away by the wind.

Me: … and now she thinks she’s katniss. Smart.

Ninces: Why do u relate whatever i say to movies?!

Me: Because what ur doing is toooo high of an imagination that nobody in REAL LIFE would do!

Ninces: It’s in my bucket list now.

Me: You know ces, even the movie “BUCKETLIST” has more realistic things listed!

Ninces: I’ll find someone to do it with me! epic 8000 balloons! unless that person is heavier then we’ll probably need 10000..

Me: ..i should post this, maybe i’ll find that crazy person who wants to do it with u. wish me luck.

Ninces: Thank you ka. :*

Me: Seriously!?

~ ~ ~

Youre the best sister! Sometimes I wonder why I didn’t get your looks and your brains.