Autumn in the morning


I was here for a moment then i was gone

Autumn in the morning

Musim panas telah berlalu, musim gugurpun datang. Angin bertiup sangat kencang. Perlahan tapi pasti, temperatur udara mulai bergerak mendekati titik beku. Hujan semakin sering menyapa, kadang deras, kadang rintik-rintik dan juga berkabut.

Dalam beberapa hal, musim gugur akan sangat dirindukan ketika telah berlalu.

Beberapa temanku di Belanda, Salah duanya Sid dan Reinoud pernah bercerita tentang musim gugur, bahwa mereka menyukai musim ini karena sesaat suasana akan berubah menjadi sedikit romantis. Di musim ini, langit sering berwarna kelabu, dedaunan jatuh berwarna keemasan, malam datang lebih cepat dan membuat malam itu sendiri menjadi terasa panjang.

Minggu Pagi

Aku terbangun sekali lagi, waktu di telepon genggamku menunjukkan pukul 10:12 pagi. Aku sempat bangun beberapa jam lalu untuk melihat pesan terakhir darinya yang bertuliskan;

“Sayang”

Pesan terakhir itu terkirim pukul 4:00 subuh. Aku mengartikan bahwa dia sudah pulang ke rumah jam empat pagi tadi, pikiranku sempat kemana-mana beberapa menit, bertanya dalam hati, membodohi diri sendiri dengan menganggap bahwa rutinitasnya adalah suatu yang normal dan aku tidak perlu khawatir.

Kenyataannya, ketika dia pergi pesta malam itu, aku tidak bisa tidur semalaman dan aku mulai membayangkan secara rinci, apa yang terjadi. Ketika malam semakin larut, alcohol mulai mempengaruhi pikiran sadarnya, dentuman lagu membuat dia semakin bergairah dan berkeringat, pendingin ruangan yang membuatnya kedinginan, dan kehangatan yang ditunggu dari rangkulan pria itu. Liukan pinggulnya bisa menghibur mata pria itu, dia pura-pura tidak tahu kalau pria itu memperhatikannya, dia kembali duduk ke sofa, bercerita hal-hal yang bersifat pribadi dan membuat mereka merasa semakin  dekat. Kepalanya jatuh dan bersandar di dada pria itu, di titik itu aku berhenti membayangkan apa yang terjadi di sana selanjutnya.

Telepon genggamnya berbunyi; telepon dariku, ingin tahu apa dia baik-baik saja, aku tidak menunjukkan kekhawatiranku, karena aku tahu saat itu sudah terlambat untuk mencegah apapun, lebih baik berpura-pura semuanya baik-baik saja_tidak terjadi apa-apa. Meskipun dia mengabaikan telepon genggamnya yang bergetar, aku tetap melanjutkan dengan mengirim pesan singkat;

“Have fun sayang, jangan terlalu larut pulang ke rumah.”

Dia yang begitu baik, dia yang sangat cantik, melihatnya berdiri sendiri pada waktu itu membuat rasa takutku hilang, tidak ada keraguan bahwa dialah pilihanku, dan membuatku berani untuk menjemputnya pergi ketempat dimana dia tidak akan berdiri sendiri di masa depan nanti. Tetapi belum genap sebulan aku menulis tentang ketulusan, sekarang hatiku sudah berantakan lagi, berceceran di setiap malam-malam yang telah dia lewati dengan pria itu. Aku terus bertanya dalam hati; Andai saja ini bukan karena hadirnya pria lain. Andai saja ini hanya sekedar perbedaan pendapat, atau kebiasaan buruk masing-masing atau mungkin perbedaan keyakinan, aku pasti akan berjuang lagi. Andai saja.

“Aku pergi.”

Itu pilihan terakhirku. Kalaupun dia memilih orang itu dan jatuh cinta padanya, tidakkah dia akan menimbang-nimbang setiap momen yang telah kami jalani bersama sebelum dia memilih petualangan yang tidak akan ada jalan kembali?

Pilihanku yang lain: Lebih baik kujalani saja deritaku, seperti di masa-masa lalu ketika orang-orang yang kucintai meninggalkanku. Lebih baik kurawat saja luka-lukaku, seperti yang juga kulakukan di masa lalu. Untuk beberapa waktu, pikiranku akan dipenuhi olehnya, hidupku mulai terasa pahit, aku akan membuat bosan teman-teman dan saudaraku karena yang kubicarakan tidak lain tentang kehilangan salah satu yang terbaik dalam hidupku. Aku akan mencari pembenaran atas cerita ini, menghabiskan hari dan malam mengingat setiap saat yang kuhabiskan bersamanya, aku akan mengambil kesimpulan bahwa dia terlalu menuntutku lebih atau aku memang pilihannya yang salah, walaupun aku telah berusaha sebisa mungkin untuk membahagiakannya. Aku akan bertemu wanita-wanita lain saat berjalan di jalan, tetapi yang aku lihat hanya wanita-wanita yang mirip dia. Aku akan menderita lagi berhari-hari dan bermalam-malam, bermalam-malam dan berhari-hari. Itu bisa berlangsung sampai beberapa minggu, bulan, mungkin tahun, atau bahkan lebih.

Sampai suatu pagi aku terbangun, dan menemukan diriku berpikir tentang hal lain, dan aku tahu yang terburuk sudah hilang, musim panas telah berlalu, dan angin sejuk musim gugur akan menyadarkanku; Bahwa bila seseorang pergi, itu karena seseorang lain sudah waktunya datang_cinta akan kembali menemukanku.

“Sometimes, you have to give up on people. Not because you dont care but because they dont.”

“What moves through us is a silence, a quiet sadness, a longing for one more day, one more word, one more touch, we may not understand why i left you so soon, or why you left before we were ready to say good-bye, but by little, we begin to remember not just that we left, but that we lived. And that once was our life, gave us memories too, hard and pain to remember but then beautiful to forget, eventually.” ~mia

Butterfly


Beautiful and graceful, varied and enchanting, small but approachable, butterflies lead me to the sunny side of my life.

Dia yang terbang. Dia kupu-kupu yang berenang. Dan aku, adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang.

Dia menatapku dengan pancaran mata riang, temannya yang peramal menyatakan dia itu tabir, yang berbinar riang walau mungkin lain dalam hatinya. Syahdu meliputi butir-butir terik matahari yang jatuh menimpa tubuh kita melalui kaca mobil dalam perjalanan yang diam-diam menggelinjang.

Dia mengganti sinar bulan yang tidak hadir malam itu. Kita menikmati deru ombak diiringi samar suara musik dari kafe di kejauhan pantai yang saling berebut perhatian. Ada satu pecahan jatuh tepat di antara bibirku yang tengah berjuang tentang perasaan hati saat ini. Seolah dengan sengaja ingin berenang dalam perasaan senang yang aku tahan beberapa minggu terakhir.

Dia kupu-kupu, melayang-layang di halaman kepalaku, menari-nari dalam mataku, dan warna-warni sayapnya menumpahi hari-hari biasaku.

Dia kupu-kupu, yang menghargai masa laluku, baik dan buruk.

Dia kupu-kupu, yang membuatku berpikir sekali lagi, bahwa tidak perlu pesimis dengan kejauhan. Karena kupu-kupu ini akan tetap kembali bermain di halamanku.

Sekarang, kupu-kupu itu adalah kekasihku.

~~~