Whole Hearted


Ketulusan sepasang kekasih

Catatan Penulis

Cerita dalam tulisan ini terinspirasi dari buku ‘by the river piedra I sat down and wept’ karangan Paulo Coelho dan sangat berhubungan erat dengan hidupku saat ini. Judul ‘Whole Hearted” sendiri yang berarti; sepenuh hati, kesungguhan dan tulus.

Persembahan

Tulisan ini kupersembahkan untuk Kesia kekasihku, yang menjadi inspirasi untuk membuat tulisan tentang ‘Ketulusan’. “Semoga kamu suka sayang.”

Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia dan kau pun mungkin akan melakukan hal yang sama hanya untuk membuatku bahagia. Pada akhirnya kita hanya dua orang yang mencoba untuk saling membahagiakan, tidak ada hal lain.

Seorang anak laki-laki dan perempuan jatuh cinta setengah mati. Mereka memutuskan untuk bertunangan sebelum anak laki-laki itu pergi berlayar. Dan ketika itulah kedua calon mempelai saling bertukar hadiah. Anak laki-laki itu sangat miskin, miliknya yang paling berharga hanya arloji yang diwarisinya dari kakeknya. Ketika dia membayangkan rambut kekasihnya yang indah, dia memutuskan menjual arloji itu untuk membelikan jepit rambut perak bagi kekasihnya.

Anak perempuan itu juga tidak mempunyai uang untuk membeli hadiah bagi kekasihnya. Dia pergi ke toko milik pedagang paling sukses di kota itu, dan menjual rambutnya. Dengan uang yang didapat, dia membelikan rantai jam emas bagi kekasihnya.

Ketika bertemu di pesta pertunangan, si anak perempuan memberikan rantai jam untuk arloji yang telah dijual kekasihnya, dan si anak laki-laki memberinya jepitan untuk rambut yang tak lagi dimiliki kekasihnya.

“Key, you have my whole heart for my whole life.”

“The qualities of love of a relationship are in direct proportion to the depth of the commitment by both people to making the relationship successful. Commit yourself whole heartedly and unconditionally to the most important people in your life.”

~~~

Butterfly


Beautiful and graceful, varied and enchanting, small but approachable, butterflies lead me to the sunny side of my life.

Dia yang terbang. Dia kupu-kupu yang berenang. Dan aku, adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang.

Dia menatapku dengan pancaran mata riang, temannya yang peramal menyatakan dia itu tabir, yang berbinar riang walau mungkin lain dalam hatinya. Syahdu meliputi butir-butir terik matahari yang jatuh menimpa tubuh kita melalui kaca mobil dalam perjalanan yang diam-diam menggelinjang.

Dia mengganti sinar bulan yang tidak hadir malam itu. Kita menikmati deru ombak diiringi samar suara musik dari kafe di kejauhan pantai yang saling berebut perhatian. Ada satu pecahan jatuh tepat di antara bibirku yang tengah berjuang tentang perasaan hati saat ini. Seolah dengan sengaja ingin berenang dalam perasaan senang yang aku tahan beberapa minggu terakhir.

Dia kupu-kupu, melayang-layang di halaman kepalaku, menari-nari dalam mataku, dan warna-warni sayapnya menumpahi hari-hari biasaku.

Dia kupu-kupu, yang menghargai masa laluku, baik dan buruk.

Dia kupu-kupu, yang membuatku berpikir sekali lagi, bahwa tidak perlu pesimis dengan kejauhan. Karena kupu-kupu ini akan tetap kembali bermain di halamanku.

Sekarang, kupu-kupu itu adalah kekasihku.

~~~