That’s Why We Pray


No father wants to be separated from his kids. But, as separated families become more common, millions of dads now live apart from their children. Luckily, with faith in pray, a little common sense and compromise from me and my child’s mom, i can still have a great time with my daughter.

~~~

The greatest gift i ever had come from God, and i call her Samantha Askey. ~Daddy

~~~

Sometimes when i visit with some of my single father friends, i’m imagine of the challenge that they are facing raising children alone. But i still just don’t get it. How to raise a child by myself. I absolutely adore and love my daughter. She does have, mostly due to the influence of mine, become strong. But i afraid to think how she might have turned out if i was her lone parent. So, single dads, i hope you can feel my admiration for your taking on the challenge of raising a daughter alone. In trying to understand the keys to success in raising a daughter as a single dad, i turned to some of my friends who have done it well.

Whether you are divorced or separated parent, or whether you are a widowed dad, the challenges are very similar. So, given the advice from those who have walked in your shoes, here are some of my current stories.

When we found her problem, many men tend to take an “I Must Fix It” mentality in their lives and their relationships. We tend to listen long enough to identify the problem, solve and pray then we are off on the solution. My daughters usually don’t want us to fix their issues; She would rather we listen for understanding and let her learn to work our solutions. I always try to keeping the lines of communications open requires time, patience and a willingness to make it a priority, even though in distance.

At first, it is hard to continue my life after last minute divorce and i don’t want to remind my memories or thinking how those things happen in my life. Forget, forgive and moved on. But the purpose about what i’m trying to convey to all of you is the separated between me and my lovely daughter (Samantha).

Someone once said to me that my father leave my mom, my sister and me with no responsibility and no regrets. I have learned that i don’t want to be like him. I know i am failed to maintain my marriage, but this is certainly not my decisions and i had tried to fix it many time until i founded that this is not about how to fix it. This is about her life, i am admitted thaw “We parents” too selfish to ignore her; that she’s deserve to have a parents completely.

I have faith that one day we will be together as a family, maybe not now, not tomorrow or  maybe in the other ways or anything possible, we never know. Sometimes it feels impossible; “That’s why we pray”.

Messages;

“I know more people than you can count have probably told you, but you should not give up. I hope you never do. Son, my husband, your father leave us in a bad way almost twenty years ago. I know what it’s like to experience loss but, for the sake of your daughter and me, you have to learn that we cannot give up. Be strong, and know that at least one person out there is wishing the best for you at every possible moment. I love you.” – Mom

“Be strong, we all experience loss at some point of our lives. I’m sure your daughter is proud of you. Because she has such a strong Father and trust me, seeing you cry makes her cry too. She wants her daddy to be happy, so go out there and live your life. First, take a look in the mirror and smile.” – Best Friends

~moussa isaac askey-

Advertisements

Like My Grandma Did

“Dia tidak pernah seperti ini dan aku tidak pernah melihatnya selemah ini, Oma orang paling kuat yang aku renal.” ~mimaou


Like My Grandma Did

Beberapa hari lagi kami sekeluarga akan merayakan hari pergantian tahun bersama. Akan banyak kesenangan di sana dan sudah pasti ada berbagai macam masakan Oma yang selalu aku dan saudara-saudaraku tunggu. Sup kacang merah kental dengan bumbu khasnya menjadi menu utama. Disandingkan dengan ayam rica-rica, ikan cakalang asap yang di bungkus dengan daun pisang khas menado, segala sayuran yang tidak pernah luput dari irisan cabai sebagai ciri khasnya, dan masih banyak lagi. Semua makanan itu adalah masakan Oma dan aku tak sabar untuk itu semua.

Tetapi,

Sekarang aku sedang terbaring di lantai, di atas kasur tipis, bahkan hampir setipis keset yang terletak sangat dekat dari tempat aku berbaring. Semua bayanganku tentang pesta beberapa hari lagi sepertinya hanya seperti mimpi, segala kesenangan tidak akan hadir dan segala masakan itu sudah pasti tidak akan tersaji di atas meja jati di rumah Oma. Semua itu karena sekarang Oma ada di sampingku, di atas kasur besi dengan baju biru muda tipis dan terbujur kaku, di dalam kamar rumah sakit yang sangat sunyi. Satu – satunya suara yang terdengar adalah mesin pengukur detak jantung. Jarum suntik tertancap di urat nadi lengan kanannya, kulitnya seperti plastik mengkilat dan keriput, jari-jari kecilnya yang dingin dan lemas lunglai dan umurnya yang hanya bergantung dengan seutas selang, melajur ke hidungnya, seolah-olah baginya dunia menciut menjadi hanya sebuah tarikan nafas_hanya sebuah tarikan nafas. Dia divonis dokter terkena kangker hati langka, dan memang umurnya tidak akan lama lagi.

“Dia tidak pernah seperti ini dan aku tidak pernah melihatnya selemah ini, Oma orang paling kuat yang aku kenal.”

Kembali ke dalam bayanganku tadi, tidak akan ada kesenangan, tidak akan ada masakan-masakanya lagi, dan semua itu bukanlah kesalahannya. Jika bisa memilih, pasti dia tidak mau seperti ini. Oma tahu dia jadi korban sesuatu yang tidak ada alasannya, dan dia tidak memilih untuk menjadi marah atau membuat orang lain menjadi korban. Harapan baginya, ialah ketika dia memberi. Mungkin dalam keadaan getir dan rapuh. Tetapi bagiku itulah pesan darinya: tetap saja ada orang yang berbuat baik, walau dalam kekalahannya. Itulah Harapan.

Dari tahun ke tahun Oma sudah mendatangkan banyak kesenangan dalam keluarga besar kami, tahun–tahun itu selalu diisi dengan segala cerita tentang masa mudanya, nasehat–nasehatnya, nyanyian–nyanyian riangnya dan segala lelucon konyolnya. Dia melakukan itu semua bahkan di saat dia sedang sakit_dia menutupi kesakitannya dengan kasih.

Oma selalu ada untuk kami. Oma mengajarkan segala hal untuk cucu–cucunya, seperti aku harus menghitung 100 hitungan dalam hati di saat aku sedang dalam emosi dan aku harus selalu mengandalkan Tuhan dan doa. Bahkan tanpa bicara Oma sudah menyampaikan pesan untukku, memberiku pelajaran paling berharga. Pada suatu situasi dalam masa kenakalan remajaku aku pernah mencoba untuk mencuri uangnya di kotak penyimpanan di dalam kamarnya, seketika Oma masuk ke dalam kamar dan melihat dengan jelas apa yang sedang aku lakukan, tetapi bukan tamparan atau hukuman yang aku terima: dia hanya diam, dan di dalam diam ada pertanda. Beberapa waktu berlalu, tidak lama setelah kejadian itu. Oma masih belum keluar dari kamarnya, itu membuatku ingin tahu apa yang dia lakukan selama itu di dalam kamarnya. Aku melihatnya sedang berdoa.

“Dia berdoa, dia mendoakanku.”

Kembali ke kamar sunyi ini, dalam hati aku berbicara kepadanya.
“Kalau Oma mau pergi, pergilah secepatnya. Tuhan mungkin sudah menunggu Oma di sana, dan dibanding kami semua, Tuhanlah yang lebih membutuhkan Oma.” Aku tidak mendoakan agar dia cepat pergi, aku hanya tidak bisa melihat dia seperti ini lebih lama lagi. Aku terlalu mengasihi dia, tetapi kita harus sadar, bahwa Tuhan lebih menyayanginya. Dengan damai, Oma pergi.

Hari pergantian tahun berlalu, kami sekeluarga masih berkumpul bersama, mencoba melupakan kesedihan yang baru saja berlalu, mencoba mengenang segala sukacita yang belum tentu ada lagi di hari depan.

Dia, Omaku, sudah berjuang dari awal hingga akhir hidupnya. Kenangan tentang Oma sudah pasti akan kami ingat. Dengan merelakan kepergiannya berarti kami siap untuk meneruskan “Kasih”nya kepada anak dan cucu kami di kemudian hari, “Aku mau melakukannya sama seperti yang Oma buat.”

Notes: Oma Marry G. Warbung, tutup usia pada 31 Desember 2005; usianya 65 tahun saat itu; dia memiliki 10 cucu yang selalu merindukannya; dia pergi dalam damai, senyuman di peti itu mengatakannya.

If you are brave to say “good bye”, life will reward you with a new “hello” ~Paulo Coelho

~~~