silence between us


It happen so easy at the start,
cause you use to been understood.
wgusa5
one day i caught you looking down, and couldn’t read you like i thought i could.
wgusa3
was this something i miss
in the silences.
wgusa6
Its like we couldn’t seem to break through.
wgusa1
i know, that you’ve been a little risk it, you’re not the type to let it go
but im here count to what i still got left was in the days
when you gave it all up
is that it?
wgusa4
was this something i miss in the silences?
I should have known mean it more than this to hold on to you.
wgusa9
just told me that to who’s got you painting again
told me that to who’s got you dancing again
who’s got you build home again
wgusa7
who put that light back in your eyes?

wgusa10

the thing you have, i wish to comeback
with the right line and see through down the blind, its just the matter of time

never seen you mourn so easy
never seen you love like that
never knew how much i was miss it.
Advertisements

Petualangan Kunang – Kunang


kunang222.jpg

Di kafe pinggir pantai itu, ia meneguk kenangan. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi, benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima tanpa akhir. Itulah yang menggelisahkannya, karena ia tahu segalanya tak pernah lagi sama. Segalanya tak lagi sama, seperti ketika ia menciumnya pertama kali dulu.

Dulu, ketika dia masih suka mengenakan dress backless, agar tattoo di punggungnya akan merekah indah. Saat senyumnya masih seranum buah mangga mudah. Dengan rambut dikepang ke samping hingga di atas buah dadah. Saat itu ia yakin: ia tak mungkin bisa bahagia tanpa dia. ”Aku akan selalu cinta, sayang….” Kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan di tengah dentuman lagu ber-genre Trance itu. I still miss you….

Tapi mengapa bukan sendu lagu itu yang ia katakan dulu? Ketika segala kemungkinan masih berpintu? Mestinya saat itu ia tidak berlagak membiarkan dia pergi, karena saat itu ia berada di suatu jalan yang tidak ada jalan kembali, atau ia akan melawan arah dan mati karena bertabrakan dengan masa lalu. Mestinya jangan biarkan dia bergegas meninggalkan kafe ini dengan kejengkelan yang akhirnya benar-benar membuatnya tak pernah kembali.

Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaannya. Kenangannya. Itulah yang membuatnya selalu kembali ke kafe ini. Kafe yang seungguhnya telah banyak berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi, segalanya masih terasa sama dalam kenangannya. Ya, selalu ke kafe ini ia kembali, kembali bertarung dengan kenangan. Untuk gelas bir ketiga yang bisa menjadi keempat dan kelima. Seperti malam-malam kemarin, barangkali gelas bir ini pun hanya akan menjadi gelas bir yang sia-sia jika yang ditunggu tidak juga tiba.

”Besok kita ketemu, di kafe kita dulu?”

Ia tak percaya bahwa dia akhirnya meneleponnya.

”Kok diam….”

”Hmmm.”

”Bisa kita ketemu?”

”Ya.”

”Tunggu aku,” dia terdengar berharap. ”Meski aku tak yakin bisa menemuimu.”

Tiba-tiba saja ia berharap kali ini takdir sedikit berbaik hati padanya: semoga saja kekasihnya tiba-tiba mati overdosis dengan obat-obatan yang biasa kita pernah konsumsi bersama sambil bercinta, hingga perempuan yang masih dicintainya itu tak merasa cemas menemuinya.

Menemui? Apakah arti kata ini? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi untuk apa? Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari ciuman-ciuman masa lalu itu? Masa yang harusnya mereka jangkau dulu. Dulu, ketika ia masih berbaring bersama di pantai berkarang itu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut yang saat itu digerai hingga di atas dada, dan pasir berantakan di badanya. Ketika ia yakin, ia tak mungkin bahagia tanpa dirinya, bukan karena sebotol wine, bukan karena happy five, atau tarian mabuk diatas tubuhnya di tempat tidur malam sebelumnya.

Ah, ia jadi teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara ciuman-ciuman yang terasa gemetar dan diam-diam mengerang.

”Aku selalu membayangkan, bila nanti kita mati, kita akan menjelma menjadi sepasang kunang-kunang.”

Dia tersenyum, kemudian mencium pelan. ”Tapi aku tak mau mati dulu.”

”Kalau begitu, biar aku yang mati dulu. Dan aku akan menjadi kunang-kunang, yang setiap malam mendatangi kamarmu….”

”Hahaha,” dia tertawa renyah. ”Lalu apa yang akan kamu lakukan bila telah menjadi kunang-kunang?”

”Aku akan hinggap di dadamu, tepat di ujung putingmu, dan menyala seterang-terangnya.”

Dada yang membusung. Dada yang kini pasti makin membusung karena makin bertumbuh dimakan umurnya. Pun dada yang masih ia rindu. Dada yang sarat kenangan. Dada yang akan terlihat mengilap ketika seekor kunang-kunang hinggap di atasnya.

”Kunang-kunang…mau ke mana? Ke tempatku, hinggap dahulu….” Ucapnya, menggoda.

Ia bersenandung sambil membuka satu per satu kancing dress backlessnya. Dia yang hanya memejam. Ia seperti melihat seekor kunang-kunang yang perlahan keluar dari kelopak matanya yang terpejam. Seperti ada kunang-kunang di keningnya. Di pipinya. Di hidungnya. Di bibirnya. Di mana-mana. Kamar penuh kunang- kunang beterbangan. Tapi tak ada satu pun kunang-kunang hinggap di dadanya pualam. Dada itu seperti menunggu kunang-kunang jantan.

Ia selalu membayangkan itu. Sampai kini pun masih terus membayangkannya. Itulah yang membuatnya masih betah menunggu meski gelas bir ketiga sudah tandas. Selalu terasa menyenangkan membayangkan dia tiba-tiba muncul di pintu kafe, membuat ia selalu betah menunggu meski penyanyi itu telah terdengar membosankan menyanyikan lagu-lagu yang ia pesan.

Ia hendak melambai pada pelayan kafe, ingin kembali memesan segelas bir, ketika dilihatnya seekor kunang-kunang terbang melayang memasuki kafe. Kemudian kunang-kunang itu beterbangan di sekitar panggung. Di sekitar kafe yang ingar bingar namun terasa murung. Murung menapak geliat lidah pada tiap jeda tubuhnya. Murung mengharap tiap geliat di liat tubuhnya mengada. Lagi. Di sini. Menjadi nanti.

Adakah kunang-kunang itu pertanda? Adakah kunang-kunang itu hanya belaka imajinasinya? Penyanyi terus menyanyi dengan suara yang bagai muncul dari kehampaan. Dan kafe yang ingar ini makin terasa murung. Tiba-tiba ia menyaksikan ribuan kunang-kunang muncul dari balik keremangan, beterbangan memenuhi panggung. Hingga panggung menjadi gemerlapan oleh pendar cahaya kunang-kunang yang berkilau kekuningan.

Gelas birnya sudah tidak berbusa. Hanya kuning yang diam. Tidak seperti kunang-kunang beterbangan gemerlapan berpendar kekuningan. Kuning di gelas birnya mati. Sementara kuning di luar birnya gemerlapan. Hidup. Ia jadi teringat pada percakapan mereka dulu. Dua hari sebelum dia memilih hidupnya sendiri. Percakapan tentang bir dan kunang-kunang.

”Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.”

”Kenapa?”

”Karena di dalam matamu seperti hidup ribuan kuang-kunang. Aku selalu membayangkan ribuan kunang-kunang itu berhamburan keluar dari matamu setiap kau merindukanku.”

”Tapi aku tak pernah merindukanmu.” Dia tersenyum.

”Kamu bohong, kenapa harus berbohong hanya untuk jawaban yang sesimple itu?….”

”Aku tak pernah membohongimu. Kamu yang selalu membohongiku.”

Ia memandang nanar. Seolah tidak yakin apa yang ia dengar salah atau benar. Bohong baginya adalah dusta yang direncanakan. Sementara apa yang ia lakukan dulu adalah pilihan. Dan pilihan hanyalah satu logika yang terpaksa harus diseragamkan. Oleh banyak orang. Olehnya….

”Tidak. Aku tidak bohong.”

”Semakin kau bilang kalau kau tidak bohong, semakin aku tahu kalau kamu berbohong.”

Ia tak menjawab. Tapi bergegas menciumnya. Dengan rakus dan gugup. Begitulah selalu, bila ia merasa bersalah karena telah membohonginya. Seolah ciuman bisa menyembunyikan kebohongannya. Tapi ia tak bohong kalau ia bilang mencintainya. Ia hanya selalu merasa gugup setiap kali nada suaranya terdengar mulai mendesaknya. Karena ia tahu, pada akhirnya, setelah percakapan dan ciuman, dia pasti akan bertanya: ”Apakah kau akan menikahiku?”

Ia menyukai ciuman. Tapi, sungguh, ia tak pernah yakin apakah ia menyukai pernikahan. Kemudian ia berteka-teki: ”Apa persamaan bir dengan kunang-kunang?” Dia menggeleng.

Keduanya akan selalu mengingatkanku padamu. Bila kau mati dan menjelma jadi kunang-kunang, aku akan menyimpanmu dalam botol bir. Kau akan terlihat kuning kehijauan. Tapi kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa meminta segelas bir, tetapi kita tak pernah bisa meminta takdir.

Seperti ia tak pernah meminta perpisahan yang getir.

”Aku mencintaimu, tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu….”

Hidup pada akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti kematian. Semua akan mati karena itulah hukuman yang sejak lahir sudah manusia emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar ataupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang?

Pada saat ia tahu, bahwa pada akhirnya perempuan yang paling ia cintai itu benar-benar menikah—bukan dengan dirinya—pada saat itulah ia menyadari ia tak menang, dan perlahan-lahan berubah menjadi kunang-kunang. Kunang-kunang yang mengembara dari kesepian ke kesepian. Kunang-kunang yang setiap malam berkitaran di kaca jendela kamar tidurnya. Pada saat itulah ia berharap, dia tergeragap bangun, memandang ke arah jendela, dan mendapati seekor kunang-kunang yang bersikeras menerobos kaca jendela. Dia pasti tahu, betapa kunang-kunang itu ingin hinggap di dadanya. Sementara suaminya tertidur pulas dan puas di sampingnya.

”Aku memilih menikah dengannya, karena aku tahu, hidup akan menjadi lebih mudah dan gampang ketimbang aku menikah denganmu.”

Itulah yang diucapkannya dulu, di kafe ini, saat mereka terakhir bertemu.

”Jangan hubungi aku!”

Lalu dia menciumnya. Lama. Bagi ia, ciuman itu seperti harum bir yang pernah terhapus dari mulutnya.

Barangkali, segalanya akan menjadi mudah bila saat itu diakhiri dengan pertengkaran seperti kisah dalam sinetron murahan. Misal: dia menamparnya sebelum pergi. Memaki-maki, ”Kamu memang laki-laki bajingan!” Atau kata-kata sejenis yang penuh kemarahan. Bukan sebuah ciuman yang tak mungkin ia lupakan.

Dan kini, seperti malam-malam kemarin, ia ada di kafe kenangan ini. Kafe yang harum pantainya telah kalah oleh sebotol bir. Kafe yang mengantarkannya pada sebuah ciuman panjang di bibir. Kafe yang selalu membuatnya meneguk kenangan dan kunang-kunang dalam bir. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima?

Ini gelas bir keenam!

Dan ia masih menunggu. Ia melirik ke arah penyanyi itu, yang masih saja menyanyi dengan suara sendu. Ia melihat pelayan itu sudah setengah mengantuk. Tinggal ia seorang di kafe. Barangkali, bila ia bukan pelanggan yang setiap malam berkunjung, pasti pelayan itu sudah mengusirnya dengan halus. Sudah malam, sudah tak ada lagi waktu buat meneguk kenangan.

Pada gelas kedelapan, akhirnya ia bangkit, lalu memanggil pelayan dan membayar harga delapan gelas kenangan yang sudah direguknya habis. Ya, malam pun hampir habis. Sudah tak ada waktu lagi buat kenangan. Sudah tidak ada kenangan dalam gelas bir kedelapan. Setiap kenangan, pada akhirnya punya akhir bukan? Inilah terakhir kali aku ke kafe ini, batinnya. Besok aku tak akan kembali. Kemudian ia beranjak pergi.

Malam makin mengendap. Tamu terakhir sudah pergi. Diam dan setengah mengantuk, para pelayan kafe membereskan kursi. Bartender merapikan gelas-gelas yang bergelantungan. Sebentar lagi penjaga malam akan menutup pintu.

Pada saat itulah, terlihat seekor kunang-kunang memasuki kafe. Kunang-kunang itu terbang melayang berputaran, sebelum akhirnya hinggap di gelas bir yang telah kosong. Bir terakhirnya.

Dan,

Ia yang keluar dari pintu kafe dalam keaadan sedikit mabuk, perlahan mengeluarkan cahaya yang berpendar dalam keremangan lampu jalan, ia adalah kunang-kunang yang bertualang dalam setiap kesunyian malam.

Mencari buih cinta di dalam setiap botol-botol beer, mencari cintanya.

Hujan Saatnya Pergi


rain.jpg

Musim Hujan Datang

Musim panas telah berlalu, musim hujanpun telah datang. Angin berhembus cukup kencang ke hulu, temperatur udara mulai bergerak sedikit mendekati titik beku. Langit hitam terasa semakin sering menyapa, perlahan aku mulai bertanya, kali ini cerita tentang siapa?

Dalam beberapa hal, musim hujan akan sangat dirindukan ketika telah berlalu. Karena semua akan terasa seperti baru.

hujan di pagi itu.

Aku terbangun sekali lagi, waktu di telepon genggamku menunjukkan pukul 10:15 pagi. Aku sempat terbangun beberapa jam lalu untuk melihat pesan terakhir darinya yang berkata;

“Sayang.”

Pesan terakhir itu terkirim sekitar pukul 4:00 subuh. Aku mengartikan bahwa dia sudah di rumah saat itu, pikiranku sempat kemana-mana beberapa menit, bertanya dalam hati, membodohi diri sendiri dengan menganggap bahwa rutinitasnya adalah suatu yang wajar dan aku tidak perlu kuatir.

Kenyataannya,

Ketika dia pergi ke pesta malam itu, aku tidak bisa tidur semalaman dan aku mulai membayangkan secara rinci, apa yang terjadi. Ketika malam semakin larut, alkohol mulai mempengaruhi pikiran sadarnya, dentuman lagu membuat dia semakin bergairah untuk bergerak untuk melepas gerah, pendingin ruangan yang membuatnya merindukan gerangan. Liukan pinggulnya bisa menghibur mata lelaki itu, dia pura-pura tidak tahu kalau lelaki itu memperhatikannya, dia kembali duduk ke sofa, bercerita hal-hal yang bersifat pribadi dan membuat mereka semakin dekat.

Kepalanya jatuh untuk bersandar di dada lelaki itu, dan tangan mereka mulai mengukur kedalaman malam itu. Di titik itu aku berhenti membayangkan apa yang terjadi di sana selanjutnya.

Telepon genggamnya berbunyi; telepon dariku, ingin tahu apa dia baik-baik saja, aku tidak menunjukkan kekhawatiranku, karena aku tahu saat itu sudah terlambat untuk mencegah apapun, lebih baik berpura-pura semuanya baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa. Meskipun dia mengabaikan telepon genggamnya yang bergetar, aku tetap melanjutkan dengan mengirim pesan singkat;

“Havefun sayang, jangan terlalu larut pulang ke rumah.”

Dia yang begitu baik, dia yang sangat cantik, melihatnya berdiri sendiri pada waktu itu membuat rasa takutku menuju suatu titik. Tidak ada keraguan dalam apapun, dan membuatku berani untuk menjemputnya pergi ketempat dimana dia tidak akan berdiri sendiri lagi di masa depan nanti.

Tetapi belum genap sewindu aku menulis tentang ketulusan, sekarang hatiku sudah berantakan lagi, berceceran di setiap malam-malam yang telah dia lewati dengan lelaki itu. Aku terus bertanya dalam hati; andai saja ini bukan karena hadirnya lelaki lain. Andai saja ini hanya sekedar perbedaan pendapat, atau kebiasaan buruk masing-masing atau mungkin perbedaan keyakinan, aku pasti akan berjuang lebih jauh lagi. Andai saja.

“Aku pergi.”

Itu pilihan terakhirku. Kalaupun dia memilih lelaki itu dan jatuh cinta padanya, tidakkah dia akan menimbang-nimbang setiap momen yang telah kami jalani bersama sebelum dia memilih petualangan yang tidak akan ada jalan kembali?

Atau dengan pilihanku yang lain: Lebih baik kujalani saja deritaku, seperti di masa-masa lalu ketika orang-orang yang kucintai meninggalkanku. Lebih baik kurawat saja luka-lukaku, seperti yang juga kulakukan di masa lalu. Untuk beberapa waktu, pikiranku akan dipenuhi olehnya, hidupku mulai terasa pahit, aku akan membuat bosan teman-teman dan saudaraku karena yang kubicarakan tidak lain tentang kehilangan salah satu yang terbaik dalam hidupku.

Aku akan mencari pembenaran atas cerita ini, menghabiskan hari dan malam mengingat setiap saat yang kuhabiskan bersamanya. Aku akan mengambil kesimpulan bahwa dia terlalu menuntutku lebih atau aku memang pilihannya yang salah, walaupun aku telah berusaha sebisa mungkin untuk membahagiakannya. Aku akan bertemu wanita-wanita lain saat berjalan di jalan, tetapi yang aku lihat hanya wanita-wanita yang mirip dia. Aku akan menderita lagi berhari-hari dan bermalam-malam, bermalam-malam dan berhari-hari. Itu bisa berlangsung sampai beberapa minggu, bulan, mungkin tahun, atau bahkan lebih.

Sampai suatu pagi aku terbangun, dan menemukan diriku berpikir tentang hal lain, dan aku tahu yang terburuk sudah hilang, musim panas telah berlalu, dan angin sejuk musim hujan akan memandikanku; bahwa bila aku pergi, itu karena seseorang lain sudah waktunya datang_cinta akan kembali menemukanku.

“Sometimes, you have to give up on people. Not because you don’t care, it’s because they don’t.”

“What moves through us is a silence, a quiet sadness, a longing for one more day, one more word, and one more touch. We may not understand why i left you so soon, or why you left before we were ready to say good-bye, but by little, we begin to remember not just that we left, but that we lived. And that once was our life, gave us memories too, hard and pain to remember but then beautiful to forget, eventually.” ~mia

The Cornice


Cornice of Tears

tumblr_nwgzwuhzxh1r7ixnko1_250

You never really back home. You never even been out. You still here, laying your body for the last time, at place where nobody know your name

You may not know why,

Much easier to act strong then to act weak for you. You could fight the fear but you couldn’t handle a single tear. Because your body needs to float all over the pain and needs to start it all over again, until you hear those strangers inside you sounds like they singing about “Home”.

Is not a sin if you just want to witnesses her again.

I thought I see your tears,

I thought I hear your fears,

Remember what I say;

“The home was not exist, once you step outside. Is not there anymore.”

She sat down and wept, right at edge of the Cornice. Put our eyes straight through eyes right to the deepest side of our heart. We know how fast this flower will blossom and die right after for just a moment. Quite close to what we needs, and far away from where the sea and city meets.

There was only two big question ‘we’ (Human) wants to understand from the Universe;

“When should we start and when should we stop?

Her glisten eyes strive to reflect those city lights from the place where we stand. I saw the lights melting on her tear drops, flow to the tops, they flew and tend to resist the gravity, they floating away above our world. They comes back as a storm, strike between her eyes, and she began again to cry.

You can make a different, and tell a different story. Your heart, can safe my world.

“Those city lights, will light up her street, down where the sea and city meets. May all your suffer soon be gone.

And,

“Those reflected lights from her eyes, they will light up your street, maybe one day they will bring her back to you.”

~miamou


Plot on this post was  inspired by my selection of related songs: Tribute to Ramelia – Ram, Christmas Lights – Coldplay, One Heart – Ana Criado. And some Books: Theres No New York Today(tidak ada new york hair ini) – Unknown, The Zahir – Paulo Coelho, Plot Of Love – Mia (lost and found author), By The River Piedra I Sat Down And Wept – Paulo Coelho.

Each part and paragraph of this story was indirectly talking to me at one of my random sleepless night. It will tells you how love can somehow transform into everything, way far beyond imagination. Those songs and books i assume as the tools, my memories will reincarnate into “whisper” that express word by word and place to place. This story will brings past to every moment in future, the pills are actually good, and this simple plot will somehow, Remain.

Miamou

Love “in order to understand, i destroyed myself.” ~F. Pessoa, 1762 (Mt. Lourdes- France).

She Could Be Happy


592e4c14213265-55a45ec38c05f

She could be flower in every nightmare. Blossom in dark.

She speaks to me fondly of passions and talents, guitar and stars, ice cream and rainbow, dancing and beaches, past and miracle. Then stop short to apologies for speaking at all. She could be like that.

She could sit alone in every crowded place. Shadows behind the lights.

All because somewhere in her life, someone-blindfolded that she loved broke her heart again, ignore her letter and pure bliss on her wet eyes. And telling her to “shut up”, keep “it down”, “nobody cares”. She could be like that.

Someone once said; “People aren’t born sad. Happy? Yes, she could be.”

And suddenly she’s start one bravely steps, start singing to the stars with her rainbow ice cream, and dancing at the beach. She barely knows, that its time to start again and holds to miracle of beginnings.

She could be anywhere.

With anyone.


“twahachteck”