Let The Rain Wash The Ocean

base on true story

Musim Hujan Datang

Musim panas telah berlalu, musim hujanpun telah datang. Angin berhembus cukup kencang ke hulu, temperatur udara mulai bergerak sedikit mendekati titik beku. Langit hitam terasa semakin sering menyapa, perlahan aku mulai bertanya, kali ini cerita tentang siapa?

Dalam beberapa hal, musim hujan akan sangat dirindukan ketika telah berlalu. Karena semua akan terasa seperti baru.

hujan di pagi itu.

Aku terbangun sekali lagi, waktu di telepon genggamku menunjukkan pukul 10:15 pagi. Aku sempat terbangun beberapa jam lalu untuk melihat pesan terakhir darinya yang berkata;

“Sayang.”

Pesan terakhir itu terkirim sekitar pukul 4:00 subuh. Aku mengartikan bahwa dia sudah di rumah saat itu, pikiranku sempat kemana-mana beberapa menit, bertanya dalam hati, membodohi diri sendiri dengan menganggap bahwa rutinitasnya adalah suatu yang wajar dan aku tidak perlu kuatir.

Kenyataannya,

Ketika dia pergi ke pesta malam itu, aku tidak bisa tidur semalaman dan aku mulai membayangkan secara rinci, apa yang terjadi. Ketika malam semakin larut, alkohol mulai mempengaruhi pikiran sadarnya, dentuman lagu membuat dia semakin bergairah untuk bergerak untuk melepas gerah, pendingin ruangan yang membuatnya merindukan gerangan. Liukan pinggulnya bisa menghibur mata lelaki itu, dia pura-pura tidak tahu kalau lelaki itu memperhatikannya, dia kembali duduk ke sofa, bercerita hal-hal yang bersifat pribadi dan membuat mereka semakin dekat.

Kepalanya jatuh untuk bersandar di dada lelaki itu, dan tangan mereka mulai mengukur kedalaman malam itu. Di titik itu aku berhenti membayangkan apa yang terjadi di sana selanjutnya.

Telepon genggamnya berbunyi; telepon dariku, ingin tahu apa dia baik-baik saja, aku tidak menunjukkan kekhawatiranku, karena aku tahu saat itu sudah terlambat untuk mencegah apapun, lebih baik berpura-pura semuanya baik-baik saja, tidak terjadi apa-apa. Meskipun dia mengabaikan telepon genggamnya yang bergetar, aku tetap melanjutkan dengan mengirim pesan singkat;

“Havefun sayang, jangan terlalu larut pulang ke rumah.”

Dia yang begitu baik, dia yang sangat cantik, melihatnya berdiri sendiri pada waktu itu membuat rasa takutku menuju suatu titik. Tidak ada keraguan dalam apapun, dan membuatku berani untuk menjemputnya pergi ketempat dimana dia tidak akan berdiri sendiri lagi di masa depan nanti.

Tetapi belum genap sewindu aku menulis tentang ketulusan, sekarang hatiku sudah berantakan lagi, berceceran di setiap malam-malam yang telah dia lewati dengan lelaki itu. Aku terus bertanya dalam hati; andai saja ini bukan karena hadirnya lelaki lain. Andai saja ini hanya sekedar perbedaan pendapat, atau kebiasaan buruk masing-masing atau mungkin perbedaan keyakinan, aku pasti akan berjuang lebih jauh lagi. Andai saja.

“Aku pergi.”

Itu pilihan terakhirku. Kalaupun dia memilih lelaki itu dan jatuh cinta padanya, tidakkah dia akan menimbang-nimbang setiap momen yang telah kami jalani bersama sebelum dia memilih petualangan yang tidak akan ada jalan kembali?

Atau dengan pilihanku yang lain: Lebih baik kujalani saja deritaku, seperti di masa-masa lalu ketika orang-orang yang kucintai meninggalkanku. Lebih baik kurawat saja luka-lukaku, seperti yang juga kulakukan di masa lalu. Untuk beberapa waktu, pikiranku akan dipenuhi olehnya, hidupku mulai terasa pahit, aku akan membuat bosan teman-teman dan saudaraku karena yang kubicarakan tidak lain tentang kehilangan salah satu yang terbaik dalam hidupku.

Aku akan mencari pembenaran atas cerita ini, menghabiskan hari dan malam mengingat setiap saat yang kuhabiskan bersamanya. Aku akan mengambil kesimpulan bahwa dia terlalu menuntutku lebih atau aku memang pilihannya yang salah, walaupun aku telah berusaha sebisa mungkin untuk membahagiakannya. Aku akan bertemu wanita-wanita lain saat berjalan di jalan, tetapi yang aku lihat hanya wanita-wanita yang mirip dia. Aku akan menderita lagi berhari-hari dan bermalam-malam, bermalam-malam dan berhari-hari. Itu bisa berlangsung sampai beberapa minggu, bulan, mungkin tahun, atau bahkan lebih.

Sampai suatu pagi aku terbangun, dan menemukan diriku berpikir tentang hal lain, dan aku tahu yang terburuk sudah hilang, musim panas telah berlalu, dan angin sejuk musim hujan akan memandikanku; bahwa bila aku pergi, itu karena seseorang lain sudah waktunya datang_cinta akan kembali menemukanku.

“Sometimes, you have to give up on people. Not because you don’t care, it’s because they don’t.”

“What moves through us is a silence, a quiet sadness, a longing for one more day, one more word, and one more touch. We may not understand why i left you so soon, or why you left before we were ready to say good-bye, but by little, we begin to remember not just that we left, but that we lived. And that once was our life, gave us memories too, hard and pain to remember but then beautiful to forget, eventually.” ~mia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s