Sonador the Goddes of Night


Sonador the Goddes of Night

Penantian seorang manusia kepada sosok Dewi malam.

Catatan Penulis

Cerita dalam tulisan ini terinspirasi dari kisah para Dewa dalam kepercayaan Yunani kuno. Dewi malam dalam mitos Dewa-Dewi Yunani bernama Dewi Nyx, nama Sonador saya ambil dari istilah dalam bahasa spanyol yang berarti “dreamer” atau “pemimpi”, dan nama Michel de Nathan yang terinspirasi dari seorang yang menjadi guru besar dalam ilmu astronomi dan astrologi, yaitu Nostradamus. Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiksi dan murni dari hasil “Chimera” (baca: Chimera) dalam kepala saya.

Persembahan

Tulisan ini kupersembahkan untuk kekasihku, yang menantangku untuk membuat tulisan tentang “Penantian”. Semoga kamu suka sayang.

Sonador the Goddes of Night

Malam, bintang ke 999

Pria itu membakar kayu untuk membuat perapian dalam rumahnya, membuatnya paling tidak sedikit lebih hangat dari cuaca dingin dan semakin dingin karena dinding–dinding rumahnya terbuat dari batu. Dia melanjutkan tulisannya lagi, melanjutkan puisi–puisi, dan visualisasinya dalam melihat bintang–bintang berikutnya. Melihat masa depan. Tetapi kali ini dia sangat berbeda, tangannya gemetar, nafasnya tidak berirama dan tumit-tumit kakinya yang selalu di goyangkan naik-turun. Dia terlihat sangat khawatir.

Dia menjadi sangat khawatir karena penantiannya kepada sesosok Dewi. Dewi malam yang dahulu pernah hadir dalam setiap malam-malamnya. Dia menjadi satu-satunya manusia yang pernah bertatapan dan bercakap langsung dengan sesosok Dewi malam itu.

Pria itu bernama Michel de Nathan, lebih dikenal sebagai Mikha. Dilahirkan pada bintang ke 900, di St Hills de Provence, desa yang terletak sangat jauh dari pemukiman. Dia adalah seorang penulis dan dapat melihat perjalanan waktu hidup dalam dua realitas. Dia juga ahli dalam astrologi dan astronomi. Dia menggunakan ilmu untuk menafsirkan visi-visi rahasia yang dia tuangkan pada buku-buku yang tertumpuk di meja kayunya.

Rumahnya terletak di kaki bukit, dikelilingi pohon pinus tua, dan dia hanya tinggal sendiri disana. Di atas meja kayu walnutnya itu, dia memperkirakan beberapa peristiwa sejarah yang paling monumental dari beberapa bencana besar yang terjadi diseluruh peradaban di bumi, orang-orang menganggapnya sebagai nabi Azab. Orang tuanya adalah keturunan sederhana dari sekitar desa. Mikha adalah anak tertua, dan memiliki empat saudara, sejak remaja adik-adiknya sudah memilih jalannya masing-masing, mereka merantau ke kota-kota besar dan berpencar ke segala penjuru dunia.

Kembali dalam kekuatirannya, dan dalam hubungannya dengan sosok Sonador, Dewi malam.

Mereka pernah saling bercerita selalu disaat malam tiba, kira-kira saat itu adalah malam bintang ke 936, hitungan 1 bintang pada masa itu sama dengan hitungan 1 tahun pada saat ini. Wujud Dewi malam yang cantik terbentuk di langit, terkadang seperti sekumpulan awan yang menyatu dengan sekumpulan bintang, seperti lukisan Tuhan yang paling indah ada di langit pada malam Sonador menampakan wujudnya.

Pada malam pertama dalam bintang ke 936, Sonador masuk kedalam mimpi-mimpi Mikha, itulah kali pertama mereka berinteraksi, dalam mimpinya Sonador memberi pertanda.

Dalam kata-katanya yang lembut.

“Mikha, pergilah ke bukit bintang esok malam, bawalah beberapa puisimu yang indah itu” ucap Sonador.

Mendapatkan pertanda, atau imajinasi visualisi di dalam mimpi bukanlah hal baru baginya, dalam beberapa tulisan, puisi dan ramalan yang dia buat, sebagian besar memang berasal dari sana.

Keesokan malam, Mikha berdiri di depan meja kayunya, mempersiapkan beberapa puisi untuk dibawa kebukit, sambil bertanya-tanya dalam hati, siapakah sosok perempuan cantik dalam mimpinya itu. Dia mengira sosok itu adalah malaikat mimpi, tetapi dia ragu. Mikha melangkahkan kakinya menuju hutan, jalur yang harus dilewati bila dia mau pergi ke bukit bintang. Walau dalam suhu yang teramat dingin, keringat halus masih bisa menggenang di antara kerutan di dahinya, tetapi dia terlihat sangat bersemangat. Setibanya di bukit, dia memilih untuk duduk bersandar pada sebuah pohon pinus besar, dan menonggakan kepalanya ke langit untuk melihat pertanda itu, dia menunggu.

Di dalam penantiannya akan pertanda, dan dalam kesunyian malam itu mikha membuat puisi baru, dia membuat puisi tentang “malaikat malam”, Isi puisi itu;

~ ~ ~

“Where did you come from ? Out of the everywhere into here.

Where did you get your eyes so blue? Out of the sky as I came through.

What makes the light in them sparkle and spin? Some of the starry spikes left in.

Where did you get that little tear? I found it waiting when I got here.

What makes your forehead so smooth and high? A soft hand stroked it as I went by,

What makes your cheek like a warm white rose? I saw something better than anyone knows.

Whence that three-comer’d smile of bliss? Three angels gave me at once a dreams. 

Where did you get this pearly ear? God spoke, and it came out to hear.

Where did you get those arms and bands? Love made itself into hooks and hands.

Feet, whence did you come, you darling things? From the same box as the cherubs’ wings.

Where did you get that dimple so cute, God touched my cheek as I came through.

How did they all come just to be you? God thought of me, and so I grew.

But how did you come to me, only in my dreams? God thought of you, and so I am here, waiting for you.”

~ ~ ~

Tiba-tiba, terkumpulah awan, merangkailah bintang-bintang, sosok itu hadir lagi, perempuan cantik itu lagi. Tetapi kali ini tidak dalam mimpi.

“Mikha, sahabat malamku. Aku adalah Sonador, akulah perangkai langit, pembentuk bintang-bintang, penyusun awan. Akulah yang memberi cahaya pada bulan, dan akulah Dewi malam.” Sonador menyapanya.

“Aku juga yang selalu merangkai cerita dalam mimpi-mimpimu, juga mimpi-mimpi seluruh umat manusia. Tetapi, dalam semua kemampuanku itu, aku merasa seperti bukanlah seorang Dewi bagimu, aku seperti sederajat, bahkan lebih kecil di antara tulisan dan puisi-puisi indahmu itu.” Ucapnya lagi.

Mikha duduk tertegun, melihat sosok Sonador. Melayang-layang di langit, dan langit sebagai latar belakangnya sepeti kain bludru dan terhampar bintang yang menyerupai koin-koin perak. Sangat indah.

Pertemuan malam itu berlanjut terus menerus. Mikha berbagi puisi-puisi indahnya, sementara Sonador berbagi cerita tentang Dewa-Dewi di langit. Memberi inspirasi bagi setiap tulisan juga puisi. Dan hubungan antara Dewi dan manusia itu berlangsung sangat lama hingga pada suatu waktu. Malam bagi Mikha telah hilang, Sonador tidak pernah menampakan wujudnya lagi, tidak dalam rangkaian langit ataupun rangkaian mimpi.

Rupanya Sonador, Dewi malam itu telah dihukum oleh para Dewa, atas pertemuannya dengan manusia. Sonador dihukum selama waktu yang dirahasiakan. Tetapi beberapa hari setelah lenyapnya sosok Sonador dalam hidup Mikha. Pada suatu malam Sonador berbisisk dalam mimpinya.

“Mikha, Aku akan datang lagi pada suatu bintang didepan sana, tunggulah aku.” Bisikan lembut Sonador di dalam mimpi Mikha.

Mikha melalui harinya melewati bintang demi bintang dengan satu tujuan, menanti pertemuannya lagi. Tetapi saat ini tubuhnya semakin tua, pengelihatanya rabun dan kakinya yang sudah tidak berfungsi dengan baik lagi, langkahnya tertatih berat dan sangat membutuhkan tongkat untuk keseimbangannya. Dalam kondisi yang sangat mengenaskan, Mikha tetap membuat puisi tentang Sonador setiap hari, hingga saat ini, dengan berharap pertemuannya dengan Sonador dapat terjadi lagi, baginya waktu bukanlah masalah.

Malam bintang ke 1000

Langit malam itu sangat tenang, tidak berawan dan juga tidak berbintang. Tidak jauh berbeda dengan ketenangan yang ada di dalam rumah Mikha. Mikha hanya terbaring lusuh di atas tempat tidur kayunya, obat-obatan dijejali ke mulutnya agar mengurangi rasa nyeri disekujur tubuhnya. Dia juga sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan ke bukit bintang. Bahkan dia sudah tidak sanggup berdiri dari tempat tidurnya. Ahli pengobatan di desannya memperkirakan bahwa hidup Mikha mungkin tidak akan lama lagi, bukan karena penyakit langka atau kutukan. Dia hanya sudah terlalu tua. Tumpukan buku-buku dan beberapa kertas kosong terlihat sudah berdebu di meja kayunnya, botol-botol tintapun sudah tidak dapat digunakan lagi karena tinta yang sudah membeku. Mikha terbaring dengan selimut kulitnya, matanya menerawang ke sudut-sudut ruangan sambil menghemat nafasnya. Tiba-tiba,

“Tok-tok” suara ketukan pintu kayu rumahnya.

“Siapa di sana? pergilah saya tidak akan menerima tamu” ucap Mikha dengan ketus.

Orang itupun dengan lancang masuk kedalam rumahnya, duduk di samping tempat tidurnya dan mengusap dahinya dengan lembut. Dia adalah perempuan yang sangat cantik, tangannya sangat hangat. Tangan yang lain memegang secarik kertas yang bertuliskan puisi buatannya, Mikha tersenyum bahagia. Menyadari bahwa dia masih bisa bertemu sosok itu lagi walau di detik akhir penantiannya. Perempuan itupun membacakan puisinya sebagai lantunan penghantar kepergian mikha pada malam itu.

~ ~ ~

“I am the Goddes of the Night

Whose flaming wheels began to run

Whose come to earth to be human

When God ‘s almighty breath

Said to the darkness and the Night,

Let there be light! and there was light.”

~ ~ ~

Akhirnya malam itu Mikha menghembuskan nafas terakhirnya. Sosok perempuan cantik itu adalah Sonador. Setelah dihukum puluhan bintang dia dilempar ke bumi dan rela menjadi manusia untuk bertemu kembali dengan sahabat malamnya, Mikha, walau dia tau bahwa itu pertemuan terakhirnya.

~ ~ ~

Sonador Dewi malam hadir pada malam seribu bintang. Istilah malam seribu bintang dikenal bagi orang-orang jaman sekarang adalah malam yang panjang_tentang waktu. Tetapi bagi saya malam itu adalah malam yang penuh dengan penantian, tentang keindahan malam, tentang persahabatan dan kesetiaan.

~Moussa Isaac Askey

Advertisements

Brothers & Sisters


~~~

Tulisan ini diperuntukan bagi orang yang masih ingat saat-saat ketika masih kanak-kanak mulai berlalu dan dihadapkan dengan jalan menuju kedewasaan yang telah terbentang.

Foto itu ada dihadapanku, bersanadar pada salah satu perabotan di atas meja kerjaku. Beberapa tulisan telah aku ciptakan dengan ditemani secarik foto tua itu. Aku telah membuat cerita tentang cinta, kematian, kesetiaan, kenangan manis dan bahkan penyesalan. Tetapi tidak satu paragrafpun aku menulis tentang isi foto yang telah kusam dan sedikit larut dengan noda percikan air. Mereka, saudaraku, adik-adikku. Disaat aku mengenang mereka sekelibat aku melihat sesuatu dalam pandangan akan masa yang akan datang, aku melihat dengan jelas sekelumit fakta yang justru membuatku resah.

Aku Isaac, kakak paling tua dalam keluarga ini. Ya, aku paling tua dari sepuluh bersaudara. Label “Paling tua” ini sedikit membebaniku untuk menentukan pilihan dalam hidup. Sedikit aturan tentang tanggung jawab menjadi kakak dari sembilan adik. Ibuku pernah berkata berkata demikian;

“Jika kamu perduli dengan adik-adikmu, dan menyayangi mereka. Perhatikan langkahmu, setiap langkah kecil kamu akan menjadi contoh bagi mereka” Ucapnya

Aku tidak mengartikan ucapannya menjadi beban berat yang akan mungkin akan aku bawa kemana-mana. Tetapi, kalau bisa memilih, izinkan aku untuk tidak menjadi “contoh”. Karena aku tidak siap untuk itu, tidak siap menjadi contoh yang baik. Tetapi demi ibuku, aku telah berjanji untuk menjadi “contoh” yang baik bagi adik-adikku kelak.

Kami memiliki orang tua yang sangat luar biasa. Mereka selalu menuntunku dan adik-adiku. Kami selalu merasa aman dan tentram dengan menyadari kehadiran mereka. Ibuku adalah seorang ibu yang sempurna, dia selalu memperhatikan kami persis seperti malaikat penjaga. Dia juga seorang pelukis rumahan yang handal, anehnya dia tidak menjadikan itu sebagai suatu profesi, dia hanya sangat mencintai itu. Dan harus aku akui dia memiliki bakat yang sangat baik. Sampai pada suatu hari beberapa kerabatnya berminat untuk membeli salah-satu lukisan terbaiknya dengan harga yang sangat tinggi, tetapi dia menolak tawaran itu dengan halus, dan mengatakan;

“Segala lukisanku akan kuwariskan untuk cucu-cucuku” Padahal pada saat itu aku baru berumur 12 tahun.

Ayahku adalah seorang pria besar dan lembut. Kerut-kerut diwajahnya melambangkan kerja kerasnya, lekukan cekung pada kelopak matanya melambangkan pengalamannya yang luar biasa, dan kebijaksanaannya melambangkan apa yang dia kerjakan selalu menuai hasil yang baik. Dia seorang jurnalis, dia juga dianggap sebagai wartawan senior di tempat dia berkerja. Dia pernah ditugaskan seorang diri di gurun Sahara. Dia juga pernah ditugaskan meliput perang Vietnam, dan salah satu penghargaan terbaiknya adalah, manakala dia pernah meliput kegiatan Presiden pertama disaat sang Presiden diculik dan disembunyikan pada suatu daerah yang bernama Rengasdengklok. Aku merasa mungkin profesinya itu sedikit menuntunku untuk menjadi penulis, walaupun semua karya tulisku hanya menumpuk diantara karya-karya lain di salah satu meja ruang editor. Dan sampai sekarang belum ada satupun buku yang telah disetujui oleh para editor untuk siap diedarkan. Tetapi dia, Ayahku, selalu mendukung apapun yang aku kerjakan tanpa melihat hasil. Baginya proses adalah yang paling penting. Suatu saat dia pernah berkata kepadaku;

“Kamu akan menjadi penulis buku “Best Seller” suatu saat nanti dan kamu pantas untuk itu. Semua orang berpeluang, penulis senior ataupun penulis pemula peluangnya sama, peliharalah keyakinan itu baik-baik” Tuturnya .

Kembali keruanganku, kedalam kenanganku pada secarik foto itu, kedalam fakta yang membuatku cemas. Karena kebersamaan manis yang ada di dalam foto tua itu hanya bisa aku lihat dan aku kenang. Semua itu sudah tidak akan hadir lagi, saat ini dan mungkin seterusnya dalam jangka waktu yang sangat panjang. Aku dan mereka sudah disibukan dengan kehidupan kecil masing-masing. Aku tidak mencoba untuk melebih-lebihkan keadaan saat ini atau mendramatiskan keadaan ini dengan kritis. Aku hanya merasa sangat sensitif akhir-akhir ini, beberapa botol minuman alkohol yang menjadi temanku saat ini dan 2-3 pil obat anti depressan setiap haripun belum bisa meluputkanku dari kerinduanku kepada mereka, adik-adikku. Kami menjadi sangat jauh hari demi hari, seperti ditelan dunia dan menunggu saat untuk dimuntahkan lagi.

Saat itupun tiba, kami seperti dimuntahkan dari perut dunia, kami berkumpul serentak. Tepat satu tahun lalu kami baru saja kehilangan sepaket orang tua kami, dalam suatu momen duka yang sangat dalam. Mereka menutup usia dalam tenang dan damai. Dengan saling memeluk, menutup mata dan tidak membukanya lagi, pergi bersama dengan nafas terakhir mereka disuatu pagi, di kamar tidur mereka. Raut tua dan tersenyum kecil seolah meninggalkan pesan bahwa mereka sudah siap untuk itu_siap untuk meninggalkan kami. Pada saat itu aku memahami bahwa suatu keluarga besar dapat berkumpul bersama kembali hanya jika ada suatu perayaan Agama atau pada salah satu momen penting, yaitu kematian. Akhirnya setelah kematian orang tua kami, kami menjadi solid, semakin dekat dan mencoba merakit lagi saat-saat bersama masa kanak-kanak dahulu.

Adik laki-laki pertamaku bernama Zefano. Dia seorang sales di kota tempat kami bertumbuh, kami dipisahkan sejauh ratusan mil. Sepertiku, dia memilih jalan yang dianggap salah bagi beberapa orang. Aku mungkin telah gagal menjadi contoh yang baik bagi dia.

Adik keduaku bernama Maura, dia perempuan paling keras kepala. Keputusan-keputusannya dianggap unik bagi aku dan orang tuaku. Tetapi sekarang dia sudah di jalan yang benar, mandiri dan mencoba menebus kesalahannya terhadap orang tuaku. Mungkin aku juga belum bisa memberi contoh yang terbaik untuknya.

Adik ketigaku bernama Zaneta, dia adik perempunaku yang bisa di katakan lebih menonjol dari seluruh adik-adiku, dia mandiri, sukses di umurnya yang masih sangat muda dan terkenal, dia seorang artis. Seingatku pada saat kanak-kanak dahulu dialah yang paling keras kepala. Mungkin dalam kesuksesannya dia tidak melihatku sebagai contoh.

Adik keempatku bernama Ezra. Dia laki-laki paling bijak di keluarga ini setelah ayahku, dia juga atlet tenis berbakat. Aku rasa dia tidak perlu mencontohku.

Adik kelima, keenam dan ketujuh bernama Andrea, Marsha, dan Alexa. Mereka gadis-gadis yang sangat pintar, dunia sudah siap memanfaatkan kelebihan mereka. Mereka hanya perlu mengandalkan Tuhan dan otaknya, dan tentu bukanlah aku.

Adik ke delapan hingga yang terakhir bernama Marlon, Rafael dan Darren. Mereka muda dan bertalenta, tetapi mereka masih butuh bimbingan dan nasihat dariku dan kakak-kakaknya yang lain. Bimbingan dan nasihat yang belum sempat banyak mereka dapat ketika kedua orang tuaku masih hidup.

Aku mencoba melihat dari mataNya; bahwa aku lahir kedunia ini untuk menjadi contoh bagi adik-adikku, mengganti peran orang-tuaku disaat mereka telah tiada.

Faktanya, aku belum layak untuk contoh yang baik bagi mereka. Tetapi aku menganggap itu bukan arti dari semua ini, lagipula seperti apa kata ayahku, proseslah yang paling penting. Hasil akan datang dengan sendirinya. Intinya kami masih saling perduli, kami tetap bersama, apapun yang terjadi, sejauh apapun jaraknya dan aku bersyukur untuk itu.

“there’s no other love like the love for a brothers and siters.”

~~~