Blue Dreaming

Blue Dreaming: “its one of many stuff that i actually really like it, it was always uplift my morning as soon as I’m awake. I don’t know what it is exactly, but i know it was happy feeling. Overall. Eventually. Its good at the end.” ~miamou

Advertisements

|||b|||l||||u||||e||||d|||||r|||||||e||||a||m|i|||||n|||||g|||

tumblr_mphdg0tr9a1qa3kqpo1_1280

You are the shadow to my night ~ did you feel us?
Another star falls then you fade away
Afraid our aim is out of sight, when we are blindfolded
Wish to see us, alight.

“This dream.”

“Was it all only was my fantasy?”

“Or you only imaginary?”

“Where are you now?”

“Atlantis?

“Under the sea, another dream?”

Another dreams,
one of creepy faces at random bar starring at me, speaks other language, and they’re talking it to me.

“These shallow blue waters never met what I needed”

“I’m letting go a deeper dive, and come up in milky way galaxy”

“Eternal silence of the sea. I guess so, its Atlantis.”

All that i care to remember, everything was only blue.

Even in this words. Even its just a dream.

Blue Dreaming: “its one of many thought that i actually really like it, it was always uplift my morning as soon as I’m awake. I don’t know what it is exactly, but i know it wasn’t the answer.  Its good at the end. Eventually. “

~miamou

Ayin Ha Ra

Namun, sebenarnya, hati saya selalu gaduh. Ketika di tindih tubuhnya saya mengaduh. Karena setelahnya dia akan mengeluh. Bertanya, ke manakah hubungan ini akan berlabuh?.~miamou


Kalimat ini letaknya agak ke kiri, di antara lipatan udara beragam, gelas champagne, dan daftar menu dengan logo pencari lubang tertempel pada “cover”-nya. Kudapan memenuhi meja makan, seperti kudapan lain yang memenuhi di balik seragam Ayra.

 her
 
 
Beberapa kalimat agak berantakan, ketika aku mencoba menatap Ayra, nama panggilan yang lebih singkat dari Ayin Ha Ra. Hewan kecil itu terkadang bermain di antara rambut Ayra yang terurai panjang, seperti mengukur jarak antara kesunyian dan pikiran-pikirannya. Cukup rumit.
Beberapa tamu yang datang untuk bermain golf di Elite Golf Club ini, tempat paling innocent untuk segerombol pendosa paling banyak gaya, di dalam ruangan VVVVVIP ini yang namanya sering disebut sebagai Black Widow, karena beberapa karyawati yang bekerja di tempat itu rata-rata korban dari ketamakan diri sendiri akan orgasme, dan akhirnya ditinggalkan oleh si penebar benih untuk menjadi janda di umur muda. Beberapa tamu VVVVVIP tersebut tampak seperti makhluk bodoh, mereka sibuk dengan telepon genggam masing-masing di tempat yang seharusnya lebih baik untuk menghindar dari segala jenis elektronik tai.
 
Ayra akan menemani mereka untuk menyelam di beberapa titik pembicaraan politik paling kotor yang tidak pernah masuk walau dalam selembar media paling kredibel sekalipun (pengaturan trayek premanisme di kota itu, berjudi hampir seperti yang biasa mereka lakukan di negara Macau sambil mengatur pembagian bisnis kotor lainnya) yang hampir tidak bisa di cerna Ayra yang sedang menuangkan air San Palegrino ke gelas salah satu tamu gendut ber-uang yang jaman sekarang sering di sebut “Gadun”.
Dia tampak gelisah, seperti akan menemani seonggok daging yang masing-masing sibuk bersilat jari dengan touch screen di telepon genggamnya. Tapi paling tidak, sehabis kerja nanti, Ayra akan meringankan beban-beban di rumah seperti susu untuk anak, listrik, internet, indovision, rokok untuk adik laki-lakinya yang malas berkerja, kakeknya yang pensiunan tanpa dana pensiun, dan kebutuhan-kebutuhan rumit lainnya.
 
Sepulang kerja, Ayra tidak selalu pulang kerumah. Dia melarikan diri dari kerumitan kebutuhan di dalam rumahnya, dan menyapa pelukan tepat setelah membuka pintu kamarku. Masih menggendong tas kulit coklat yang entah di salah satu kantung tas itu terdapat beberapa kartu nama tamu VVVVVIP di tempat dia bekerja. Larut setelah itu, Ayra berbaring sexy agak kesammping memberi jalan untuk cairan yang akan mengalir dalam tubuhnya saat itu. Saya hanya manusia yang berhasrat tanpa uang yang haus akan cinta dan kepuasan mengerang, apapun bentuk dan caranya walau harus berperang. Aku telah rela menjadi binatang yang di kandangi dalam kerumitan di dalam kepala Ayra itu.
 
Ayra.
 
Saya tidak pernah bisa meihat matanya terlalu lama, atau dada ini akan meleleh seperti chocolate fondue yang mengalir ke bagian bawah tubuh saya dan stroberi di bagian tubuh lain menjadi ranum dan sangat matang.
 

Waktu menunjuk pukul sembilan. Di sudut kafe ketiak saya berpeluh. Namun tak bisa mengeluh. Kecuali pada ponsel yang suaranya tak juga melenguh.

Dua belas jam yang lalu ada yang mengaku akan datang. Yang saya harapkan selalu di kafe itu senyumnya manisnya akan mengembang. Ketika melihat saya. Karena berdekatan dengan pujaan hati, katanya. Biasanya kami akan menghabiskan waktu dengan percakapan. Saling bertatapan. Saling bertukar harapan. Harapan untuk bisa merapat dan berdekapan. Di suatu tempat yang jauh dari kegaduhan.

Namun, sebenarnya, hati saya selalu gaduh. Ketika di tindih tubuhnya saya mengaduh. Karena setelahnya  dia akan mengeluh. Bertanya, ke manakah hubungan ini akan berlabuh?

”Kenapa perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang memabukkan.”

”Hah?!”

Kupu-kupu melebarkan sayapnya tepat di depan bebungaan di mana kami duduk. Ia pun melebarkan jangkauan tangannya di mana tangan saya sedang diam merunduk. Mencoba meredam tawa saya yang sudah terdengar seperti orang mabuk. Tenang gerakannya sangat saya tahu sebenarnya memendam rasa amuk akan segala pertanyaan rumit yang saya tunda jawabanya. Sejujurnya saya tidak pernah berencana untuk menhabiskan hidup di temani dengan rasa was-was akan pekerjaan yang mungkin akan menjatuhkan saya lagi, seperti yang sudah – sudah. Karena itu segera saya kibaskan tangan itu berpura-pura menghalau nyamuk.

“Sayang?”

Saya memotong kalimatnya. Persis seperti apa yang dilakukan badut-badut ketika berada di atas arena. Berteriak ketika ada yang mengolok-oloknya. Terjatuh. Mengaduh. Berlari. Tanpa berani memaki. Menghilang ke balik panggung. Disertai dengan sorak-sorai dan tawa menggunung.

Sorak-sorai itu yang mengingatkan saya atas kutipan-kutipan yang dituliskan di beberapa buku pemikir. Membuat saya mencibir. Karena ada letupan kembang api di kepalanya. Dan warna-warni serpihan kembang api itu jatuh ke bahunya, meleleh ke dada dan memerah di ujung putingnya. Ia tidak pernah mengetahuinya. Maka, ia tak merasakannya. Ketika serpihan kembang api itu melumatnya. Bahkan ketika saya berkata,

”Kenapa perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang memabukkan.”

Tapi di manakah sekarang ia, setelah hanya itu jawaban yang saya punya?

”Hah?!”

Terkejut saya ketika bahu ditepuk seseorang perempuan.

”Boleh saya ambil bangku yang tak terpakai?”

”Hah?!”

Saya tidak bisa menentukan. Saya sudah menunggu dua jam dengan perut kram akibat pil anti depresi yang dosisnya sedikit saya tingkatkan belakangan ini, atau mungkin karena Irish Coffee yang sudah gelas ketiga. Namun ia tak juga datang. Tapi apakah saya harus menyerahkan bangku kosong di sebelah saya ke seseorang? Seseorang yang membutuhkan bangku tambahan di mejanya karena ia bersama banyak teman tak terkecuali perempuan?

”Boleh saya pakai bangkunya, Mas?”

Saya menatapnya.

”Maaf, masih ada yang saya tunggu.”

”Waktu?”

~~~ ~~~

Real love is the love that sometimes arises after sensual pleasure; if it does, it is immortal, makes you wait even you know he/she will never show up; the other kind of inevitably goes stale, for it lies in mere fantasy.” ~Mia (Moussa Isaac Askey)

Convo of Balloons


Sometimes in life you meet that someone who’s just…… .a little “off”

“the Weirdos”

Can anyone else’s sister beat mine? Don’t think so! Ninces is my most favorite weirdos in the world! these are the convo in blackberry massanger between Me and Karina a.k.a Ninces, enjoy 🙂

~ ~ ~

Ninces: Ka, how many helium balloons does it take to lift me off the ground? 🙂

Me: Do you really think i’m into MATH or some scientific calculation? i don’t even know with group it belongs to, math or science.

Ninces: OMG. 4000 balloons. Cool, i want to try. Can u blow me up 4000 helium balloons? each has to be 30cm in diameter, 15 cm radius.

Me: U think this is the movie UP? I’m not gonna blowing 4000 balloons!

Me: U know what we can do? DO IT ON MOCHO (my hamster) OMFG he’s only less than 1 kgs! it takes only two balloons.

Ninces: That’s sounds good ka….but he might get carried away by the wind.

Me: Not outdoor!!! Inside the house can? Up till the ceiling.

Ninces: No, i want it to be in a meadow..so much space.. 🙂

Me: MEADOW?! MEADOW!!!?!?!?!??!? YA THINK i will allow u to let my poor hamster float with helium balloons in a meadow?!?!?!?!?? Don’t be blonde!

Ninces: Don’t worry…i will bring a bow and a few arrows to shoot off balloons if he gets too high off the ground or get carried away by the wind.

Me: … and now she thinks she’s katniss. Smart.

Ninces: Why do u relate whatever i say to movies?!

Me: Because what ur doing is toooo high of an imagination that nobody in REAL LIFE would do!

Ninces: It’s in my bucket list now.

Me: You know ces, even the movie “BUCKETLIST” has more realistic things listed!

Ninces: I’ll find someone to do it with me! epic 8000 balloons! unless that person is heavier then we’ll probably need 10000..

Me: ..i should post this, maybe i’ll find that crazy person who wants to do it with u. wish me luck.

Ninces: Thank you ka. :*

Me: Seriously!?

~ ~ ~

Youre the best sister! Sometimes I wonder why I didn’t get your looks and your brains.

Whole Hearted


Ketulusan sepasang kekasih

Catatan Penulis

Cerita dalam tulisan ini terinspirasi dari buku ‘by the river piedra I sat down and wept’ karangan Paulo Coelho dan sangat berhubungan erat dengan hidupku saat ini. Judul ‘Whole Hearted” sendiri yang berarti; sepenuh hati, kesungguhan dan tulus.

Persembahan

Tulisan ini kupersembahkan untuk Kesia kekasihku, yang menjadi inspirasi untuk membuat tulisan tentang ‘Ketulusan’. “Semoga kamu suka sayang.”

Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia dan kau pun mungkin akan melakukan hal yang sama hanya untuk membuatku bahagia. Pada akhirnya kita hanya dua orang yang mencoba untuk saling membahagiakan, tidak ada hal lain.

Seorang anak laki-laki dan perempuan jatuh cinta setengah mati. Mereka memutuskan untuk bertunangan sebelum anak laki-laki itu pergi berlayar. Dan ketika itulah kedua calon mempelai saling bertukar hadiah. Anak laki-laki itu sangat miskin, miliknya yang paling berharga hanya arloji yang diwarisinya dari kakeknya. Ketika dia membayangkan rambut kekasihnya yang indah, dia memutuskan menjual arloji itu untuk membelikan jepit rambut perak bagi kekasihnya.

Anak perempuan itu juga tidak mempunyai uang untuk membeli hadiah bagi kekasihnya. Dia pergi ke toko milik pedagang paling sukses di kota itu, dan menjual rambutnya. Dengan uang yang didapat, dia membelikan rantai jam emas bagi kekasihnya.

Ketika bertemu di pesta pertunangan, si anak perempuan memberikan rantai jam untuk arloji yang telah dijual kekasihnya, dan si anak laki-laki memberinya jepitan untuk rambut yang tak lagi dimiliki kekasihnya.

“Key, you have my whole heart for my whole life.”

“The qualities of love of a relationship are in direct proportion to the depth of the commitment by both people to making the relationship successful. Commit yourself whole heartedly and unconditionally to the most important people in your life.”

~~~

Still in Memory


“Past is good to visit, but certainly not a good place to stay”

Prologue

Saya mencari sesuatu yang berhubungan dengan ingatan, segala hal yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang masa lalu yang masuk kedalam kepala saya yang rumit. Semua itu dapat disimpulkan dengan mudah dan sesederhana menyebut kata “ingatan”. Kemudian saya menemui kata yang menarik perhatian saya; “masih dalam ingatan”. Kata beberapa peneliti mengenai ingatan: “Ingatan atau memori adalah sebuah fungsi dari kognisi yang melibatkan otak dalam pengambilan informasi”. Ingatan banyak dipelajari dalam psikologi kognitif dan ilmu saraf. Kata “ingatan” juga memotivasi sebagian penulis untuk dijadikan bahan menulis buku atau suatu karya tulisan. Termasuk saya pada saat ini.

Saya kembali ke masa sepuluh tahun lalu, kembali ke masa-masa sulit. Masa di mana hidup saya seperti berada di atas pohon yang tinggi, dilempari batu dan tidak tahu caranya untuk turun. Pertengkaran keluarga, percintaan dan kenakalan remaja yang saya lakukan dengan kesalahan sendiri. Seolah-olah saya ada di sana untuk sementara. Saya bisa merasakan suasananya, dapat menyentuh, dan dapat melihat dengan detail. Ingatan ini bukan hadir untuk menuntun saya ke jalan penyesalan yang berlarut, justru kenangan ini menjadi pembuka jalan dalam setiap lembar kertas, setiap huruf, setiap kata, setiap kalimat, setiap paragraf dan akhirnya menjadi sebuah tulisan. Tulisan tentang “masih dalam ingatan” atau dalam bahasa inggrisnya ‘Still in memory’. Dengan perasaan lega saya tidak ingin mengingat lagi kedalam masa-masa pelik itu, karena di sana masih ada tempat tentang ingatan masa-masa indah, dan saya sangat bangga masih menyimpan itu dalam ingatan.

~Jawaban pagi itu~

Pagi itu aku datang lebih pagi, menjadi satu-satunya siswa yang ada di lorong itu. Aku melihat secarik kertas tertempel dimajalah dinding saat aku melintasi kelas-kelas yang sepi. Dengan segera aku membaca berita itu, sesaat mataku mengidap, nafasku sesak lalu air mata seolah menerjang mataku, aku menangis sekencang-kencangnya. Mungkin teriakan tangisanku pagi itu hanya bergaung ke seberang ruangan atau mungkin ke sepanjang lorong, tetapi ingatan tentang dia akan bergaung ke sepanjang hidupku.

~Pertemuan~

Aku kembali ke masa lalu, di pertama kali kami bertemu.

Di lorong sekolah itu. Lorong pemisah kelas-kelas tempat kami para murid bermain dan berkumpul disaat istirahat makan siang. Lorong panjang tempat kami merencanakan segala hal untuk kegiatan sepulang sekolah nanti. Lorong dengan lantai berwana gelap tempat kami dihukum keluar kelas disaat salah-satu dari kami melanggar peraturan. Dan bagiku lorong itu menjadi lorong pertemuan.

“Theo”, dia menyebut namaku dengan keras dan jelas. Sesaat aku hanya memperhatikan reaksi di wajahnya, hanya untuk meyakinkan bahwa dia benar-benar memanggilku. Dalam ingatanku, saat itu aku melihat dia memegang sebuah buku. Buku yang sepertinya aku kenali, corak dan gambar buku tulis itu sangat familiar. Dan ya, itu buku catatanku. Aku menjadi semakin yakin karena terdapat namaku pada sudut buku tulis itu, ditulis dengan spidol hitam yang sudah mulai habis dan ditiban lagi dengan pulpen agar semakin jelas. Tetapi mengapa buku itu ada di tangannya, ada di tangan orang yang menjadi sebagian besar tulisan, gambar-gambar dan beberapa puisi. Seingatku terakhir kali aku melihat buku itu tepat disaat bel istirahat berbunyi, kira-kira baru dua puluh menit yang lalu. Segala pertanyaan dan kecurigaanpun menguap ke dalam kepalaku. Mencoba menebak apa reaksi dia selanjutnya jika aku menjawab sapaan dia tadi.

“Kamu memanggilku?” Jawabku dengan penuh rasa cemas, paling tidak aku masih punya harapan kecil kalau buku itu belum dibaca olehnya.

“Ya, aku memanggilmu, apa ada nama Theo lagi di sekolah ini selain kamu?” Menjawab pertanyaanku, sambil tersenyum.

“Kamu kenal dengan buku ini?” Lanjutnya, sambil mengikat rambutnya, berlagak santai dan mengacuhkan keteganganku.

Aku menganggukan kepala dan menjawab; “Ya, itu buku catatanku” ucapku, berharap pembicaraan ini akan berakhir dengan cepat.

“Ini aku kembalikan.” Dia mengembalikan buku itu. Sesuai denagan harapanku, pembicaraan kami pun berakhir. Tetapi, apa dia membacanya? Kalau iya, mengapa tidak ada reaksi sedikitpun darinya? Perasaanku kacau, meraba-raba apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku malu dan takut bila dia tahu isi buku catatanku, tapi aku senang karena ini kali pertama dia menyapaku dan menyebut namaku.

Dia, Darla, siswi kelas C yang berada di seberang kelasku. Aku memujanya saat pertama masuk sekolah ini, dan seingatku dia tidak mengenalku _tidak sama sekali. Dengan rambut hitam dan selalu diikat dengan ikatan khasnya, memakai tas ransel biru muda dan ada aksesoris gantungan tokoh Pikachu dalam cerita kartun Pokemon, kaos kaki pendek dan rok sedikit dibawah lutut. Dia selalu memeluk sekumpulan buku walaupun tas ranselnya terlihat masih bisa menampung buku-bukunya itu.

Aku suka dengan rambut hitam yang selalu diikat itu, aku suka pilihan tasnya yang tidak mengikuti tren tas selempang yang sudah banyak dipakai siswi kebanyakan, aku suka pilihan warnanya yang tidak mengikuti tren warna pink atau biru muda agar terlihat lebih feminin, aku suka dia menyukai tokoh Pikachu, aku menyukai kaos kaki pendeknya yang tidak mengikuti tren kaos kaki panjang, dan aku suka rok selututnya karena tidak mengikuti tren rok pendek agar terlihat seksi atau rok panjang agar terlihat siswi baik-baik. Aku suka segala hal yang ada padanya dan apa adanya.

Keesokan harinya, dalam suatu kesempatan kami bertemu lagi. Entah mengapa temanku tiba-tiba memperkenalkan kami disaat istirahat dalam lorong itu. Mungkin karena gossip tentang isi buku catatanku yang cepat beredar dari mulut ke mulut di sekolah ini. Singkat cerita, hari-hari berlalu. Kami selalu bertemu di lorong itu saat istirahat dan sepulang sekolah, seperti mimpi menjadi kenyataan, sekarang kami sudah sangat dekat, seperti sahabat.

Kami bercerita disaat bertemu di lorong, saat di kantin dan bahkan saat di rumah kami melanjutkan cerita melalui telepon. Cerita tentang berbagai hal yang tidak penting tapi menjadi sangat seru. Betapa bahagianya aku bisa sedekat ini dengannya. Aku masih ingat disaat aku melompati sofa, meja dan segala isi rumah yang bisa aku lompati dengan perasaan bahagia, dan berakhir di tempat tidur sambil berguling-guling bahagia saat aku menutup telepon setelah kami bercerita panjang lebar dengannya. Aku suka leluconnya tentang hutan, tentang ramalan yang aneh, aku suka cerita tentang wajah cantiknya yang dihajar bola saat kakak laki-lakinya meminta untuk menjadi penjaga gawang di garasi rumahnya, dan aku sangat menikmati saat dia bernyanyi salah satu lagu dari S club seven, M2M atau Savage Garden di telepon, selera lagunya yang sedikit berbeda tetapi tidak mengapa, aku sangat menyukainya. Aku menjadi sangat mencintainya.

Tetapi kebersamaan itu segera berakhir.

Saat itu sekolah kami sedang libur, karena hari itu adalah hari raya Natal. Sudah dua hari aku menghubunginya melalui telepon tapi tidak ada yang menjawab, tidak ada kabar dan tidak ada yang tahu tentang dimanakah dia berada atau kemana dia pergi, dia menghilang seperti ditelan bumi, dan aku menjadi sangat-sangat cemas. Aku menenangkan diri sendiri dengan alibi-alibi yang aku buat, segala kemungkinan terbaik yang bisa kuterima; mungkin dia sedang keluar kota merayakan natal, atau mungkin telepon rumahnya sedang tidak berfungsi dengan baik. Tapi yang aku ingat sangat jelas, saat itu aku  tidak ada di ruangan keluargaku saat merayakan malam natal bersama, mungkin tubuhku ada di sana, tetapi tidak dengan jiwaku. Jiwaku bersedih, dan terus menyebut namanya; “Darla, Darla”.

Sudah hampir seminggu berlalu, bagiku ini sudah terlalu lama. Aku butuh jawaban atas segalanya, adakah teman yang dapat memberitahuku. aku mungkin pernah sedikit kehilangan saat dia harus operasi usus buntu di singapura, tapi tidak untuk saat ini, kehilangannya kini menyiksaku.

Besok libur sudah selesai, itulah waktu yang tepat untuk mencari jawaban dimana dia berada, dan kemana saja dia selama ini. Aku berencana bangun lebih pagi dan berangkat kesekolah lebih awal dari biasanya.

Pagi itu aku datang ke sekolah sangat pagi, menjadi satu-satunya siswa yang ada dilorong itu. Aku berjalan menyusuri tangga dan lorong-lorong sekolah dengan penuh harapan, sesaat di antara langkahku ada yang menarik perhatianku dari buntut mataku, aku melihat secarik kertas putih tertempel di majalah dinding, hanya ada satu kertas di papan itu. Sambil membetulkan ransel aku membaca berita itu, dan aku menangis. Aku menangis sekencang-kencangnya, sekeras-kerasnya, memecahkan keheningan pagi.

Kertas itu bertuliskan berita duka cita, aku tidak sanggup melanjutkan membaca berita itu lebih jauh disaat aku membaca ada nama Darla tertulis di situ.

Belakangan aku baru tahu bahwa Darla dan keluarga mengalami kecelakaan hebat saat mereka sedang melakukan perjalanan keluar kota untuk merayakan natal.

~Cerita ini berdasrkan kisah nyata yang sedikit dirubah dari cerita aslinya~

“The best of memory inspired me to think on many subjects and left me many nights sleepless.”  ~Moussa Isaac Askey~