Happier

“to understand everything is to forgive everything.” ~miamou

Advertisements

2019

I was supposed to write this post at least on January, when the new years eve just passed and when mostly people spread their personal resolution on every social media. Well, my year seems just start a little bit late, with those bad choices happen on those crazy month, i don’t even able to touch my laptop to write things nor writings. I make couple right choices by the time and feel to share it now, so here it goes;

Happiness. Somehow just by saying it, mixture feelings of excitement, worry, and pressure come upon us. Those feelings come because we have certain expectations to be met and when the calendar says that 2019 has officially begun, we often have this unspoken hope and anxious that some or at least one of our expectations can be crossed away.

You may expect to be positive person, i know, i do. Those target that you may aim like; have an great achievement in career, find a life partner (again), break a habit that doesn’t bring any good, and being committed to something bigger than yourself. But you also might to accept negativity before you close to that.

I wish each one of you look forward to have a year that is full of happiness, joy, and fun. I know it’s been quite some time since the last time i post about yearly motivation on 2012 ‘Keep Calm I’m in Paradise’, but i have been saving my writings for my first book project on my paradise.

I keep telling my self; “2019 is a gift” and this is not just wishful thinking, and it’s also not only imaginary nor overreacting feelings, no matter good or bad my situation is, its just there.

I know that couple of days ago i received an email from someone that i almost forget about, she said; “you are my biggest happiness that comes in my worst life, i would like to thank you for that”, after almost 3 or 4 years never heard about her anymore. Its silly to know that i was thinking about someone that somehow want to say “She’s my biggest mistake that comes to my greatest life”. To be honest i still can’t understand what happened between all those love story that just passing by through the pain (mostly) that comes on our life, but someone once said to me; “To understand everything is to forgive everything.” And i still have big eager to understand everything, so i listen.

Let’s moving on with life along with all of our choices not from someone choices. If your choices have been making you a happier person then continues doing it. If your choices somehow have brought tears, anxiety and worry, don’t bother fixing what can not be changed instead take that experience and use it to make a new and better choices. Without you know it, 2019 will go by very quickly and 2020 will be soon around the corner. Start making a ‘happier’ choice , when you don’t make that choice, you are postponing a happier and fuller life. That might be pending your one more steps to success. That’s matters, and that’s all about i guess.

Just remember this; “We never taste a perfect joy, our happiest successes are mix with sadness.”

I hope it will inspired all of you, to my heart warm readers to make the right choice.

To be Happier.

-author

Fire Flies

Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.” ~miamou


Di kafe pinggir pantai itu, ia meneguk kenangan. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi, benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima tanpa akhir. Itulah yang menggelisahkannya, karena ia tahu segalanya tak pernah lagi sama. Segalanya tak lagi sama, seperti ketika ia menciumnya pertama kali dulu.

Dulu, ketika dia masih suka mengenakan dress backless, agar tattoo di punggungnya akan merekah indah. Saat senyumnya masih seranum buah mangga mudah. Dengan rambut dikepang ke samping hingga di atas buah dadah. Saat itu ia yakin: ia tak mungkin bisa bahagia tanpa dia. ”Aku akan selalu cinta, sayang….” Kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan di tengah dentuman lagu Trance itu. I still miss you….

Tapi mengapa bukan sendu lagu itu yang ia katakan dulu? Ketika segala kemungkinan masih berpintu? Mestinya saat itu ia tidak berlagak membiarkan dia pergi, karena saat itu ia berada di suatu jalan yang tidak ada jalan kembali, atau ia akan melawan arah dan mati karena bertabrakan dengan masa lalu. Mestinya jangan biarkan dia bergegas meninggalkan kafe ini dengan kejengkelan yang akhirnya benar-benar membuatnya tak pernah kembali.

Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaannya. Kenangannya. Itulah yang membuatnya selalu kembali ke kafe ini. Kafe yang seungguhnya telah banyak berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi, segalanya masih terasa sama dalam kenangannya. Ya, selalu ke kafe ini ia kembali, kembali bertarung dengan kenangan. Untuk gelas bir ketiga yang bisa menjadi keempat dan kelima. Seperti malam-malam kemarin, barangkali gelas bir ini pun hanya akan menjadi gelas bir yang sia-sia jika yang ditunggu tidak juga tiba.

”Besok kita ketemu, di kafe kita dulu?”

Ia tak percaya bahwa dia akhirnya meneleponnya.

”Kok diam….”

”Hmmm.”

”Bisa kita ketemu?”

”Ya.”

”Tunggu aku,” dia terdengar berharap. ”Meski aku tak yakin bisa menemuimu.”

Tiba-tiba saja ia berharap kali ini takdir sedikit berbaik hati padanya: semoga saja kekasihnya tiba-tiba mati overdosis dengan obat-obatan yang biasa kita pernah konsumsi bersama sambil bercinta, hingga perempuan yang masih dicintainya itu tak merasa cemas menemuinya.

Menemui? Apakah arti kata ini? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi untuk apa? Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari ciuman-ciuman masa lalu itu? Masa yang harusnya mereka jangkau dulu. Dulu, ketika ia masih berbaring bersama di pantai berkarang itu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut yang saat itu digerai hingga di atas dada, dan pasir berantakan di badanya. Ketika ia yakin, ia tak mungkin bahagia tanpa dirinya, bukan karena sebotol wine, bukan karena happy five, atau tarian mabuk diatas tubuhnya di tempat tidur malam sebelumnya.

Ah, ia jadi teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara ciuman-ciuman yang terasa gemetar dan diam-diam mengerang.

”Aku selalu membayangkan, bila nanti kita mati, kita akan menjelma menjadi sepasang kunang-kunang.”

Dia tersenyum, kemudian mencium pelan. ”Tapi aku tak mau mati dulu.”

”Kalau begitu, biar aku yang mati dulu. Dan aku akan menjadi kunang-kunang, yang setiap malam mendatangi kamarmu….”

”Hahaha,” dia tertawa renyah. ”Lalu apa yang akan kamu lakukan bila telah menjadi kunang-kunang?”

”Aku akan hinggap di dadamu, tepat di ujung putingmu, dan menyala seterang-terangnya.”

Dada yang membusung. Dada yang kini pasti makin membusung karena makin bertumbuh dimakan umurnya. Pun dada yang masih ia rindu. Dada yang sarat kenangan. Dada yang akan terlihat mengilap ketika seekor kunang-kunang hinggap di atasnya.

”Kunang-kunang…mau ke mana? Ke tempatku, hinggap dahulu….” Ucapnya, menggoda.

Ia bersenandung sambil membuka satu per satu kancing dress backlessnya. Dia yang hanya memejam. Ia seperti melihat seekor kunang-kunang yang perlahan keluar dari kelopak matanya yang terpejam. Seperti ada kunang-kunang di keningnya. Di pipinya. Di hidungnya. Di bibirnya. Di mana-mana. Kamar penuh kunang- kunang beterbangan. Tapi tak ada satu pun kunang-kunang hinggap di dadanya pualam. Dada itu seperti menunggu kunang-kunang jantan.

Ia selalu membayangkan itu. Sampai kini pun masih terus membayangkannya. Itulah yang membuatnya masih betah menunggu meski gelas bir ketiga sudah tandas. Selalu terasa menyenangkan membayangkan dia tiba-tiba muncul di pintu kafe, membuat ia selalu betah menunggu meski penyanyi itu telah terdengar membosankan menyanyikan lagu-lagu yang ia pesan.

Ia hendak melambai pada pelayan kafe, ingin kembali memesan segelas bir, ketika dilihatnya seekor kunang-kunang terbang melayang memasuki kafe. Kemudian kunang-kunang itu beterbangan di sekitar panggung. Di sekitar kafe yang ingar bingar namun terasa murung. Murung menapak geliat lidah pada tiap jeda tubuhnya. Murung mengharap tiap geliat di liat tubuhnya mengada. Lagi. Di sini. Menjadi nanti.

Adakah kunang-kunang itu pertanda? Adakah kunang-kunang itu hanya belaka imajinasinya? Penyanyi terus menyanyi dengan suara yang bagai muncul dari kehampaan. Dan kafe yang ingar ini makin terasa murung. Tiba-tiba ia menyaksikan ribuan kunang-kunang muncul dari balik keremangan, beterbangan memenuhi panggung. Hingga panggung menjadi gemerlapan oleh pendar cahaya kunang-kunang yang berkilau kekuningan.

Gelas birnya sudah tidak berbusa. Hanya kuning yang diam. Tidak seperti kunang-kunang beterbangan gemerlapan berpendar kekuningan. Kuning di gelas birnya mati. Sementara kuning di luar birnya gemerlapan. Hidup. Ia jadi teringat pada percakapan mereka dulu. Dua hari sebelum dia memilih hidupnya sendiri. Percakapan tentang bir dan kunang-kunang.

”Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.”

”Kenapa?”

”Karena di dalam matamu seperti hidup ribuan kuang-kunang. Aku selalu membayangkan ribuan kunang-kunang itu berhamburan keluar dari matamu setiap kau merindukanku.”

”Tapi aku tak pernah merindukanmu.” Dia tersenyum.

”Kamu bohong, kenapa harus berbohong hanya untuk jawaban yang sesimple itu?….”

”Aku tak pernah membohongimu. Kamu yang selalu membohongiku.”

Ia memandang nanar. Seolah tidak yakin apa yang ia dengar salah atau benar. Bohong baginya adalah dusta yang direncanakan. Sementara apa yang ia lakukan dulu adalah pilihan. Dan pilihan hanyalah satu logika yang terpaksa harus diseragamkan. Oleh banyak orang. Olehnya….

”Tidak. Aku tidak bohong.”

”Semakin kau bilang kalau kau tidak bohong, semakin aku tahu kalau kamu berbohong.”

Ia tak menjawab. Tapi bergegas menciumnya. Dengan rakus dan gugup. Begitulah selalu, bila ia merasa bersalah karena telah membohonginya. Seolah ciuman bisa menyembunyikan kebohongannya. Tapi ia tak bohong kalau ia bilang mencintainya. Ia hanya selalu merasa gugup setiap kali nada suaranya terdengar mulai mendesaknya. Karena ia tahu, pada akhirnya, setelah percakapan dan ciuman, dia pasti akan bertanya: ”Apakah kau akan menikahiku?”

Ia menyukai ciuman. Tapi, sungguh, ia tak pernah yakin apakah ia menyukai pernikahan. Kemudian ia berteka-teki: ”Apa persamaan bir dengan kunang-kunang?” Dia menggeleng.

Keduanya akan selalu mengingatkanku padamu. Bila kau mati dan menjelma jadi kunang-kunang, aku akan menyimpanmu dalam botol bir. Kau akan terlihat kuning kehijauan. Tapi kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa meminta segelas bir, tetapi kita tak pernah bisa meminta takdir.

Seperti ia tak pernah meminta perpisahan yang getir.

”Aku mencintaimu, tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu….”

Hidup pada akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti kematian. Semua akan mati karena itulah hukuman yang sejak lahir sudah manusia emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar ataupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang?

Pada saat ia tahu, bahwa pada akhirnya perempuan yang paling ia cintai itu benar-benar menikah—bukan dengan dirinya—pada saat itulah ia menyadari ia tak menang, dan perlahan-lahan berubah menjadi kunang-kunang. Kunang-kunang yang mengembara dari kesepian ke kesepian. Kunang-kunang yang setiap malam berkitaran di kaca jendela kamar tidurnya. Pada saat itulah ia berharap, dia tergeragap bangun, memandang ke arah jendela, dan mendapati seekor kunang-kunang yang bersikeras menerobos kaca jendela. Dia pasti tahu, betapa kunang-kunang itu ingin hinggap di dadanya. Sementara suaminya tertidur pulas dan puas di sampingnya.

”Aku memilih menikah dengannya, karena aku tahu, hidup akan menjadi lebih mudah dan gampang ketimbang aku menikah denganmu.”

Itulah yang diucapkannya dulu, di kafe ini, saat mereka terakhir bertemu.

”Jangan hubungi aku!”

Lalu dia menciumnya. Lama. Bagi ia, ciuman itu seperti harum bir yang pernah terhapus dari mulutnya.

Barangkali, segalanya akan menjadi mudah bila saat itu diakhiri dengan pertengkaran seperti kisah dalam sinetron murahan. Misal: dia menamparnya sebelum pergi. Memaki-maki, ”Kamu memang laki-laki bajingan!” Atau kata-kata sejenis yang penuh kemarahan. Bukan sebuah ciuman yang tak mungkin ia lupakan.

Dan kini, seperti malam-malam kemarin, ia ada di kafe kenangan ini. Kafe yang harum pantainya telah kalah oleh sebotol bir. Kafe yang mengantarkannya pada sebuah ciuman panjang di bibir. Kafe yang selalu membuatnya meneguk kenangan dan kunang-kunang dalam bir. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima?

Ini gelas bir keenam!

Dan ia masih menunggu. Ia melirik ke arah penyanyi itu, yang masih saja menyanyi dengan suara sendu. Ia melihat pelayan itu sudah setengah mengantuk. Tinggal ia seorang di kafe. Barangkali, bila ia bukan pelanggan yang setiap malam berkunjung, pasti pelayan itu sudah mengusirnya dengan halus. Sudah malam, sudah tak ada lagi waktu buat meneguk kenangan.

Pada gelas kedelapan, akhirnya ia bangkit, lalu memanggil pelayan dan membayar harga delapan gelas kenangan yang sudah direguknya habis. Ya, malam pun hampir habis. Sudah tak ada waktu lagi buat kenangan. Sudah tidak ada kenangan dalam gelas bir kedelapan. Setiap kenangan, pada akhirnya punya akhir bukan? Inilah terakhir kali aku ke kafe ini, batinnya. Besok aku tak akan kembali. Kemudian ia beranjak pergi.

***

Malam makin mengendap. Tamu terakhir sudah pergi. Diam dan setengah mengantuk, para pelayan kafe membereskan kursi. Bartender merapikan gelas-gelas yang bergelantungan. Sebentar lagi penjaga malam akan menutup pintu.

Pada saat itulah, terlihat seekor kunang-kunang memasuki kafe. Kunang-kunang itu terbang melayang berputaran, sebelum akhirnya hinggap di gelas bir yang telah kosong. Bir terakhirnya.

Dan,

Ia yang keluar dari pintu kafe dalam keaadan sedikit mabuk, perlahan mengeluarkan cahaya yang berpendar dalam keremangan lampu jalan, ia adalah kunang-kunang yang bertualang dalam setiap kesunyian malam.

Mencari cinta yang pernah datang di masa lalu, cintanya. Di dalam setiap botol-botol beer.

Miamou

Let The Rain Wash The Ocean

“Sometimes, you have to give up on people. Not because you don’t care, it’s because they don’t.”


Musim Hujan Datang

Musim panas telah berlalu, musim hujanpun telah datang. Angin berhembus cukup kencang ke hulu, temperatur udara mulai bergerak sedikit mendekati titik beku. Langit hitam terasa semakin sering menyapa, perlahan aku mulai bertanya, kali ini cerita tentang siapa?

Dalam beberapa hal, musim hujan akan sangat dirindukan ketika telah berlalu. Karena semua akan terasa seperti baru.

hujan di pagi itu.

Aku terbangun sekali lagi, waktu di telepon genggamku menunjukkan pukul 10:15 pagi. Aku sempat terbangun beberapa jam lalu untuk melihat pesan terakhir darinya yang berkata;

“Sayang.”

Pesan terakhir itu terkirim sekitar pukul 4:00 subuh. Aku mengartikan bahwa dia sudah di rumah saat itu, pikiranku sempat kemana-mana beberapa menit, bertanya dalam hati, membodohi diri sendiri dengan menganggap bahwa rutinitasnya adalah suatu yang wajar dan aku tidak perlu kuatir.

Kenyataannya,

Ketika dia pergi ke pesta malam itu, aku tidak bisa tidur semalaman dan aku mulai membayangkan secara rinci, apa yang terjadi. Ketika malam semakin larut, alkohol mulai mempengaruhi pikiran sadarnya, dentuman lagu membuat dia semakin bergairah untuk bergerak untuk melepas gerah, pendingin ruangan yang membuatnya merindukan gerangan. Liukan pinggulnya bisa menghibur mata lelaki itu, dia pura-pura tidak tahu kalau lelaki itu memperhatikannya, dia kembali duduk ke sofa, bercerita hal-hal yang bersifat pribadi dan membuat mereka semakin dekat.

Kepalanya jatuh untuk bersandar di dada lelaki itu, dan tangan mereka mulai mengukur kedalaman malam itu. Di titik itu aku berhenti membayangkan apa yang terjadi di sana selanjutnya.

Telepon genggamnya berbunyi; telepon dariku, ingin tahu apa dia baik-baik saja, aku tidak menunjukkan kekhawatiranku, karena aku tahu saat itu sudah terlambat untuk mencegah apapun, lebih baik berpura-pura semuanya baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa. Meskipun dia mengabaikan telepon genggamnya yang bergetar, aku tetap melanjutkan dengan mengirim pesan singkat;

“Havefun sayang, jangan terlalu larut pulang ke rumah.”

Dia yang begitu baik, dia yang sangat cantik, melihatnya berdiri sendiri pada waktu itu membuat rasa takutku menuju suatu titik. Tidak ada keraguan dalam apapun, dan membuatku berani untuk menjemputnya pergi ketempat dimana dia tidak akan berdiri sendiri lagi di masa depan nanti.

Tetapi belum genap sewindu aku menulis tentang ketulusan, sekarang hatiku sudah berantakan lagi, berceceran di setiap malam-malam yang telah dia lewati dengan lelaki itu. Aku terus bertanya dalam hati; andai saja ini bukan karena hadirnya lelaki lain. Andai saja ini hanya sekedar perbedaan pendapat, atau kebiasaan buruk masing-masing atau mungkin perbedaan keyakinan, aku pasti akan berjuang lebih jauh lagi. Andai saja.

“Aku pergi.”

Itu pilihan terakhirku. Kalaupun dia memilih lelaki itu dan jatuh cinta padanya, tidakkah dia akan menimbang-nimbang setiap momen yang telah kami jalani bersama sebelum dia memilih petualangan yang tidak akan ada jalan kembali?

Atau dengan pilihanku yang lain: Lebih baik kujalani saja deritaku, seperti di masa-masa lalu ketika orang-orang yang kucintai meninggalkanku. Lebih baik kurawat saja luka-lukaku, seperti yang juga kulakukan di masa lalu. Untuk beberapa waktu, pikiranku akan dipenuhi olehnya, hidupku mulai terasa pahit, aku akan membuat bosan teman-teman dan saudaraku karena yang kubicarakan tidak lain tentang kehilangan salah satu yang terbaik dalam hidupku.

Aku akan mencari pembenaran atas cerita ini, menghabiskan hari dan malam mengingat setiap saat yang kuhabiskan bersamanya. Aku akan mengambil kesimpulan bahwa dia terlalu menuntutku lebih atau aku memang pilihannya yang salah, walaupun aku telah berusaha sebisa mungkin untuk membahagiakannya. Aku akan bertemu wanita-wanita lain saat berjalan di jalan, tetapi yang aku lihat hanya wanita-wanita yang mirip dia. Aku akan menderita lagi berhari-hari dan bermalam-malam, bermalam-malam dan berhari-hari. Itu bisa berlangsung sampai beberapa minggu, bulan, mungkin tahun, atau bahkan lebih.

Sampai suatu pagi aku terbangun, dan menemukan diriku berpikir tentang hal lain, dan aku tahu yang terburuk sudah hilang, musim panas telah berlalu, dan angin sejuk musim hujan akan memandikanku; bahwa bila aku pergi, itu karena seseorang lain sudah waktunya datang_cinta akan kembali menemukanku.

“Sometimes, you have to give up on people. Not because you don’t care, it’s because they don’t.”

“What moves through us is a silence, a quiet sadness, a longing for one more day, one more word, and one more touch. We may not understand why i left you so soon, or why you left before we were ready to say good-bye, but by little, we begin to remember not just that we left, but that we lived. And that once was our life, gave us memories too, hard and pain to remember but then beautiful to forget, eventually.” ~mia

Love Wildly


Life is too short to fall for people who don’t love you loudly,

or for relationships that don’t set fire to your soul.

Our time in this earth is impermanent and those years we must love fearlessly.

The person you’re meant to be with will challenge you,

will push you,

and will drive you crazy.

He will make you happy and make you confuse,

complicated love is,

all at the same time.

The person your’e meant to be with will terrify you

they will make you feel something greater than anything and anyone else.

So this is what you need to know about love.

Chase the person who scares you in loyal,

stay with the person who dare to take you from your comfort,

in order to take you to wild love.

Comfort will let you wake up with a strange blankets smell,

you may not know how far your mind will travel once you loose it.

There is no shortcut.

There is no destination.

just fell on love wildly.

#miamou

Season Of Our Soul

When the ego dies, the soul awakes


“I’m not a writer, at least long time ago i thought i’m not gonna end up to be writer. But in front of your screen now, there’s words by me.

My tragedy is was that i loved words more than i loved the women, who inspired me to write them.

I wish there’s no reason for me to write this story on this blog. But there is something i really wanted to share, something that most of people search in life for. This season I am more open for many more disappointment and failure, with this I am more ready for anything, to face the new season of my soul.

Maybe i can’t find cool analogies, pretty metaphors, or write a lovely dopey poem like i used to write before. Because i want this to be ultra simple, the most primitive form of telling how i feel: “I love you”

~ ~ ~

tumblr_o07v4ph8pu1r3fa3go1_1280

~ ~ ~

I don’t know what’s going to happen from here, but i do know is that i want to be with you. I’ve witness how you felt, all your feelings are true. You make me smile, you are always there in my many night sleepless, and you are just simply amazing. I’m so happy that i had the privilege having you in my life.

We get along so well; the goofyness we share and our conversations are something I’d never trade for anything. I know we can become something special, and life is not sure with it self, season always changing, and future is a mystery that no one could not even understand it.

I hope you see that too.

Ghost Story

Some days i’m afraid to write, because sometimes the honesty kills me.


I am not the ghost, and this is not story about me. We read the same book together, we write on the same notes together. Turns out it tells about separate story.

“Let me guess. You wan’t to know why every time i let my self fall into past will led me into a complete riot in the end, at least, that’s how they measure themselves to understand my stories. I won’t show them what creeps me the most, and i know they don’t care too. But i hope you speak the language, the silence haunt me, the loud annoyed me. Tell me, am i a ghost now?”

– Raya’s first words to me

This is a short story about how i see ghost for the last time i see on her tears, as there is a ghost involved, you might call it a ghost story. But every tears is a ghost story. The dead sit on the tip of your eyes, long after they have gone.

This particular story belongs to Raine “Raya” Yazminah. She was not the ghost too. She was very real. I found her grabs my attention across through my window, we were strangers long before I move to that foreign country, fell in love under a thousand stars, tells possibly meetings story about today (when we just continue the chains of life, the bond of feeling and facing the part of moving on). Back to those days;

“I wonder what is the best pick up line to start talk with you again, one day, when we become a complete stranger, when i’m not the guy who hold your hand like this anymore?”

– I flirt her into my humor sense

She tighten her grips, talk in to my deepest eyes, said; “Why you imagine that far? Are we gonna be stranger? Even when we still together?”

Looking back, it was a fate that i finally found her on existence and it was a fate too once it burns by distance.

“I guess, thats what everyone said about this human feeling. Same like a ghost stories.”

– I answered

I wish there’s no reason for me to write this story on this blog. But there is something I really wanted to share, something that most of people search in life for. This story confirming some truth the deeper understanding of who we are as human beings. We all loves stories, we born for them.

What i have written here is what Raya told me in our conversation that morning. Which stretched out much longer than that. You may not believe it anyhow.

Before you continue read this, ask your self first: Have you ever lost someone you love and wanted one more conversation, one more chance to make up for the time when you thought they would be here forever? If so, then you know you can go your whole life collecting days, and none will outweigh the one you wish you had back. What if you got it back?

“Last night, I dream she was with me, my long gone lover, we met in some place, I’m not sure where it was. We decide which stuff we should choose, I’m not sure also what stuff we talking about, what matter is, I saw her again after awhile, even just in a dream. Now i feel i am not awake at all, seeing you front of me makes me feel like this life is a solid fiction.”

Raya seem start to focus about what I said, which I believe she was waiting to blow this conversation by how she end up at front of me. I told her my situation was complicated and I don’t want to take her time to talk about it as i want to know what happen on her, the person that i love the most just to leave her heart with scars in the sudden of separation. My biggest question was; “Why she’s here?”

○●○●

(I will continue this story someday in a gloomy April, i feel bad if i have to keep it on pending review, that’s why i publish it, so hang on, i’ll be back like a ghost. -author)

The Bridge


I was stiff and cold,

I was a bridge,

I lay over a ravine.

My toes on one side, my fingers clutching the other, I had clamped myself fast into the crumbling clay. The tails of my shadows sit with me at my sides. Far below the temperature in this room.

No tourist strayed to this impassable height, the bridge was not yet traced on any map. So I lay and waited; I could only wait. Without falling, no bridge, can cease to be a bridge.

It was toward evening one day- was it the first, was it the thousandth? I cannot tell- my thoughts were always in confusion and perpetually moving in a circle. It was toward evening in the beginning of the season, the roar of the stream had grown deeper, when I heard the sound of a human step!

If her steps are uncertain, i am down to remain,

but if she stumbles show what you are made of and like a mountain god hurl her across to land.

She came, she tapped me with the iron point of her voices, then she lifted my blankets with it and put them in order upon me.

She plunged the point of her heart and let it lie there for a long time, forgetting me, no doubt while she wildly gazed around her. But then – I was just following her in thought over mountain and valley – she jumped with both feet on the middle of my body. I shuddered with wild pain, not knowing what was happening.

Who was it?

A meets?

A kid?

A dream?

A feeling?

A suicide?

A tempter?

A destroyer?

A lover?

Alone?

And I turned so as to see her. A bridge to turn around! I had not yet turned quiet around when I already began to fall, I fell and in a moment I was torn by the sharp rocks which had always gazed up at me so peacefully from the rushing water.

I would be a bridge, to let you pass for your better life, or a turn around? a bridge that led her witness once i fell.

wgusa10