Fire Flies

base on true story, Dream, Failure, First Book, Literature, Love, Short Story

Di kafe pinggir pantai itu, ia meneguk kenangan. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi, benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima tanpa akhir. Itulah yang menggelisahkannya, karena ia tahu segalanya tak pernah lagi sama. Segalanya tak lagi sama, seperti ketika ia menciumnya pertama kali dulu.

Dulu, ketika dia masih suka mengenakan dress backless, agar tattoo di punggungnya akan merekah indah. Saat senyumnya masih seranum buah mangga mudah. Dengan rambut dikepang ke samping hingga di atas buah dadah. Saat itu ia yakin: ia tak mungkin bisa bahagia tanpa dia. ”Aku akan selalu cinta, sayang….” Kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan di tengah dentuman lagu Trance itu. I still miss you….

Tapi mengapa bukan sendu lagu itu yang ia katakan dulu? Ketika segala kemungkinan masih berpintu? Mestinya saat itu ia tidak berlagak membiarkan dia pergi, karena saat itu ia berada di suatu jalan yang tidak ada jalan kembali, atau ia akan melawan arah dan mati karena bertabrakan dengan masa lalu. Mestinya jangan biarkan dia bergegas meninggalkan kafe ini dengan kejengkelan yang akhirnya benar-benar membuatnya tak pernah kembali.

Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaannya. Kenangannya. Itulah yang membuatnya selalu kembali ke kafe ini. Kafe yang seungguhnya telah banyak berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi, segalanya masih terasa sama dalam kenangannya. Ya, selalu ke kafe ini ia kembali, kembali bertarung dengan kenangan. Untuk gelas bir ketiga yang bisa menjadi keempat dan kelima. Seperti malam-malam kemarin, barangkali gelas bir ini pun hanya akan menjadi gelas bir yang sia-sia jika yang ditunggu tidak juga tiba.

”Besok kita ketemu, di kafe kita dulu?”

Ia tak percaya bahwa dia akhirnya meneleponnya.

”Kok diam….”

”Hmmm.”

”Bisa kita ketemu?”

”Ya.”

”Tunggu aku,” dia terdengar berharap. ”Meski aku tak yakin bisa menemuimu.”

Tiba-tiba saja ia berharap kali ini takdir sedikit berbaik hati padanya: semoga saja kekasihnya tiba-tiba mati overdosis dengan obat-obatan yang biasa kita pernah konsumsi bersama sambil bercinta, hingga perempuan yang masih dicintainya itu tak merasa cemas menemuinya.

Menemui? Apakah arti kata ini? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi untuk apa? Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari ciuman-ciuman masa lalu itu? Masa yang harusnya mereka jangkau dulu. Dulu, ketika ia masih berbaring bersama di pantai berkarang itu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut yang saat itu digerai hingga di atas dada, dan pasir berantakan di badanya. Ketika ia yakin, ia tak mungkin bahagia tanpa dirinya, bukan karena sebotol wine, bukan karena happy five, atau tarian mabuk diatas tubuhnya di tempat tidur malam sebelumnya.

Ah, ia jadi teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara ciuman-ciuman yang terasa gemetar dan diam-diam mengerang.

”Aku selalu membayangkan, bila nanti kita mati, kita akan menjelma menjadi sepasang kunang-kunang.”

Dia tersenyum, kemudian mencium pelan. ”Tapi aku tak mau mati dulu.”

”Kalau begitu, biar aku yang mati dulu. Dan aku akan menjadi kunang-kunang, yang setiap malam mendatangi kamarmu….”

”Hahaha,” dia tertawa renyah. ”Lalu apa yang akan kamu lakukan bila telah menjadi kunang-kunang?”

”Aku akan hinggap di dadamu, tepat di ujung putingmu, dan menyala seterang-terangnya.”

Dada yang membusung. Dada yang kini pasti makin membusung karena makin bertumbuh dimakan umurnya. Pun dada yang masih ia rindu. Dada yang sarat kenangan. Dada yang akan terlihat mengilap ketika seekor kunang-kunang hinggap di atasnya.

”Kunang-kunang…mau ke mana? Ke tempatku, hinggap dahulu….” Ucapnya, menggoda.

Ia bersenandung sambil membuka satu per satu kancing dress backlessnya. Dia yang hanya memejam. Ia seperti melihat seekor kunang-kunang yang perlahan keluar dari kelopak matanya yang terpejam. Seperti ada kunang-kunang di keningnya. Di pipinya. Di hidungnya. Di bibirnya. Di mana-mana. Kamar penuh kunang- kunang beterbangan. Tapi tak ada satu pun kunang-kunang hinggap di dadanya pualam. Dada itu seperti menunggu kunang-kunang jantan.

Ia selalu membayangkan itu. Sampai kini pun masih terus membayangkannya. Itulah yang membuatnya masih betah menunggu meski gelas bir ketiga sudah tandas. Selalu terasa menyenangkan membayangkan dia tiba-tiba muncul di pintu kafe, membuat ia selalu betah menunggu meski penyanyi itu telah terdengar membosankan menyanyikan lagu-lagu yang ia pesan.

Ia hendak melambai pada pelayan kafe, ingin kembali memesan segelas bir, ketika dilihatnya seekor kunang-kunang terbang melayang memasuki kafe. Kemudian kunang-kunang itu beterbangan di sekitar panggung. Di sekitar kafe yang ingar bingar namun terasa murung. Murung menapak geliat lidah pada tiap jeda tubuhnya. Murung mengharap tiap geliat di liat tubuhnya mengada. Lagi. Di sini. Menjadi nanti.

Adakah kunang-kunang itu pertanda? Adakah kunang-kunang itu hanya belaka imajinasinya? Penyanyi terus menyanyi dengan suara yang bagai muncul dari kehampaan. Dan kafe yang ingar ini makin terasa murung. Tiba-tiba ia menyaksikan ribuan kunang-kunang muncul dari balik keremangan, beterbangan memenuhi panggung. Hingga panggung menjadi gemerlapan oleh pendar cahaya kunang-kunang yang berkilau kekuningan.

Gelas birnya sudah tidak berbusa. Hanya kuning yang diam. Tidak seperti kunang-kunang beterbangan gemerlapan berpendar kekuningan. Kuning di gelas birnya mati. Sementara kuning di luar birnya gemerlapan. Hidup. Ia jadi teringat pada percakapan mereka dulu. Dua hari sebelum dia memilih hidupnya sendiri. Percakapan tentang bir dan kunang-kunang.

”Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.”

”Kenapa?”

”Karena di dalam matamu seperti hidup ribuan kuang-kunang. Aku selalu membayangkan ribuan kunang-kunang itu berhamburan keluar dari matamu setiap kau merindukanku.”

”Tapi aku tak pernah merindukanmu.” Dia tersenyum.

”Kamu bohong, kenapa harus berbohong hanya untuk jawaban yang sesimple itu?….”

”Aku tak pernah membohongimu. Kamu yang selalu membohongiku.”

Ia memandang nanar. Seolah tidak yakin apa yang ia dengar salah atau benar. Bohong baginya adalah dusta yang direncanakan. Sementara apa yang ia lakukan dulu adalah pilihan. Dan pilihan hanyalah satu logika yang terpaksa harus diseragamkan. Oleh banyak orang. Olehnya….

”Tidak. Aku tidak bohong.”

”Semakin kau bilang kalau kau tidak bohong, semakin aku tahu kalau kamu berbohong.”

Ia tak menjawab. Tapi bergegas menciumnya. Dengan rakus dan gugup. Begitulah selalu, bila ia merasa bersalah karena telah membohonginya. Seolah ciuman bisa menyembunyikan kebohongannya. Tapi ia tak bohong kalau ia bilang mencintainya. Ia hanya selalu merasa gugup setiap kali nada suaranya terdengar mulai mendesaknya. Karena ia tahu, pada akhirnya, setelah percakapan dan ciuman, dia pasti akan bertanya: ”Apakah kau akan menikahiku?”

Ia menyukai ciuman. Tapi, sungguh, ia tak pernah yakin apakah ia menyukai pernikahan. Kemudian ia berteka-teki: ”Apa persamaan bir dengan kunang-kunang?” Dia menggeleng.

Keduanya akan selalu mengingatkanku padamu. Bila kau mati dan menjelma jadi kunang-kunang, aku akan menyimpanmu dalam botol bir. Kau akan terlihat kuning kehijauan. Tapi kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa meminta segelas bir, tetapi kita tak pernah bisa meminta takdir.

Seperti ia tak pernah meminta perpisahan yang getir.

”Aku mencintaimu, tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu….”

Hidup pada akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti kematian. Semua akan mati karena itulah hukuman yang sejak lahir sudah manusia emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar ataupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang?

Pada saat ia tahu, bahwa pada akhirnya perempuan yang paling ia cintai itu benar-benar menikah—bukan dengan dirinya—pada saat itulah ia menyadari ia tak menang, dan perlahan-lahan berubah menjadi kunang-kunang. Kunang-kunang yang mengembara dari kesepian ke kesepian. Kunang-kunang yang setiap malam berkitaran di kaca jendela kamar tidurnya. Pada saat itulah ia berharap, dia tergeragap bangun, memandang ke arah jendela, dan mendapati seekor kunang-kunang yang bersikeras menerobos kaca jendela. Dia pasti tahu, betapa kunang-kunang itu ingin hinggap di dadanya. Sementara suaminya tertidur pulas dan puas di sampingnya.

”Aku memilih menikah dengannya, karena aku tahu, hidup akan menjadi lebih mudah dan gampang ketimbang aku menikah denganmu.”

Itulah yang diucapkannya dulu, di kafe ini, saat mereka terakhir bertemu.

”Jangan hubungi aku!”

Lalu dia menciumnya. Lama. Bagi ia, ciuman itu seperti harum bir yang pernah terhapus dari mulutnya.

Barangkali, segalanya akan menjadi mudah bila saat itu diakhiri dengan pertengkaran seperti kisah dalam sinetron murahan. Misal: dia menamparnya sebelum pergi. Memaki-maki, ”Kamu memang laki-laki bajingan!” Atau kata-kata sejenis yang penuh kemarahan. Bukan sebuah ciuman yang tak mungkin ia lupakan.

Dan kini, seperti malam-malam kemarin, ia ada di kafe kenangan ini. Kafe yang harum pantainya telah kalah oleh sebotol bir. Kafe yang mengantarkannya pada sebuah ciuman panjang di bibir. Kafe yang selalu membuatnya meneguk kenangan dan kunang-kunang dalam bir. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima?

Ini gelas bir keenam!

Dan ia masih menunggu. Ia melirik ke arah penyanyi itu, yang masih saja menyanyi dengan suara sendu. Ia melihat pelayan itu sudah setengah mengantuk. Tinggal ia seorang di kafe. Barangkali, bila ia bukan pelanggan yang setiap malam berkunjung, pasti pelayan itu sudah mengusirnya dengan halus. Sudah malam, sudah tak ada lagi waktu buat meneguk kenangan.

Pada gelas kedelapan, akhirnya ia bangkit, lalu memanggil pelayan dan membayar harga delapan gelas kenangan yang sudah direguknya habis. Ya, malam pun hampir habis. Sudah tak ada waktu lagi buat kenangan. Sudah tidak ada kenangan dalam gelas bir kedelapan. Setiap kenangan, pada akhirnya punya akhir bukan? Inilah terakhir kali aku ke kafe ini, batinnya. Besok aku tak akan kembali. Kemudian ia beranjak pergi.

***

Malam makin mengendap. Tamu terakhir sudah pergi. Diam dan setengah mengantuk, para pelayan kafe membereskan kursi. Bartender merapikan gelas-gelas yang bergelantungan. Sebentar lagi penjaga malam akan menutup pintu.

Pada saat itulah, terlihat seekor kunang-kunang memasuki kafe. Kunang-kunang itu terbang melayang berputaran, sebelum akhirnya hinggap di gelas bir yang telah kosong. Bir terakhirnya.

Dan,

Ia yang keluar dari pintu kafe dalam keaadan sedikit mabuk, perlahan mengeluarkan cahaya yang berpendar dalam keremangan lampu jalan, ia adalah kunang-kunang yang bertualang dalam setiap kesunyian malam.

Mencari cinta yang pernah datang di masa lalu, cintanya. Di dalam setiap botol-botol beer.

Miamou

Season Of Our Soul

base on true story, Failure, Literature, Love, Short Story

“I’m not a writer, at least long time ago i thought i’m not gonna end up to be writer. But in front of your screen now, there’s words by me.

My tragedy is was that i loved words more than i loved the women, who inspired me to write them.

I wish there’s no reason for me to write this story on this blog. But there is something i really wanted to share, something that most of people search in life for. This season I am more open for many more disappointment and failure, with this I am more ready for anything, to face the new season of my soul.

Maybe i can’t find cool analogies, pretty metaphors, or write a lovely dopey poem like i used to write before. Because i want this to be ultra simple, the most primitive form of telling how i feel: “I love you”

~ ~ ~

tumblr_o07v4ph8pu1r3fa3go1_1280

~ ~ ~

I don’t know what’s going to happen from here, but i do know is that i want to be with you. I’ve witness how you felt, all your feelings are true. You make me smile, you are always there in my many night sleepless, and you are just simply amazing. I’m so happy that i had the privilege having you in my life.

We get along so well; the goofyness we share and our conversations are something I’d never trade for anything. I know we can become something special, and life is not sure with it self, season always changing, and future is a mystery that no one could not even understand it.

I hope you see that too.

Ghost Story

base on true story, Failure, Literature, Love, Short Story

I am not the ghost, and this is not story about me. We read the same book together, we write on the same notes together. Turns out it tells about separate story.

“Let me guess. You wan’t to know why every time i let my self fall into past will led me into a complete riot in the end, at least, that’s how they measure themselves to understand my stories. I won’t show them what creeps me the most, and i know they don’t care too. But i hope you speak the language, the silence haunt me, the loud annoyed me. Tell me, am i a ghost now?”

– Raya’s first words to me

This is a short story about how i see ghost for the last time i see on her tears, as there is a ghost involved, you might call it a ghost story. But every tears is a ghost story. The dead sit on the tip of your eyes, long after they have gone.

This particular story belongs to Raine “Raya” Yazminah. She was not the ghost too. She was very real. I found her grabs my attention across through my window, we were strangers long before I move to that foreign country, fell in love under a thousand stars, tells possibly meetings story about today (when we just continue the chains of life, the bond of feeling and facing the part of moving on). Back to those days;

“I wonder what is the best pick up line to start talk with you again, one day, when we become a complete stranger, when i’m not the guy who hold your hand like this anymore?”

– I flirt her into my humor sense

She tighten her grips, talk in to my deepest eyes, said; “Why you imagine that far? Are we gonna be stranger? Even when we still together?”

Looking back, it was a fate that i finally found her on existence and it was a fate too once it burns by distance.

“I guess, thats what everyone said about this human feeling. Same like a ghost stories.”

– I answered

I wish there’s no reason for me to write this story on this blog. But there is something I really wanted to share, something that most of people search in life for. This story confirming some truth the deeper understanding of who we are as human beings. We all loves stories, we born for them.

What i have written here is what Raya told me in our conversation that morning. Which stretched out much longer than that. You may not believe it anyhow.

Before you continue read this, ask your self first: Have you ever lost someone you love and wanted one more conversation, one more chance to make up for the time when you thought they would be here forever? If so, then you know you can go your whole life collecting days, and none will outweigh the one you wish you had back. What if you got it back?

“Last night, I dream she was with me, my long gone lover, we met in some place, I’m not sure where it was. We decide which stuff we should choose, I’m not sure also what stuff we talking about, what matter is, I saw her again after awhile, even just in a dream. Now i feel i am not awake at all, seeing you front of me makes me feel like this life is a solid fiction.”

Raya seem start to focus about what I said, which I believe she was waiting to blow this conversation by how she end up at front of me. I told her my situation was complicated and I don’t want to take her time to talk about it as i want to know what happen on her, the person that i love the most just to leave her heart with scars in the sudden of separation. My biggest question was; “Why she’s here?”

○●○●

(I will continue this story someday in a gloomy April, i feel bad if i have to keep it on pending review, that’s why i publish it, so hang on, i’ll be back like a ghost. -author)

Petualangan Kunang – Kunang

base on true story, Failure, Literature, Love, Short Story

kunang222.jpg

Di kafe pinggir pantai itu, ia meneguk kenangan. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi, benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima tanpa akhir. Itulah yang menggelisahkannya, karena ia tahu segalanya tak pernah lagi sama. Segalanya tak lagi sama, seperti ketika ia menciumnya pertama kali dulu.

Dulu, ketika dia masih suka mengenakan dress backless, agar tattoo di punggungnya akan merekah indah. Saat senyumnya masih seranum buah mangga mudah. Dengan rambut dikepang ke samping hingga di atas buah dadah. Saat itu ia yakin: ia tak mungkin bisa bahagia tanpa dia. ”Aku akan selalu cinta, sayang….” Kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan di tengah dentuman lagu ber-genre Trance itu. I still miss you….

Tapi mengapa bukan sendu lagu itu yang ia katakan dulu? Ketika segala kemungkinan masih berpintu? Mestinya saat itu ia tidak berlagak membiarkan dia pergi, karena saat itu ia berada di suatu jalan yang tidak ada jalan kembali, atau ia akan melawan arah dan mati karena bertabrakan dengan masa lalu. Mestinya jangan biarkan dia bergegas meninggalkan kafe ini dengan kejengkelan yang akhirnya benar-benar membuatnya tak pernah kembali.

Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaannya. Kenangannya. Itulah yang membuatnya selalu kembali ke kafe ini. Kafe yang seungguhnya telah banyak berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi, segalanya masih terasa sama dalam kenangannya. Ya, selalu ke kafe ini ia kembali, kembali bertarung dengan kenangan. Untuk gelas bir ketiga yang bisa menjadi keempat dan kelima. Seperti malam-malam kemarin, barangkali gelas bir ini pun hanya akan menjadi gelas bir yang sia-sia jika yang ditunggu tidak juga tiba.

”Besok kita ketemu, di kafe kita dulu?”

Ia tak percaya bahwa dia akhirnya meneleponnya.

”Kok diam….”

”Hmmm.”

”Bisa kita ketemu?”

”Ya.”

”Tunggu aku,” dia terdengar berharap. ”Meski aku tak yakin bisa menemuimu.”

Tiba-tiba saja ia berharap kali ini takdir sedikit berbaik hati padanya: semoga saja kekasihnya tiba-tiba mati overdosis dengan obat-obatan yang biasa kita pernah konsumsi bersama sambil bercinta, hingga perempuan yang masih dicintainya itu tak merasa cemas menemuinya.

Menemui? Apakah arti kata ini? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi untuk apa? Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari ciuman-ciuman masa lalu itu? Masa yang harusnya mereka jangkau dulu. Dulu, ketika ia masih berbaring bersama di pantai berkarang itu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut yang saat itu digerai hingga di atas dada, dan pasir berantakan di badanya. Ketika ia yakin, ia tak mungkin bahagia tanpa dirinya, bukan karena sebotol wine, bukan karena happy five, atau tarian mabuk diatas tubuhnya di tempat tidur malam sebelumnya.

Ah, ia jadi teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara ciuman-ciuman yang terasa gemetar dan diam-diam mengerang.

”Aku selalu membayangkan, bila nanti kita mati, kita akan menjelma menjadi sepasang kunang-kunang.”

Dia tersenyum, kemudian mencium pelan. ”Tapi aku tak mau mati dulu.”

”Kalau begitu, biar aku yang mati dulu. Dan aku akan menjadi kunang-kunang, yang setiap malam mendatangi kamarmu….”

”Hahaha,” dia tertawa renyah. ”Lalu apa yang akan kamu lakukan bila telah menjadi kunang-kunang?”

”Aku akan hinggap di dadamu, tepat di ujung putingmu, dan menyala seterang-terangnya.”

Dada yang membusung. Dada yang kini pasti makin membusung karena makin bertumbuh dimakan umurnya. Pun dada yang masih ia rindu. Dada yang sarat kenangan. Dada yang akan terlihat mengilap ketika seekor kunang-kunang hinggap di atasnya.

”Kunang-kunang…mau ke mana? Ke tempatku, hinggap dahulu….” Ucapnya, menggoda.

Ia bersenandung sambil membuka satu per satu kancing dress backlessnya. Dia yang hanya memejam. Ia seperti melihat seekor kunang-kunang yang perlahan keluar dari kelopak matanya yang terpejam. Seperti ada kunang-kunang di keningnya. Di pipinya. Di hidungnya. Di bibirnya. Di mana-mana. Kamar penuh kunang- kunang beterbangan. Tapi tak ada satu pun kunang-kunang hinggap di dadanya pualam. Dada itu seperti menunggu kunang-kunang jantan.

Ia selalu membayangkan itu. Sampai kini pun masih terus membayangkannya. Itulah yang membuatnya masih betah menunggu meski gelas bir ketiga sudah tandas. Selalu terasa menyenangkan membayangkan dia tiba-tiba muncul di pintu kafe, membuat ia selalu betah menunggu meski penyanyi itu telah terdengar membosankan menyanyikan lagu-lagu yang ia pesan.

Ia hendak melambai pada pelayan kafe, ingin kembali memesan segelas bir, ketika dilihatnya seekor kunang-kunang terbang melayang memasuki kafe. Kemudian kunang-kunang itu beterbangan di sekitar panggung. Di sekitar kafe yang ingar bingar namun terasa murung. Murung menapak geliat lidah pada tiap jeda tubuhnya. Murung mengharap tiap geliat di liat tubuhnya mengada. Lagi. Di sini. Menjadi nanti.

Adakah kunang-kunang itu pertanda? Adakah kunang-kunang itu hanya belaka imajinasinya? Penyanyi terus menyanyi dengan suara yang bagai muncul dari kehampaan. Dan kafe yang ingar ini makin terasa murung. Tiba-tiba ia menyaksikan ribuan kunang-kunang muncul dari balik keremangan, beterbangan memenuhi panggung. Hingga panggung menjadi gemerlapan oleh pendar cahaya kunang-kunang yang berkilau kekuningan.

Gelas birnya sudah tidak berbusa. Hanya kuning yang diam. Tidak seperti kunang-kunang beterbangan gemerlapan berpendar kekuningan. Kuning di gelas birnya mati. Sementara kuning di luar birnya gemerlapan. Hidup. Ia jadi teringat pada percakapan mereka dulu. Dua hari sebelum dia memilih hidupnya sendiri. Percakapan tentang bir dan kunang-kunang.

”Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.”

”Kenapa?”

”Karena di dalam matamu seperti hidup ribuan kuang-kunang. Aku selalu membayangkan ribuan kunang-kunang itu berhamburan keluar dari matamu setiap kau merindukanku.”

”Tapi aku tak pernah merindukanmu.” Dia tersenyum.

”Kamu bohong, kenapa harus berbohong hanya untuk jawaban yang sesimple itu?….”

”Aku tak pernah membohongimu. Kamu yang selalu membohongiku.”

Ia memandang nanar. Seolah tidak yakin apa yang ia dengar salah atau benar. Bohong baginya adalah dusta yang direncanakan. Sementara apa yang ia lakukan dulu adalah pilihan. Dan pilihan hanyalah satu logika yang terpaksa harus diseragamkan. Oleh banyak orang. Olehnya….

”Tidak. Aku tidak bohong.”

”Semakin kau bilang kalau kau tidak bohong, semakin aku tahu kalau kamu berbohong.”

Ia tak menjawab. Tapi bergegas menciumnya. Dengan rakus dan gugup. Begitulah selalu, bila ia merasa bersalah karena telah membohonginya. Seolah ciuman bisa menyembunyikan kebohongannya. Tapi ia tak bohong kalau ia bilang mencintainya. Ia hanya selalu merasa gugup setiap kali nada suaranya terdengar mulai mendesaknya. Karena ia tahu, pada akhirnya, setelah percakapan dan ciuman, dia pasti akan bertanya: ”Apakah kau akan menikahiku?”

Ia menyukai ciuman. Tapi, sungguh, ia tak pernah yakin apakah ia menyukai pernikahan. Kemudian ia berteka-teki: ”Apa persamaan bir dengan kunang-kunang?” Dia menggeleng.

Keduanya akan selalu mengingatkanku padamu. Bila kau mati dan menjelma jadi kunang-kunang, aku akan menyimpanmu dalam botol bir. Kau akan terlihat kuning kehijauan. Tapi kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa meminta segelas bir, tetapi kita tak pernah bisa meminta takdir.

Seperti ia tak pernah meminta perpisahan yang getir.

”Aku mencintaimu, tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu….”

Hidup pada akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti kematian. Semua akan mati karena itulah hukuman yang sejak lahir sudah manusia emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar ataupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang?

Pada saat ia tahu, bahwa pada akhirnya perempuan yang paling ia cintai itu benar-benar menikah—bukan dengan dirinya—pada saat itulah ia menyadari ia tak menang, dan perlahan-lahan berubah menjadi kunang-kunang. Kunang-kunang yang mengembara dari kesepian ke kesepian. Kunang-kunang yang setiap malam berkitaran di kaca jendela kamar tidurnya. Pada saat itulah ia berharap, dia tergeragap bangun, memandang ke arah jendela, dan mendapati seekor kunang-kunang yang bersikeras menerobos kaca jendela. Dia pasti tahu, betapa kunang-kunang itu ingin hinggap di dadanya. Sementara suaminya tertidur pulas dan puas di sampingnya.

”Aku memilih menikah dengannya, karena aku tahu, hidup akan menjadi lebih mudah dan gampang ketimbang aku menikah denganmu.”

Itulah yang diucapkannya dulu, di kafe ini, saat mereka terakhir bertemu.

”Jangan hubungi aku!”

Lalu dia menciumnya. Lama. Bagi ia, ciuman itu seperti harum bir yang pernah terhapus dari mulutnya.

Barangkali, segalanya akan menjadi mudah bila saat itu diakhiri dengan pertengkaran seperti kisah dalam sinetron murahan. Misal: dia menamparnya sebelum pergi. Memaki-maki, ”Kamu memang laki-laki bajingan!” Atau kata-kata sejenis yang penuh kemarahan. Bukan sebuah ciuman yang tak mungkin ia lupakan.

Dan kini, seperti malam-malam kemarin, ia ada di kafe kenangan ini. Kafe yang harum pantainya telah kalah oleh sebotol bir. Kafe yang mengantarkannya pada sebuah ciuman panjang di bibir. Kafe yang selalu membuatnya meneguk kenangan dan kunang-kunang dalam bir. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima?

Ini gelas bir keenam!

Dan ia masih menunggu. Ia melirik ke arah penyanyi itu, yang masih saja menyanyi dengan suara sendu. Ia melihat pelayan itu sudah setengah mengantuk. Tinggal ia seorang di kafe. Barangkali, bila ia bukan pelanggan yang setiap malam berkunjung, pasti pelayan itu sudah mengusirnya dengan halus. Sudah malam, sudah tak ada lagi waktu buat meneguk kenangan.

Pada gelas kedelapan, akhirnya ia bangkit, lalu memanggil pelayan dan membayar harga delapan gelas kenangan yang sudah direguknya habis. Ya, malam pun hampir habis. Sudah tak ada waktu lagi buat kenangan. Sudah tidak ada kenangan dalam gelas bir kedelapan. Setiap kenangan, pada akhirnya punya akhir bukan? Inilah terakhir kali aku ke kafe ini, batinnya. Besok aku tak akan kembali. Kemudian ia beranjak pergi.

Malam makin mengendap. Tamu terakhir sudah pergi. Diam dan setengah mengantuk, para pelayan kafe membereskan kursi. Bartender merapikan gelas-gelas yang bergelantungan. Sebentar lagi penjaga malam akan menutup pintu.

Pada saat itulah, terlihat seekor kunang-kunang memasuki kafe. Kunang-kunang itu terbang melayang berputaran, sebelum akhirnya hinggap di gelas bir yang telah kosong. Bir terakhirnya.

Dan,

Ia yang keluar dari pintu kafe dalam keaadan sedikit mabuk, perlahan mengeluarkan cahaya yang berpendar dalam keremangan lampu jalan, ia adalah kunang-kunang yang bertualang dalam setiap kesunyian malam.

Mencari buih cinta di dalam setiap botol-botol beer, mencari cintanya.

The Cornice

base on true story, Failure, Literature, Love, Short Story

Cornice of Tears

tumblr_nwgzwuhzxh1r7ixnko1_250

You never really back home. You never even been out. You still here, laying your body for the last time, at place where nobody know your name

You may not know why,

Much easier to act strong then to act weak for you. You could fight the fear but you couldn’t handle a single tear. Because your body needs to float all over the pain and needs to start it all over again, until you hear those strangers inside you sounds like they singing about “Home”.

Is not a sin if you just want to witnesses her again.

I thought I see your tears,

I thought I hear your fears,

Remember what I say;

“The home was not exist, once you step outside. Is not there anymore.”

She sat down and wept, right at edge of the Cornice. Put our eyes straight through eyes right to the deepest side of our heart. We know how fast this flower will blossom and die right after for just a moment. Quite close to what we needs, and far away from where the sea and city meets.

There was only two big question ‘we’ (Human) wants to understand from the Universe;

“When should we start and when should we stop?

Her glisten eyes strive to reflect those city lights from the place where we stand. I saw the lights melting on her tear drops, flow to the tops, they flew and tend to resist the gravity, they floating away above our world. They comes back as a storm, strike between her eyes, and she began again to cry.

You can make a different, and tell a different story. Your heart, can safe my world.

“Those city lights, will light up her street, down where the sea and city meets. May all your suffer soon be gone.

And,

“Those reflected lights from her eyes, they will light up your street, maybe one day they will bring her back to you.”

~miamou


Plot on this post was  inspired by my selection of related songs: Tribute to Ramelia – Ram, Christmas Lights – Coldplay, One Heart – Ana Criado. And some Books: Theres No New York Today(tidak ada new york hair ini) – Unknown, The Zahir – Paulo Coelho, Plot Of Love – Mia (lost and found author), By The River Piedra I Sat Down And Wept – Paulo Coelho.

Each part and paragraph of this story was indirectly talking to me at one of my random sleepless night. It will tells you how love can somehow transform into everything, way far beyond imagination. Those songs and books i assume as the tools, my memories will reincarnate into “whisper” that express word by word and place to place. This story will brings past to every moment in future, the pills are actually good, and this simple plot will somehow, Remain.

Miamou

Love “in order to understand, i destroyed myself.” ~F. Pessoa, 1762 (Mt. Lourdes- France).

She Could Be Happy

base on true story, Dream, Failure, life, Love, Short Story

592e4c14213265-55a45ec38c05f

She could be flower in every nightmare. Blossom in dark.

She speaks to me fondly of passions and talents, guitar and stars, ice cream and rainbow, dancing and beaches, past and miracle. Then stop short to apologies for speaking at all. She could be like that.

She could sit alone in every crowded place. Shadows behind the lights.

All because somewhere in her life, someone-blindfolded that she loved broke her heart again, ignore her letter and pure bliss on her wet eyes. And telling her to “shut up”, keep “it down”, “nobody cares”. She could be like that.

Someone once said; “People aren’t born sad. Happy? Yes, she could be.”

And suddenly she’s start one bravely steps, start singing to the stars with her rainbow ice cream, and dancing at the beach. She barely knows, that its time to start again and holds to miracle of beginnings.

She could be anywhere.

With anyone.


“twahachteck”

Ayin Ha Ra

fiction, Literature, Love, Short Story

Kalimat ini letaknya agak ke kiri, di antara lipatan udara beragam, gelas champagne, dan daftar menu dengan logo pencari lubang tertempel pada “cover”-nya. Kudapan memenuhi meja makan, seperti kudapan lain yang memenuhi di balik seragam Ayra.

 her
 
 
Beberapa kalimat agak berantakan, ketika aku mencoba menatap Ayra, nama panggilan yang lebih singkat dari Ayin Ha Ra. Hewan kecil itu terkadang bermain di antara rambut Ayra yang terurai panjang, seperti mengukur jarak antara kesunyian dan pikiran-pikirannya. Cukup rumit.
 
Beberapa tamu yang datang untuk bermain golf di Elite Golf Club ini, tempat paling innocent untuk segerombol pendosa paling banyak gaya, di dalam ruangan VVVVVIP ini yang namanya sering disebut sebagai Black Widow, karena beberapa karyawati yang bekerja di tempat itu rata-rata korban dari ketamakan diri sendiri akan orgasme, dan akhirnya ditinggalkan oleh si penebar benih untuk menjadi janda di umur muda. Beberapa tamu VVVVVIP tersebut tampak seperti makhluk bodoh, mereka sibuk dengan telepon genggam masing-masing di tempat yang seharusnya lebih baik untuk menghindar dari segala jenis elektronik penghubung makna.
 
Ayra akan menemani mereka untuk menyelam di beberapa titik pembicaraan politik paling kotor yang tidak pernah masuk walau dalam selembar media paling kredibel sekalipun (pengaturan trayek premanisme di kota itu, berjudi hampir seperti yang biasa mereka lakukan di negara Macau sambil mengatur pembagian bisnis kotor lainnya) yang hampir tidak bisa di cerna Ayra yang sedang menuangkan air San Palegrino ke gelas salah satu tamu gendut ber-uang yang jaman sekarang sering di sebut “Gadun”.
Dia tampak gelisah, seperti akan menemani seonggok daging yang masing-masing sibuk bersilat jari dengan touch screen di telepon genggamnya. Tapi paling tidak, sehabis kerja nanti, Ayra akan meringankan beban-beban di rumah seperti susu untuk anak, listrik, internet, indovision, rokok untuk adik laki-lakinya yang malas berkerja, kakeknya yang pensiunan tanpa dana pensiun, dan kebutuhan-kebutuhan rumit lainnya.
 
Sepulang kerja, Ayra tidak selalu pulang kerumah. Dia melarikan diri dari kerumitan kebutuhan di dalam rumahnya, dan menyapa pelukan tepat setelah membuka pintu kamarku. Masih menggendong tas kulit coklat yang entah di salah satu kantung tas itu terdapat beberapa kartu nama tamu VVVVVIP di tempat dia bekerja. Larut setelah itu, Ayra berbaring sexy agak kesamping memberi jalan untuk cairan yang akan mengalir dalam tubuhnya yang ramping. Saya hanya manusia yang berhasrat tanpa uang yang haus akan cinta dan kepuasan mengerang, apapun bentuk dan caranya walau harus berperang. Aku telah rela menjadi binatang yang di kandangi dalam kerumitan di dalam kepala Ayra itu.
 
Ayra.
 
Saya tidak pernah bisa meihat matanya terlalu lama, atau dada ini akan meleleh seperti chocolate fondue yang mengalir ke bagian bawah tubuh saya dan stroberi di bagian tubuh lain menjadi ranum dan sangat matang.
 

Waktu menunjuk pukul sembilan. Di sudut kafe ketiak saya berpeluh. Namun tak bisa mengeluh. Kecuali pada ponsel yang suaranya tak juga melenguh.

Dua belas jam yang lalu ada yang mengaku akan datang. Yang saya harapkan selalu di kafe itu senyumnya manisnya akan mengembang. Ketika melihat saya. Karena berdekatan dengan pujaan hati, katanya. Biasanya kami akan menghabiskan waktu dengan percakapan. Saling bertatapan. Saling bertukar harapan. Harapan untuk bisa merapat dan berdekapan. Di suatu tempat yang jauh dari kegaduhan.

Namun, sebenarnya, hati saya selalu gaduh. Ketika di tindih tubuhnya saya mengaduh. Karena setelahnya  dia akan mengeluh. Bertanya, ke manakah hubungan ini akan berlabuh?

”Kenapa perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang memabukkan.”

”Hah?!”

Kupu-kupu melebarkan sayapnya tepat di depan bebungaan di mana kami duduk. Ia pun melebarkan jangkauan tangannya di mana tangan saya sedang diam merunduk. Mencoba meredam tawa saya yang sudah terdengar seperti orang mabuk. Tenang gerakannya sangat saya tahu sebenarnya memendam rasa amuk akan segala pertanyaan rumit yang saya tunda jawabanya. Sejujurnya saya tidak pernah berencana untuk menhabiskan hidup di temani dengan rasa was-was akan pekerjaan yang mungkin akan menjatuhkan saya lagi, seperti yang sudah – sudah. Karena itu segera saya kibaskan tangan itu berpura-pura menghalau nyamuk.

“Sayang?”

Saya memotong kalimatnya. Persis seperti apa yang dilakukan badut-badut ketika berada di atas arena. Berteriak ketika ada yang mengolok-oloknya. Terjatuh. Mengaduh. Berlari. Tanpa berani memaki. Menghilang ke balik panggung. Disertai dengan sorak-sorai dan tawa menggunung.

Sorak-sorai itu yang mengingatkan saya atas kutipan-kutipan yang dituliskan di beberapa buku pemikir. Membuat saya mencibir. Karena ada letupan kembang api di kepalanya. Dan warna-warni serpihan kembang api itu jatuh ke bahunya, meleleh ke dada dan memerah di ujung putingnya. Ia tidak pernah mengetahuinya. Maka, ia tak merasakannya. Ketika serpihan kembang api itu melumatnya. Bahkan ketika saya berkata,

”Kenapa perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang memabukkan.”

Tapi di manakah sekarang ia, setelah hanya itu jawaban yang saya punya?

”Hah?!”

Terkejut saya ketika bahu ditepuk seseorang perempuan.

”Boleh saya ambil bangku yang tak terpakai?”

”Hah?!”

Saya tidak bisa menentukan. Saya sudah menunggu dua jam dengan perut kram akibat pil anti depresi yang dosisnya sedikit saya tingkatkan belakangan ini, atau mungkin karena Irish Coffee yang sudah gelas ketiga. Namun ia tak juga datang. Tapi apakah saya harus menyerahkan bangku kosong di sebelah saya ke seseorang? Seseorang yang membutuhkan bangku tambahan di mejanya karena ia bersama banyak teman tak terkecuali perempuan?

”Boleh saya pakai bangkunya, Mas?”

Saya menatapnya.

”Maaf, masih ada yang saya tunggu.”

”Waktu?”

~~~ ~~~

Real love is the love that sometimes arises after sensual pleasure; if it does, it is immortal, makes you wait even you know he/she will never show up; the other kind of inevitably goes stale, for it lies in mere fantasy.” ~Mia (Moussa Isaac Askey)

Baby, You’ll Be Alright.

Dream, Failure, Love, Short Story

* * *

Good morning dear, I hope I didn’t wake you too soon.

Because my mind is growing tired, too much thinking what I should do.

I picture you out there, It must be beautiful this time of year.

feather1.jpg

All those south coast leaves, floating round like embers from burning trees.

Well the weather out here is just the same, but do you think about me when you alone? The thing we used to do and the thing we used to be? You know that i could be the one who make you feel that way, and i could be the one who set you free.

Now it’s only work, each day bleeding into the next. Barely scraping by I tire myself out just so I can rest.
But rest it rarely comes, and when it does I cannot go home. Because it’s much too quiet, seems that I’m not suited to being alone.

And everyone around me changed.
But i remember, this is isn’t the way that we used to be.

I think about you maybe more than I should, but the smog is getting old, the drugs I’m taking aren’t so good. So will you talk to me? Even though you’ve had a late night.

Because I need a little help.

Baby, tell me I’ll be alright….

* * *

Convo of Balloons

base on true story, Family, fiction, Fun, Short Story

Sometimes in life you meet that someone who’s just…… .a little “off”

“the Weirdos”

Can anyone else’s sister beat mine? Don’t think so! Ninces is my most favorite weirdos in the world! these are the convo in blackberry massanger between Me and Karina a.k.a Ninces, enjoy 🙂

~ ~ ~

Ninces: Ka, how many helium balloons does it take to lift me off the ground? 🙂

Me: Do you really think i’m into MATH or some scientific calculation? i don’t even know with group it belongs to, math or science.

Ninces: OMG. 4000 balloons. Cool, i want to try. Can u blow me up 4000 helium balloons? each has to be 30cm in diameter, 15 cm radius.

Me: U think this is the movie UP? I’m not gonna blowing 4000 balloons!

Me: U know what we can do? DO IT ON MOCHO (my hamster) OMFG he’s only less than 1 kgs! it takes only two balloons.

Ninces: That’s sounds good ka….but he might get carried away by the wind.

Me: Not outdoor!!! Inside the house can? Up till the ceiling.

Ninces: No, i want it to be in a meadow..so much space.. 🙂

Me: MEADOW?! MEADOW!!!?!?!?!??!? YA THINK i will allow u to let my poor hamster float with helium balloons in a meadow?!?!?!?!?? Don’t be blonde!

Ninces: Don’t worry…i will bring a bow and a few arrows to shoot off balloons if he gets too high off the ground or get carried away by the wind.

Me: … and now she thinks she’s katniss. Smart.

Ninces: Why do u relate whatever i say to movies?!

Me: Because what ur doing is toooo high of an imagination that nobody in REAL LIFE would do!

Ninces: It’s in my bucket list now.

Me: You know ces, even the movie “BUCKETLIST” has more realistic things listed!

Ninces: I’ll find someone to do it with me! epic 8000 balloons! unless that person is heavier then we’ll probably need 10000..

Me: ..i should post this, maybe i’ll find that crazy person who wants to do it with u. wish me luck.

Ninces: Thank you ka. :*

Me: Seriously!?

~ ~ ~

Youre the best sister! Sometimes I wonder why I didn’t get your looks and your brains.

Mimi & Paris

base on true story, Failure, Family, Fun, Literature, Love, Short Story

Ada yang beda dari terbitnya postingan gue yang baru ini (iya tau, ngga ada yang peduli). Mimi & Paris bertema tentang proses perubahan yang gue alami beberapa bulan terakhir ini. Proses penulisan gue dari satu judul ke judul yang lain bukanlah suatu lompatan kuantum yang terjadi secara mendadak dan penuh letupan energi. Melainkan sebuah perjalanan yang berubah sedikit-demi sedikit, sampai akhirnya terlihat jelas bahwa gue sudah berubah.

By the way, gue mau ngenalin dua tokoh inoocent di atas, yang bakal lari-larian di dalam cerita ini; itu yang abu-abu namanya paris, karakternya lugu dan dungu, kurang lebih seperti gue. Nah, yang putih masang muka melas namanya mimi, nama aslinya milan, karakternya suka cari muka, petakilan, manja, dan suka jahatin paris, yang juga kurang lebih seperti cewe gue. Well, selamat menikmati tulisan gue, di mana kegelisahan yang gue alami gue coba taruh di atas kaca pembesar, dan kita tersenyum bersama-sama.

Mini & Paris

“Semoga kamu bisa tersenyum sambil merenung, atau mungkin sebaliknya.”

~~~

Juni akhir, segera berakhir. 

Siang yang terik, jalan tol yang lancar, dan lantunan syahdu album Adele mengiringnya tidur dalam perjalanan Bandung – Jakarta yang cukup menyita sisa tenaga semalam. Di perjalanan, kita hanya membahas sepenggal kecil cerita kemarin. Kepergian gue ke Bandung minggu lalu tidak lain didorong oleh tuntutan yang dia buat. Di titik itu gue udah siap untuk pergi dengan cara baik-baik, pergi selamanya darinya. Intinya: “Hubungan ini sudah tidak sehat”. Seberapapun besarnya untuk kita bertahan lagi, walaupun kita sangat ingin, kedatangannya ke Bandung makin mempertegas keinginannya itu.

Pagi tadi, kita saling meletakan mata, menebarkan sejuta makna, tanpa satupun kata.

Dalam letih dan dengan lembut, dia meminta untuk; “Jangan pernah tinggalin aku sayang.”

Mixtape state of trance-nya Armin van Buuren masih terputar dalam volume sangat kecil di kamar dingin itu.

Kembali ke perjalanan ini. Kita sedang mengejar waktu untuk menghadiri satu sesi pemotretannya, yang kita berdua tahu, kita pasti telat banget! dengan melihat kondisi badanya yang drop membuat gue menancap gas lebih dalem lagi, dan hanya ke satu tujuan: Rumahnya.

Siang di Jakarta berubah menjadi sangat mendung, dengan peluang hujan rintik-rintik. Lagu ‘don’t you remember’ dengan sengaja gue puter berulang-ulang di saat dia tidur, remote dengan tamak gue jepit di selangkangan. Sambil mendalemi lirik dari lagu itu. Dalem.

Setibanya di rumah, dia minta gue nginep untuk jagain dia selama dia sakit. Gue setuju, selain udah ngga sanggup menempuh perjalanan pulang Pondok Indah – Bintaro, belum lagi ditambah ngebayangin macetnya yang bisa bikin ngedrop.

Indahnya kebersamaan malam itu.

Gue, dia, nyokapnya dan kedua anjingnya: mimi si petakilan yang dianak-emaskan oleh cewe gue. Yaah ngga ada pilihan lain, gue pasrah nerima sisa, paris si bijak resmi jadi kesayangan gue.

Kita tenggelam dalam perbincangan karir modeling sang pacar, melihat foto demi foto di setiap lembar dalam beberapa katalog juga majalah yang di dokumentasi oleh nyokapnya, dan dikemas seadanya dalam kardus bekas. Karir sebagai model sudah dia mulai sejak bangku SMP, menuntunnya menjadi model yang sangat menjanjikan di umurnya yang sudah matang saat ini. Gue menanggapi wajar setiap hasil-hasil fotonya itu. Tapi di dalem hati: bangga bukan main – bukan main bangganya.

Sesekali gue menoleh ke belakang untuk menangkap senyum kecilnya di tengah kebersamaan malam yang menurut gue, kesederhanaan itu bikin gue dengan senang hati untuk terlibat dalam keluarga kecil ini seutuhnya, sepenuhnya. Sesekali tangannya mengelus-elus pundak gue (momen indah tak ternilai).

Setelah menyeruput majalah sampai setengah kardus, dan dia tampak sudah terbius (reaksi kantuk yang timbul oleh panasnya geliga yang gue oles di titik-titik pegal badannya), malam yang semakin larut, dan beberapa faktor lain yang membuat kita sepakat menutup sesi malem ini untuk bersiap tidur dalam lelap letihnya malam.

Dia tidur dengan mamanya di kamar utama, gue di kamar tamu ditemani paris yg melingkar di areal selangkangan, dan mimi di atas kepala.

“Good night paris n mimi” (lewat elusan).

“Good night tante” (lewat hayalan, oneday; “good night ma”).

Trus, “Good night sayang” (lewat bbm)… .Status checklist, trus muncul ‘D’, trus berubah jadi ‘R’, truss, TRUSS!? lah?

Gue ketiduran. Setengah jam kemudian gue kebangun oleh suara bbm yang berbunyi gemerincing di samping kuping, dia membalas;”… . Gini deh, buat pembaca yang penasaran dengan apa yang gue rasain saat itu. Simple, Pasangan kirim bbm(apapun), coba deh balesnya; “iyah” (iyah, bales gituh ajah) coba yah, gue tidur dulu yah, daah.

Goodnight.

Keesokan harinya gue kebangun, gelap tadi malem udah berubah terang di celah-celah jendela. Mimi yang anteng semalem berubah jadi beringas lari-lari melintasi muka gue, bibir becek tanda telah dinodai mimi oleh jilatan binalnya waktu gue tidur, pantes semalem gue tidurnya ‘gelisah’ (geli basah). Indahnya kebersamaan semalam kerasa masih nyisa bikin gue lupa sama rasa gelisah tentang pembalasan bbm yang seadanya dari dia.

Kita bangun kesiangan, lanjut ke adegan makan siang bersama, sambil ngobrol tentang mantan terakhirnya yang sempat tinggal di rumah ini cukup lama, dan rasa syukur nyokapnya akan kehadiran gue dalam hidup anaknya saat itu. Setelah makan siang kita lanjut ke kamar tamu, kita ngebahas tentang kemungkinan masa depan yang kita “mau”, gue rasa itu cuma angan-angan karena kekenyangan. Lalu masuk dalam adegan tidur siang. Dengan alibi ketiduran, dan pintu yang kebuka lebar, membuat kita ga perlu khawatir sama mama yang tentu belum mengizinkan kita tidur berdua dalam satu ranjang. Gue memanfaatkan momen itu, dalam kehangatan siang, seperti kecanduan. Glendotan jadi hal yang paling wajib gue praktekin disaat dia tidur di sebelah gue.

Glendotan.

Glendotan yang gue maksud ngga ada hubungannya sama hal-hal yang berbau porno. Ini murni glendotan. Glendotan menurut salah satu psikolog di negara Burkinafaso (negara yang namanya paling ribet), adalah bentuk lain dari seks yang dilakukan dengan pikiran yang bersih dan tanpa gerakan frontal, kegiatan yang bisa dilakukan oleh semua kalangan dan tidak mengenal umur. Glendotan ternyata sudah pernah di lakukan oleh nenek moyang kita sejak dulu, ditemukan oleh beberapa arkeolog di dataran rendah meksiko, sepasang fosil manusia purba diduga sedang glendotan. Unyu deh. (tapi itu mati dalam kondisi glendotan apa karena glendotan mereka mati?)

Tiba-tiba, seperti petasan di siang bolong, seperti lolongan serigala hutan di ruang tamu, dan seperti ketawa perempuan cekikikan di atas pohon pisang di malam jumat. Kemesraan, rasa damai dan kehangatan itu ternyata cuma dateng sekali dalam hidup gue. Dan Ini yang terakhir.

Jadi gini, sore itu gue bangun duluan, posisi terakhir gue, persis sama seperti posisi mulai tidur siang, ga berubah satu pose-pun. Gue, masih glendotin cewe gue. Mimi, berusaha glendotin si paris. Mama, glendotin pintu. (kesel ngeliat semuanya glendotan)

Setelah mengalami beberapa kali putus-nyambung. Dengan hembusan nafas lega yang di mix sama rasa kecewa. Akhirnya, hubungan ini ketemu juga di titik putus, fix putus. Titik di mana kata ‘nyambung’ itu di larang oleh enam agama diakui di Indonesia, dan di tentang negara. Bahkan hanya sekedar bercanda mengucapkan kata ‘nyambung’ di rumah yang sepi, seorang pria separuh buaya(baca: paruh baya) di sweeping organisasi anarkis FPPGPN (Front Pembela Putus Ga Pake Nyambung). Intinya siapa yang ngajak balikan/nyambung, dia yang terima tamparan dari depan. FYI, tamparan dari depan itu *jenis tamparan yang sakitnya lebih nyebelin dibanding tamparan dari samping*

Yang gue inget waktu itu gw di usir dari rumah, a.ĸ.a kamar utama, a.ĸ.a di depan nyokapnya, a.ĸ.a bukan salah gue! Ga ada tujuan buat self defence, tapi faktanya, dia yang ada permainan, masa gue yang diusir? Iya sih, lebih aneh kalo gue yang usir dia dari rumahnya.

Dia, dengan suara serak (lagi sakit) agak tinggi, berjuang untuk teriak tapi yang keluar. Maaf, sedikit mirip suara nenek-nenek kejepit pintu gudang. (tuh kan nenek, udah dibilangin ga boleh main di gudang).

Cewe gue: “pergi kamu!”,”kok masih disini?”,”pokoknya pergi!”

Gue: “iya aku pergi. Tapi boleh ga, at least kita pisah baik-baik? or should i beg you to get our final kiss?” *sok di sama-samain sama sepenggal lirik Adele; “no final kiss”

Cewe gue: mengamini lagu Adele dan menjawab; “ngga!”,”aku ga mau deket kmu lagi, pergi sekarang!”

Trakhir. Gue butuh dipecut biar gw beneran pergi, butuuh banget. Memanfaatkan dia yang lagi emosi, plus gue kok smakin enjoy ya kalo pengalaman gue lebih dramatis? Akhirnya demi di pecut, gue lemparlah pertanyaan innocent itu;

Gue; “kmu pilih aku, apa dia?”

Dan jawabannya adalah!; “aku pilih dia!” Ke..Pe..Cut.. (those simple words hit so hard)

Gue keluar kamar dengan langkah lunglai, nyamperin nyokapnya, say nothing. Cuma gue peluk aja, dan tetesan air mata ini pun tidak kuasa gue bendung, pelukan dan air mata gue secara tidak langsung menyampaikan perasaan gue saat itu; letih memenuhi tuntutan dan kecewa akan permainannya.

Mendung sore itu membuat semakin terasa suasana drama romantis yang sad ending. Persis kaya adegan dalam film ‘Sweet November’, di mana Keanu Reeves harus merelakan si Saraa pergi di tengah jembatan pagi-pagi buta, padahal om Keanu Reeves udah main hati, sampe ajakin Saraa married, padahal Saraa umurnya ga panjang lagi, dan padahal baru kenal sebulan. “Ribet banget hidup lo Saara!!” Gue yang komen karena gemes. Ga terima sama aturan aneh nan lebay yang Saraa buat, Saraa keras kepala banget, si om juga nurut mulu. *ampir sama deh karakternya: Cewe gue kaya Saraa pas lagi ribet, gue kaya keanu pas lagi ganteng didodolin. Cut! Teriak sutradara.

Trus.

Nyokapnya: “biarin aja dia sendiri, kasih dia waktu, tante bantu bicara baik-baik ke dia nanti, sabar ya Moussa.” (nyokapnya baik banget, tapi ga mungkin gue pacarin)

Gue: langkah pertama keluar dari pager rumahnya, langsung ngrogoh kantong ambil bb. Otak kreatif dan suasana mellow bikin gue gercep (gerak cepat) open music, add new playlist, masukin lagu-lagu yang nyambung sama situasi saat itu.

Playlist name : So this is the real goodbye.

1.Adele – don’t you remember

2.Dash Berlin – better half of me

3.Armin – not givin’ up on us

4.Usher – let it burn

5.Coldplay – fix you

6.Coldplay – what if

7. Maroon 5 – pay phone

8. Feist – inside and out

8.Coldplay – viva la vida (ga match banget, tapi mager buat hapus dari playlist.)

Play.

Playlist galau telah menemani hati yang sedang terluka, luka baru yang menganga. Setiap lirik yang match dengan keadaan gue saat itu terasa seperti garam, yang disaat lantunan dan lirik sedih bertemu di suatu titik. Di titik itu luka menganga gue kaya di jejelin garem. Perih. Maaf atas ke-unyuan yang barusan terjadi.

Gue pernah party silent disco, seru! (tau ga nyambung, but let me continue) dari istilah silent discolah, gue mencetuskan istilah: silent crying. Hari itu, tanggal itu nama gue di catet di Guiness Book Record sebagai penemu dan pencetus silent crying.

Gue ngalamin silent disco, di acara rave party Gorilazz di GWK Bali. Kalo silent crying gue ngalaminnya di travel City Trans Jakarta – Bandung, duduk di samping pak supir. Serius deh, drivernya mirip gorila. Jadi ada satu momen gue nangis kejer, air mata meluncur deras, ingus ngepul-ngepul, tapi ga keluar suara. That’s what i called skill! Tapi ada efek sampingnya, pedihnya kaya ngumpul di dada gitu. Buat pembaca: kalo ngga mepet-mepet amat, jangan ikutin cara gue ini deh, gue kan udah pro kebiasaan. Saat itu perasaan gue campur aduk, antara sedih mengenang masa-masa bersama dia, di tamabah di ganggu-gangguin sama ‘Waiting’nya Emma Hewit yang melantun keras di earphone gue, disaat yang sama, gue juga takut sama si driver yang gue bilang mirip gorila. Gue liat ke langit, meletakan mata pada bulan, thank God! bukan bulan purnama. Parno drivernya jadi manusia gorila. *lirik si driver dari buntut mata yang becek was-was

Pengusiran yang didasari oleh tertangkapnya bbm-an mesra yang diduga menggunakan bahasa suku Arya kuno atau suku Aztec, atau kemungkinan yang paling ngga mungkin: bbm-an mesra tersebut menggunakan bahasa misterius dari U.F.O (baca: piring terbang kendaraannya alien) yang tertangkap dalam salah satu chanel radio FM di angkot S14 jurusan gang mesjid-lebak bulus. Kan jadi panjang (ˇ_ˇ’!!) !

I make it short: contoh bbm-an mesra dengan lelaki yang memiliki hak namanya di samarkan demi privacy, sebut saja: ALI

Dan demi hak mempertahankan nama baik cewe gue (mantan sih pada saat ini), juga demi masih teruntainya tali silahturahmi, cewe gue bisa kita sebut: CEWE GUE

Pemilihan nama samaran yang CERDAS. Sangat mengecoh!

Nih contoh bbm-an mesra yang tertangkap basah oleh mata gue waktu lagi BM kepo-in bbnya. Keadaan sore itu: gue lagi duduk-duduk ganteng megang bb, dia masih tidur, mamanya lagi rapiin meja makan, paris dan mimi kedua anjingnya yang ga punya hak namanya di samarkan karena keduanya memang tidak butuh privacy sejak lahir. Paris dan mimi seinget gue sih lagi sibuk sama bulunya masing-masing.

Di bawah ini adalah penampakan bbm misterius yang sudah ditunggu-tunggu dari tadi. (boleh kok nyiapin tissue sebelum menjadi saksi dari kejamnya teknologi komunikasi saat ini)

(Bbm-an mesra)

Ali: :* :* :* :*

Cewe gue: :* :* :* :*

Ali: :* :*

Cewe gue: :* :* :*

Ali: :* :*

Cewe gue: :* :* :* :*

Ali: :* :* :* :* :* :*

Cewe gue: :* :* :*

Ali: :* :* :*

Cewe gue: :* :*

Ali: :* :* :*

Cewe gue: :* :* :*

:* = Jika di ketik di kolom bbm akan berubah jadi emoticon kiss (baca: ciuman, cipokan, cumbuan?)

Hold!!

Setelah panampakan bbm barusan, kayanya gue bakal nulis tentang “cipokan” hampir di setiap paragraf, mungkin sampe ceritanya the end. Nah, karena kita berbudaya timur dan ber-etika, di samping itu ada saja kemungkinan om dan tante, opa dan oma, ada kakak atau adik dari pihak keluarga gue atau dia yang baca blog ini. Membuat gue rada ngga nyaman pake bahasa yang gengges seperti “cipokan” dkk. Pake inggris aja ya? gue ambil dari kata ‘french kiss’, gue singkat jadi ‘fk’ (nice).

Pokoknya kalo ada yang nyempilin ‘u’ sama ‘c’ di tengah istilah ‘fk’, mandul! Deal ya sama istilah ‘fk’?

Yuuk om & tante, mariii.

Kembali ke bbmannya dengan ALI.

Mereka berkomunikasi hanya dengan emoticon kiss, begituuu teruus bbm-annya sampe seterusnya, dari awal sampai akhir.

Gue; “menyebut nama dia pelan” (speechless, hopeless, maless)

Gue seperti di toyor-toyorin sama si cupid yang ga bertanggung jawab. Secara otomatis otak gue nyeting mindset baru; terlalu percaya sama pasangan BERARTI terlalu siap di bohongin, bbm flat dari pasangan yang ditanggapi positive dan cuek nganggep semuanya baik-baik aja BERARTI ngasih dia ruang buat bermain-main sama hati gue yang udah di stikerin fragile sejak lama. Harusnya mulai was-was waktu dia udah bales bbm “iyah” doang. Canggih juga otak gue bisa gitu. Tapi secanggih-canggihnya otak gue saat itu, Jadi ngga guna kalo udah ketipu gini. Telat nyeting mindset-nya tak!.

Seinget gue, level ke-kepo-an gue saat itu meningkat drastis. Sampe dua kali scroll di track pad-nya dengan hentakan panjang menyusur keatas, tetep aja gue ngga nemu huruf vokal atau apapun yang bisa dipahami oleh peradaban manusia jaman sekarang. Masih ga percaya, gue pastiin lagi liat bbm zinah itu!*maaf kasar (kebawa emosi) pas gue tau gue ngga salah liat, jantung gue nglewatin degupannya satu kali.

Gue coba tenangin diri sendiri dan coba liat lagi bbm nyakitin itu dengan perlahan, gue pastiin partner bbm-an-nya itu adalah: Sepupu, atau gay penata rambutnya, atau gay make up artist-nya, atau gay sahabatnya. Apapun deh yang penting gay, jadi gue bisa tenang. Tapi ngga ada sedikitpun pertanda itu! jantung gue nglewatin degupannya dua kali. Disaat hayalan binalku berkelana, dan saat akal sehat bermain, ditambah logika yang ikutan main bareng sama akal sehat. Hasilnya bakal lebih simple kalo gue gambarkan dalam rumus, berikut tampilan rumusnya;

Hayalan Binal = HB

Akal Sehat = AS

Logika =LG

HB+AS+LG = HB1AS1LG1 = ???? arrrgh!

Ya kesimpulannya ???? = BIG possibility mereka pernah fk beneran. Mereka telah mempraktekan fk di dunia nyata. Mereka telah fk di luar nikah! Ngebayangin, bibir yang gue fk semalem, kemungkinan besar kemaren paginya abis fk sama ALI. Dengan kesadaran akan pentingnya slogan “safety can be fun“, gue tuang detol cair dalam gelas, 2 sendokan antis, trus gue rendem tissue basah mitu tiga menitan ke dalem gelas tersebut, trus tissue yang telah berlumur zat-zat kimia jahat langsung gue kompres ke bibir. Sampe gue yakin bahwa bakteri telah pergi, bibir telah perih, dan gue telah terhindar dari virus berbahaya.

Gue bertanya-tanya dalam hati, “kok bisa setega itu ya?”, “bisa kali putusin gue dulu baru dia bisa nyaman ngapain aja sama orang lain”, “trus, kenapa setiap gue mau pisah baik-baik dia ngga pernah ngijinin?”. I was like WTF OMFG!!

Dan seperti biasa candaan jantung gue kalo lagi lebay karena sakit hati, pasti deh main-mainin degupan (ˇ_ˇ’!!). Tapi kali ini bukan lagi ngelewatin satu atau dua, sambil ngitungin, kali ini kok ga berdegup ya? Ngomong dalem hati; “sumpah ga lucu becandaannya organ”. Tiba-tiba, mata kerasa sepet, badan lemes, dan perlahan semuanya gelap.

~sirene ambulance dari kejauhan perlahan terdengar makin jelas. Oke stop, ngayalnya kejauhan.

Tapi pengen banget gue beneran jatuh pingsan, trus didiagnosis ada pembuluh darah gue yang putus di bagian otak yang nyimpen memory tentang keindahan dia yang membuat gue jatuh cinta. Jadi pas keluar dari RS gue lupa kalo gue pernah cinta sama dia, kaya film ‘The Vow’ gitu. Serah gih mau fk sama ALI di bbm kek, dunia nyata kek, dunia lain kek. Don’t know, don’t care.

Tapi dia si bibir yang berasa beraneka buah, ngga rela banget gue bagi-bagi.

Gue potong bentar deh. Ini tentang fakta bibirnya, cukup penting kok. Bibir lembut bermultivitamin yang dimiliki dia adalah nyata adanya. Kebiasaanya untuk memipir lip balm/gloss hampir setiap sepuluh menit sekali, dan sudah sejak lama kebiasaan ini menjadi rutinitasnya, membuat bibirnya merona-rona sepanjang hari. Pengkonsumsi lip balm/gloss terbanyak ini, membuat dia ditawari member produk kecantikan body shop, dan pengalaman fk dengan dia tidak pernah merasa monoton, karena gue bisa milih rasa buah-buahan se-enak dengkul. My favorite: Still, one and only; LECI. Seperti ada kandungan adiktifnya, karena kelamaan fk dengan rasa leci bisa berasa giting gitu. Gue adalah salah satu pasien sukarelanya, dulu bibir gue pecah-pecah, nah, singkat punya singkat, cerita punya cerita, mencium bibirnya membuat bibir gue berubah warna, dari warna coklat belel, jadi merah manja, dan jingga di garis bibir, berasa bibir Tao Ming Tse.

Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, gue ambil sampel bibir cewe gue dengan cara, pada saat fk, bibirnya gue gigit kecil dengan gigitan halus tanpa sepengetahuannya. 0,0023mili kulit bibirnya telah gue dapatkan. Berlagak peneliti bibir jenius lulusan Harvard, gue cemplungin ke dalem gelas cangkir berisi aqua, gue bawa ke laboraturium jadi-jadian. Setelah melihat hasil, gue tereak klimaks; “MIAPAAH?!!”

Seperti hasil dari penelitian ini mampu mempengaruhi kalender suku Arya yg berakhir di 2012 jadi mundur berapa taun lagi. Masih menghela nafas panjang seolah gue baru aja menemukan salah satu pertanda bahwa kiamat sudah dekat. Akhirnya gue ambil kesimpulan, satu menit saja fk dengan cewe gue sama seperti minum 1 botol Mizone yang di blend sama 5 buah kiwi madu dan dua pisang sunpride juga stengah sendok rum. Hasilnya: kandungannya benar-benar setara. Intinya i’m lucky i was experience her lips.

Sekian cerita tentang bibir yang menurut gue cukup penting, thank you for your attention!

Kembali ke benang merah.

Kembali ke dalam fakta perselingkuhan yang tertangkap di detik-detik akhir hubungan. Bahwa dia mulai kenal tepat 1 minggu setelah kita sepakat pacaran, kerjasama hubungan pacar yang melewati frase gemesnya tarik-ulur yang bikin deg-degan, ditambah penembakan jarak jauh antara Bali dan Jakarta yang harus melalui media yang paling jantan (baca: nembak cewe by phone, sms, bbm berarti harus di sunat lagi) dan media yang paling oke, ya cuma SKYPE yang entah sudah diatur sutradara (signalnya tumben lancaarr? biasanya ngadat, ngeleg) ngga kebayang kalo pas gue nembak trus keputus, trus ulang lagi dari awal, trus malah jadi salah paham, trus ulang lagi dari awal. Bisa mati gemes.

Singkat cerita, kita deal pacaran! 🙂 Bahagianya. Ganti status di FB dengan bangga, orang se-keren se-biasa gue bisa di dampingi perempuan sangat luar biasa seperti dia, saat itu keadilan Tuhan terasa nyata.

Sedikit ngga percaya, apa gue Skype-genic ya? (bertanya dalam hati) atau pembawaan gue yang lagi deg-degan, nervous, telapak tangan terasa dingin dan becek, dubur berminyak, kedua kuping terkena gejala tremor (gejala langka, karena biasanya terjadi pada telapak tangan yang selalu bergetar halus, tapi ini kok dikuping?) dan gue bisa ngerasain pangkreas gue ngilu (?lebih langka?). Semua gejala itu dijadiin satu, dan di kemas dengan serba apa adanya yang coba gue sampikan lewat percakapan sederhana.

Hasilnya: Gejala yang ditangkap oleh i-pad di seberang pulau sana berkata lain, pembawaannya mungkin ya? jadi keliatan bijak + kemungkinan kalo gue itu skype-genic = diterima 🙂 anyway ngerasa ngga sih jadi merembet kemana-mana? biar ga bertele-tele. Sekarang gue mau serius.

Serius!

Gue rubah dikit cara gue menyampaikan isi dalam tulisan ini, langkah besar yang gue ambil yaitu; merubah penyebutan diri dari “gue” menjadi “aku”. Enjoy the difference.

Aku di tampar fakta-fakta yang membelalakan mataku. Fakta bahwa hubungannya dengan lelaki lain itu hampir seumur hubunganku dengannya, aku hanya selisih seminggu lebih dulu mencuri start, yang mungkin membuat dia kembali ke dunianya yang labil, yang mungkin menuntunnya kedalam permainan hati ini. Membuatnya bertanya-tanya dalam hati; apakah status yang terkesan terlalu cepat ini adalah yang terbaik bagi dia? Dia punya hak untuk memilih siapa yang pantas untuk mengisi sebagian besar hari-harinya.

Mungkin pria itu punya segalanya, yang aku belum memilikinya, atau mungkin dengan perubahan itu semua, bisa mengubah aku menjadi layak untuk paling tidak, pantas bergabung dalam lingkungannya?

Semua itu cuma terkaan orang depresi karena sakit hati. Jangan pernah berubah atau berkorban untuk orang yang ngaku cinta sama kita, karena orang yang mengaku cinta dengan kita, tidak akan pernah rela melihat kita menderita dalam pengorbanan.

Aku bukan sedang berlagak manusia yang paling mengenal dia, tapi terkadang dalam suatu hubungan, ada waktunya kita tidak perlu berbicara satu dengan yang lainnya untuk menyampaikan isi hati. Aku tidak menyebut ini sejenis dengan ilmu telepathy. Bila kita kenal hati dari pasangan kita, terkadang di dalam diam, kita tahu apa yang ingin diutarakan yang secara tidak langsung; tubuhnya berbahasa dan bahasa tubuhnya telah menjelaskan semuanya.

Anyway, it’s been a great experience for me so far. Seinget gue, kalimat terakhir yang dia sampaikan setelah baca tulisan ini; “Thanks for the beautiful story”.

Yet, seharusnya gue berterimakasih. “Thanks for making the story beautiful”.

~The birds they sang~

~Break of  day~

~Start again i hear them say~

~Its so hard to just walk away~

~~~

Sepenggal lirik ‘Up with the Birds’ Coldplay melantun menjadi teman yang menyemangati gue sambil nulis kisah kegagalan ini. Kegagalan hubungan gue dengan orang yang paling gue cinta yang bernama Kesia (its sounds dangdut), but you know that you truly love someone when you’re willing to leave everything behind just in order to be with them. Ok, apa yang mau gue sampein ke pembaca dari kegagalan ini: kita ngga punya banyak waktu buat belajar dari kegagalan sendiri. Maka itu, belajar juga dari kegagalan orang lain. There’s a lot more to say, but so far i think there’s a lot to take in. It is a learning process for me as well.

———————————————  ~ ~ ~  ———————————————

: Komentar, kritik dan saran sangatlah diterima. Silahkan klik kolom [Comments] di bawah, atau bisa langsung ke alamat email: moussaaskey@yahoo.co.id