The Adventure Fireflies on Every Last Zip of Beers

”Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.” ~miamou

Advertisements

Di kafe pinggir pantai itu, ia meneguk kenangan. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi, benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima tanpa akhir. Itulah yang menggelisahkannya, karena ia tahu segalanya tak pernah lagi sama. Segalanya tak lagi sama, seperti ketika ia menciumnya pertama kali dulu.

MiaMou

scott_450Dulu, ketika dia masih suka mengenakan dress backless, agar tattoo di punggungnya akan merekah indah. Saat senyumnya masih seranum buah mangga mudah. Dengan rambut dikepang ke samping hingga di atas buah dadah. Saat itu ia yakin: ia tak mungkin bisa bahagia tanpa dia. ”Aku akan selalu cinta, sayang….” Kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan di tengah dentuman lagu Trance itu. I still miss you….

Tapi mengapa bukan sendu lagu itu yang ia katakan dulu? Ketika segala kemungkinan masih berpintu? Mestinya saat itu ia tidak berlagak membiarkan dia pergi, karena saat itu ia berada di suatu jalan yang tidak ada jalan kembali, atau ia akan melawan arah dan mati karena bertabrakan dengan masa lalu. Mestinya jangan biarkan dia bergegas meninggalkan kafe ini dengan kejengkelan yang akhirnya benar-benar membuatnya tak pernah kembali.

Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaannya. Kenangannya. Itulah yang membuatnya selalu kembali ke kafe ini. Kafe yang seungguhnya telah banyak berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi, segalanya masih terasa sama dalam kenangannya. Ya, selalu ke kafe ini ia kembali, kembali bertarung dengan kenangan. Untuk gelas bir ketiga yang bisa menjadi keempat dan kelima. Seperti malam-malam kemarin, barangkali gelas bir ini pun hanya akan menjadi gelas bir yang sia-sia jika yang ditunggu tidak juga tiba.

”Besok kita ketemu, di kafe kita dulu?”

Ia tak percaya bahwa dia akhirnya meneleponnya.

”Kok diam….”

”Hmmm.”

”Bisa kita ketemu?”

”Ya.”

”Tunggu aku,” dia terdengar berharap. ”Meski aku tak yakin bisa menemuimu.”

Tiba-tiba saja ia berharap kali ini takdir sedikit berbaik hati padanya: semoga saja kekasihnya tiba-tiba mati overdosis dengan obat-obatan yang biasa kita pernah konsumsi bersama sambil bercinta, hingga perempuan yang masih dicintainya itu tak merasa cemas menemuinya.

Menemui? Apakah arti kata ini? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi untuk apa? Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari ciuman-ciuman masa lalu itu? Masa yang harusnya mereka jangkau dulu. Dulu, ketika ia masih berbaring bersama di pantai berkarang itu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut yang saat itu digerai hingga di atas dada, dan pasir berantakan di badanya. Ketika ia yakin, ia tak mungkin bahagia tanpa dirinya, bukan karena sebotol wine, bukan karena happy five, atau tarian mabuk diatas tubuhnya di tempat tidur malam sebelumnya.

Ah, ia jadi teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara ciuman-ciuman yang terasa gemetar dan diam-diam mengerang.

”Aku selalu membayangkan, bila nanti kita mati, kita akan menjelma menjadi sepasang kunang-kunang.”

Dia tersenyum, kemudian mencium pelan. ”Tapi aku tak mau mati dulu.”

”Kalau begitu, biar aku yang mati dulu. Dan aku akan menjadi kunang-kunang, yang setiap malam mendatangi kamarmu….”

”Hahaha,” dia tertawa renyah. ”Lalu apa yang akan kamu lakukan bila telah menjadi kunang-kunang?”

”Aku akan hinggap di dadamu, tepat di ujung putingmu, dan menyala seterang-terangnya.”

Dada yang membusung. Dada yang kini pasti makin membusung karena makin bertumbuh dimakan umurnya. Pun dada yang masih ia rindu. Dada yang sarat kenangan. Dada yang akan terlihat mengilap ketika seekor kunang-kunang hinggap di atasnya.

”Kunang-kunang…mau ke mana? Ke tempatku, hinggap dahulu….” Ucapnya, menggoda.

Ia bersenandung sambil membuka satu per satu kancing dress backlessnya. Dia yang hanya memejam. Ia seperti melihat seekor kunang-kunang yang perlahan keluar dari kelopak matanya yang terpejam. Seperti ada kunang-kunang di keningnya. Di pipinya. Di hidungnya. Di bibirnya. Di mana-mana. Kamar penuh kunang- kunang beterbangan. Tapi tak ada satu pun kunang-kunang hinggap di dadanya pualam. Dada itu seperti menunggu kunang-kunang jantan.

Ia selalu membayangkan itu. Sampai kini pun masih terus membayangkannya. Itulah yang membuatnya masih betah menunggu meski gelas bir ketiga sudah tandas. Selalu terasa menyenangkan membayangkan dia tiba-tiba muncul di pintu kafe, membuat ia selalu betah menunggu meski penyanyi itu telah terdengar membosankan menyanyikan lagu-lagu yang ia pesan.

Ia hendak melambai pada pelayan kafe, ingin kembali memesan segelas bir, ketika dilihatnya seekor kunang-kunang terbang melayang memasuki kafe. Kemudian kunang-kunang itu beterbangan di sekitar panggung. Di sekitar kafe yang ingar bingar namun terasa murung. Murung menapak geliat lidah pada tiap jeda tubuhnya. Murung mengharap tiap geliat di liat tubuhnya mengada. Lagi. Di sini. Menjadi nanti.

Adakah kunang-kunang itu pertanda? Adakah kunang-kunang itu hanya belaka imajinasinya? Penyanyi terus menyanyi dengan suara yang bagai muncul dari kehampaan. Dan kafe yang ingar ini makin terasa murung. Tiba-tiba ia menyaksikan ribuan kunang-kunang muncul dari balik keremangan, beterbangan memenuhi panggung. Hingga panggung menjadi gemerlapan oleh pendar cahaya kunang-kunang yang berkilau kekuningan.

Gelas birnya sudah tidak berbusa. Hanya kuning yang diam. Tidak seperti kunang-kunang beterbangan gemerlapan berpendar kekuningan. Kuning di gelas birnya mati. Sementara kuning di luar birnya gemerlapan. Hidup. Ia jadi teringat pada percakapan mereka dulu. Dua hari sebelum dia memilih hidupnya sendiri. Percakapan tentang bir dan kunang-kunang.

”Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.”

”Kenapa?”

”Karena di dalam matamu seperti hidup ribuan kuang-kunang. Aku selalu membayangkan ribuan kunang-kunang itu berhamburan keluar dari matamu setiap kau merindukanku.”

”Tapi aku tak pernah merindukanmu.” Dia tersenyum.

”Kamu bohong, kenapa harus berbohong hanya untuk jawaban yang sesimple itu?….”

”Aku tak pernah membohongimu. Kamu yang selalu membohongiku.”

Ia memandang nanar. Seolah tidak yakin apa yang ia dengar salah atau benar. Bohong baginya adalah dusta yang direncanakan. Sementara apa yang ia lakukan dulu adalah pilihan. Dan pilihan hanyalah satu logika yang terpaksa harus diseragamkan. Oleh banyak orang. Olehnya….

”Tidak. Aku tidak bohong.”

”Semakin kau bilang kalau kau tidak bohong, semakin aku tahu kalau kamu berbohong.”

Ia tak menjawab. Tapi bergegas menciumnya. Dengan rakus dan gugup. Begitulah selalu, bila ia merasa bersalah karena telah membohonginya. Seolah ciuman bisa menyembunyikan kebohongannya. Tapi ia tak bohong kalau ia bilang mencintainya. Ia hanya selalu merasa gugup setiap kali nada suaranya terdengar mulai mendesaknya. Karena ia tahu, pada akhirnya, setelah percakapan dan ciuman, dia pasti akan bertanya: ”Apakah kau akan menikahiku?”

Ia menyukai ciuman. Tapi, sungguh, ia tak pernah yakin apakah ia menyukai pernikahan. Kemudian ia berteka-teki: ”Apa persamaan bir dengan kunang-kunang?” Dia menggeleng.

Keduanya akan selalu mengingatkanku padamu. Bila kau mati dan menjelma jadi kunang-kunang, aku akan menyimpanmu dalam botol bir. Kau akan terlihat kuning kehijauan. Tapi kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa meminta segelas bir, tetapi kita tak pernah bisa meminta takdir.

Seperti ia tak pernah meminta perpisahan yang getir.

”Aku mencintaimu, tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu….”

Hidup pada akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti kematian. Semua akan mati karena itulah hukuman yang sejak lahir sudah manusia emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar ataupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang?

Pada saat ia tahu, bahwa pada akhirnya perempuan yang paling ia cintai itu benar-benar menikah—bukan dengan dirinya—pada saat itulah ia menyadari ia tak menang, dan perlahan-lahan berubah menjadi kunang-kunang. Kunang-kunang yang mengembara dari kesepian ke kesepian. Kunang-kunang yang setiap malam berkitaran di kaca jendela kamar tidurnya. Pada saat itulah ia berharap, dia tergeragap bangun, memandang ke arah jendela, dan mendapati seekor kunang-kunang yang bersikeras menerobos kaca jendela. Dia pasti tahu, betapa kunang-kunang itu ingin hinggap di dadanya. Sementara suaminya tertidur pulas dan puas di sampingnya.

”Aku memilih menikah dengannya, karena aku tahu, hidup akan menjadi lebih mudah dan gampang ketimbang aku menikah denganmu.”

Itulah yang diucapkannya dulu, di kafe ini, saat mereka terakhir bertemu.

”Jangan hubungi aku!”

Lalu dia menciumnya. Lama. Bagi ia, ciuman itu seperti harum bir yang pernah terhapus dari mulutnya.

Barangkali, segalanya akan menjadi mudah bila saat itu diakhiri dengan pertengkaran seperti kisah dalam sinetron murahan. Misal: dia menamparnya sebelum pergi. Memaki-maki, ”Kamu memang laki-laki bajingan!” Atau kata-kata sejenis yang penuh kemarahan. Bukan sebuah ciuman yang tak mungkin ia lupakan.

Dan kini, seperti malam-malam kemarin, ia ada di kafe kenangan ini. Kafe yang harum pantainya telah kalah oleh sebotol bir. Kafe yang mengantarkannya pada sebuah ciuman panjang di bibir. Kafe yang selalu membuatnya meneguk kenangan dan kunang-kunang dalam bir. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima?

Ini gelas bir keenam!

Dan ia masih menunggu. Ia melirik ke arah penyanyi itu, yang masih saja menyanyi dengan suara sendu. Ia melihat pelayan itu sudah setengah mengantuk. Tinggal ia seorang di kafe. Barangkali, bila ia bukan pelanggan yang setiap malam berkunjung, pasti pelayan itu sudah mengusirnya dengan halus. Sudah malam, sudah tak ada lagi waktu buat meneguk kenangan.

Pada gelas kedelapan, akhirnya ia bangkit, lalu memanggil pelayan dan membayar harga delapan gelas kenangan yang sudah direguknya habis. Ya, malam pun hampir habis. Sudah tak ada waktu lagi buat kenangan. Sudah tidak ada kenangan dalam gelas bir kedelapan. Setiap kenangan, pada akhirnya punya akhir bukan? Inilah terakhir kali aku ke kafe ini, batinnya. Besok aku tak akan kembali. Kemudian ia beranjak pergi.

***tumblr_lk3b7uS1RY1qag873o1_500

Malam makin mengendap. Tamu terakhir sudah pergi. Diam dan setengah mengantuk, para pelayan kafe membereskan kursi. Bartender merapikan gelas-gelas yang bergelantungan. Sebentar lagi penjaga malam akan menutup pintu.

Pada saat itulah, terlihat seekor kunang-kunang memasuki kafe. Kunang-kunang itu terbang melayang berputaran, sebelum akhirnya hinggap di gelas bir yang telah kosong. Bir terakhirnya.

Dan,

Ia yang keluar dari pintu kafe dalam keaadan sedikit mabuk, perlahan mengeluarkan cahaya yang berpendar dalam keremangan lampu jalan, ia adalah kunang-kunang yang bertualang dalam setiap kesunyian malam.

Mencari cinta masa lalunya, cintanya. Di dalam setiap botol-botol beer.

Miamou

Art of Love at The First Sight

“I could not tell you if I loved you the first moment I saw you, or if it was the second or third or fourth. But I remember the first moment I looked at you walking toward me and realized that somehow the rest of the world seemed to vanish when I was with you.” ~miamou


Falling in love at first sight is one of the best experiences of a life time for anyone. It feels so magical and strange. When you face that moment, not only your mind, but also your body feels strange.

londoncommons.ca

One time I went to a party and just sitting around. All of a sudden someone is beside me, offering to get me a drink or just a simple as they just ask you to light her cigarette. That simple thing will definitely led you to make a first move to see her feedback, then suddenly you might feel strange comfort and begin to start a conversation. Here after you’re struck by the emotional feeling that, you have just found someone who probably you could get for a future relationship, but don’t get it wrong and no need to rush. Make it everything as natural as you can. You see a nice girl staring at you with a innocent catchy smile, you think you just found the Miss. Right for you. But that’s crazy, isn’t it? I know, its isn’t normal, and this is not happens most of the time, But sometimes it could be ended up with long lasting wild romance perhaps. So, my point of view, first site love is that much strong sometimes.

Many think that is the real love. Because, when we just saw a person on the very first time, we don’t know anything about them. Do they educate or what they do for their life, and how old are they. The most important thing is, at least do they like us? Or they just try to flirt and playing her games to attract us? We don’t know anything yet, but we just feel love about them. So it’s only love. Nothing is there, in between us only a feeling of love. So, isn’t it real love? Or I could only say; it could be a real love and why not.

But few think, it’s not real love at the very first sight, but it’s only a desire about that person. If you think deeper about this, can this gorgeous, deep-voiced, well-dressed strange pretty lady with the perfect figure, give you what you really want for your life? Because we don’t know anything about them, and they don’t know who we are neither. It might be only a feeling of desire about that person. Desire, is actually not the true love, perhaps if we get to know about theses strangers some people would like to escape from them.

Beside all of the above, it’s better to see whether, “is there any mechanism for this love at first site?” Not all of us fall in love within few seconds. On my point of view, that kind of first sight love is the only thing that i can only see on the books or romance movie. So, sometimes it might be hard to experience it in a real life. Further, it has been seen in studies that men are more likely to falling in love immediately than women. It seems like men are more stimulated by visual appeal than women. On the other hand, women experience romantic chemistry a lot better than men. It means, Men know they like a woman the very second they see her. But in the case of women, they usually fall in love with someone after the one or two conversations, and it definitely depend of how the man treat her as a good stranger guy, such as; being fun, respect her as a lady, no need to give them too much compliment, just being natural you, listen carefully when they talk something serious, avoid to judge her easily, and many more. But the most important thing is to make her feel comfortable. And, Do you know that your first kiss also affect your love? If you lucky make her more feel comfortable with your kiss so you wont lose the attraction. And it’s not just the kisses, your body language too can predict whether you will experience love at first sight.

My best advice is, if both of you feel comfortable together, just take a walk sometimes, go to a coffee shops, spent time to get to know each other, avoid to talk about her bad memory of past, don’t judge easily, don’t get to attached or even worse get a really fast sex, sometimes is a good starts to have sex at beginning of relationships, but I experience it hard to make a ‘first sight love’ to a happily ever after, because that good sex will distract a simple thing of natural relationship. That’s actually what I learn from my mistake. So what do you think? Falling in love at first sight is real love? Or is just a lust that will bring you to a short term attached that only leads you to a one night stand? You decide.

~ ~ ~

“I could not tell you if I loved you the first moment I saw you, or if it was the second or third or fourth. But I remember the first moment I looked at you walking toward me and realized that somehow the rest of the world seemed to vanish when I was with you.” ~miamou

Nutella Spilled

When I first came out here, I had a dream – a dream of an easy life. Guess what? Most of it came true. ~miamou


 

Azka; “My whole life it was obvious I was going to end up in this island of God’s. I don’t want to be arrogant here, but I’m an incredibly attractive man. I can’t help it, I don’t try to be, I just am. When I was a kid my mother’s best friend used to tell me that I was gonna be a little heart breaker. Turns out she was right. Her husband came home from work one day and found us fuckin’ on the Stairmaster. Bali, Indonesia – that’s where all the beautiful little heart breakers go to live the dream. 30,000 of them arrive here every single month. 30,000 prom kings and queens, and Little Miss Cute Tits every one of them with stars in their eyes and a dream in their heart. When I first came out here, I had a dream – a dream of an easy life. I was gonna get rich from lyin’ around having my picture taken. I was gonna live in the hills and drive a noisy yellow sports bike and fuck 75cm girls who weighed 50kg’s. Guess what? Most of it came true.”

Nutella Spilled

A story about who i called narcissistic gigolo Azka who lives in beautiful island Bali, drifting from one relationship to another without a steady job or even a place to live. He preys on women who can provide for him, using his looks and sexual prowess to keep them happy.

Before long, however, Azka starts cheating on Norine, first with his friend then with Lala who actually had relationship with his best-friends, whom he met at another party. Lala disapproves of Azka’s free-wheeling lifestyle and has expressed a desire for a relationship, but Azka has no real interest in her except for sex. Norine catches Azka with Lala, but they come to an uneasy arrangement where she will ignore his infidelity.

While Norine is out of town, Azka meets a girl named Letisia. He enlists his friend Harry to help him get Leti interested, but she doesn’t fall for his charms. Although he eventually gets a date with her, she abandons him afterwards. Soon after, Leti unexpectedly shows up in Azka’s pool and they end up having sex in table while a cup of chocolate Nutella spilled on they tattoo skin. The next morning Azka is moving Leti’s car and realizes it doesn’t belong to her but to her “boyfriend”, after she told him she was single; Azka throws her out in anger.

However, he can’t stop thinking about her, and his obsession frustrates Norine to the point that she gets fed up and throws him out.

Azka searches for a place to stay, but has a fall out with Harry and cannot get into the parties he once did. He runs into Leti at a swanky boarding house, and she admits that she was only interested in him for his house, believing him to be rich. It transpires that she is the same as Azka, scamming rich men for money in the same way he does with women. She lets him move in with her and her room-mate Maria. They begin dating, though Leti continues to scam and hustle, with some reluctant assistance from Azka.

One day, an upset Leti reveals to Azka that she just broke up with her fiancé because she’s in love with him (Azka). She further tells him her fiancé’s family owns almost 60% Club in Bali and that he’s the one who’s been paying her bills and living expenses. Azka, who has also fallen in love with Leti, is nonetheless angry that she kept her engagement from him, and leaves the house in a huff. When he returns he only finds a note that says she has left for Jakarta.

At Maria’s urging and with Harry paying for the airfare, Azka follows her. He finds her at a plush penthouse and begs her to come back to Bali with him. She refuses, telling him she can’t afford to let him chase his fantasies around while she runs down the funds they would need to live. He then proposes to her, but she tells him that she is already married, breaking his heart. When told about divorce, Leti says that she can’t, because she needs the luxuries and high expenses. Her husband suddenly returns home and Leti passes Azka off as a grocery boy, dismissing him.

Azka end up stay in Jakarta, getting an honest job in five star hotel and start living together with his dying memory. And an odd morning conversation with his random girl in bed;

Azka: “We’re not gonna do this for forever”

Girl: “I know, but we can do this a little bit longer”… .

That he will never in love with anyone he think he deserve, because he deserve nothing.

* * * * *

A story that inspired by a true event, after several month have no time for writing while I’m lost on earning-spending world to keep survive, this story was also an warming up for my first book project “Simple Plot“.

They say you gotta kiss a lot of frogs to find your prince. But in this town everyone thinks they’re royalty. And the frogs don’t stand a chance.” miamou

Plot of Love


Plot of Love

Lovebirds, yang biasa kita sebut burung parkit, adalah salah satu dari sekian banyak burung di dunia yang menurut gue paling romantis. Menurut gosip-gosip yang menyeruak, katanya setiap burung Lovebirds itu hanya punya satu pasangan. Dan ketika salah satu pasangan mereka mati, pasangan yang ditinggalkan tidak lama kemudian akan mati juga karena sangat sedih. So sweet abis ya? Menurut gue burung Lovebirds juga lebih romantis daripada Anang – Ashanti. Dan, karena ke-sweet-an burung Lovebirds ini, dengan bangga gue jadiin primary picture yang mewakili setiap kata-kata sweet dari cerita ini.

Kata beberapa teman dekat, isi sebagian besar blog ini terlalu serius, galau, cinta-cintaan yang sekarang bisa berbunga-bunga, tapi besoknya bunganya jadi padang tandus, cengeng, childish, sok tahu tentang hidup, serasa paling tahu tentang cinta, gembel, STOP! (iya iya, udah jelas kok)

Tapi, semua komentar di atas ngga bikin gue berhenti nulis, justru bikin gue jadi ngerubah gaya nulis yang biasanya terkesan serius jadi lebih kasual dan enak di baca. Akhirnya disaat gue udah ngga galau mikirin cinta yang banyakan gagal daripada suksesnya, gue nulis Song of the Break Day dalam keadaan happy menari-nari, ngga serius-serius amat, ngga cengeng-cengengan, ngga ngambek-ngambekan, tapi tetep ngga gue lupain suasana sedih dari cerita nyatanya. Alhasil, banyak respon bagus dari beberapa temen dan saudara yang  terpaksa dengan senang hati baca blog gue. Singkatnya, gue dapet sesuatu dari sukesnya cerita terakhir itu, dan sekarang menulis cerita yang berjudul Plot of Love. Dimana suasana hati gue saat ini di ceritakan dengan sangat wajar dan tanpa kaca pembesar. Janji, ngga lebay.

Well, gue sedang jatuh cinta lagi (kaget dong!), dan gue ingin menulis tentang itu.

Now, this is the problem. Gue takut menulis tentang cinta lagi. You know, tulisan tentang cinta, adalah tulisan yang paling susah untuk ditulis. Karena, sangat susah menulis tentang cinta tanpa terlihat dangdut, corny, atau downright menya-menye. Gue ngga mau tulisan yang gue buat jadi terlihat seperti surat cinta mbak-mbak dan mas-mas pembantu rumah: “Kalau kamu jadi bunga, aku jadi lebahnya.” Atau, “Kalau kamu jadi lebah, aku jadi orang yang nimpukin sarang lebahnya… sengat aku sang lebah.” Bisa juga, “Kalau kamu jadi lubang di pohon, aku jadi burungnya.” (oke, kalimat terakhir ini agak ambigu, tapi yah sudahlah)

For me, what i have with you now, lebih dari analogi yang melibatkan binatang.

Tapi kalau mau dianalogikan, let me take a shot: falling in love with you is like; makan kacang kulit sambil nonton bola. Kuambil kacangnnya, kubuka kulitnya, kukunyah, kuambil, kubuka kulitnya, kukunyah, terus kuambil lagi, kubuka lagi kulitnya, dan kukunyah lagi. Namun, aku masih penasaran. Lalu kuambil lagi kacangnya, kubuka kulitnya, kukunyah kembali. Dan aku, tetap penasaran. Terus-terusan begitu, seolah di dalam kulit kacang ada door prize seminggu jalan-jalan bersama Megan Fox di Dubai. Gue bisa menyalahkan ini kepada sifat gue yang gampang ketagihan dan tidak pernah puas, atau kepada dia yang terus menawarkan cita-rasa yang tak kunjung habis. Atau, kepada keduanya.

Tuh kan, analogi kacang kulit gue juga masih belum se-sweet itu.

Maybe i can’t find cool analogies, pretty metaphors, or write a lovely dopey poem like i used to write before. Because i want this to be ultra simple, the most primitive form of telling how i feel: “I love you”.

Baiklah, sebentar lagi gue mau bercerita tentang cinta-cintaan (ngga bosen kan?), gue mau menggambarkan suasana hati gue yang, jujur, sedang berbunga-bunga, tapi seperti janji gue, gue ngga bakal bikin ceritanya jadi lebay. Hanya cerita sederhana tentang cinta, yang semua orang pernah mengalaminya. Agar lebih mengilhami, silahkan duduk cantik, siapin kacang kulit sama secangkir cappucino supaya ngga ngantuk. Selamat menikmati.

~ ~ ~

Seingat gue, kita ngga pernah merencanakan pertemuan pertama. Suatu waktu di minggu siang yang mendung, gue berkunjung ke suatu festifal seni lukisan di Ubud. Gue tertarik mengunjungi festival itu karena di tengah-tengah acara yang di fokuskan untuk membahas lukisan, terdapat seminar kecil yang membahas literatur/penulisan dan puncaknya adalah menampilkan beberapa penulis lokal yang menjadi pembicara.(asiik dapet ilmu gratis).

Selesai menghadiri seminar, gue menyinggahi beberapa stand lukisan dan berhujung pada salah satu galery yang kebetulan, itu adalah galery lukisan orang yang pernah gue kenal. Seorang yang gue kenal beberapa tahun lalu waktu gue masih bekerja di hotel ‘x’. Kita saling menyapa, saling menanyakan kabar dan membuka obrolan tentang hotel terakhir. Waktu itu dia menjalani cross-training di tempat gue bekerja, dan dia adalah anak dari salah satu owner pada hotel ‘x’ itu.

“Keren galery lukisannya, aku ngga tau kamu bisa melukis, dan lukisan kamu bagus-bagus.”

“Ah, kamu berlebihan.” sahutnya sambil melanjutkan menata bingkai-bingkai yang belum rapih.

“Lalu, bagaimana denganmu? aku baru baca blog kamu, kenapa ngga di jadiin buku aja sih? maksud aku, menurut penilaian orang awam sepertiku, kamu sudah cukup baik, bisa menyentuh orang dengan cerita dari setiap kegagalan itu.” ucapnya.

Gue kaget denger kalimat yang keluar dari bibirnya, bangga sih, tapi sebentar, gue ngga mau narsis berlebihan dulu, ngga ada waktu buat narsis saat itu.

“Wow, kamu pernah baca blog aku? Buku ya?” aku menggelengkan kepala sambil menjawab; “aku belum mikir ke sana, ini cuma hobby aja. Seneng deh kamu pernah baca blog aku.” Jawab gue sambil memasang tampang lugu. Terus dalam keaadaan yang sedikit ‘salting’ (nahan narsis), gue nanya balik; “Jadi, judul apa yang paling kamu suka di blog aku?”

“Mmh… Aku suka banget sama satu cerita fiksi tentang penantian. Kalo ngga salah, pertemuan manusia dengan dewi malam, dan kalau ngga salah judulnya ‘Sonador the Goddes of Night‘. Maaf ya, tapi aku agak menyayangkan judul itu hanya bagian dari puluhan cerita pendek lainnya. Menurut aku, judul itu layak kok untuk di jadikan buku. Maksudku, cerita itu hanya perlu di kembangkan sedikit.”

“Aku pernah dengar saran yang sama dari beberapa teman, dan kamu mungkin yang ke sembilan something (pemalsuan jumlah yang spontan). Kadang ada cerita yang memang lebih baik sampai di situ saja. Karena menurutku, cerita itu bisa terasa hambar kalau di kembangkan lagi. Tapi pasti aku pertimbangkan saran kamu.” Jawab gue.

“Aku suka banget lukisanmu yang ini.” Ucap gue, sambil menunjuk salah satu lukisan, dan pura-pura ngerti sama dunia seni lukis. “Kita harus kerja sama suatu saat nanti, mungkin aku akan mengawinkan bakat melukis kamu dengan kebutuhanku akan desain cover blog, atau mungkin cover buku pertamaku suatu saat nanti.” Gue melanjutkan sambil mengedipkan mata. (itu kedip, maksudnya apa coba?)

Dia tertawa kecil. “Tentu, dan kamu jelas harus menghubungiku di saat peluang itu datang, call me anytime.”

Selanjutnya.

Kita saling memberi kontak, besoknya ngebahas lukisan lewat bbm, minggu berikutnya kita janjian ketemu untuk makan siang di restoran ‘bebek tepi sawah’ Ubud, terus makan malam di ‘babi tepi jurang’ (ngarang) dan selanjutnya membahas buku di salah satu cafe di temani segelas cappucino panas. Di cafe itu kita mulai bercerita tentang hal yang tidak lagi berhubungan dengan tulisan atau lukisan, kita mulai nyaman membahas hal yang lebih pribadi, mulai dari;

“Bagaimana dengan keluargamu?” yang gue jawab santai dengan panjang lebar.

“Maaf, kenapa kamu mengahiri hubungan kamu dengan si model?” lemes dengernya, tapi harus di jawab, pertanyaan yang setiap bulan pasti muncul. Please bulan depan jangan ada yang nanya tentang ini lagi ooh Tuhan. Maaf mulai lebay. He eh ngga lagi.

“Apa kabar anak perempuanmu, Samantha?” yang gue jawab santai dengan panjang lebar.

Sampai ke;

“Berapa umur kamu sekarang? kamu belum kepikiran buat nyari temen hidup, maksudku, married?” pertanyaan ini cukup membuat wajah cantiknya merona. Saking cantiknya, jiwa mas-mas gue berontak mau nembak saat itu juga. Setelah bertempur habis-habisan, akhirnya gue memenangi pertarungan sengit melawan mas-mas di dalam diri gue, supaya ngga bertindak dangdut. Maaf atas ke-unyuan yang barusan terjadi.

Dan.

“Bagaimana denganmu, apa kamu ngga nyoba untuk masuk dalam suatu komitmen lagi, menikah lagi?” Gue ngga nyangka dia nanya balik, i was like WTF!? Gue menyembunyikan kepanikan dengan menjawab seadanya; “Kemarin-kemarin sih belum kepikiran, tapi semenjak ketemu kamu, pikiran itu muncul lagi, hahaha.” Kita tertawa kecil sambil menyeruput cappucino yang masih hangat.

Semua hujaman pertanyaan membuat kita semakin dekat, keterbukaan masing-masing mendisain suasana yang semakin nyaman lagi. Kenyamanan yang seolah berbahasa bahwa kita mulai saling membutuhkan saat itu.

Cuaca sore itu semakin gelap, tiupan angin dingin semakin terasa, membuat badan kita menggigil. Gue yang sudah janji untuk mengantarnya pulang tepat sebelum jam delapan malam, untuk menghadiri kebaktian bulanan keluarganya, membuat gue langsung bergegas mengakhiri pertemuan sore yang indah itu. Saat perjalanan di dalam mobil, kita ngga terlalu banyak bicara. Sesekali gue mengangkat pembicaraan di cafe tadi yang masih segar dan lucu untuk di bahas lagi. Dia tersenyum menatap ke seberang jendela mobil, gue menangkap sesuatu yang gue sebut ‘kenyamanan’ dari bahasa tubuhnya, bahwa gue akan mempertahankan suasana seperti ini kapanpun ada kesempatan kita bersama.

Sesampainya di depan garasi rumahnya, gue mengantarnya turun sampai ke pintu;

“Aku langsung pulang ya?” ucap gue,

“Kamu ngga mau mampir ke dalam sebentar? ucapnya sambil memainkan ujung rambutnya dengan jari. (kalau di film ‘HITCH’-nya Will Smith, mainin ujung rambut itu kode minta di kiss), all i have to do is make a first move. Mas-mas dalam diri gue makin berontak nafsu, tanpa basa-basi, gue ketok keras-keras kepala mas-mas itu pake batu sambil tereak “Mampus!”. Gemes gue. Centil amat jadi mas-mas.

“Lain kali aku pasti mampir, lagipula sebentar lagi kebaktian kan mau mulai, kamu siap-siap gih.”

“Mo, kabari aku kalau sampe rumah ya. Soalnya, setelah kebaktian aku mungkin ngga tahu mau ngapain lagi. Thank you for today mo, talk to you later.”

Hari berikutnya semakin banyak pertemuan, semakin banyak cerita, dan masuk semakin dalam; gue ke dalam hari-harinya, dia ke dalam mimpi-mimpi gue. Dan beberapa rutinitas lain, seperti: mengunjungi museum lukisan Antonio Blanco di Ubud, ke taman burung di gianyar untuk melihat segala jenis burung termasuk burung gue lovebirds, dinner bersama keluarga, menghadiri pernikahan sahabatnya, mabuk wine di atas dermaga, mendengar koleksi lagu, tidur dan akhirnya pada suatu pagi yang dingin, dia bangun dalam pelukan gue. Semua berjalan secara alami.

Malam tadi, di dalam selimut yang membelenggu tubuh kita, gue melemparkan satu-satunya kalimat yang sudah ngga pernah keluar dari bibir gue cukup lama, membuat gue sendiri ngga nyaman menyampaikanya.

Malam itu, di dalam selimut itu, akhirnya gue memberanikan diri untuk bilang;

“I love you” kalimat yang murni dari pikiran sadar gue, karena mas-mas mungkin masih di opname.

Dia ngelap keringat di dahi gue dengan kausnya yang sudah terlepas dan di letakan di samping bantal, tanpa menggubris kalimat gue barusan. Lalu;

“Will you still love me in the morning?” dia bertanya.

“I will” jawabku tegas.

~~~

Overall, ini hanya sepenggal pengalaman gue, and i’m glad its written. Kita masih berjalan secara alami, dan sekarang gue lagi seru-serunya belajar lukis dari dia, well lebih tepatnya mengembangkan bakat terpendam gue. Dan dia, lagi bantuin gue untuk koreksi ejaan yang salah di draft buku pertama yang masih mentah sebelum gue kirim ke editor.

Well, janji sudah di tepati, cerita cinta telah tertulis, dan perasaan gue sudah di telanjangi (puas). Sekian cerita cinta-cintaan dari gue, tunggu cerita selanjutnya ya. Di judul berikutnya, gue bakal membuka rahasia tentang “sesuatu“. Mungkin tulisan gue kembali agak serius, tapi tetep ngga akan ada galau-galauan, dan downrightnya masih jokes sehari-hari. Karena menurut sahabat gue, sebut saja si ‘rebek’, dia bilang gini; “hidup udah stress sac, ngga usah lo tambahin sama cerita-cerita galau lagi”. Dan kalimat dari bibir si ‘rebek’ itu, sukses menohok gue cukup dalam. Terima kasih buat saran cerdas kamu rebecca.

~ ~ ~

P.S. : I don’t know what’s going to happen from here on out but I do know is that I want to be with you. I’ve told you how I felt, all my feelings are true. You make me smile, you are always there for me, and you are just simply amazing. I’m so happy that I had the privilege to meet someone like you. We get along so well; the goofyness we share and our conversations are something I’d never trade for anything. I know we can become something special, I hope you see that too cause girl I have to tell you, I want no one else but you.

The Experience of Young Lover II


Awal Petualanganku

1 John 4:18 : “There is no fear in love. But perfect love drives out fear, because fear has to do with punishment. The one who fears is not made perfect in love”
…..

January 01, 2005 (6 tahun lalu)

Perjalananku menuju bandara Soekarno-Hatta terasa sangat melegakan. Sahabat baiku dengan semangat menjadi satu-satunya orang yang mengantarkan kepergianku. Walau dengan kenakalan kecil, temanku telah membawa kabur mobil orang tuanya saat mereka sedang keluar kota dan kegilaannya itu hanya untuk mengantar kepergianku.

Jarak dari rumahku ke bandara memang jauh, dan terasa seperti tidak akan pernah sampai tujuan karena perjalanan itu bertamabah beberapa teman lagi, yaitu beberapa linting marijuana yang sudah dipersiapkan temanku jauh-jauh hari sebelum keberangkatanku. Dan tentu alasan lain mengapa terasa jauh yaitu kemacetan yang sudah menjadi trendmark Ibu kota tercinta.

Perjalananku ini tidak lain didorong oleh impianku sejak kanak-kanak, aku berjuang keras untuk mimpiku, dan sekarang terasa mimipikulah yang sedang bekerja untuk aku_sampai saat ini.

Seseorang pernah berkata kepadaku; “hidup itu selalu berubah, cara menjalankannya, cara menghadapinya dan apapun, termasuk manusianya juga.”  Itu tidak terjadi sepenuhnya dalam hidupku. Maksudku memang hidupku terus menuju kearah yang lebih tinggi, lebih lurus dari sebelumnya dan jauh lebih jelas atau mungkin berputar-putar dan seperti berjalan di tempat.  Karena impianku mungkin tidak pernah berubah, impian kanak-kanak yang tetap aku impikan pada saat aku remaja, impian kanak-kanak yang aku tunggu pada saat kedewasaan tiba, mimpi itu tetap ada.

Kembali kedalam mobil yang mengepul asap ini, kedalam gelak tawa dan kegelian setiap momen-momen unik yang hanya ada dalam mobil ini. Sahabatku bertanya sedikit serius; “Apakah keputusanmu ini sudah direstui orang tuamu?”

Aku berpikir sejenak lalu menjawab; “ya tentu, walau harus melalui perdebatan kecil” sambil menarik nafas dalam-dalam.

Awalnya aku sempat mencari pilihan lain untuk meredam keegoisanku, juga sedikit meminimalisir gesekan antara keputusanku dan kehendak mereka yang tidak selalu menyatu, mereka orang tuaku memang telah mendukungku sepenuhnya dengan kekhawatiran yang wajar, tapi tetap menganggapku masih terlalu muda untuk itu semua. Tetapi setiap malam, setiap doa dan setiap air mata yang aku lalui di akhir keputusanku ini menghasilkan suatu jawaban, akhirnya aku bisa berdamai dengan hatiku bahwa ini adalah keputusan yang telah aku buat sejak kanak-kanak; “Berpetualang”.

bersambung>>>

The Experience of Young Lover I


The Experience of Young Lover
Remaja laki-laki berbagi cerita tentang cinta kasih dan pengorbanan

tumblr_n0fq9pp9cs1rq1et8o1_1280

Catatan

Segala sesuatu indah pada waktuNya, apa yang aku alami merupakan jawaban dari pilihanku yang Tuhan telah sediakan dalam hidupku. Emosi, ego, keceriaan, kesedihan, dan mimpi-mimpi, semua melebur jadi satu. Menjadi pengakuan yang berarti dalam perjalanan hidupku. Mungkin terasa sederhana namun ini sisi hidupku yang pernah aku alami dan ingin aku bagi saat ini, semua berarti. Baik ataupun buruk, hidupku sungguh berarti. Semua yang aku alami sampai hari ini, ada karena cinta kasih dan pengorbanan. Jalani hidup dengan apa adanya, percaya bahwa segala sesuatu ada waktunya, dan indah pada waktuNya.

Persembahan

Akhirnya pesta pernikahan itu sudah berlalu, aku masih bisa berkhayal sesaat, dan ini sudah menjadi rutinitasku sebelum tertidur. Khayalan tentang masa lalu dan juga masa yang akan datang. Bagaimana sebuah kata “what – if” menjadi kata yang mempengaruhi setiap cerita dalam  khayalanku. Di kamar itu kukatakan kepadanya bahwa aku sangat letih, dan mungkin besok pagi kita bisa berbagi aneka momen luar biasa yang kita lalui beberapa bulan terakhir. Aku melihat di matanya yang sudah hampir terpejam, dia memutar-mutar cincin di jarinya, memainkannya sampai ke buku jarinya dan tidak mengucapkan satu kata pun. Dia hanya merasa senang__sangat senang.

Pendingin ruangan di kamar dan beberapa gelas anggur pada pesta malam ini membawa kami tenggelam dalam lelap. Aku bermimpi, mimpi yang terkadang menjadi lanjutan cerita dalam khayalanku. Aku tidak pernah bermimpi seperti ini sebelumnya, tidak pernah ada dalam khayalanku sebelumnya, dan tidak pernah mengalami ini sebelumnya… .
Buku ini kupersembahkan untuk keluarga kecilku, Nasthasya istriku dan Samantha, putri kecilku.

Kejadian 2:18

menyatakan, TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Pertemuan Ajaib

Malam itu aku dan temanku memilih untuk singgah di restoran langganan kami untuk makan malam. Salah satu restoran terbaik yang ada di daerah Legian, Bali. Dengan dekorasi yang dipenuhi rajutan bambu di setiap detailnya. Pramusaji yang ramah dan bersahabat, mereka berseragam baju adat bali. Dengan mengandalkan makanan western terbaik, restoran itu juga tidak memungut tax dan service. Bagiku itulah yang paling penting.

Seperti biasanya, restoran itu selalu dipenuhi turis-turis asing. Karena keunikan restoran ini, dengan luas yang cukup kecil, maka tidak jarang bagi kami untuk sharing table dengan tamu-tamu lain agar tidak harus menunggu lama untuk mendapat kursi. Tentu harus dengan seizin dari tamu yang lebih dulu duduk di meja itu.

Musik Balinesse gamelan orchestra melantun pelan saat aku melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam restoran ini.

“Anda boleh duduk disini jika anda mau,” Sebuah suara berat menawariku tempat untuk duduk, melihatku kikuk mencari-cari meja yang kosong. Dengan bahasa Inggris dan logat Perancisnya yang sangat kental. Pria yang menawariku itu kira-kira berumur diatas 50 tahunan, Di meja lain aku sempat melihat garpu dan pisau sudah tersusun diatas hot plate yang menyisakan beberapa buncis, tanda bagi pramusaji untuk segera clear up table. Mereka hanya menunggu pramusaji membawakan bill dan mereka bisa meninggalkan meja itu. Setelah itu kami dapat duduk di meja itu tanpa harus berbagi meja dengan orang asing.

Akan tetapi,

“Baiklah, terima kasih” jawabku, menerima tawarannya. Aku sudah sangat lapar dan aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi untuk makan malam. Lagipula tidak ada salahnya bila kita makan bersama dalam satu meja dengan orang asing. Dia duduk sendiri di meja yang cukup untuk digunakan empat orang atau lebih. Seperti biasanya, karena kami berbagi meja untuk makan malam dengan orang lain, etikanya, kami berkenalan. Nathanael adalah nama pria beraksen Perancis itu, dan dari perkenalan awal dia memang berasal dari Perancis. Pada awalnya aku dan temanku sedikit canggung dan kaku, temanku memainkan ponselnya. Kuperhatikan dia hanya membuka-buka folder inbox tanpa ada maksud membaca pesan atau menulis pesan.

Pramusaji di restoran itu sedang melayani meja-meja lain, hanya sedikit pramusaji yang mungkin bisa melayani meja kami dalam waktu cepat. Dan akhirnya pramusaji itu datang,

“Apa kabar? Anaknya kok nggak diajak?”, sambil memegang notebook dan pena, pramusaji itu menyapaku. Dia adalah pramusaji yang sama saat minggu lalu aku makan di restoran ini dengan keluargaku.

“Baik-baik, kasihan kalau dia keluar terlalu malam” jawabku, sambil tersenyum.

Kamipun memesan makanan dan setelah itu pramusaji itupun pergi untuk menyiapkan makan malam yang sudah kami pesan. Setelah memesan makanan, ingin mencairkan suasana yang kaku, akupun membuka perbincangan. Awalnya dari budaya disini dan juga budayanya di Perancis, aku bertanya berapa lama dia berlibur di Bali, dan kami juga membahas tentang restoran ini. Sambil menunggu makan malam kami, kami melanjutkan percakapan panjang yang tidak terasa percakapan kami sudah masuk ke dalam hal-hal yang pribadi. Dari pengalamanku bertemu dengan beberapa turis asing, tentang budaya mereka yang membuatku tertarik untuk mempelajarinya. Mereka, budaya Eropa, sangat tidak nyaman untuk bercerita tentang hal pribadi, apalagi kepada orang yang baru dikenal. Tetapi tidak dengan budaya negara ini, dan tidak di restoran ini. Kami menciptakan budaya kami sendiri. Budaya yang sangat mudah untuk bercerita sampai ke hal-hal yang terkadang tidak perlu dibicarakan atau bersifat pribadi. Mungkin karena belum tentu kami akan bertemu lagi esok hari.

“Dengan siapa Anda tinggal di sini?”, sambil mengusap keringat di dahi dengan handuk putih kecil yang kuperhatikan selalu dia pegang dari tadi.

“Dengan istri dan putriku” jawabku.

“Oh ya, istri dan anak? Berapa umurmu?”

“22 tahun”

Young married guy” dengan ekspresi wajah yang sudah biasa kulihat, sambil melempar senyuman yang bisa mengandung banyak arti. Entah apa arti senyumannya. Mungkin ini adalah kenyataan unik yang membuatnya tersenyum, atau ada hal lain. Aku tidak tahu, dan melupakan arti senyuman itu untuk sementara. Lalu kami melanjutkan bercerita singkat. Mulai dari proses menikah, bagaimana aku dan istriku bertemu, tanggung jawab, resiko dalam pernikahan muda, dan pandangan pria itu mendefinisikan pernikahan, cara pandang yang sangat berbeda.

Di tengah obrolan kami, pramusaji datang untuk segera menyajikan makan malam kami. Aku mulai menyantap makan malam, namun aku masih memikirkan tentang pernikahan, hal yang membuatku menjadi laki – laki paling sensitif di planet ini. Aku teringat saat pria itu mengatakan “young married guy” kepadaku tadi.
Sambil menyantap makanan, kami rehat sejenak dari cerita-cerita, dan ini menjadi kesempatanku untuk kembali berpikir dalam khayalanku. Aku mengolah kata demi kata tentang pernikahan dan cara pandang dia tentang menjalani hidup karena dia belum sekalipun mengalami pernikahan. Umurnya sudah terlampau tua untuk berstatus single. Kuamati potongan rambutnya, caranya berpenampilan, dan bahasa tubuhnya, hanya untuk meyakinkan diri dari pikiran picikku, apakah dia seorang gay? Tapi dia tidak terlihat seperti itu. Sepertinya dia telah memilih untuk menjalani hidupnya sendiri dengan suatu alasan, dan dia terlihat sangat menikmati pilihannya itu, bahagia menjadi “orang bebas”. Aku percaya bahwa setiap orang punya alasan dan kepuasannya sendiri untuk menentukan bahwa dirinya adalah orang yang bahagia. Dan kebebasan menjadi alasan dan kepuasan pria itu.

Tapi, apakah sebenarnya kebebasan itu? Pertanyaan yang muncul seketika dalam pikiranku, dalam khayalanku.

Aku telah menghabiskan sebagian besar hidupku menjadi pelayan dari satu dan lain hal, bahkan aku melanjutkan pendidikanku yang berkaitan erat dengan pelayanan. Jadi seharusnya aku tahu arti kata itu. Sejak kecil aku sudah berjuang untuk membuat kebebasan menjadi komoditas yang paling berharga. Dan disaat aku remaja aku mulai menentang orang tuaku yang menginginkanku untuk menjadi ini dan itu, menasihatiku ini dan itu. Aku menentang bukan karena aku merasa lebih baik dari mereka, tetapi mereka terkadang masih seperti kanak-kanak dan pada saat itu menurutku, lebih baik mereka perhatikan dirinya sendiri. Karena pada akhirnya aku yang harus menghadapi dan menyelesaikan masalahku sendiri. Aku membuat pilihan, dan sangat sering pilihan itu menjadi satu-satunya pilihan. Pilihan untuk keluar dari rumah, merantau ke berbagai kota. Hidup dan tinggal di lingkungan baru dan tentu dengan peraturan baru. Menikmatinya dan belajar menjadi “orang bebas”. Sampai aku bisa menunjukkan pada mereka bahwa paling tidak aku bisa hidup mandiri. Baru kusadari bahwa di sini tidak ada tuntutan untuk jadi ini dan itu, tidak ada nasihat ini dan itu, sehingga tidak ada yang membatasi langkahku. Aku boleh berbuat apapun kecuali memaksa orang lain untuk mengikuti kegilaanku.

Akhirnya segala hidangan sudah kami habiskan dan kami kembali bercerita di restoran pada malam itu, dia termasuk orang perancis yang sangat fasih berbahasa inggris, sehingga kami bisa bercerita apapun tanpa ada halangan dari keterbatasanku untuk berbahasa perancis. Kami memesan anggur sebagai penutup makan malam. Anggur di restoran ini bukanlah anggur yang terbaik, tetapi anggur adalah teman paling baik untuk bercerita.

Aku melanjutkan cerita tentang keluarga kecilku. Istriku dengan mood-nya yang berubah-ubah dan putri kecilku yang sedang bertumbuh. Kebanggaanku untuk bisa melihat putriku bertumbuh bersamaku.

“Apa anda bahagia?” Pria itu memotong cerita tentang keluarga kecilku. Aku tidak tahu harus menjawab apa, dan dari mana harus memulai berpikir untuk bisa menjawab pertanyaan sesederhana itu. Walaupun jawabanya hanya membutuhkan kata “ya” atau “tidak” atau mungkin “belum”.

Tetapi aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu dengan sederhana.

“Anda bahagia. Saya bisa melihat itu dari mata anda”, Dia menjawab pertanyaannya sendiri, sambil tertawa kecil memecah kekakuan di meja ini. Aku masih belum menjawab pertanyaannya. Aku kembali masuk dalam perdebatan khayalanku untuk menjawab apa aku bahagia. Tapi aku belum memiliki segalanya, jika itulah arti dari bahagia. Maksudku, aku memang sudah memiliki istri terbaik dan Tuhan telah memberiku putri kecil yang sempurna, sungguh aku tidak pernah berhenti bersyukur untuk itu. Tetapi aku masih belum bisa mewujudkan mimpi-mimpiku yang lain; Memiliki rumah impian, rumah kayu dan perabotan antiknya, dengan halaman belakang menghadap pantai memperlihatkan laut yang menghampar, yang berada di daerah Uluwatu, Bali. Memiliki pekerjaan yang bisa dibanggakan dengan penghasilan yang berlimpah sehingga limpahannya hanya bisa digunakan untuk berbagi dengan orang lain. Membeli mobil impianku juga mobil impian istriku, menyekolahkan putri kecilku di international school yang biaya masuknya saja bisa mencapai harga sebuah mobil, dan masih banyak lagi.

Jadi untuk pertanyaan ini, seharusnya satu-satunya  jawaban yang tersedia untuk aku pilih adalah “Belum, aku belum bahagia” Ya, aku mengakui aku belum bahagia, aku masih berjuang untuk itu. Dan aku yakin, aku bukan satu-satunya.

Alunan musik gamelan bali dan riuh kecil dalam restoran itu mengiringi khayalanku.

Selama hidupku, aku sudah mengenal segala macam manusia: mereka yang kaya, mereka yang miskin, mereka yang berkuasa dan yang hidup seadanya. Aku melihat kepahitan yang sangat dalam di mata setiap orang, bahkan tidak bisa ditutupi walaupun orang itu mencoba memanipulasinya dengan lelucon-lelucon konyolnya, tawa lepas dan nyanyian riangnya. Aku tetap bisa melihat kepahitan itu. Sebagian orang mungkin terlihat bahagia, tetapi sebetulnya mereka tidak pernah memikirkan hal itu dengan sungguh-sungguh. Sebagian lain membuat rencana. Mereka ingin punya suami atau istri yang aku dambakan, rumah, dua orang anak, dan villa di luar kota. Selama mereka sibuk dengan itu, mereka bagai mobil yang berjalan dalam kegelapan, dengan hanya mengandalkan cahaya yang tidak bisa lebih jauh dan lebih terang dari batas kemampuan lampu mobil itu. Mereka berjalan secara naluriah. Menabrak ini dan itu, tanpa mengetahui tujuan mereka yang sebenarnya. Mereka bisa punya rumah, tidak jarang bahkan rumah yang sangat mewah. Mereka mengira itulah arti hidup ini, dan mereka tidak pernah mau membahas hal itu. Tetapi mata mereka tetap menunjukan kepahitan yang bahkan tanpa mereka sadari kepahitan itu sudah lama tinggal dalam jiwa mereka.

Aku tidak yakin apakah orang-orang yang aku kenal telah berhasil dalam karir dihidupnya sudah merasa bahagia. Yang aku tahu mereka semua masih selalu berjuang untuk itu. Dan hidup sudah seperti ini sejak dahulu. Mereka berjuang untuk menjadi yang terbaik di kalangannya, apapun caranya, jika cara yang terbaik bertemu jalan buntu maka cara terburukpun menjadi jalan yang paling baik, walau mereka harus curang. Ya curang. Mereka sibuk bekerja tidak kenal waktu. Mereka berjuang untuk mendapatkan dunianya yang tenteram agar tidak perlu khawatir pada pasangannya, khawatir pada anak-anaknya, khawatir pada kariernya dan khawatir pada gelarnya. Mereka tidak perlu khawatir akan apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi hari esok, dan tidak perlu khawatir akan kepuasan-kepuasan yang belum mereka miliki. Dengan pencapaian yang sudah mereka raih, dan dengan kekhawatiran yang mereka rasakan tetap saja aku tidak pernah menangkap mata mereka dengan tulus memancarkan kebahagiaan.

Aku terlalu lama berpikir, anggur inipun ikut menuntunku. Dan aku sadar sudah meninggalkan obrolanku dengan pria itu terlalu jauh, temanku sudah menyambung cerita dengan pria itu. Sesaat setelah aku mulai diam, berpikir dan keluar dari obrolan, berkhayal sendiri. Untungnya dengan Bahasa Inggris seadanya temanku sudah menyelamatkanku untuk melanjutkan pikiran dalam khayalanku lagi, aku mengamati orang – orang disekelilingku dalam restoran ini. Mencoba menghakimi mereka dari mata dan pikiranku. Mereka terlihat bahagia, tetapi mereka hanya tertawa-tawa, tenggelam dalam kehidupan kecil mereka yang mengabaikan kehidupan kecil yang lainnya. Mereka masih memegang prinsipnya bahwa keluarga, rumah, pekerjaan, mobil dan segala hal yang menunjukan hasil dari usahanya adalah arti hidup. Dan aku yakin itu semua adalah hal terkecil dari hidup. Pasti masih banyak hal lain yang aku dan mereka belum pahami.

Aku bisa saja mendesak dan menghujam mereka dengan pertanyaan-pertanyaanku ini secara terus menerus, dan pada akhirnya mereka semua akan menyebutkan sesuatu yang belum bisa mereka wujudkan. Orang yang kaya raya, punya segalanya dan bisa membeli apa saja, yang putus asa karena dia pikir bisa membeli cinta. Orang itu menderita karena tidak ada cinta untuknya, mungkin banyak wanita yang hadir dalam hidupnya, akan tetapi wanita – wanita itu hadir hanya karena materi, bukan karena cinta tulus adanya. Tetapi cinta tulus itulah kepuasan dan kebahagiaannya. Orang yang sangat sederhana, memiliki cinta sejatinya tetapi tidak tahu harus dibawa ke mana, karena dia sendiri tidak punya bekal untuk menghidupi kekasihnya, bahkan dia tidak punya sedikitpun peluang untuk mewujudkan itu. Mereka yang diberi karunia kepintaran memburu gelar agar menjadi ahli dalam bidangnya, tetapi pada akhirnya tidak jarang mereka bekerja di tempat yang bukan keahliannya, bukan bidangnya, bidang yang mereka keluti bertahun-tahun lamanya. Akhirnya dalam hati mereka mengaku kalah, sadar bahwa mereka sesungguhnya belum bahagia dan masih jauh dari kata itu.

“Aku mengagumi perdebatan dalam pikiran dan hatimu” Ucap pria itu, melihat aku melamun sepanjang makan malam.

“Maksud anda?” Jawabku

“Ya, anggap saja kata-kataku tidak ada maksud apa-apa, Akan tetapi aku paham sekali bahwa dalam diri anda masih banyak perdebatan yang sepertinya tak terselesaikan. Sebaiknya anda fokus kepada Tuhan, bukan pada kelemahanmu”, sambil mengusap keringat di dahinya lagi.

“Aku masih belum mengerti apa yang anda coba katakan kepadaku. Maksudku, kenapa anda tiba-tiba berbicara seperti itu? Apa yang anda lihat dariku di saat aku melamun tadi?” aku sedikit merasa terusik dengan kata-katanya yang membingungkan.

“Aku hanya melihat anda terdiam sesaat setelah anda bercerita tentang pernikahan tadi, aku hanya menebak mungkin anda sedang memikirkan itu”

“Semua keluarga punya masalahnya masing-masing, demikian dengan pernikahan, mungkin anda belum menemui masalah pada saat ini. Tapi jika anda menemuinya nanti, yakinlah bahwa itulah sesungguhnya pernikahan. Sehingga pada saatnya tiba nanti, anda tidak akan bingung, dan tahu anda harus kemana” lanjutnya.

“Kemana?”

“Tuhan” dia menjawabnya.

“Entah mengapa, aku percaya suatu saat nanti anda akan bertemu denganku lagi, dan pada saat itu anda sudah tahu segala jawaban dalam hidup anda. Anda hanya perlu membaca pertanda-pertanda disekeliling anda, menjalaninnya dengan tulus dan biarkan tangan-tangan lain berkerja untuk hidup anda”. Dengan cepat pria itu memecahkan perdebatan di dalam pikiranku, aku masih mencerna perkataanya. Belum sempat mencerna dengan baik perkataannya tadi, dia menasihatiku lagi. Membuatku merasa takut dengan kalimat tentang kemungkinan kami bertemu kembali, tapi aku tidak terlalu menganggap serius ucapnya itu.

“Dalam hidup ada penderitaan dan ada kekalahan. Tak seorangpun dapat menghindarinya. Tetapi lebih baik kalah dan menderita dalam beberapa pertarungan demi impian-impianmu, daripada kalah tanpa mengetahui apa yang kau perjuangkan”, nasihatnya lagi.

Anggur di gelasku juga telah habis, aku harus menghentikan pikiran-pikiranku yang sudah menguap hanya untuk menjawab pertanyaan pria Perancis itu. Mencari arti dari kata “Bahagia”, yang bisa kuuraikan dengan bijak dalam pikiranku tetapi belum bisa aku buktikan dalam langkahku.

“Ingatlah bahwa di mata Tuhan, kebijakan manusia adalah kegilaan. Namun kalau kita mau mendengarkan suara kanak-kanak yang tinggal dalam jiwa kita akan mengerti arti kehidupan.”, Seolah dia bisa membaca pikiranku.

Tidak terasa kami sudah menghabiskan banyak waktu untuk makan malam, setelah membayar bill, Nathanael sepertinya akan segera pergi. Di tengah-tengah obrolan kami tadi Nathanael mengatakan bahwa malam ini adalah malam terakhirnya di pulau dewata, sehingga dia tentunya tidak ingin menghabiskan malamnya hanya bercerita di restoran ini.

“Baiklah, Senang bisa bicara dengan anda. Selamat malam Nathanael.” Ucapku.

Young married guy…” Dengan mata yang menyorotkan ketenangan dan penghiburan. ”Ada beberapa hal dalam hidup yang layak diperjuangkan hingga titik terakhir, percayalah, perjuangan itu adalah; keluarga kecilmu.” ucapnya.

Nice talkin’ to you, see you bye” Jawabku. Hanya itu yang bisa aku katakan. Kata-kata terakhirnya sungguh berarti buatku. Sungguh aku butuh seseorang mengulangi kata-kata seperti itu setiap hari.

Malam yang tidak biasa ini telah menyelamatkanku. Seperti pertemuan kami memiliki pesan dan pertanda untukku. Aku juga harus segera pulang, karena tidak seperti masih sendiri dulu, kali ini istri dan putriku sudah menungguku di rumah untuk segera pulang. kamipun berpisah.

Belakangan baru aku ketahui bahwa Nathanael adalah seorang Pendeta. Informasi yang tidak aku dapat di saat aku meninggalkan meja untuk pergi ke kamar kecil di tengah-tengah percakapan makan malam tadi, dan temanku menjadi satu-satunya pendengar pada waktu itu. Pantas saja dia tidak menikah, dan apa tujuan seorang pendeta dari Perancis itu datang ke pulau ini? Nathanael adalah Pendeta dari desa di Perancis yang bernama Saint Savin, Lourdes. Nama desa yang pernah aku baca ada pada salah satu novel terkenal. Desa yang menjadi salah satu tempat tujuan ziarah bagi umat Katholik, disana terdapat patung Bunda Maria, tempat dimakamkannya orang kudus dan tempat dimana banyak orang yang meninggalkan kota datang ke pegunungan itu untuk mencari Tuhan. Aku pernah berbicara dengan istriku untuk berencana berziarah ke sana bersamanya dan putriku.

Malam yang ajaib. Bagiku ilmu yang aku dapat dari setiap kata pria itu sangatlah berarti. Kami mungkin hanya bertemu beberapa jam yang lalu, tapi aku merasa setiap kata yang diucapkanya itu sangat tulus seperti nasihat seorang ayah kepada anaknya. Bahkan aku belum pernah mendapatkan nasihat seperti itu dari ayaku sendiri, tidak sedikitpun.

Dari pengalaman malam itu aku menyadari bahwa kita hanya dapat menerima keajaiban dalam hidup sepenuhnya jika kita mengizinkan hal-hal tak terduga untuk terjadi. Maksudku, bagaimana jika pada awalnya aku memilih untuk tidak makan malam bersama dengan pria Perancis itu, dan sedikit bersabar untuk menunggu meja lain yang kosong… .

Bersambung>>>