Tonight

“Let me give back your sanity, so you can leave all the lunacy behind. Let me remind the promise that we thought we’ll never look behind.” ~miamou

Advertisements

Tonight, I’m waiting in line to get to where you are, float on every sleepless night just to find what truly lasts.

tumblr_nzh32y70a31s59cxeo1_1280

Pieces of my life try to recognize my past tonight.

Tonight, I’m closing down to this fairytale.

And I put all my heart to collect what was mine, and finally find you.

Maybe tonight it’s time to fall in love with you.

And if you stay, I will say;

Let me give back your sanity, so you can leave all the lunacy behind. Let me remind the promise that we thought we’ll never look behind, twahachteck.” ~miamou

The Adventure Fireflies on Every Last Zip of Beers

”Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.” ~miamou


Di kafe pinggir pantai itu, ia meneguk kenangan. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi, benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima. Itulah yang menggelisahkannya, karena ia tahu segalanya tak pernah lagi sama. Segalanya tak lagi sama, seperti ketika ia menciumnya pertama kali dulu.

MiaMou

scott_450Dulu, ketika dia masih suka mengenakan dress backless, agar tattoo di punggungnya akan merekah indah. Saat senyumnya masih seranum buah mangga muda. Dengan rambut dikepang ke samping hingga di atas buah dada. Saat itu ia yakin: ia tak mungkin bisa bahagia tanpa dia. ”Aku akan selalu cinta, sayang….” Kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan di tengah dentuman lagu Trance itu. I still miss you….

Tapi mengapa bukan sendu lagu itu yang ia katakan dulu? Ketika segala kemungkinan masih berpintu? Mestinya saat itu ia tidak berlagak membiarkan dia pergi, karena saat itu ia berada di suatu jalan yang tidak ada jalan kembali, atau ia akan melawan arah dan mati karena bertabrakan dengan masa lalu. Mestinya jangan biarkan dia bergegas meninggalkan kafe ini dengan kejengkelan yang akhirnya benar-benar membuatnya tak pernah kembali.

Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaannya. Kenangannya. Itulah yang membuatnya selalu kembali ke kafe ini. Kafe yang seungguhnya telah banyak berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi, segalanya masih terasa sama dalam kenangannya. Ya, selalu ke kafe ini ia kembali, kembali bertarung dengan kenangan. Untuk gelas bir ketiga yang bisa menjadi keempat dan kelima. Seperti malam-malam kemarin, barangkali gelas bir ini pun hanya akan menjadi gelas bir yang sia-sia jika yang ditunggu tidak juga tiba.

”Besok kita ketemu, di kafe kita dulu?”

Ia tak percaya bahwa dia akhirnya meneleponnya.

”Kok diam….”

”Hmmm.”

”Bisa kita ketemu?”

”Ya.”

”Tunggu aku,” dia terdengar berharap. ”Meski aku tak yakin bisa menemuimu.”

Tiba-tiba saja ia berharap kali ini takdir sedikit berbaik hati padanya: semoga saja kekasihnya tiba-tiba mati overdosis dengan obat-obatan yang biasa kita pernah konsumsi bersama sambil bercinta, hingga perempuan yang masih dicintainya itu tak merasa cemas menemuinya.

Menemui? Apakah arti kata ini? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi untuk apa? Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari ciuman-ciuman masa lalu itu? Masa yang harusnya mereka jangkau dulu. Dulu, ketika ia masih berbaring bersama di pantai berkarang itu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut yang saat itu digerai hingga di atas dada, dan pasir berantakan di badanya. Ketika ia yakin, ia tak mungkin bahagia tanpa dirinya, bukan karena sebotol wine, bukan karena happy five, atau tarian mabuk diatas tubuhnya di tempat tidur malam sebelumnya.

Ah, ia jadi teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara ciuman-ciuman yang terasa gemetar dan diam-diam mengerang.

”Aku selalu membayangkan, bila nanti kita mati, kita akan menjelma menjadi sepasang kunang-kunang.”

Dia tersenyum, kemudian mencium pelan. ”Tapi aku tak mau mati dulu.”

”Kalau begitu, biar aku yang mati dulu. Dan aku akan menjadi kunang-kunang, yang setiap malam mendatangi kamarmu….”

”Hahaha,” dia tertawa renyah. ”Lalu apa yang akan kamu lakukan bila telah menjadi kunang-kunang?”

”Aku akan hinggap di dadamu, tepat di ujung putingmu, dan menyala seterang-terangnya.”

Dada yang membusung. Dada yang kini pasti makin membusung karena makin bertumbuh dimakan umurnya. Pun dada yang masih ia rindu. Dada yang sarat kenangan. Dada yang akan terlihat mengilap ketika seekor kunang-kunang hinggap di atasnya.

”Kunang-kunang…mau ke mana? Ke tempatku, hinggap dahulu….” Ucapnya, menggoda.

Ia bersenandung sambil membuka satu per satu kancing dress backlessnya. Dia yang hanya memejam. Ia seperti melihat seekor kunang-kunang yang perlahan keluar dari kelopak matanya yang terpejam. Seperti ada kunang-kunang di keningnya. Di pipinya. Di hidungnya. Di bibirnya. Di mana-mana. Kamar penuh kunang- kunang beterbangan. Tapi tak ada satu pun kunang-kunang hinggap di dadanya pualam. Dada itu seperti menunggu kunang-kunang jantan.

Ia selalu membayangkan itu. Sampai kini pun masih terus membayangkannya. Itulah yang membuatnya masih betah menunggu meski gelas bir ketiga sudah tandas. Selalu terasa menyenangkan membayangkan dia tiba-tiba muncul di pintu kafe, membuat ia selalu betah menunggu meski penyanyi itu telah terdengar membosankan menyanyikan lagu-lagu yang ia pesan.

Ia hendak melambai pada pelayan kafe, ingin kembali memesan segelas bir, ketika dilihatnya seekor kunang-kunang terbang melayang memasuki kafe. Kemudian kunang-kunang itu beterbangan di sekitar panggung. Di sekitar kafe yang ingar bingar namun terasa murung. Murung menapak geliat lidah pada tiap jeda tubuhnya. Murung mengharap tiap geliat di liat tubuhnya mengada. Lagi. Di sini. Menjadi nanti.

Adakah kunang-kunang itu pertanda? Adakah kunang-kunang itu hanya belaka imajinasinya? Penyanyi terus menyanyi dengan suara yang bagai muncul dari kehampaan. Dan kafe yang ingar ini makin terasa murung. Tiba-tiba ia menyaksikan ribuan kunang-kunang muncul dari balik keremangan, beterbangan memenuhi panggung. Hingga panggung menjadi gemerlapan oleh pendar cahaya kunang-kunang yang berkilau kekuningan.

Gelas birnya sudah tidak berbusa. Hanya kuning yang diam. Tidak seperti kunang-kunang beterbangan gemerlapan berpendar kekuningan. Kuning di gelas birnya mati. Sementara kuning di luar birnya gemerlapan. Hidup. Ia jadi teringat pada percakapan mereka dulu. Dua hari sebelum dia memilih hidupnya sendiri. Percakapan tentang bir dan kunang-kunang.

”Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.”

”Kenapa?”

”Karena di dalam matamu seperti hidup ribuan kuang-kunang. Aku selalu membayangkan ribuan kunang-kunang itu berhamburan keluar dari matamu setiap kau merindukanku.”

”Tapi aku tak pernah merindukanmu.” Dia tersenyum.

”Kamu bohong, kenapa harus berbohong hanya untuk jawaban yang sesimple itu?….”

”Aku tak pernah membohongimu. Kamu yang selalu membohongiku.”

Ia memandang nanar. Seolah tidak yakin apa yang ia dengar salah atau benar. Bohong baginya adalah dusta yang direncanakan. Sementara apa yang ia lakukan dulu adalah pilihan. Dan pilihan hanyalah satu logika yang terpaksa harus diseragamkan. Oleh banyak orang. Olehnya….

”Tidak. Aku tidak bohong.”

”Semakin kau bilang kalau kau tidak bohong, semakin aku tahu kalau kamu berbohong.”

Ia tak menjawab. Tapi bergegas menciumnya. Dengan rakus dan gugup. Begitulah selalu, bila ia merasa bersalah karena telah membohonginya. Seolah ciuman bisa menyembunyikan kebohongannya. Tapi ia tak bohong kalau ia bilang mencintainya. Ia hanya selalu merasa gugup setiap kali nada suaranya terdengar mulai mendesaknya. Karena ia tahu, pada akhirnya, setelah percakapan dan ciuman, dia pasti akan bertanya: ”Apakah kau akan menikahiku?”

Ia menyukai ciuman. Tapi, sungguh, ia tak pernah yakin apakah ia menyukai pernikahan. Kemudian ia berteka-teki: ”Apa persamaan bir dengan kunang-kunang?” Dia menggeleng.

Keduanya akan selalu mengingatkanku padamu. Bila kau mati dan menjelma jadi kunang-kunang, aku akan menyimpanmu dalam botol bir. Kau akan terlihat kuning kehijauan. Tapi kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa meminta segelas bir, tetapi kita tak pernah bisa meminta takdir.

Seperti ia tak pernah meminta perpisahan yang getir.

”Aku mencintaimu, tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu….”

Hidup pada akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti kematian. Semua akan mati karena itulah hukuman yang sejak lahir sudah manusia emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar ataupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang?

Pada saat ia tahu, bahwa pada akhirnya perempuan yang paling ia cintai itu benar-benar menikah—bukan dengan dirinya—pada saat itulah ia menyadari ia tak menang, dan perlahan-lahan berubah menjadi kunang-kunang. Kunang-kunang yang mengembara dari kesepian ke kesepian. Kunang-kunang yang setiap malam berkitaran di kaca jendela kamar tidurnya. Pada saat itulah ia berharap, dia tergeragap bangun, memandang ke arah jendela, dan mendapati seekor kunang-kunang yang bersikeras menerobos kaca jendela. Dia pasti tahu, betapa kunang-kunang itu ingin hinggap di dadanya. Sementara suaminya tertidur pulas dan puas di sampingnya.

”Aku memilih menikah dengannya, karena aku tahu, hidup akan menjadi lebih mudah dan gampang ketimbang aku menikah denganmu.”

Itulah yang diucapkannya dulu, di kafe ini, saat mereka terakhir bertemu.

”Jangan hubungi aku!”

Lalu dia menciumnya. Lama. Bagi ia, ciuman itu seperti harum bir yang pernah terhapus dari mulutnya.

Barangkali, segalanya akan menjadi mudah bila saat itu diakhiri dengan pertengkaran seperti kisah dalam sinetron murahan. Misal: dia menamparnya sebelum pergi. Memaki-maki, ”Kamu memang laki-laki bajingan!” Atau kata-kata sejenis yang penuh kemarahan. Bukan sebuah ciuman yang tak mungkin ia lupakan.

Dan kini, seperti malam-malam kemarin, ia ada di kafe kenangan ini. Kafe yang harum pantainya telah kalah oleh sebotol bir. Kafe yang mengantarkannya pada sebuah ciuman panjang di bibir. Kafe yang selalu membuatnya meneguk kenangan dan kunang-kunang dalam bir. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima?

Ini gelas bir keenam!

Dan ia masih menunggu. Ia melirik ke arah penyanyi itu, yang masih saja menyanyi dengan suara sendu. Ia melihat pelayan itu sudah setengah mengantuk. Tinggal ia seorang di kafe. Barangkali, bila ia bukan pelanggan yang setiap malam berkunjung, pasti pelayan itu sudah mengusirnya dengan halus. Sudah malam, sudah tak ada lagi waktu buat meneguk kenangan.

Pada gelas kedelapan, akhirnya ia bangkit, lalu memanggil pelayan dan membayar harga delapan gelas kenangan yang sudah direguknya habis. Ya, malam pun hampir habis. Sudah tak ada waktu lagi buat kenangan. Sudah tidak ada kenangan dalam gelas bir kedelapan. Setiap kenangan, pada akhirnya punya akhir bukan? Inilah terakhir kali aku ke kafe ini, batinnya. Besok aku tak akan kembali. Kemudian ia beranjak pergi.

***tumblr_lk3b7uS1RY1qag873o1_500

Malam makin mengendap. Tamu terakhir sudah pergi. Diam dan setengah mengantuk, para pelayan kafe membereskan kursi. Bartender merapikan gelas-gelas yang bergelantungan. Sebentar lagi penjaga malam akan menutup pintu.

Pada saat itulah, terlihat seekor kunang-kunang memasuki kafe. Kunang-kunang itu terbang melayang berputaran, sebelum akhirnya hinggap di gelas bir yang telah kosong. Bir terakhirnya.

Dan,

Ia yang keluar dari pintu kafe dalam keaadan sedikit mabuk, perlahan mengeluarkan cahaya yang berpendar dalam keremangan lampu jalan, ia adalah kunang-kunang yang bertualang dalam setiap kesunyian malam.

Mencari cinta masa lalunya, cintanya. Di dalam setiap botol-botol beer.

Miamou

Plot of Love


Plot of Love

Lovebirds, yang biasa kita sebut burung parkit, adalah salah satu dari sekian banyak burung di dunia yang menurut gue paling romantis. Menurut gosip-gosip yang menyeruak, katanya setiap burung Lovebirds itu hanya punya satu pasangan. Dan ketika salah satu pasangan mereka mati, pasangan yang ditinggalkan tidak lama kemudian akan mati juga karena sangat sedih. So sweet abis ya? Menurut gue burung Lovebirds juga lebih romantis daripada Anang – Ashanti. Dan, karena ke-sweet-an burung Lovebirds ini, dengan bangga gue jadiin primary picture yang mewakili setiap kata-kata sweet dari cerita ini.

Kata beberapa teman dekat, isi sebagian besar blog ini terlalu serius, galau, cinta-cintaan yang sekarang bisa berbunga-bunga, tapi besoknya bunganya jadi padang tandus, cengeng, childish, sok tahu tentang hidup, serasa paling tahu tentang cinta, gembel, STOP! (iya iya, udah jelas kok)

Tapi, semua komentar di atas ngga bikin gue berhenti nulis, justru bikin gue jadi ngerubah gaya nulis yang biasanya terkesan serius jadi lebih kasual dan enak di baca. Akhirnya disaat gue udah ngga galau mikirin cinta yang banyakan gagal daripada suksesnya, gue nulis Song of the Break Day dalam keadaan happy menari-nari, ngga serius-serius amat, ngga cengeng-cengengan, ngga ngambek-ngambekan, tapi tetep ngga gue lupain suasana sedih dari cerita nyatanya. Alhasil, banyak respon bagus dari beberapa temen dan saudara yang  terpaksa dengan senang hati baca blog gue. Singkatnya, gue dapet sesuatu dari sukesnya cerita terakhir itu, dan sekarang menulis cerita yang berjudul Plot of Love. Dimana suasana hati gue saat ini di ceritakan dengan sangat wajar dan tanpa kaca pembesar. Janji, ngga lebay.

Well, gue sedang jatuh cinta lagi (kaget dong!), dan gue ingin menulis tentang itu.

Now, this is the problem. Gue takut menulis tentang cinta lagi. You know, tulisan tentang cinta, adalah tulisan yang paling susah untuk ditulis. Karena, sangat susah menulis tentang cinta tanpa terlihat dangdut, corny, atau downright menya-menye. Gue ngga mau tulisan yang gue buat jadi terlihat seperti surat cinta mbak-mbak dan mas-mas pembantu rumah: “Kalau kamu jadi bunga, aku jadi lebahnya.” Atau, “Kalau kamu jadi lebah, aku jadi orang yang nimpukin sarang lebahnya… sengat aku sang lebah.” Bisa juga, “Kalau kamu jadi lubang di pohon, aku jadi burungnya.” (oke, kalimat terakhir ini agak ambigu, tapi yah sudahlah)

For me, what i have with you now, lebih dari analogi yang melibatkan binatang.

Tapi kalau mau dianalogikan, let me take a shot: falling in love with you is like; makan kacang kulit sambil nonton bola. Kuambil kacangnnya, kubuka kulitnya, kukunyah, kuambil, kubuka kulitnya, kukunyah, terus kuambil lagi, kubuka lagi kulitnya, dan kukunyah lagi. Namun, aku masih penasaran. Lalu kuambil lagi kacangnya, kubuka kulitnya, kukunyah kembali. Dan aku, tetap penasaran. Terus-terusan begitu, seolah di dalam kulit kacang ada door prize seminggu jalan-jalan bersama Megan Fox di Dubai. Gue bisa menyalahkan ini kepada sifat gue yang gampang ketagihan dan tidak pernah puas, atau kepada dia yang terus menawarkan cita-rasa yang tak kunjung habis. Atau, kepada keduanya.

Tuh kan, analogi kacang kulit gue juga masih belum se-sweet itu.

Maybe i can’t find cool analogies, pretty metaphors, or write a lovely dopey poem like i used to write before. Because i want this to be ultra simple, the most primitive form of telling how i feel: “I love you”.

Baiklah, sebentar lagi gue mau bercerita tentang cinta-cintaan (ngga bosen kan?), gue mau menggambarkan suasana hati gue yang, jujur, sedang berbunga-bunga, tapi seperti janji gue, gue ngga bakal bikin ceritanya jadi lebay. Hanya cerita sederhana tentang cinta, yang semua orang pernah mengalaminya. Agar lebih mengilhami, silahkan duduk cantik, siapin kacang kulit sama secangkir cappucino supaya ngga ngantuk. Selamat menikmati.

~ ~ ~

Seingat gue, kita ngga pernah merencanakan pertemuan pertama. Suatu waktu di minggu siang yang mendung, gue berkunjung ke suatu festifal seni lukisan di Ubud. Gue tertarik mengunjungi festival itu karena di tengah-tengah acara yang di fokuskan untuk membahas lukisan, terdapat seminar kecil yang membahas literatur/penulisan dan puncaknya adalah menampilkan beberapa penulis lokal yang menjadi pembicara.(asiik dapet ilmu gratis).

Selesai menghadiri seminar, gue menyinggahi beberapa stand lukisan dan berhujung pada salah satu galery yang kebetulan, itu adalah galery lukisan orang yang pernah gue kenal. Seorang yang gue kenal beberapa tahun lalu waktu gue masih bekerja di hotel ‘x’. Kita saling menyapa, saling menanyakan kabar dan membuka obrolan tentang hotel terakhir. Waktu itu dia menjalani cross-training di tempat gue bekerja, dan dia adalah anak dari salah satu owner pada hotel ‘x’ itu.

“Keren galery lukisannya, aku ngga tau kamu bisa melukis, dan lukisan kamu bagus-bagus.”

“Ah, kamu berlebihan.” sahutnya sambil melanjutkan menata bingkai-bingkai yang belum rapih.

“Lalu, bagaimana denganmu? aku baru baca blog kamu, kenapa ngga di jadiin buku aja sih? maksud aku, menurut penilaian orang awam sepertiku, kamu sudah cukup baik, bisa menyentuh orang dengan cerita dari setiap kegagalan itu.” ucapnya.

Gue kaget denger kalimat yang keluar dari bibirnya, bangga sih, tapi sebentar, gue ngga mau narsis berlebihan dulu, ngga ada waktu buat narsis saat itu.

“Wow, kamu pernah baca blog aku? Buku ya?” aku menggelengkan kepala sambil menjawab; “aku belum mikir ke sana, ini cuma hobby aja. Seneng deh kamu pernah baca blog aku.” Jawab gue sambil memasang tampang lugu. Terus dalam keaadaan yang sedikit ‘salting’ (nahan narsis), gue nanya balik; “Jadi, judul apa yang paling kamu suka di blog aku?”

“Mmh… Aku suka banget sama satu cerita fiksi tentang penantian. Kalo ngga salah, pertemuan manusia dengan dewi malam, dan kalau ngga salah judulnya ‘Sonador the Goddes of Night‘. Maaf ya, tapi aku agak menyayangkan judul itu hanya bagian dari puluhan cerita pendek lainnya. Menurut aku, judul itu layak kok untuk di jadikan buku. Maksudku, cerita itu hanya perlu di kembangkan sedikit.”

“Aku pernah dengar saran yang sama dari beberapa teman, dan kamu mungkin yang ke sembilan something (pemalsuan jumlah yang spontan). Kadang ada cerita yang memang lebih baik sampai di situ saja. Karena menurutku, cerita itu bisa terasa hambar kalau di kembangkan lagi. Tapi pasti aku pertimbangkan saran kamu.” Jawab gue.

“Aku suka banget lukisanmu yang ini.” Ucap gue, sambil menunjuk salah satu lukisan, dan pura-pura ngerti sama dunia seni lukis. “Kita harus kerja sama suatu saat nanti, mungkin aku akan mengawinkan bakat melukis kamu dengan kebutuhanku akan desain cover blog, atau mungkin cover buku pertamaku suatu saat nanti.” Gue melanjutkan sambil mengedipkan mata. (itu kedip, maksudnya apa coba?)

Dia tertawa kecil. “Tentu, dan kamu jelas harus menghubungiku di saat peluang itu datang, call me anytime.”

Selanjutnya.

Kita saling memberi kontak, besoknya ngebahas lukisan lewat bbm, minggu berikutnya kita janjian ketemu untuk makan siang di restoran ‘bebek tepi sawah’ Ubud, terus makan malam di ‘babi tepi jurang’ (ngarang) dan selanjutnya membahas buku di salah satu cafe di temani segelas cappucino panas. Di cafe itu kita mulai bercerita tentang hal yang tidak lagi berhubungan dengan tulisan atau lukisan, kita mulai nyaman membahas hal yang lebih pribadi, mulai dari;

“Bagaimana dengan keluargamu?” yang gue jawab santai dengan panjang lebar.

“Maaf, kenapa kamu mengahiri hubungan kamu dengan si model?” lemes dengernya, tapi harus di jawab, pertanyaan yang setiap bulan pasti muncul. Please bulan depan jangan ada yang nanya tentang ini lagi ooh Tuhan. Maaf mulai lebay. He eh ngga lagi.

“Apa kabar anak perempuanmu, Samantha?” yang gue jawab santai dengan panjang lebar.

Sampai ke;

“Berapa umur kamu sekarang? kamu belum kepikiran buat nyari temen hidup, maksudku, married?” pertanyaan ini cukup membuat wajah cantiknya merona. Saking cantiknya, jiwa mas-mas gue berontak mau nembak saat itu juga. Setelah bertempur habis-habisan, akhirnya gue memenangi pertarungan sengit melawan mas-mas di dalam diri gue, supaya ngga bertindak dangdut. Maaf atas ke-unyuan yang barusan terjadi.

Dan.

“Bagaimana denganmu, apa kamu ngga nyoba untuk masuk dalam suatu komitmen lagi, menikah lagi?” Gue ngga nyangka dia nanya balik, i was like WTF!? Gue menyembunyikan kepanikan dengan menjawab seadanya; “Kemarin-kemarin sih belum kepikiran, tapi semenjak ketemu kamu, pikiran itu muncul lagi, hahaha.” Kita tertawa kecil sambil menyeruput cappucino yang masih hangat.

Semua hujaman pertanyaan membuat kita semakin dekat, keterbukaan masing-masing mendisain suasana yang semakin nyaman lagi. Kenyamanan yang seolah berbahasa bahwa kita mulai saling membutuhkan saat itu.

Cuaca sore itu semakin gelap, tiupan angin dingin semakin terasa, membuat badan kita menggigil. Gue yang sudah janji untuk mengantarnya pulang tepat sebelum jam delapan malam, untuk menghadiri kebaktian bulanan keluarganya, membuat gue langsung bergegas mengakhiri pertemuan sore yang indah itu. Saat perjalanan di dalam mobil, kita ngga terlalu banyak bicara. Sesekali gue mengangkat pembicaraan di cafe tadi yang masih segar dan lucu untuk di bahas lagi. Dia tersenyum menatap ke seberang jendela mobil, gue menangkap sesuatu yang gue sebut ‘kenyamanan’ dari bahasa tubuhnya, bahwa gue akan mempertahankan suasana seperti ini kapanpun ada kesempatan kita bersama.

Sesampainya di depan garasi rumahnya, gue mengantarnya turun sampai ke pintu;

“Aku langsung pulang ya?” ucap gue,

“Kamu ngga mau mampir ke dalam sebentar? ucapnya sambil memainkan ujung rambutnya dengan jari. (kalau di film ‘HITCH’-nya Will Smith, mainin ujung rambut itu kode minta di kiss), all i have to do is make a first move. Mas-mas dalam diri gue makin berontak nafsu, tanpa basa-basi, gue ketok keras-keras kepala mas-mas itu pake batu sambil tereak “Mampus!”. Gemes gue. Centil amat jadi mas-mas.

“Lain kali aku pasti mampir, lagipula sebentar lagi kebaktian kan mau mulai, kamu siap-siap gih.”

“Mo, kabari aku kalau sampe rumah ya. Soalnya, setelah kebaktian aku mungkin ngga tahu mau ngapain lagi. Thank you for today mo, talk to you later.”

Hari berikutnya semakin banyak pertemuan, semakin banyak cerita, dan masuk semakin dalam; gue ke dalam hari-harinya, dia ke dalam mimpi-mimpi gue. Dan beberapa rutinitas lain, seperti: mengunjungi museum lukisan Antonio Blanco di Ubud, ke taman burung di gianyar untuk melihat segala jenis burung termasuk burung gue lovebirds, dinner bersama keluarga, menghadiri pernikahan sahabatnya, mabuk wine di atas dermaga, mendengar koleksi lagu, tidur dan akhirnya pada suatu pagi yang dingin, dia bangun dalam pelukan gue. Semua berjalan secara alami.

Malam tadi, di dalam selimut yang membelenggu tubuh kita, gue melemparkan satu-satunya kalimat yang sudah ngga pernah keluar dari bibir gue cukup lama, membuat gue sendiri ngga nyaman menyampaikanya.

Malam itu, di dalam selimut itu, akhirnya gue memberanikan diri untuk bilang;

“I love you” kalimat yang murni dari pikiran sadar gue, karena mas-mas mungkin masih di opname.

Dia ngelap keringat di dahi gue dengan kausnya yang sudah terlepas dan di letakan di samping bantal, tanpa menggubris kalimat gue barusan. Lalu;

“Will you still love me in the morning?” dia bertanya.

“I will” jawabku tegas.

~~~

Overall, ini hanya sepenggal pengalaman gue, and i’m glad its written. Kita masih berjalan secara alami, dan sekarang gue lagi seru-serunya belajar lukis dari dia, well lebih tepatnya mengembangkan bakat terpendam gue. Dan dia, lagi bantuin gue untuk koreksi ejaan yang salah di draft buku pertama yang masih mentah sebelum gue kirim ke editor.

Well, janji sudah di tepati, cerita cinta telah tertulis, dan perasaan gue sudah di telanjangi (puas). Sekian cerita cinta-cintaan dari gue, tunggu cerita selanjutnya ya. Di judul berikutnya, gue bakal membuka rahasia tentang “sesuatu“. Mungkin tulisan gue kembali agak serius, tapi tetep ngga akan ada galau-galauan, dan downrightnya masih jokes sehari-hari. Karena menurut sahabat gue, sebut saja si ‘rebek’, dia bilang gini; “hidup udah stress sac, ngga usah lo tambahin sama cerita-cerita galau lagi”. Dan kalimat dari bibir si ‘rebek’ itu, sukses menohok gue cukup dalam. Terima kasih buat saran cerdas kamu rebecca.

~ ~ ~

P.S. : I don’t know what’s going to happen from here on out but I do know is that I want to be with you. I’ve told you how I felt, all my feelings are true. You make me smile, you are always there for me, and you are just simply amazing. I’m so happy that I had the privilege to meet someone like you. We get along so well; the goofyness we share and our conversations are something I’d never trade for anything. I know we can become something special, I hope you see that too cause girl I have to tell you, I want no one else but you.