She Could Be Happy

Its time to start again and holds on-to miracle of beginnings. ~miamou

Advertisements

592e4c14213265-55a45ec38c05f

She could be flower in every nightmare. Blossom in dark.

She speaks to me fondly of passions and talents, guitar and stars, ice cream and rainbow, dancing and beaches, past and miracle. Then stop short to apologies for speaking at all. She could be like that.

She could sit alone in every crowded place. Shadows behind the lights.

All because somewhere in her life, someone-blindfolded that she loved broke her heart again, ignore her letter and pure bliss on her wet eyes. And telling her to “shut up”, keep “it down”, “nobody cares”. She could be like that.

Someone once said; “People aren’t born sad. Happy? Yes, she could be.”

And suddenly she’s start one bravely steps, start singing to the stars with her rainbow ice cream, and dancing at the beach. She barely knows, that its time to start again and holds to miracle of beginnings.

She could be anywhere.

With anyone.


“there is something.”

The Adventure Fireflies on Every Last Zip of Beers

”Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.” ~miamou


Di kafe pinggir pantai itu, ia meneguk kenangan. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi, benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima tanpa akhir. Itulah yang menggelisahkannya, karena ia tahu segalanya tak pernah lagi sama. Segalanya tak lagi sama, seperti ketika ia menciumnya pertama kali dulu.

MiaMou

scott_450Dulu, ketika dia masih suka mengenakan dress backless, agar tattoo di punggungnya akan merekah indah. Saat senyumnya masih seranum buah mangga mudah. Dengan rambut dikepang ke samping hingga di atas buah dadah. Saat itu ia yakin: ia tak mungkin bisa bahagia tanpa dia. ”Aku akan selalu cinta, sayang….” Kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan di tengah dentuman lagu Trance itu. I still miss you….

Tapi mengapa bukan sendu lagu itu yang ia katakan dulu? Ketika segala kemungkinan masih berpintu? Mestinya saat itu ia tidak berlagak membiarkan dia pergi, karena saat itu ia berada di suatu jalan yang tidak ada jalan kembali, atau ia akan melawan arah dan mati karena bertabrakan dengan masa lalu. Mestinya jangan biarkan dia bergegas meninggalkan kafe ini dengan kejengkelan yang akhirnya benar-benar membuatnya tak pernah kembali.

Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaannya. Kenangannya. Itulah yang membuatnya selalu kembali ke kafe ini. Kafe yang seungguhnya telah banyak berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi, segalanya masih terasa sama dalam kenangannya. Ya, selalu ke kafe ini ia kembali, kembali bertarung dengan kenangan. Untuk gelas bir ketiga yang bisa menjadi keempat dan kelima. Seperti malam-malam kemarin, barangkali gelas bir ini pun hanya akan menjadi gelas bir yang sia-sia jika yang ditunggu tidak juga tiba.

”Besok kita ketemu, di kafe kita dulu?”

Ia tak percaya bahwa dia akhirnya meneleponnya.

”Kok diam….”

”Hmmm.”

”Bisa kita ketemu?”

”Ya.”

”Tunggu aku,” dia terdengar berharap. ”Meski aku tak yakin bisa menemuimu.”

Tiba-tiba saja ia berharap kali ini takdir sedikit berbaik hati padanya: semoga saja kekasihnya tiba-tiba mati overdosis dengan obat-obatan yang biasa kita pernah konsumsi bersama sambil bercinta, hingga perempuan yang masih dicintainya itu tak merasa cemas menemuinya.

Menemui? Apakah arti kata ini? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi untuk apa? Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari ciuman-ciuman masa lalu itu? Masa yang harusnya mereka jangkau dulu. Dulu, ketika ia masih berbaring bersama di pantai berkarang itu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut yang saat itu digerai hingga di atas dada, dan pasir berantakan di badanya. Ketika ia yakin, ia tak mungkin bahagia tanpa dirinya, bukan karena sebotol wine, bukan karena happy five, atau tarian mabuk diatas tubuhnya di tempat tidur malam sebelumnya.

Ah, ia jadi teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara ciuman-ciuman yang terasa gemetar dan diam-diam mengerang.

”Aku selalu membayangkan, bila nanti kita mati, kita akan menjelma menjadi sepasang kunang-kunang.”

Dia tersenyum, kemudian mencium pelan. ”Tapi aku tak mau mati dulu.”

”Kalau begitu, biar aku yang mati dulu. Dan aku akan menjadi kunang-kunang, yang setiap malam mendatangi kamarmu….”

”Hahaha,” dia tertawa renyah. ”Lalu apa yang akan kamu lakukan bila telah menjadi kunang-kunang?”

”Aku akan hinggap di dadamu, tepat di ujung putingmu, dan menyala seterang-terangnya.”

Dada yang membusung. Dada yang kini pasti makin membusung karena makin bertumbuh dimakan umurnya. Pun dada yang masih ia rindu. Dada yang sarat kenangan. Dada yang akan terlihat mengilap ketika seekor kunang-kunang hinggap di atasnya.

”Kunang-kunang…mau ke mana? Ke tempatku, hinggap dahulu….” Ucapnya, menggoda.

Ia bersenandung sambil membuka satu per satu kancing dress backlessnya. Dia yang hanya memejam. Ia seperti melihat seekor kunang-kunang yang perlahan keluar dari kelopak matanya yang terpejam. Seperti ada kunang-kunang di keningnya. Di pipinya. Di hidungnya. Di bibirnya. Di mana-mana. Kamar penuh kunang- kunang beterbangan. Tapi tak ada satu pun kunang-kunang hinggap di dadanya pualam. Dada itu seperti menunggu kunang-kunang jantan.

Ia selalu membayangkan itu. Sampai kini pun masih terus membayangkannya. Itulah yang membuatnya masih betah menunggu meski gelas bir ketiga sudah tandas. Selalu terasa menyenangkan membayangkan dia tiba-tiba muncul di pintu kafe, membuat ia selalu betah menunggu meski penyanyi itu telah terdengar membosankan menyanyikan lagu-lagu yang ia pesan.

Ia hendak melambai pada pelayan kafe, ingin kembali memesan segelas bir, ketika dilihatnya seekor kunang-kunang terbang melayang memasuki kafe. Kemudian kunang-kunang itu beterbangan di sekitar panggung. Di sekitar kafe yang ingar bingar namun terasa murung. Murung menapak geliat lidah pada tiap jeda tubuhnya. Murung mengharap tiap geliat di liat tubuhnya mengada. Lagi. Di sini. Menjadi nanti.

Adakah kunang-kunang itu pertanda? Adakah kunang-kunang itu hanya belaka imajinasinya? Penyanyi terus menyanyi dengan suara yang bagai muncul dari kehampaan. Dan kafe yang ingar ini makin terasa murung. Tiba-tiba ia menyaksikan ribuan kunang-kunang muncul dari balik keremangan, beterbangan memenuhi panggung. Hingga panggung menjadi gemerlapan oleh pendar cahaya kunang-kunang yang berkilau kekuningan.

Gelas birnya sudah tidak berbusa. Hanya kuning yang diam. Tidak seperti kunang-kunang beterbangan gemerlapan berpendar kekuningan. Kuning di gelas birnya mati. Sementara kuning di luar birnya gemerlapan. Hidup. Ia jadi teringat pada percakapan mereka dulu. Dua hari sebelum dia memilih hidupnya sendiri. Percakapan tentang bir dan kunang-kunang.

”Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.”

”Kenapa?”

”Karena di dalam matamu seperti hidup ribuan kuang-kunang. Aku selalu membayangkan ribuan kunang-kunang itu berhamburan keluar dari matamu setiap kau merindukanku.”

”Tapi aku tak pernah merindukanmu.” Dia tersenyum.

”Kamu bohong, kenapa harus berbohong hanya untuk jawaban yang sesimple itu?….”

”Aku tak pernah membohongimu. Kamu yang selalu membohongiku.”

Ia memandang nanar. Seolah tidak yakin apa yang ia dengar salah atau benar. Bohong baginya adalah dusta yang direncanakan. Sementara apa yang ia lakukan dulu adalah pilihan. Dan pilihan hanyalah satu logika yang terpaksa harus diseragamkan. Oleh banyak orang. Olehnya….

”Tidak. Aku tidak bohong.”

”Semakin kau bilang kalau kau tidak bohong, semakin aku tahu kalau kamu berbohong.”

Ia tak menjawab. Tapi bergegas menciumnya. Dengan rakus dan gugup. Begitulah selalu, bila ia merasa bersalah karena telah membohonginya. Seolah ciuman bisa menyembunyikan kebohongannya. Tapi ia tak bohong kalau ia bilang mencintainya. Ia hanya selalu merasa gugup setiap kali nada suaranya terdengar mulai mendesaknya. Karena ia tahu, pada akhirnya, setelah percakapan dan ciuman, dia pasti akan bertanya: ”Apakah kau akan menikahiku?”

Ia menyukai ciuman. Tapi, sungguh, ia tak pernah yakin apakah ia menyukai pernikahan. Kemudian ia berteka-teki: ”Apa persamaan bir dengan kunang-kunang?” Dia menggeleng.

Keduanya akan selalu mengingatkanku padamu. Bila kau mati dan menjelma jadi kunang-kunang, aku akan menyimpanmu dalam botol bir. Kau akan terlihat kuning kehijauan. Tapi kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa meminta segelas bir, tetapi kita tak pernah bisa meminta takdir.

Seperti ia tak pernah meminta perpisahan yang getir.

”Aku mencintaimu, tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu….”

Hidup pada akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti kematian. Semua akan mati karena itulah hukuman yang sejak lahir sudah manusia emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar ataupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang?

Pada saat ia tahu, bahwa pada akhirnya perempuan yang paling ia cintai itu benar-benar menikah—bukan dengan dirinya—pada saat itulah ia menyadari ia tak menang, dan perlahan-lahan berubah menjadi kunang-kunang. Kunang-kunang yang mengembara dari kesepian ke kesepian. Kunang-kunang yang setiap malam berkitaran di kaca jendela kamar tidurnya. Pada saat itulah ia berharap, dia tergeragap bangun, memandang ke arah jendela, dan mendapati seekor kunang-kunang yang bersikeras menerobos kaca jendela. Dia pasti tahu, betapa kunang-kunang itu ingin hinggap di dadanya. Sementara suaminya tertidur pulas dan puas di sampingnya.

”Aku memilih menikah dengannya, karena aku tahu, hidup akan menjadi lebih mudah dan gampang ketimbang aku menikah denganmu.”

Itulah yang diucapkannya dulu, di kafe ini, saat mereka terakhir bertemu.

”Jangan hubungi aku!”

Lalu dia menciumnya. Lama. Bagi ia, ciuman itu seperti harum bir yang pernah terhapus dari mulutnya.

Barangkali, segalanya akan menjadi mudah bila saat itu diakhiri dengan pertengkaran seperti kisah dalam sinetron murahan. Misal: dia menamparnya sebelum pergi. Memaki-maki, ”Kamu memang laki-laki bajingan!” Atau kata-kata sejenis yang penuh kemarahan. Bukan sebuah ciuman yang tak mungkin ia lupakan.

Dan kini, seperti malam-malam kemarin, ia ada di kafe kenangan ini. Kafe yang harum pantainya telah kalah oleh sebotol bir. Kafe yang mengantarkannya pada sebuah ciuman panjang di bibir. Kafe yang selalu membuatnya meneguk kenangan dan kunang-kunang dalam bir. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima?

Ini gelas bir keenam!

Dan ia masih menunggu. Ia melirik ke arah penyanyi itu, yang masih saja menyanyi dengan suara sendu. Ia melihat pelayan itu sudah setengah mengantuk. Tinggal ia seorang di kafe. Barangkali, bila ia bukan pelanggan yang setiap malam berkunjung, pasti pelayan itu sudah mengusirnya dengan halus. Sudah malam, sudah tak ada lagi waktu buat meneguk kenangan.

Pada gelas kedelapan, akhirnya ia bangkit, lalu memanggil pelayan dan membayar harga delapan gelas kenangan yang sudah direguknya habis. Ya, malam pun hampir habis. Sudah tak ada waktu lagi buat kenangan. Sudah tidak ada kenangan dalam gelas bir kedelapan. Setiap kenangan, pada akhirnya punya akhir bukan? Inilah terakhir kali aku ke kafe ini, batinnya. Besok aku tak akan kembali. Kemudian ia beranjak pergi.

***tumblr_lk3b7uS1RY1qag873o1_500

Malam makin mengendap. Tamu terakhir sudah pergi. Diam dan setengah mengantuk, para pelayan kafe membereskan kursi. Bartender merapikan gelas-gelas yang bergelantungan. Sebentar lagi penjaga malam akan menutup pintu.

Pada saat itulah, terlihat seekor kunang-kunang memasuki kafe. Kunang-kunang itu terbang melayang berputaran, sebelum akhirnya hinggap di gelas bir yang telah kosong. Bir terakhirnya.

Dan,

Ia yang keluar dari pintu kafe dalam keaadan sedikit mabuk, perlahan mengeluarkan cahaya yang berpendar dalam keremangan lampu jalan, ia adalah kunang-kunang yang bertualang dalam setiap kesunyian malam.

Mencari cinta masa lalunya, cintanya. Di dalam setiap botol-botol beer.

Miamou

Ayin Ha Ra

Namun, sebenarnya, hati saya selalu gaduh. Ketika di tindih tubuhnya saya mengaduh. Karena setelahnya dia akan mengeluh. Bertanya, ke manakah hubungan ini akan berlabuh?.~miamou


Kalimat ini letaknya agak ke kiri, di antara lipatan udara beragam, gelas champagne, dan daftar menu dengan logo pencari lubang tertempel pada “cover”-nya. Kudapan memenuhi meja makan, seperti kudapan lain yang memenuhi di balik seragam Ayra.

 her
 
 
Beberapa kalimat agak berantakan, ketika aku mencoba menatap Ayra, nama panggilan yang lebih singkat dari Ayin Ha Ra. Hewan kecil itu terkadang bermain di antara rambut Ayra yang terurai panjang, seperti mengukur jarak antara kesunyian dan pikiran-pikirannya. Cukup rumit.
Beberapa tamu yang datang untuk bermain golf di Elite Golf Club ini, tempat paling innocent untuk segerombol pendosa paling banyak gaya, di dalam ruangan VVVVVIP ini yang namanya sering disebut sebagai Black Widow, karena beberapa karyawati yang bekerja di tempat itu rata-rata korban dari ketamakan diri sendiri akan orgasme, dan akhirnya ditinggalkan oleh si penebar benih untuk menjadi janda di umur muda. Beberapa tamu VVVVVIP tersebut tampak seperti makhluk bodoh, mereka sibuk dengan telepon genggam masing-masing di tempat yang seharusnya lebih baik untuk menghindar dari segala jenis elektronik tai.
 
Ayra akan menemani mereka untuk menyelam di beberapa titik pembicaraan politik paling kotor yang tidak pernah masuk walau dalam selembar media paling kredibel sekalipun (pengaturan trayek premanisme di kota itu, berjudi hampir seperti yang biasa mereka lakukan di negara Macau sambil mengatur pembagian bisnis kotor lainnya) yang hampir tidak bisa di cerna Ayra yang sedang menuangkan air San Palegrino ke gelas salah satu tamu gendut ber-uang yang jaman sekarang sering di sebut “Gadun”.
Dia tampak gelisah, seperti akan menemani seonggok daging yang masing-masing sibuk bersilat jari dengan touch screen di telepon genggamnya. Tapi paling tidak, sehabis kerja nanti, Ayra akan meringankan beban-beban di rumah seperti susu untuk anak, listrik, internet, indovision, rokok untuk adik laki-lakinya yang malas berkerja, kakeknya yang pensiunan tanpa dana pensiun, dan kebutuhan-kebutuhan rumit lainnya.
 
Sepulang kerja, Ayra tidak selalu pulang kerumah. Dia melarikan diri dari kerumitan kebutuhan di dalam rumahnya, dan menyapa pelukan tepat setelah membuka pintu kamarku. Masih menggendong tas kulit coklat yang entah di salah satu kantung tas itu terdapat beberapa kartu nama tamu VVVVVIP di tempat dia bekerja. Larut setelah itu, Ayra berbaring sexy agak kesammping memberi jalan untuk cairan yang akan mengalir dalam tubuhnya saat itu. Saya hanya manusia yang berhasrat tanpa uang yang haus akan cinta dan kepuasan mengerang, apapun bentuk dan caranya walau harus berperang. Aku telah rela menjadi binatang yang di kandangi dalam kerumitan di dalam kepala Ayra itu.
 
Ayra.
 
Saya tidak pernah bisa meihat matanya terlalu lama, atau dada ini akan meleleh seperti chocolate fondue yang mengalir ke bagian bawah tubuh saya dan stroberi di bagian tubuh lain menjadi ranum dan sangat matang.
 

Waktu menunjuk pukul sembilan. Di sudut kafe ketiak saya berpeluh. Namun tak bisa mengeluh. Kecuali pada ponsel yang suaranya tak juga melenguh.

Dua belas jam yang lalu ada yang mengaku akan datang. Yang saya harapkan selalu di kafe itu senyumnya manisnya akan mengembang. Ketika melihat saya. Karena berdekatan dengan pujaan hati, katanya. Biasanya kami akan menghabiskan waktu dengan percakapan. Saling bertatapan. Saling bertukar harapan. Harapan untuk bisa merapat dan berdekapan. Di suatu tempat yang jauh dari kegaduhan.

Namun, sebenarnya, hati saya selalu gaduh. Ketika di tindih tubuhnya saya mengaduh. Karena setelahnya  dia akan mengeluh. Bertanya, ke manakah hubungan ini akan berlabuh?

”Kenapa perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang memabukkan.”

”Hah?!”

Kupu-kupu melebarkan sayapnya tepat di depan bebungaan di mana kami duduk. Ia pun melebarkan jangkauan tangannya di mana tangan saya sedang diam merunduk. Mencoba meredam tawa saya yang sudah terdengar seperti orang mabuk. Tenang gerakannya sangat saya tahu sebenarnya memendam rasa amuk akan segala pertanyaan rumit yang saya tunda jawabanya. Sejujurnya saya tidak pernah berencana untuk menhabiskan hidup di temani dengan rasa was-was akan pekerjaan yang mungkin akan menjatuhkan saya lagi, seperti yang sudah – sudah. Karena itu segera saya kibaskan tangan itu berpura-pura menghalau nyamuk.

“Sayang?”

Saya memotong kalimatnya. Persis seperti apa yang dilakukan badut-badut ketika berada di atas arena. Berteriak ketika ada yang mengolok-oloknya. Terjatuh. Mengaduh. Berlari. Tanpa berani memaki. Menghilang ke balik panggung. Disertai dengan sorak-sorai dan tawa menggunung.

Sorak-sorai itu yang mengingatkan saya atas kutipan-kutipan yang dituliskan di beberapa buku pemikir. Membuat saya mencibir. Karena ada letupan kembang api di kepalanya. Dan warna-warni serpihan kembang api itu jatuh ke bahunya, meleleh ke dada dan memerah di ujung putingnya. Ia tidak pernah mengetahuinya. Maka, ia tak merasakannya. Ketika serpihan kembang api itu melumatnya. Bahkan ketika saya berkata,

”Kenapa perlu dipertanyakan, Sayang. Kita sedang berlabuh ke sebuah ketidak-tahuan yang memabukkan.”

Tapi di manakah sekarang ia, setelah hanya itu jawaban yang saya punya?

”Hah?!”

Terkejut saya ketika bahu ditepuk seseorang perempuan.

”Boleh saya ambil bangku yang tak terpakai?”

”Hah?!”

Saya tidak bisa menentukan. Saya sudah menunggu dua jam dengan perut kram akibat pil anti depresi yang dosisnya sedikit saya tingkatkan belakangan ini, atau mungkin karena Irish Coffee yang sudah gelas ketiga. Namun ia tak juga datang. Tapi apakah saya harus menyerahkan bangku kosong di sebelah saya ke seseorang? Seseorang yang membutuhkan bangku tambahan di mejanya karena ia bersama banyak teman tak terkecuali perempuan?

”Boleh saya pakai bangkunya, Mas?”

Saya menatapnya.

”Maaf, masih ada yang saya tunggu.”

”Waktu?”

~~~ ~~~

Real love is the love that sometimes arises after sensual pleasure; if it does, it is immortal, makes you wait even you know he/she will never show up; the other kind of inevitably goes stale, for it lies in mere fantasy.” ~Mia (Moussa Isaac Askey)

Baby, You’ll Be Alright.


* * *

Good morning dear, I hope I didn’t wake you too soon.

Because my mind is growing tired, too much thinking what I should do.

I picture you out there, It must be beautiful this time of year.

feather1.jpg

All those south coast leaves, floating round like embers from burning trees.

Well the weather out here is just the same, but do you think about me when you alone? The thing we used to do and the thing we used to be? You know that i could be the one who make you feel that way, and i could be the one who set you free.

Now it’s only work, each day bleeding into the next. Barely scraping by I tire myself out just so I can rest.
But rest it rarely comes, and when it does I cannot go home. Because it’s much too quiet, seems that I’m not suited to being alone.

And everyone around me changed.
But i remember, this is isn’t the way that we used to be.

I think about you maybe more than I should, but the smog is getting old, the drugs I’m taking aren’t so good. So will you talk to me? Even though you’ve had a late night.

Because I need a little help.

Baby, tell me I’ll be alright….

* * *

Art of Love at The First Sight

“I could not tell you if I loved you the first moment I saw you, or if it was the second or third or fourth. But I remember the first moment I looked at you walking toward me and realized that somehow the rest of the world seemed to vanish when I was with you.” ~miamou


Falling in love at first sight is one of the best experiences of a life time for anyone. It feels so magical and strange. When you face that moment, not only your mind, but also your body feels strange.

londoncommons.ca

One time I went to a party and just sitting around. All of a sudden someone is beside me, offering to get me a drink or just a simple as they just ask you to light her cigarette. That simple thing will definitely led you to make a first move to see her feedback, then suddenly you might feel strange comfort and begin to start a conversation. Here after you’re struck by the emotional feeling that, you have just found someone who probably you could get for a future relationship, but don’t get it wrong and no need to rush. Make it everything as natural as you can. You see a nice girl staring at you with a innocent catchy smile, you think you just found the Miss. Right for you. But that’s crazy, isn’t it? I know, its isn’t normal, and this is not happens most of the time, But sometimes it could be ended up with long lasting wild romance perhaps. So, my point of view, first site love is that much strong sometimes.

Many think that is the real love. Because, when we just saw a person on the very first time, we don’t know anything about them. Do they educate or what they do for their life, and how old are they. The most important thing is, at least do they like us? Or they just try to flirt and playing her games to attract us? We don’t know anything yet, but we just feel love about them. So it’s only love. Nothing is there, in between us only a feeling of love. So, isn’t it real love? Or I could only say; it could be a real love and why not.

But few think, it’s not real love at the very first sight, but it’s only a desire about that person. If you think deeper about this, can this gorgeous, deep-voiced, well-dressed strange pretty lady with the perfect figure, give you what you really want for your life? Because we don’t know anything about them, and they don’t know who we are neither. It might be only a feeling of desire about that person. Desire, is actually not the true love, perhaps if we get to know about theses strangers some people would like to escape from them.

Beside all of the above, it’s better to see whether, “is there any mechanism for this love at first site?” Not all of us fall in love within few seconds. On my point of view, that kind of first sight love is the only thing that i can only see on the books or romance movie. So, sometimes it might be hard to experience it in a real life. Further, it has been seen in studies that men are more likely to falling in love immediately than women. It seems like men are more stimulated by visual appeal than women. On the other hand, women experience romantic chemistry a lot better than men. It means, Men know they like a woman the very second they see her. But in the case of women, they usually fall in love with someone after the one or two conversations, and it definitely depend of how the man treat her as a good stranger guy, such as; being fun, respect her as a lady, no need to give them too much compliment, just being natural you, listen carefully when they talk something serious, avoid to judge her easily, and many more. But the most important thing is to make her feel comfortable. And, Do you know that your first kiss also affect your love? If you lucky make her more feel comfortable with your kiss so you wont lose the attraction. And it’s not just the kisses, your body language too can predict whether you will experience love at first sight.

My best advice is, if both of you feel comfortable together, just take a walk sometimes, go to a coffee shops, spent time to get to know each other, avoid to talk about her bad memory of past, don’t judge easily, don’t get to attached or even worse get a really fast sex, sometimes is a good starts to have sex at beginning of relationships, but I experience it hard to make a ‘first sight love’ to a happily ever after, because that good sex will distract a simple thing of natural relationship. That’s actually what I learn from my mistake. So what do you think? Falling in love at first sight is real love? Or is just a lust that will bring you to a short term attached that only leads you to a one night stand? You decide.

~ ~ ~

“I could not tell you if I loved you the first moment I saw you, or if it was the second or third or fourth. But I remember the first moment I looked at you walking toward me and realized that somehow the rest of the world seemed to vanish when I was with you.” ~miamou

Nutella Spilled

When I first came out here, I had a dream – a dream of an easy life. Guess what? Most of it came true. ~miamou


 

Azka; “My whole life it was obvious I was going to end up in this island of God’s. I don’t want to be arrogant here, but I’m an incredibly attractive man. I can’t help it, I don’t try to be, I just am. When I was a kid my mother’s best friend used to tell me that I was gonna be a little heart breaker. Turns out she was right. Her husband came home from work one day and found us fuckin’ on the Stairmaster. Bali, Indonesia – that’s where all the beautiful little heart breakers go to live the dream. 30,000 of them arrive here every single month. 30,000 prom kings and queens, and Little Miss Cute Tits every one of them with stars in their eyes and a dream in their heart. When I first came out here, I had a dream – a dream of an easy life. I was gonna get rich from lyin’ around having my picture taken. I was gonna live in the hills and drive a noisy yellow sports bike and fuck 75cm girls who weighed 50kg’s. Guess what? Most of it came true.”

Nutella Spilled

A story about who i called narcissistic gigolo Azka who lives in beautiful island Bali, drifting from one relationship to another without a steady job or even a place to live. He preys on women who can provide for him, using his looks and sexual prowess to keep them happy.

Before long, however, Azka starts cheating on Norine, first with his friend then with Lala who actually had relationship with his best-friends, whom he met at another party. Lala disapproves of Azka’s free-wheeling lifestyle and has expressed a desire for a relationship, but Azka has no real interest in her except for sex. Norine catches Azka with Lala, but they come to an uneasy arrangement where she will ignore his infidelity.

While Norine is out of town, Azka meets a girl named Letisia. He enlists his friend Harry to help him get Leti interested, but she doesn’t fall for his charms. Although he eventually gets a date with her, she abandons him afterwards. Soon after, Leti unexpectedly shows up in Azka’s pool and they end up having sex in table while a cup of chocolate Nutella spilled on they tattoo skin. The next morning Azka is moving Leti’s car and realizes it doesn’t belong to her but to her “boyfriend”, after she told him she was single; Azka throws her out in anger.

However, he can’t stop thinking about her, and his obsession frustrates Norine to the point that she gets fed up and throws him out.

Azka searches for a place to stay, but has a fall out with Harry and cannot get into the parties he once did. He runs into Leti at a swanky boarding house, and she admits that she was only interested in him for his house, believing him to be rich. It transpires that she is the same as Azka, scamming rich men for money in the same way he does with women. She lets him move in with her and her room-mate Maria. They begin dating, though Leti continues to scam and hustle, with some reluctant assistance from Azka.

One day, an upset Leti reveals to Azka that she just broke up with her fiancé because she’s in love with him (Azka). She further tells him her fiancé’s family owns almost 60% Club in Bali and that he’s the one who’s been paying her bills and living expenses. Azka, who has also fallen in love with Leti, is nonetheless angry that she kept her engagement from him, and leaves the house in a huff. When he returns he only finds a note that says she has left for Jakarta.

At Maria’s urging and with Harry paying for the airfare, Azka follows her. He finds her at a plush penthouse and begs her to come back to Bali with him. She refuses, telling him she can’t afford to let him chase his fantasies around while she runs down the funds they would need to live. He then proposes to her, but she tells him that she is already married, breaking his heart. When told about divorce, Leti says that she can’t, because she needs the luxuries and high expenses. Her husband suddenly returns home and Leti passes Azka off as a grocery boy, dismissing him.

Azka end up stay in Jakarta, getting an honest job in five star hotel and start living together with his dying memory. And an odd morning conversation with his random girl in bed;

Azka: “We’re not gonna do this for forever”

Girl: “I know, but we can do this a little bit longer”… .

That he will never in love with anyone he think he deserve, because he deserve nothing.

* * * * *

A story that inspired by a true event, after several month have no time for writing while I’m lost on earning-spending world to keep survive, this story was also an warming up for my first book project “Simple Plot“.

They say you gotta kiss a lot of frogs to find your prince. But in this town everyone thinks they’re royalty. And the frogs don’t stand a chance.” miamou

The Lights of The Sea and City Meet


mother-and-daughter

~ ~ ~

Oh daughter i’m sorry i can’t get through the dark.
I’ve been trying hard to reach you but the clouds always hiding you to talk.

Oh mother i can’t believe it’s true.
I’m so scared about the future and i wanna talk to you.

Take a picture of something you see, in the future where we will be.

~ ~ ~

Oh daughter i feel like play a puzzle when i can’t find my missing piece.
Please call anytime you miss me.

I hear they’re talking something bad in the air when my life goes on.
When they’re talking it to me, everything i heard just goes wrong.
And everything i do just comes undone.

Oh mother will you find me when you feel it’s going to be wrong on your street.

Find the lights down where the sea and city meet.

Those lights will light up your night, light up the streets, light up the fireworks in me.

The lights that may bring my daughter and her mother back to me.

~ ~ ~