The Life Cycle is All Backwards


“Life: A cycle, a series of events, meetings, and departures. Friends discovered, others lost, Precious time, wastes away. Big droplet tears are shed for yesterday, but are dried in time for tomorrow, until all that remain are foggy, broken memories of a happy yesteryear.”

The Life Cycle is All Backwards

Hal yang paling tidak adil dalam hidup adalah bagaimana hidup itu berakhir. Maksudku, hidup ini sulit, membutuhkan banyak waktu, dan berpindah-pindah pada banyak ruang. Tetapi apa yang akan kita dapatkan pada akhir itu? Mati!

Apa itu, bonus?

Aku pikir siklus kehidupan itu berjalan mundur. Mungkin kita harus mati dulu, dan menyadari diri kita telah terbaring lemah di tempat tidur. Kemudian kita tinggal di sebuah rumah tua. Kita akan bekerja puluhan tahun sampai kita cukup muda untuk menikmati masa pensiun. Kita mendapatkan teman hidup dan anak-anak, lalu pergi bekerja. Kita diacuhkan pada saat mereka merasa kita masih terlalu muda, pesta-pesta kecil dan masa remaja kita. Kita pergi ke sekolah tinggi, ke sekolah dasar, dan kita kembali menjadi anak-anak. Kita bermain, tidak punya tanggung jawab, lalu menjadi bayi. Kita kembali ke dalam rahim, dan akhirnya kita akan menghabiskan sembilan bulan mengambang… . Terakhir, kita akan mengakhirinya pada saat orgasme.

Advertisements

In Between


Aku tergelincir, seperti keluar dari kehidupan. Aku tidak berdiri di atas bumi, juga bukan melayang di langit, dan sepertinya ini juga bukan surga. Aku berada di antara itu semua.

~~~

Pada awalnya aku hanya berlari mengikuti suara keceriaan yang menggema di kupingku. Tidak ada satu orangpun yang sadar saat aku pergi, Juga tidak ada yang tahu kalau sebenarnya aku masih di sini.

Jika aku kembali ke rumahku, aku hanya mendengar suara gelombang bisikan dari mereka. Aku ada di sana sejenak, dalam kehidupan kecil mereka yang baru saja kehilanganku, lalu aku pergi.

Tempat ini seperti padang ilalang yang berwarna keemasan, rumput-rumput di dasarnya berwarna nila, yang sangat lembut saat terinjak telapak kakiku. Langit di sini seperti lebih dekat, warna keunguan seperti langit pada waktu subuh.

Di sini tidak ada waktu, tidak ada perubahan suhu, tidak ada perubahan musim, dan tidak ada perubahan siang dan malam. Hanya perubahan warna-warna yang sangat indah. Gradasi warna yang menciptakan energi kedamaian, aku merasa damai dan tenang walaupun aku hanya sendiri di tempat ini.

Like My Grandma Did

“Dia tidak pernah seperti ini dan aku tidak pernah melihatnya selemah ini, Oma orang paling kuat yang aku renal.” ~mimaou


Like My Grandma Did

Beberapa hari lagi kami sekeluarga akan merayakan hari pergantian tahun bersama. Akan banyak kesenangan di sana dan sudah pasti ada berbagai macam masakan Oma yang selalu aku dan saudara-saudaraku tunggu. Sup kacang merah kental dengan bumbu khasnya menjadi menu utama. Disandingkan dengan ayam rica-rica, ikan cakalang asap yang di bungkus dengan daun pisang khas menado, segala sayuran yang tidak pernah luput dari irisan cabai sebagai ciri khasnya, dan masih banyak lagi. Semua makanan itu adalah masakan Oma dan aku tak sabar untuk itu semua.

Tetapi,

Sekarang aku sedang terbaring di lantai, di atas kasur tipis, bahkan hampir setipis keset yang terletak sangat dekat dari tempat aku berbaring. Semua bayanganku tentang pesta beberapa hari lagi sepertinya hanya seperti mimpi, segala kesenangan tidak akan hadir dan segala masakan itu sudah pasti tidak akan tersaji di atas meja jati di rumah Oma. Semua itu karena sekarang Oma ada di sampingku, di atas kasur besi dengan baju biru muda tipis dan terbujur kaku, di dalam kamar rumah sakit yang sangat sunyi. Satu – satunya suara yang terdengar adalah mesin pengukur detak jantung. Jarum suntik tertancap di urat nadi lengan kanannya, kulitnya seperti plastik mengkilat dan keriput, jari-jari kecilnya yang dingin dan lemas lunglai dan umurnya yang hanya bergantung dengan seutas selang, melajur ke hidungnya, seolah-olah baginya dunia menciut menjadi hanya sebuah tarikan nafas_hanya sebuah tarikan nafas. Dia divonis dokter terkena kangker hati langka, dan memang umurnya tidak akan lama lagi.

“Dia tidak pernah seperti ini dan aku tidak pernah melihatnya selemah ini, Oma orang paling kuat yang aku kenal.”

Kembali ke dalam bayanganku tadi, tidak akan ada kesenangan, tidak akan ada masakan-masakanya lagi, dan semua itu bukanlah kesalahannya. Jika bisa memilih, pasti dia tidak mau seperti ini. Oma tahu dia jadi korban sesuatu yang tidak ada alasannya, dan dia tidak memilih untuk menjadi marah atau membuat orang lain menjadi korban. Harapan baginya, ialah ketika dia memberi. Mungkin dalam keadaan getir dan rapuh. Tetapi bagiku itulah pesan darinya: tetap saja ada orang yang berbuat baik, walau dalam kekalahannya. Itulah Harapan.

Dari tahun ke tahun Oma sudah mendatangkan banyak kesenangan dalam keluarga besar kami, tahun–tahun itu selalu diisi dengan segala cerita tentang masa mudanya, nasehat–nasehatnya, nyanyian–nyanyian riangnya dan segala lelucon konyolnya. Dia melakukan itu semua bahkan di saat dia sedang sakit_dia menutupi kesakitannya dengan kasih.

Oma selalu ada untuk kami. Oma mengajarkan segala hal untuk cucu–cucunya, seperti aku harus menghitung 100 hitungan dalam hati di saat aku sedang dalam emosi dan aku harus selalu mengandalkan Tuhan dan doa. Bahkan tanpa bicara Oma sudah menyampaikan pesan untukku, memberiku pelajaran paling berharga. Pada suatu situasi dalam masa kenakalan remajaku aku pernah mencoba untuk mencuri uangnya di kotak penyimpanan di dalam kamarnya, seketika Oma masuk ke dalam kamar dan melihat dengan jelas apa yang sedang aku lakukan, tetapi bukan tamparan atau hukuman yang aku terima: dia hanya diam, dan di dalam diam ada pertanda. Beberapa waktu berlalu, tidak lama setelah kejadian itu. Oma masih belum keluar dari kamarnya, itu membuatku ingin tahu apa yang dia lakukan selama itu di dalam kamarnya. Aku melihatnya sedang berdoa.

“Dia berdoa, dia mendoakanku.”

Kembali ke kamar sunyi ini, dalam hati aku berbicara kepadanya.
“Kalau Oma mau pergi, pergilah secepatnya. Tuhan mungkin sudah menunggu Oma di sana, dan dibanding kami semua, Tuhanlah yang lebih membutuhkan Oma.” Aku tidak mendoakan agar dia cepat pergi, aku hanya tidak bisa melihat dia seperti ini lebih lama lagi. Aku terlalu mengasihi dia, tetapi kita harus sadar, bahwa Tuhan lebih menyayanginya. Dengan damai, Oma pergi.

Hari pergantian tahun berlalu, kami sekeluarga masih berkumpul bersama, mencoba melupakan kesedihan yang baru saja berlalu, mencoba mengenang segala sukacita yang belum tentu ada lagi di hari depan.

Dia, Omaku, sudah berjuang dari awal hingga akhir hidupnya. Kenangan tentang Oma sudah pasti akan kami ingat. Dengan merelakan kepergiannya berarti kami siap untuk meneruskan “Kasih”nya kepada anak dan cucu kami di kemudian hari, “Aku mau melakukannya sama seperti yang Oma buat.”

Notes: Oma Marry G. Warbung, tutup usia pada 31 Desember 2005; usianya 65 tahun saat itu; dia memiliki 10 cucu yang selalu merindukannya; dia pergi dalam damai, senyuman di peti itu mengatakannya.

If you are brave to say “good bye”, life will reward you with a new “hello” ~Paulo Coelho

~~~