Tonight

“Let me give back your sanity, so you can leave all the lunacy behind. Let me remind the promise that we thought we’ll never look behind.” ~miamou

Advertisements

Tonight, I’m waiting in line to get to where you are, float on every sleepless night just to find what truly lasts.

tumblr_nzh32y70a31s59cxeo1_1280

Pieces of my life try to recognize my past tonight.

Tonight, I’m closing down to this fairytale.

And I put all my heart to collect what was mine, and finally find you.

Maybe tonight it’s time to fall in love with you.

And if you stay, I will say;

Let me give back your sanity, so you can leave all the lunacy behind. Let me remind the promise that we thought we’ll never look behind, twahachteck.” ~miamou

The Adventure Fireflies on Every Last Zip of Beers

”Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.” ~miamou


Di kafe pinggir pantai itu, ia meneguk kenangan. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi, benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima tanpa akhir. Itulah yang menggelisahkannya, karena ia tahu segalanya tak pernah lagi sama. Segalanya tak lagi sama, seperti ketika ia menciumnya pertama kali dulu.

MiaMou

scott_450Dulu, ketika dia masih suka mengenakan dress backless, agar tattoo di punggungnya akan merekah indah. Saat senyumnya masih seranum buah mangga mudah. Dengan rambut dikepang ke samping hingga di atas buah dadah. Saat itu ia yakin: ia tak mungkin bisa bahagia tanpa dia. ”Aku akan selalu cinta, sayang….” Kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan di tengah dentuman lagu Trance itu. I still miss you….

Tapi mengapa bukan sendu lagu itu yang ia katakan dulu? Ketika segala kemungkinan masih berpintu? Mestinya saat itu ia tidak berlagak membiarkan dia pergi, karena saat itu ia berada di suatu jalan yang tidak ada jalan kembali, atau ia akan melawan arah dan mati karena bertabrakan dengan masa lalu. Mestinya jangan biarkan dia bergegas meninggalkan kafe ini dengan kejengkelan yang akhirnya benar-benar membuatnya tak pernah kembali.

Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaannya. Kenangannya. Itulah yang membuatnya selalu kembali ke kafe ini. Kafe yang seungguhnya telah banyak berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi, segalanya masih terasa sama dalam kenangannya. Ya, selalu ke kafe ini ia kembali, kembali bertarung dengan kenangan. Untuk gelas bir ketiga yang bisa menjadi keempat dan kelima. Seperti malam-malam kemarin, barangkali gelas bir ini pun hanya akan menjadi gelas bir yang sia-sia jika yang ditunggu tidak juga tiba.

”Besok kita ketemu, di kafe kita dulu?”

Ia tak percaya bahwa dia akhirnya meneleponnya.

”Kok diam….”

”Hmmm.”

”Bisa kita ketemu?”

”Ya.”

”Tunggu aku,” dia terdengar berharap. ”Meski aku tak yakin bisa menemuimu.”

Tiba-tiba saja ia berharap kali ini takdir sedikit berbaik hati padanya: semoga saja kekasihnya tiba-tiba mati overdosis dengan obat-obatan yang biasa kita pernah konsumsi bersama sambil bercinta, hingga perempuan yang masih dicintainya itu tak merasa cemas menemuinya.

Menemui? Apakah arti kata ini? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi untuk apa? Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari ciuman-ciuman masa lalu itu? Masa yang harusnya mereka jangkau dulu. Dulu, ketika ia masih berbaring bersama di pantai berkarang itu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut yang saat itu digerai hingga di atas dada, dan pasir berantakan di badanya. Ketika ia yakin, ia tak mungkin bahagia tanpa dirinya, bukan karena sebotol wine, bukan karena happy five, atau tarian mabuk diatas tubuhnya di tempat tidur malam sebelumnya.

Ah, ia jadi teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara ciuman-ciuman yang terasa gemetar dan diam-diam mengerang.

”Aku selalu membayangkan, bila nanti kita mati, kita akan menjelma menjadi sepasang kunang-kunang.”

Dia tersenyum, kemudian mencium pelan. ”Tapi aku tak mau mati dulu.”

”Kalau begitu, biar aku yang mati dulu. Dan aku akan menjadi kunang-kunang, yang setiap malam mendatangi kamarmu….”

”Hahaha,” dia tertawa renyah. ”Lalu apa yang akan kamu lakukan bila telah menjadi kunang-kunang?”

”Aku akan hinggap di dadamu, tepat di ujung putingmu, dan menyala seterang-terangnya.”

Dada yang membusung. Dada yang kini pasti makin membusung karena makin bertumbuh dimakan umurnya. Pun dada yang masih ia rindu. Dada yang sarat kenangan. Dada yang akan terlihat mengilap ketika seekor kunang-kunang hinggap di atasnya.

”Kunang-kunang…mau ke mana? Ke tempatku, hinggap dahulu….” Ucapnya, menggoda.

Ia bersenandung sambil membuka satu per satu kancing dress backlessnya. Dia yang hanya memejam. Ia seperti melihat seekor kunang-kunang yang perlahan keluar dari kelopak matanya yang terpejam. Seperti ada kunang-kunang di keningnya. Di pipinya. Di hidungnya. Di bibirnya. Di mana-mana. Kamar penuh kunang- kunang beterbangan. Tapi tak ada satu pun kunang-kunang hinggap di dadanya pualam. Dada itu seperti menunggu kunang-kunang jantan.

Ia selalu membayangkan itu. Sampai kini pun masih terus membayangkannya. Itulah yang membuatnya masih betah menunggu meski gelas bir ketiga sudah tandas. Selalu terasa menyenangkan membayangkan dia tiba-tiba muncul di pintu kafe, membuat ia selalu betah menunggu meski penyanyi itu telah terdengar membosankan menyanyikan lagu-lagu yang ia pesan.

Ia hendak melambai pada pelayan kafe, ingin kembali memesan segelas bir, ketika dilihatnya seekor kunang-kunang terbang melayang memasuki kafe. Kemudian kunang-kunang itu beterbangan di sekitar panggung. Di sekitar kafe yang ingar bingar namun terasa murung. Murung menapak geliat lidah pada tiap jeda tubuhnya. Murung mengharap tiap geliat di liat tubuhnya mengada. Lagi. Di sini. Menjadi nanti.

Adakah kunang-kunang itu pertanda? Adakah kunang-kunang itu hanya belaka imajinasinya? Penyanyi terus menyanyi dengan suara yang bagai muncul dari kehampaan. Dan kafe yang ingar ini makin terasa murung. Tiba-tiba ia menyaksikan ribuan kunang-kunang muncul dari balik keremangan, beterbangan memenuhi panggung. Hingga panggung menjadi gemerlapan oleh pendar cahaya kunang-kunang yang berkilau kekuningan.

Gelas birnya sudah tidak berbusa. Hanya kuning yang diam. Tidak seperti kunang-kunang beterbangan gemerlapan berpendar kekuningan. Kuning di gelas birnya mati. Sementara kuning di luar birnya gemerlapan. Hidup. Ia jadi teringat pada percakapan mereka dulu. Dua hari sebelum dia memilih hidupnya sendiri. Percakapan tentang bir dan kunang-kunang.

”Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.”

”Kenapa?”

”Karena di dalam matamu seperti hidup ribuan kuang-kunang. Aku selalu membayangkan ribuan kunang-kunang itu berhamburan keluar dari matamu setiap kau merindukanku.”

”Tapi aku tak pernah merindukanmu.” Dia tersenyum.

”Kamu bohong, kenapa harus berbohong hanya untuk jawaban yang sesimple itu?….”

”Aku tak pernah membohongimu. Kamu yang selalu membohongiku.”

Ia memandang nanar. Seolah tidak yakin apa yang ia dengar salah atau benar. Bohong baginya adalah dusta yang direncanakan. Sementara apa yang ia lakukan dulu adalah pilihan. Dan pilihan hanyalah satu logika yang terpaksa harus diseragamkan. Oleh banyak orang. Olehnya….

”Tidak. Aku tidak bohong.”

”Semakin kau bilang kalau kau tidak bohong, semakin aku tahu kalau kamu berbohong.”

Ia tak menjawab. Tapi bergegas menciumnya. Dengan rakus dan gugup. Begitulah selalu, bila ia merasa bersalah karena telah membohonginya. Seolah ciuman bisa menyembunyikan kebohongannya. Tapi ia tak bohong kalau ia bilang mencintainya. Ia hanya selalu merasa gugup setiap kali nada suaranya terdengar mulai mendesaknya. Karena ia tahu, pada akhirnya, setelah percakapan dan ciuman, dia pasti akan bertanya: ”Apakah kau akan menikahiku?”

Ia menyukai ciuman. Tapi, sungguh, ia tak pernah yakin apakah ia menyukai pernikahan. Kemudian ia berteka-teki: ”Apa persamaan bir dengan kunang-kunang?” Dia menggeleng.

Keduanya akan selalu mengingatkanku padamu. Bila kau mati dan menjelma jadi kunang-kunang, aku akan menyimpanmu dalam botol bir. Kau akan terlihat kuning kehijauan. Tapi kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa meminta segelas bir, tetapi kita tak pernah bisa meminta takdir.

Seperti ia tak pernah meminta perpisahan yang getir.

”Aku mencintaimu, tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu….”

Hidup pada akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti kematian. Semua akan mati karena itulah hukuman yang sejak lahir sudah manusia emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar ataupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang?

Pada saat ia tahu, bahwa pada akhirnya perempuan yang paling ia cintai itu benar-benar menikah—bukan dengan dirinya—pada saat itulah ia menyadari ia tak menang, dan perlahan-lahan berubah menjadi kunang-kunang. Kunang-kunang yang mengembara dari kesepian ke kesepian. Kunang-kunang yang setiap malam berkitaran di kaca jendela kamar tidurnya. Pada saat itulah ia berharap, dia tergeragap bangun, memandang ke arah jendela, dan mendapati seekor kunang-kunang yang bersikeras menerobos kaca jendela. Dia pasti tahu, betapa kunang-kunang itu ingin hinggap di dadanya. Sementara suaminya tertidur pulas dan puas di sampingnya.

”Aku memilih menikah dengannya, karena aku tahu, hidup akan menjadi lebih mudah dan gampang ketimbang aku menikah denganmu.”

Itulah yang diucapkannya dulu, di kafe ini, saat mereka terakhir bertemu.

”Jangan hubungi aku!”

Lalu dia menciumnya. Lama. Bagi ia, ciuman itu seperti harum bir yang pernah terhapus dari mulutnya.

Barangkali, segalanya akan menjadi mudah bila saat itu diakhiri dengan pertengkaran seperti kisah dalam sinetron murahan. Misal: dia menamparnya sebelum pergi. Memaki-maki, ”Kamu memang laki-laki bajingan!” Atau kata-kata sejenis yang penuh kemarahan. Bukan sebuah ciuman yang tak mungkin ia lupakan.

Dan kini, seperti malam-malam kemarin, ia ada di kafe kenangan ini. Kafe yang harum pantainya telah kalah oleh sebotol bir. Kafe yang mengantarkannya pada sebuah ciuman panjang di bibir. Kafe yang selalu membuatnya meneguk kenangan dan kunang-kunang dalam bir. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima?

Ini gelas bir keenam!

Dan ia masih menunggu. Ia melirik ke arah penyanyi itu, yang masih saja menyanyi dengan suara sendu. Ia melihat pelayan itu sudah setengah mengantuk. Tinggal ia seorang di kafe. Barangkali, bila ia bukan pelanggan yang setiap malam berkunjung, pasti pelayan itu sudah mengusirnya dengan halus. Sudah malam, sudah tak ada lagi waktu buat meneguk kenangan.

Pada gelas kedelapan, akhirnya ia bangkit, lalu memanggil pelayan dan membayar harga delapan gelas kenangan yang sudah direguknya habis. Ya, malam pun hampir habis. Sudah tak ada waktu lagi buat kenangan. Sudah tidak ada kenangan dalam gelas bir kedelapan. Setiap kenangan, pada akhirnya punya akhir bukan? Inilah terakhir kali aku ke kafe ini, batinnya. Besok aku tak akan kembali. Kemudian ia beranjak pergi.

***tumblr_lk3b7uS1RY1qag873o1_500

Malam makin mengendap. Tamu terakhir sudah pergi. Diam dan setengah mengantuk, para pelayan kafe membereskan kursi. Bartender merapikan gelas-gelas yang bergelantungan. Sebentar lagi penjaga malam akan menutup pintu.

Pada saat itulah, terlihat seekor kunang-kunang memasuki kafe. Kunang-kunang itu terbang melayang berputaran, sebelum akhirnya hinggap di gelas bir yang telah kosong. Bir terakhirnya.

Dan,

Ia yang keluar dari pintu kafe dalam keaadan sedikit mabuk, perlahan mengeluarkan cahaya yang berpendar dalam keremangan lampu jalan, ia adalah kunang-kunang yang bertualang dalam setiap kesunyian malam.

Mencari cinta masa lalunya, cintanya. Di dalam setiap botol-botol beer.

Miamou

Plot of Love


Plot of Love

Lovebirds, yang biasa kita sebut burung parkit, adalah salah satu dari sekian banyak burung di dunia yang menurut gue paling romantis. Menurut gosip-gosip yang menyeruak, katanya setiap burung Lovebirds itu hanya punya satu pasangan. Dan ketika salah satu pasangan mereka mati, pasangan yang ditinggalkan tidak lama kemudian akan mati juga karena sangat sedih. So sweet abis ya? Menurut gue burung Lovebirds juga lebih romantis daripada Anang – Ashanti. Dan, karena ke-sweet-an burung Lovebirds ini, dengan bangga gue jadiin primary picture yang mewakili setiap kata-kata sweet dari cerita ini.

Kata beberapa teman dekat, isi sebagian besar blog ini terlalu serius, galau, cinta-cintaan yang sekarang bisa berbunga-bunga, tapi besoknya bunganya jadi padang tandus, cengeng, childish, sok tahu tentang hidup, serasa paling tahu tentang cinta, gembel, STOP! (iya iya, udah jelas kok)

Tapi, semua komentar di atas ngga bikin gue berhenti nulis, justru bikin gue jadi ngerubah gaya nulis yang biasanya terkesan serius jadi lebih kasual dan enak di baca. Akhirnya disaat gue udah ngga galau mikirin cinta yang banyakan gagal daripada suksesnya, gue nulis Song of the Break Day dalam keadaan happy menari-nari, ngga serius-serius amat, ngga cengeng-cengengan, ngga ngambek-ngambekan, tapi tetep ngga gue lupain suasana sedih dari cerita nyatanya. Alhasil, banyak respon bagus dari beberapa temen dan saudara yang  terpaksa dengan senang hati baca blog gue. Singkatnya, gue dapet sesuatu dari sukesnya cerita terakhir itu, dan sekarang menulis cerita yang berjudul Plot of Love. Dimana suasana hati gue saat ini di ceritakan dengan sangat wajar dan tanpa kaca pembesar. Janji, ngga lebay.

Well, gue sedang jatuh cinta lagi (kaget dong!), dan gue ingin menulis tentang itu.

Now, this is the problem. Gue takut menulis tentang cinta lagi. You know, tulisan tentang cinta, adalah tulisan yang paling susah untuk ditulis. Karena, sangat susah menulis tentang cinta tanpa terlihat dangdut, corny, atau downright menya-menye. Gue ngga mau tulisan yang gue buat jadi terlihat seperti surat cinta mbak-mbak dan mas-mas pembantu rumah: “Kalau kamu jadi bunga, aku jadi lebahnya.” Atau, “Kalau kamu jadi lebah, aku jadi orang yang nimpukin sarang lebahnya… sengat aku sang lebah.” Bisa juga, “Kalau kamu jadi lubang di pohon, aku jadi burungnya.” (oke, kalimat terakhir ini agak ambigu, tapi yah sudahlah)

For me, what i have with you now, lebih dari analogi yang melibatkan binatang.

Tapi kalau mau dianalogikan, let me take a shot: falling in love with you is like; makan kacang kulit sambil nonton bola. Kuambil kacangnnya, kubuka kulitnya, kukunyah, kuambil, kubuka kulitnya, kukunyah, terus kuambil lagi, kubuka lagi kulitnya, dan kukunyah lagi. Namun, aku masih penasaran. Lalu kuambil lagi kacangnya, kubuka kulitnya, kukunyah kembali. Dan aku, tetap penasaran. Terus-terusan begitu, seolah di dalam kulit kacang ada door prize seminggu jalan-jalan bersama Megan Fox di Dubai. Gue bisa menyalahkan ini kepada sifat gue yang gampang ketagihan dan tidak pernah puas, atau kepada dia yang terus menawarkan cita-rasa yang tak kunjung habis. Atau, kepada keduanya.

Tuh kan, analogi kacang kulit gue juga masih belum se-sweet itu.

Maybe i can’t find cool analogies, pretty metaphors, or write a lovely dopey poem like i used to write before. Because i want this to be ultra simple, the most primitive form of telling how i feel: “I love you”.

Baiklah, sebentar lagi gue mau bercerita tentang cinta-cintaan (ngga bosen kan?), gue mau menggambarkan suasana hati gue yang, jujur, sedang berbunga-bunga, tapi seperti janji gue, gue ngga bakal bikin ceritanya jadi lebay. Hanya cerita sederhana tentang cinta, yang semua orang pernah mengalaminya. Agar lebih mengilhami, silahkan duduk cantik, siapin kacang kulit sama secangkir cappucino supaya ngga ngantuk. Selamat menikmati.

~ ~ ~

Seingat gue, kita ngga pernah merencanakan pertemuan pertama. Suatu waktu di minggu siang yang mendung, gue berkunjung ke suatu festifal seni lukisan di Ubud. Gue tertarik mengunjungi festival itu karena di tengah-tengah acara yang di fokuskan untuk membahas lukisan, terdapat seminar kecil yang membahas literatur/penulisan dan puncaknya adalah menampilkan beberapa penulis lokal yang menjadi pembicara.(asiik dapet ilmu gratis).

Selesai menghadiri seminar, gue menyinggahi beberapa stand lukisan dan berhujung pada salah satu galery yang kebetulan, itu adalah galery lukisan orang yang pernah gue kenal. Seorang yang gue kenal beberapa tahun lalu waktu gue masih bekerja di hotel ‘x’. Kita saling menyapa, saling menanyakan kabar dan membuka obrolan tentang hotel terakhir. Waktu itu dia menjalani cross-training di tempat gue bekerja, dan dia adalah anak dari salah satu owner pada hotel ‘x’ itu.

“Keren galery lukisannya, aku ngga tau kamu bisa melukis, dan lukisan kamu bagus-bagus.”

“Ah, kamu berlebihan.” sahutnya sambil melanjutkan menata bingkai-bingkai yang belum rapih.

“Lalu, bagaimana denganmu? aku baru baca blog kamu, kenapa ngga di jadiin buku aja sih? maksud aku, menurut penilaian orang awam sepertiku, kamu sudah cukup baik, bisa menyentuh orang dengan cerita dari setiap kegagalan itu.” ucapnya.

Gue kaget denger kalimat yang keluar dari bibirnya, bangga sih, tapi sebentar, gue ngga mau narsis berlebihan dulu, ngga ada waktu buat narsis saat itu.

“Wow, kamu pernah baca blog aku? Buku ya?” aku menggelengkan kepala sambil menjawab; “aku belum mikir ke sana, ini cuma hobby aja. Seneng deh kamu pernah baca blog aku.” Jawab gue sambil memasang tampang lugu. Terus dalam keaadaan yang sedikit ‘salting’ (nahan narsis), gue nanya balik; “Jadi, judul apa yang paling kamu suka di blog aku?”

“Mmh… Aku suka banget sama satu cerita fiksi tentang penantian. Kalo ngga salah, pertemuan manusia dengan dewi malam, dan kalau ngga salah judulnya ‘Sonador the Goddes of Night‘. Maaf ya, tapi aku agak menyayangkan judul itu hanya bagian dari puluhan cerita pendek lainnya. Menurut aku, judul itu layak kok untuk di jadikan buku. Maksudku, cerita itu hanya perlu di kembangkan sedikit.”

“Aku pernah dengar saran yang sama dari beberapa teman, dan kamu mungkin yang ke sembilan something (pemalsuan jumlah yang spontan). Kadang ada cerita yang memang lebih baik sampai di situ saja. Karena menurutku, cerita itu bisa terasa hambar kalau di kembangkan lagi. Tapi pasti aku pertimbangkan saran kamu.” Jawab gue.

“Aku suka banget lukisanmu yang ini.” Ucap gue, sambil menunjuk salah satu lukisan, dan pura-pura ngerti sama dunia seni lukis. “Kita harus kerja sama suatu saat nanti, mungkin aku akan mengawinkan bakat melukis kamu dengan kebutuhanku akan desain cover blog, atau mungkin cover buku pertamaku suatu saat nanti.” Gue melanjutkan sambil mengedipkan mata. (itu kedip, maksudnya apa coba?)

Dia tertawa kecil. “Tentu, dan kamu jelas harus menghubungiku di saat peluang itu datang, call me anytime.”

Selanjutnya.

Kita saling memberi kontak, besoknya ngebahas lukisan lewat bbm, minggu berikutnya kita janjian ketemu untuk makan siang di restoran ‘bebek tepi sawah’ Ubud, terus makan malam di ‘babi tepi jurang’ (ngarang) dan selanjutnya membahas buku di salah satu cafe di temani segelas cappucino panas. Di cafe itu kita mulai bercerita tentang hal yang tidak lagi berhubungan dengan tulisan atau lukisan, kita mulai nyaman membahas hal yang lebih pribadi, mulai dari;

“Bagaimana dengan keluargamu?” yang gue jawab santai dengan panjang lebar.

“Maaf, kenapa kamu mengahiri hubungan kamu dengan si model?” lemes dengernya, tapi harus di jawab, pertanyaan yang setiap bulan pasti muncul. Please bulan depan jangan ada yang nanya tentang ini lagi ooh Tuhan. Maaf mulai lebay. He eh ngga lagi.

“Apa kabar anak perempuanmu, Samantha?” yang gue jawab santai dengan panjang lebar.

Sampai ke;

“Berapa umur kamu sekarang? kamu belum kepikiran buat nyari temen hidup, maksudku, married?” pertanyaan ini cukup membuat wajah cantiknya merona. Saking cantiknya, jiwa mas-mas gue berontak mau nembak saat itu juga. Setelah bertempur habis-habisan, akhirnya gue memenangi pertarungan sengit melawan mas-mas di dalam diri gue, supaya ngga bertindak dangdut. Maaf atas ke-unyuan yang barusan terjadi.

Dan.

“Bagaimana denganmu, apa kamu ngga nyoba untuk masuk dalam suatu komitmen lagi, menikah lagi?” Gue ngga nyangka dia nanya balik, i was like WTF!? Gue menyembunyikan kepanikan dengan menjawab seadanya; “Kemarin-kemarin sih belum kepikiran, tapi semenjak ketemu kamu, pikiran itu muncul lagi, hahaha.” Kita tertawa kecil sambil menyeruput cappucino yang masih hangat.

Semua hujaman pertanyaan membuat kita semakin dekat, keterbukaan masing-masing mendisain suasana yang semakin nyaman lagi. Kenyamanan yang seolah berbahasa bahwa kita mulai saling membutuhkan saat itu.

Cuaca sore itu semakin gelap, tiupan angin dingin semakin terasa, membuat badan kita menggigil. Gue yang sudah janji untuk mengantarnya pulang tepat sebelum jam delapan malam, untuk menghadiri kebaktian bulanan keluarganya, membuat gue langsung bergegas mengakhiri pertemuan sore yang indah itu. Saat perjalanan di dalam mobil, kita ngga terlalu banyak bicara. Sesekali gue mengangkat pembicaraan di cafe tadi yang masih segar dan lucu untuk di bahas lagi. Dia tersenyum menatap ke seberang jendela mobil, gue menangkap sesuatu yang gue sebut ‘kenyamanan’ dari bahasa tubuhnya, bahwa gue akan mempertahankan suasana seperti ini kapanpun ada kesempatan kita bersama.

Sesampainya di depan garasi rumahnya, gue mengantarnya turun sampai ke pintu;

“Aku langsung pulang ya?” ucap gue,

“Kamu ngga mau mampir ke dalam sebentar? ucapnya sambil memainkan ujung rambutnya dengan jari. (kalau di film ‘HITCH’-nya Will Smith, mainin ujung rambut itu kode minta di kiss), all i have to do is make a first move. Mas-mas dalam diri gue makin berontak nafsu, tanpa basa-basi, gue ketok keras-keras kepala mas-mas itu pake batu sambil tereak “Mampus!”. Gemes gue. Centil amat jadi mas-mas.

“Lain kali aku pasti mampir, lagipula sebentar lagi kebaktian kan mau mulai, kamu siap-siap gih.”

“Mo, kabari aku kalau sampe rumah ya. Soalnya, setelah kebaktian aku mungkin ngga tahu mau ngapain lagi. Thank you for today mo, talk to you later.”

Hari berikutnya semakin banyak pertemuan, semakin banyak cerita, dan masuk semakin dalam; gue ke dalam hari-harinya, dia ke dalam mimpi-mimpi gue. Dan beberapa rutinitas lain, seperti: mengunjungi museum lukisan Antonio Blanco di Ubud, ke taman burung di gianyar untuk melihat segala jenis burung termasuk burung gue lovebirds, dinner bersama keluarga, menghadiri pernikahan sahabatnya, mabuk wine di atas dermaga, mendengar koleksi lagu, tidur dan akhirnya pada suatu pagi yang dingin, dia bangun dalam pelukan gue. Semua berjalan secara alami.

Malam tadi, di dalam selimut yang membelenggu tubuh kita, gue melemparkan satu-satunya kalimat yang sudah ngga pernah keluar dari bibir gue cukup lama, membuat gue sendiri ngga nyaman menyampaikanya.

Malam itu, di dalam selimut itu, akhirnya gue memberanikan diri untuk bilang;

“I love you” kalimat yang murni dari pikiran sadar gue, karena mas-mas mungkin masih di opname.

Dia ngelap keringat di dahi gue dengan kausnya yang sudah terlepas dan di letakan di samping bantal, tanpa menggubris kalimat gue barusan. Lalu;

“Will you still love me in the morning?” dia bertanya.

“I will” jawabku tegas.

~~~

Overall, ini hanya sepenggal pengalaman gue, and i’m glad its written. Kita masih berjalan secara alami, dan sekarang gue lagi seru-serunya belajar lukis dari dia, well lebih tepatnya mengembangkan bakat terpendam gue. Dan dia, lagi bantuin gue untuk koreksi ejaan yang salah di draft buku pertama yang masih mentah sebelum gue kirim ke editor.

Well, janji sudah di tepati, cerita cinta telah tertulis, dan perasaan gue sudah di telanjangi (puas). Sekian cerita cinta-cintaan dari gue, tunggu cerita selanjutnya ya. Di judul berikutnya, gue bakal membuka rahasia tentang “sesuatu“. Mungkin tulisan gue kembali agak serius, tapi tetep ngga akan ada galau-galauan, dan downrightnya masih jokes sehari-hari. Karena menurut sahabat gue, sebut saja si ‘rebek’, dia bilang gini; “hidup udah stress sac, ngga usah lo tambahin sama cerita-cerita galau lagi”. Dan kalimat dari bibir si ‘rebek’ itu, sukses menohok gue cukup dalam. Terima kasih buat saran cerdas kamu rebecca.

~ ~ ~

P.S. : I don’t know what’s going to happen from here on out but I do know is that I want to be with you. I’ve told you how I felt, all my feelings are true. You make me smile, you are always there for me, and you are just simply amazing. I’m so happy that I had the privilege to meet someone like you. We get along so well; the goofyness we share and our conversations are something I’d never trade for anything. I know we can become something special, I hope you see that too cause girl I have to tell you, I want no one else but you.

Song of the Break Day


Ada yang beda dari terbitnya postingan gue yang baru ini (iya tau, ngga ada yang peduli). Song of the Break Day bertema tentang proses perubahan yang gue alami sebulan terakhir ini. Proses penulisan gue dari satu judul ke judul yang lain bukanlah suatu lompatan kuantum yang terjadi secara mendadak dan penuh letupan energi. Melainkan sebuah perjalanan yang berubah sedikit-demi sedikit, sampai akhirnya terlihat jelas bahwa gue sudah berubah.

By the way, gue mau ngenalin dua tokoh inoocent di atas, yang bakal lari-larian di dalam cerita ini; itu yang abu-abu namanya paris, karakternya lugu dan dungu. Nah, yang putih masang muka melas namanya mimi, nama aslinya milan, karakternya suka cari muka, petakilan, manja, dan suka jahatin paris. Well, selamat menikmati tulisan gue, di mana kegelisahan yang gue alami gue coba taruh di atas kaca pembesar, dan kita tersenyum bersama-sama.

Song of the Break Day

“Semoga kamu bisa tersenyum sambil merenung.”

~~~

Juni akhir, segera berakhir. 

Siang yang terik, jalan tol yang lancar, dan lantunan syahdu album Adele mengiringnya tidur dalam perjalanan Bandung – Jakarta yang cukup menyita sisa tenaga semalam. Di perjalanan, kita hanya membahas sepenggal kecil cerita kemarin. Kepergian gue ke Bandung minggu lalu tidak lain didorong oleh tuntutan yang dia buat. Di titik itu gue udah siap untuk pergi dengan cara baik-baik, pergi selamanya darinya. Intinya: “Hubungan ini sudah tidak sehat”. Tapi, dia ingin kita bertahan lagi, kedatangannya ke Bandung makin mempertegas keinginannya itu.

Pagi tadi, kita saling meletakan mata, tanpa satu kata,

Dalam letih, dan dengan lembut, dia meminta; “Jangan tinggalin aku sayang.”

~Mix tape state of trance-nya Armin van Buuren masih terputar dalam volume sangat kecil di kamar dingin itu~

Kembali ke perjalanan tadi. Kita sedang mengejar waktu untuk menghadiri satu sesi pemotretannya, yang kita berdua tahu, kita pasti telat banget! dengan melihat kondisi badanya yang drop membuat gue menancap gas lebih dalem lagi, dan hanya ke satu tujuan: Rumahnya.

Siang di Jakarta berubah menjadi sangat mendung, dengan peluang hujan rintik-rintik. Lagu ‘don’t you remember’ dengan sengaja gue puter berulang-ulang di saat dia tidur, remote dengan tamak gue jepit di selangkangan. Sambil mendalemi lirik dari lagu itu. Dalem.

Setibanya di rumah, dia minta gue nginep untuk jagain dia selama dia sakit. Gue setuju, selain udah ngga sanggup menempuh perjalanan pulang Pondok Indah – Bintaro, belum lagi ditambah ngebayangin macetnya yang bisa bikin ngedrop.

Indahnya KEBERSAMAAN

Malem itu: Gue, dia, nyokapnya dan kedua anjingnya: mimi si petakilan yang dianak-emaskan oleh cewe gue. Yaah ngga ada pilihan lain, gue pasrah nerima sisa, paris si bijak resmi jadi kesayangan gue. *Miss them*. Kita tenggelam dalam perbincangan karir modeling sang pacar, melihat foto demi foto di setiap lembar dalam beberapa katalog juga majalah yang di dokumentasi oleh nyokapnya, dan dikemas seadanya dalam kardus bekas. Karir sebagai model sudah dia mulai sejak bangku SMP, menuntunnya menjadi model yang sangat menjanjikan di umurnya yang sudah matang saat ini. Gue menanggapi wajar setiap hasil-hasil fotonya itu. Tapi di dalem hati: bangga bukan main – bukan main bangganya. Sesekali gue menoleh ke belakang untuk menangkap senyum kecilnya di tengah kebersamaan malam yang menurut gue, kesederhanaan itu bikin gue dengan senang hati untuk terlibat dalam keluarga kecil ini seutuhnya, anytime, anywhere. Sesekali tangannya mengelus-elus pundak gue (momen indah tak bernilai). Setelah menyeruput majalah sampai setengah kardus, dan dia tampak sudah terbius (reaksi kantuk yang timbul oleh panasnya geliga yang gue oles di titik-titik pegal badannya), malam yang semakin larut, dan beberapa faktor lain yang membuat kita sepakat menutup sesi malem ini untuk bersiap tidur dalam lelap letihnya malam.

Dia tidur dengan mamanya di kamar utama, gue di kamar tamu ditemani paris yg melingkar di areal selangkangan, dan mimi di atas kepala.

“Good night paris n mimi” (lewat elusan).

“Good night tante” (lewat hayalan, oneday; “good night ma”).

Trus, “Good night sayang” (lewat bbm)… .Status checklist, trus muncul ‘D’, trus berubah jadi ‘R’, truss, TRUSS!? lah?

Gue ketiduran. Setengah jam kemudian gue kebangun oleh suara bbm yang berbunyi gemerincing di samping kuping, dia membalas;”… . Gini deh, buat pembaca yang penasaran dengan apa yang gue rasain saat itu. Simple, Pasangan kirim bbm(apapun), coba deh balesnya; “iyah” (iyah, bales gituh ajah) coba yah, gue tidur dulu yah, daah.

Goodnight.

Keesokan harinya gue kebangun, gelap tadi malem udah berubah terang di celah-celah jendela. Mimi yang anteng semalem berubah jadi beringas lari-lari melintasi muka gue, bibir becek tanda telah dinodai mimi oleh jilatan binalnya waktu gue tidur, pantes semalem gue tidurnya ‘gelisah’ (geli basah). Indahnya kebersamaan semalam kerasa masih nyisa bikin gue lupa sama rasa gelisah tentang pembalasan bbm yang seadanya dari dia.

Kita bangun kesiangan, lanjut ke adegan makan siang bersama, sambil ngobrol tentang mantan terakhirnya yang sempat tinggal di rumah ini cukup lama, dan rasa syukur nyokapnya akan kehadiran gue dalam hidup anaknya saat itu. Setelah makan siang kita lanjut ke kamar tamu, kita ngebahas tentang kemungkinan masa depan yang kita “mau”, gue rasa itu cuma angan-angan karena kekenyangan. Lalu masuk dalam adegan tidur siang. Dengan alibi ketiduran, dan pintu yang kebuka lebar, membuat kita ga perlu khawatir sama mama yang tentu belum mengizinkan kita tidur berdua dalam satu ranjang. Gue memanfaatkan momen itu, dalam kehangatan siang, seperti kecanduan. Glendotan jadi hal yang paling wajib gue praktekin disaat dia tidur di sebelah gue.

Glendotan.

Glendotan yang gue maksud ngga ada hubungannya sama hal-hal yang berbau porno. Ini murni glendotan. Glendotan menurut salah satu psikolog di negara Burkinafaso (negara yang namanya paling ribet), adalah bentuk lain dari seks yang dilakukan dengan pikiran yang bersih dan tanpa gerakan frontal, kegiatan yang bisa dilakukan oleh semua kalangan dan tidak mengenal umur. Glendotan ternyata sudah pernah di lakukan oleh nenek moyang kita sejak dulu, ditemukan oleh beberapa arkeolog di dataran rendah meksiko, sepasang fosil manusia purba diduga sedang glendotan. Unyu deh. (tapi itu mati dalam kondisi glendotan apa karena glendotan mereka mati?)

Tiba-tiba, seperti petasan di siang bolong, seperti lolongan serigala hutan di ruang tamu, dan seperti ketawa perempuan cekikikan di atas pohon pisang di malam jumat. Kemesraan, rasa damai dan kehangatan itu ternyata cuma dateng sekali dalam hidup gue. Dan Ini yang terakhir.

Jadi gini, sore itu gue bangun duluan, posisi terakhir gue, persis sama seperti posisi mulai tidur siang, ga berubah satu pose-pun. Gue, masih glendotin cewe gue. Mimi, berusaha glendotin si paris. Mama, glendotin pintu. (kesel ngeliat semuanya glendotan)

Setelah mengalami beberapa kali putus-nyambung. Dengan hembusan nafas lega yang di mix sama rasa kecewa. Akhirnya, hubungan ini ketemu juga di titik putus, fix putus. Titik di mana kata ‘nyambung’ itu di larang oleh enam agama diakui di Indonesia, dan di tentang negara. Bahkan hanya sekedar bercanda mengucapkan kata ‘nyambung’ di rumah yang sepi, seorang pria separuh buaya(baca: paruh baya) di sweeping organisasi anarkis FPPGPN (Front Pembela Putus Ga Pake Nyambung). Intinya siapa yang ngajak balikan/nyambung, dia yang terima tamparan dari depan. FYI, tamparan dari depan itu *jenis tamparan yang sakitnya lebih nyebelin dibanding tamparan dari samping*

Yang gue inget waktu itu gw di usir dari rumah, a.ĸ.a kamar utama, a.ĸ.a di depan nyokapnya, a.ĸ.a bukan salah gue! Ga ada tujuan buat self defence, tapi faktanya, dia yang ada permainan, masa gue yang diusir? Iya sih, lebih aneh kalo gue yang usir dia dari rumahnya.

Dia, dengan suara serak (lagi sakit) agak tinggi, berjuang untuk teriak tapi yang keluar. Maaf, sedikit mirip suara nenek-nenek kejepit pintu gudang. (tuh kan nenek, udah dibilangin ga boleh main di gudang).

Cewe gue: “pergi kamu!”,”kok masih disini?”,”pokoknya pergi!”

Gue: “iya aku pergi. Tapi boleh ga, at least kita pisah baik-baik? or should i beg you to get our final kiss?” *sok di sama-samain sama sepenggal lirik Adele; “no final kiss”

Cewe gue: mengamini lagu Adele dan menjawab; “ngga!”,”aku ga mau deket kmu lagi, pergi sekarang!”

Trakhir. Gue butuh dipecut biar gw beneran pergi, butuuh banget. Memanfaatkan dia yang lagi emosi, plus gue kok smakin enjoy ya kalo pengalaman gue lebih dramatis? Akhirnya demi di pecut, gue lemparlah pertanyaan innocent itu;

Gue; “kmu pilih aku, apa dia?”

Dan jawabannya adalah!; “aku pilih dia!” Ke..Pe..Cut.. (those simple words hit so hard)

Gue keluar kamar dengan langkah lunglai, nyamperin nyokapnya, say nothing. Cuma gue peluk aja, dan tetesan air mata ini pun tidak kuasa gue bendung, pelukan dan air mata gue secara tidak langsung menyampaikan perasaan gue saat itu; letih memenuhi tuntutan dan kecewa akan permainannya.

Mendung sore itu membuat semakin terasa suasana drama romantis yang sad ending. Persis kaya adegan dalam film ‘Sweet November’, di mana Keanu Reeves harus merelakan si Saraa pergi di tengah jembatan pagi-pagi buta, padahal om Keanu Reeves udah main hati, sampe ajakin Saraa married, padahal Saraa umurnya ga panjang lagi, dan padahal baru kenal sebulan. “Ribet banget hidup lo Saara!!” Gue yang komen karena gemes. Ga terima sama aturan aneh nan lebay yang Saraa buat, Saraa keras kepala banget, si om juga nurut mulu. *ampir sama deh karakternya: Cewe gue kaya Saraa pas lagi ribet, gue kaya keanu pas lagi ganteng didodolin. Cut! Teriak sutradara.

Trus.

Nyokapnya: “biarin aja dia sendiri, kasih dia waktu, tante bantu bicara baik-baik ke dia nanti, sabar ya Moussa.” (nyokapnya baik banget, tapi ga mungkin gue pacarin)

Gue: langkah pertama keluar dari pager rumahnya, langsung ngrogoh kantong ambil bb. Otak kreatif dan suasana mellow bikin gue gercep (gerak cepat) open music, add new playlist, masukin lagu-lagu yang nyambung sama situasi saat itu.

Playlist name : So this is the real goodbye.

1.Adele – don’t you remember

2.Dash Berlin – better half of me

3.Armin – not givin’ up on us

4.Usher – let it burn

5.Coldplay – fix you

6.Coldplay – what if

7. Maroon 5 – pay phone

8. Feist – inside and out

8.Coldplay – viva la vida (ga match banget, tapi mager buat hapus dari playlist.)

Play.

Playlist galau telah menemani hati yang sedang terluka, luka baru yang menganga. Setiap lirik yang match dengan keadaan gue saat itu terasa seperti garam, yang disaat lantunan dan lirik sedih bertemu di suatu titik. Di titik itu luka menganga gue kaya di jejelin garem. Perih. Maaf atas ke-unyuan yang barusan terjadi.

Gue pernah party silent disco, seru! (tau ga nyambung, but let me continue) dari istilah silent discolah, gue mencetuskan istilah: silent crying. Hari itu, tanggal itu nama gue di catet di Guiness Book Record sebagai penemu dan pencetus silent crying.

Gue ngalamin silent disco, di acara rave party Gorilazz di GWK Bali. Kalo silent crying gue ngalaminnya di travel City Trans Jakarta – Bandung, duduk di samping pak supir. Serius deh, drivernya mirip gorila. Jadi ada satu momen gue nangis kejer, air mata meluncur deras, ingus ngepul-ngepul, tapi ga keluar suara. That’s what i called skill! Tapi ada efek sampingnya, pedihnya kaya ngumpul di dada gitu. Buat pembaca: kalo ngga mepet-mepet amat, jangan ikutin cara gue ini deh, gue kan udah pro kebiasaan. Saat itu perasaan gue campur aduk, antara sedih mengenang masa-masa bersama dia, di tamabah di ganggu-gangguin sama ‘Waiting’nya Emma Hewit yang melantun keras di earphone gue, disaat yang sama, gue juga takut sama si driver yang gue bilang mirip gorila. Gue liat ke langit, meletakan mata pada bulan, thank God! bukan bulan purnama. Parno drivernya jadi manusia gorila. *lirik si driver dari buntut mata yang becek was-was

Pengusiran yang didasari oleh tertangkapnya bbm-an mesra yang diduga menggunakan bahasa suku Arya kuno atau suku Aztec, atau kemungkinan yang paling ngga mungkin: bbm-an mesra tersebut menggunakan bahasa misterius dari U.F.O (baca: piring terbang kendaraannya alien) yang tertangkap dalam salah satu chanel radio FM di angkot S14 jurusan gang mesjid-lebak bulus. Kan jadi panjang (ˇ_ˇ’!!) !

I make it short: contoh bbm-an mesra dengan lelaki yang memiliki hak namanya di samarkan demi privacy, sebut saja: ALI

Dan demi hak mempertahankan nama baik cewe gue (mantan sih pada saat ini), juga demi masih teruntainya tali silahturahmi, cewe gue bisa kita sebut: CEWE GUE

Pemilihan nama samaran yang CERDAS. Sangat mengecoh!

Nih contoh bbm-an mesra yang tertangkap basah oleh mata gue waktu lagi BM kepo-in bbnya. Keadaan sore itu: gue lagi duduk-duduk ganteng megang bb, dia masih tidur, mamanya lagi rapiin meja makan, paris dan mimi kedua anjingnya yang ga punya hak namanya di samarkan karena keduanya memang tidak butuh privacy sejak lahir. Paris dan mimi seinget gue sih lagi sibuk sama bulunya masing-masing.

Di bawah ini adalah penampakan bbm misterius yang sudah ditunggu-tunggu dari tadi. (boleh kok nyiapin tissue sebelum menjadi saksi dari kejamnya teknologi komunikasi saat ini)

(Bbm-an mesra)

Ali: :* :* :* :*

Cewe gue: :* :* :* :*

Ali: :* :*

Cewe gue: :* :* :*

Ali: :* :*

Cewe gue: :* :* :* :*

Ali: :* :* :* :* :* :*

Cewe gue: :* :* :*

Ali: :* :* :*

Cewe gue: :* :*

Ali: :* :* :*

Cewe gue: :* :* :*

:* = Jika di ketik di kolom bbm akan berubah jadi emoticon kiss (baca: ciuman, cipokan, cumbuan?)

Hold!!

Setelah panampakan bbm barusan, kayanya gue bakal nulis tentang “cipokan” hampir di setiap paragraf, mungkin sampe ceritanya the end. Nah, karena kita berbudaya timur dan ber-etika, di samping itu ada saja kemungkinan om dan tante, opa dan oma, ada kakak atau adik dari pihak keluarga gue atau dia yang baca blog ini. Membuat gue rada ngga nyaman pake bahasa yang gengges seperti “cipokan” dkk. Pake inggris aja ya? gue ambil dari kata ‘french kiss’, gue singkat jadi ‘fk’ (nice).

Pokoknya kalo ada yang nyempilin ‘u’ sama ‘c’ di tengah istilah ‘fk’, mandul! Deal ya sama istilah ‘fk’?

Yuuk om & tante, mariii.

Kembali ke bbmannya dengan ALI.

Mereka berkomunikasi hanya dengan emoticon kiss, begituuu teruus bbm-annya sampe seterusnya, dari awal sampai akhir.

Gue; “menyebut nama dia pelan” (speechless, hopeless, maless)

Gue seperti di toyor-toyorin sama si cupid yang ga bertanggung jawab. Secara otomatis otak gue nyeting mindset baru; terlalu percaya sama pasangan BERARTI terlalu siap di bohongin, bbm flat dari pasangan yang ditanggapi positive dan cuek nganggep semuanya baik-baik aja BERARTI ngasih dia ruang buat bermain-main sama hati gue yang udah di stikerin fragile sejak lama. Harusnya mulai was-was waktu dia udah bales bbm “iyah” doang. Canggih juga otak gue bisa gitu. Tapi secanggih-canggihnya otak gue saat itu, Jadi ngga guna kalo udah ketipu gini. Telat nyeting mindset-nya tak!.

Seinget gue, level ke-kepo-an gue saat itu meningkat drastis. Sampe dua kali scroll di track pad-nya dengan hentakan panjang menyusur keatas, tetep aja gue ngga nemu huruf vokal atau apapun yang bisa dipahami oleh peradaban manusia jaman sekarang. Masih ga percaya, gue pastiin lagi liat bbm zinah itu!*maaf kasar (kebawa emosi) pas gue tau gue ngga salah liat, jantung gue nglewatin degupannya satu kali.

Gue coba tenangin diri sendiri dan coba liat lagi bbm nyakitin itu dengan perlahan, gue pastiin partner bbm-an-nya itu adalah: Sepupu, atau gay penata rambutnya, atau gay make up artist-nya, atau gay sahabatnya. Apapun deh yang penting gay, jadi gue bisa tenang. Tapi ngga ada sedikitpun pertanda itu! jantung gue nglewatin degupannya dua kali. Disaat hayalan binalku berkelana, dan saat akal sehat bermain, ditambah logika yang ikutan main bareng sama akal sehat. Hasilnya bakal lebih simple kalo gue gambarkan dalam rumus, berikut tampilan rumusnya;

Hayalan Binal = HB

Akal Sehat = AS

Logika =LG

HB+AS+LG = HB1AS1LG1 = ???? arrrgh!

Ya kesimpulannya ???? = BIG possibility mereka pernah fk beneran. Mereka telah mempraktekan fk di dunia nyata. Mereka telah fk di luar nikah! Ngebayangin, bibir yang gue fk semalem, kemungkinan besar kemaren paginya abis fk sama ALI. Dengan kesadaran akan pentingnya slogan “safety can be fun“, gue tuang detol cair dalam gelas, 2 sendokan antis, trus gue rendem tissue basah mitu tiga menitan ke dalem gelas tersebut, trus tissue yang telah berlumur zat-zat kimia jahat langsung gue kompres ke bibir. Sampe gue yakin bahwa bakteri telah pergi, bibir telah perih, dan gue telah terhindar dari virus berbahaya.

Gue bertanya-tanya dalam hati, “kok bisa setega itu ya?”, “bisa kali putusin gue dulu baru dia bisa nyaman ngapain aja sama orang lain”, “trus, kenapa setiap gue mau pisah baik-baik dia ngga pernah ngijinin?”. I was like WTF OMFG!!

Dan seperti biasa candaan jantung gue kalo lagi lebay karena sakit hati, pasti deh main-mainin degupan (ˇ_ˇ’!!). Tapi kali ini bukan lagi ngelewatin satu atau dua, sambil ngitungin, kali ini kok ga berdegup ya? Ngomong dalem hati; “sumpah ga lucu becandaannya organ”. Tiba-tiba, mata kerasa sepet, badan lemes, dan perlahan semuanya gelap.

~sirene ambulance dari kejauhan perlahan terdengar makin jelas. Oke stop, ngayalnya kejauhan.

Tapi pengen banget gue beneran jatuh pingsan, trus didiagnosis ada pembuluh darah gue yang putus di bagian otak yang nyimpen memory tentang keindahan dia yang membuat gue jatuh cinta. Jadi pas keluar dari RS gue lupa kalo gue pernah cinta sama dia, kaya film ‘The Vow’ gitu. Serah gih mau fk sama ALI di bbm kek, dunia nyata kek, dunia lain kek. Don’t know, don’t care.

Tapi dia si bibir yang berasa beraneka buah, ngga rela banget gue bagi-bagi.

Gue potong bentar deh. Ini tentang fakta bibirnya, bibir lembut bermultivitamin yang dimiliki dia adalah nyata adanya. Kebiasaanya untuk memipir lip balm/gloss hampir setiap sepuluh menit sekali, dan sudah sejak lama kebiasaan ini menjadi rutinitasnya, membuat bibirnya merona-rona sepanjang hari. Pengkonsumsi lip balm/gloss terbanyak ini, membuat dia ditawari member produk kecantikan body shop, dan pengalaman fk dengan dia tidak pernah merasa monoton, karena gue bisa milih rasa buah-buahan se-enak dengkul. My favorite: Still, one and only; LECI. Seperti ada kandungan adiktifnya, karena kelamaan fk dengan rasa leci bisa berasa giting gitu. Gue adalah salah satu pasien sukarelanya, dulu bibir gue pecah-pecah, nah, singkat punya singkat, cerita punya cerita, setelah gue ke klinik TONG FANG (apasih?). Dengan sukses setelah gue fk sama dia, keesokan harinya bibir gue berubah warna, dari warna coklat gembel, jadi merah manja, dan jingga di garis bibir, berasa bibir Tao Ming Tse.

Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, gue ambil sampel bibir cewe gue dengan cara, pada saat fk, bibirnya gue gigit kecil dengan gigitan halus tanpa sepengetahuannya. 0,0023mili kulit bibirnya telah gue dapatkan. Berlagak peneliti bibir jenius lulusan Harvard, gue cemplungin ke dalem gelas cangkir berisi aqua, gue bawa ke laboraturium jadi-jadian. Setelah melihat hasil, gue tereak klimaks; “MIAPAAH?!!”

Seperti hasil dari penelitian ini mampu mempengaruhi kalender suku Arya yg berakhir di 2012 jadi mundur berapa taun lagi. Masih menghela nafas panjang seolah gue baru aja menemukan salah satu pertanda bahwa kiamat sudah dekat. Akhirnya gue ambil kesimpulan, satu menit saja fk dengan cewe gue sama seperti minum 1 botol Mizone yang di blend sama 5 buah kiwi madu dan dua pisang sunpride juga stengah sendok rum. Hasilnya: kandungannya benar-benar setara. Intinya i’m lucky i was experience her lips.

Sekian tentang bibir, thank you for your attention.

Kembali ke benang merah.

Pas gue lagi enjoy sama kegiatan kepo-in bbm cewe gue yang seinget gue terakhir masih tidur cantik. Cantiiik banget (ngga bohong gue, pokoknya kalo ada cowo liat cewe gue tidur trus dia bilang biasa aja = fix cowo itu gay yang ga lulus SD!). Tiba-tiba tangan lentik jelantiknya ngerampas bbnya dari tangan gue yang mulus belang bekas naik motor, dekil, dihiasi beberapa bekas luka. Biasa cowo, ngga ada luka ngga cowo.

Idih, tadi sampe mana ya ceritanya?? hang on.

Nah, iya!

Dalam ketenangan tinggi meng-kepo-in bbm cewe gue, didukung rasa percaya diri yang berlebih kalo cewe gue masih sleeping beauty. Dan dengan tidak berkeprikekagetan, tiba-tiba tangan lentik sekelibat merampas keperjakaan gue. Canda. Merampas bb yang lagi anteng dalam genggaman lembut tangan gue, hilang dalam kecepatan yang lebih cepat dari kedipan mata gue. Pertama, yang gw rasain: KAAGEETT!! Sumpah itu saking cepetnya, jantung gue sampe ngga sempet bercanda sama degupannya yang jayus. Dan entah dia menyadari atau tidak, reaksi kaget gue yang natural apa adanya, terdengar ngondek (ˇ_ˇ’!l) I admit it.

“ishh amit-amit jambang bebby(romeo)” *ngelusperutnya paris(paris eksis banget deh bisa kebetulan lewat) yang lagi melintas di antara gue yang sedang “kaget” dan cewe gue yang baru keluarin FATALITY-nya.

Gue sempat berpikiran kotor kalo dia pasti udah latih teknik merampas kecepatan tangan lentiknya itu minimal seminggu 2x, yang 1 session latihannya = latihan cardio yang ngebakar 500cal. Gue ga bakal ember ngebocorin ilmu langka ini. Jangan sampe jatoh ke tangan yang salah (pencopet/penjambret/naruto?).

Kembali ke dalam fakta perselingkuhan yang tertangkap di detik-detik akhir hubungan. Bahwa dia mulai kenal dan deket tepat 1 minggu setelah kita sepakat pacaran, kerjasama hubungan pacar yang melewati frase gemesnya tarik-ulur yang bikin deg-degan, ditambah penembakan jarak jauh antara Bali dan Jakarta yang harus melalui media yang paling jantan (baca: nembak cewe by phone, sms, bbm berarti harus di sunat lagi) dan media yang paling oke, ya cuma SKYPE yang entah sudah diatur sutradara (signalnya tumben lancaarr? biasanya ngadat, ngeleg) ngga kebayang kalo pas gue nembak trus keputus, trus ulang lagi dari awal, trus malah jadi salah paham, trus ulang lagi dari awal. Bisa mati gemes.

Singkat cerita, kita deal pacaran! 🙂 Bahagianya. Ganti status di FB dengan bangga, orang se-keren se-biasa gue bisa di dampingi perempuan yang LUAR BIASA seperti dia, saat itu keadilan Tuhan sangat terasa.

Sedikit ngga percaya, apa gue Skype-genic ya? (bertanya dalam hati) atau pembawaan gue yang lagi deg-degan, nervous, telapak tangan terasa dingin dan becek, dubur berminyak, kedua kuping terkena gejala tremor (gejala langka, karena biasanya terjadi pada telapak tangan yang selalu bergetar halus), dan gue bisa ngerasain pangkreas gue ngilu (?lebih langka?). Semua gejala itu dijadiin satu, dan di kemas dengan serba apa adanya yang coba gue sampikan lewat percakapan sederhana.

Hasilnya: Gejala yang ditangkap oleh i-pad di seberang pulau sana berkata lain, pembawaannya mungkin ya? jadi keliatan bijak + kemungkinan kalo gue itu skype-genic = diterima 🙂 anyway ngerasa ngga sih jadi merembet kemana-mana? biar ga bertele-tele. Sekarang gue mau serius.

Serius! gue rubah dikit cara gue menyampaikan isi dalam tulisan ini, langkah besar yang gue ambil yaitu; merubah penyebutan diri dari “gue” menjadi “aku”. Enjoy the difference.

Aku di tampar fakta-fakta yang membelalakan mataku. Fakta bahwa hubungannya dengan lelaki lain itu hampir seumur hubunganku dengannya, aku hanya selisih seminggu lebih dulu mencuri start, yang mungkin membuat dia kembali ke dunianya yang labil, yang mungkin menuntunnya kedalam permainan hati ini. Membuatnya bertanya-tanya dalam hati; apakah status yang terkesan terlalu cepat ini adalah yang terbaik bagi dia? Dia punya hak untuk memilih siapa yang pantas untuk mengisi sebagian besar hari-harinya. Semua orang punya hak itu. Aku pun punya hak itu. Dia masih berlabel perempuan paling sempurna yang pernah hadir dalam hidupku. Sebaliknya, dia melihatku seakan masih belum pantas untuk masa depannya, atau sekedar pantas untuk join dengan lingkungannya. Sisi depresiku menerka: apa jam tangan G-Shockku harus diganti dengan Cartier atau Tag Heuer? (biar lebih dewasa) atau selera kaos polos v-neckku harus aku ubah dengan kemeja lengan pendek bermotif kotak atau garis? (gue pernah nyoba dan adek-adek bilang gue kaya GAY,ya keleus!) dan terakhir, aku harus melakukan pendekatan extra ke orang tuaku agar diizinkan dengan ikhlas dan lapang dada untuk membawa mercy sport merah SLK kecintaan si pappy.(ngga mungkin banget, kecuali pappy gue sekep, dan itu susahnya minta ampun!)

Mungkin pria itu punya semuanya yang aku ngga punya, atau mungkin dengan perubahan itu semua membuat aku semakin layak untuk paling tidak, pantas bergabung dalam lingkungannya?

*Itu semua cuma terkaan orang depresi. Jangan pernah berubah atau berkorban buat orang yang ngaku cinta sama kita, karena orang yang cinta sama kita ngga akan pernah rela ngeliat kita menderita dalam pengorbanan.

Aku tidak sedang berlagak orang yang paling mengenal dia, tapi terkadang dalam suatu hubungan, ada waktunya kita tidak perlu berbicara satu dengan yang lainnya untuk menyampaikan isi hati. Aku tidak menyebut ini sejenis dengan ilmu telepathy. Bila kita kenal hati pasangan kita, terkadang di dalam diam, kita tahu apa yang ingin diutarakan yang secara tidak langsung; tubuhnya berbahasa dan bahasa tubuhnya telah menjelaskan semuanya.

She said; ‘I’m dont want to give up on us, i know we will make it all alright’. All i know she said that when she got hit by an good extacy.

Anyways, it’s been a great experience for me. Seinget gue, kalimat terakhir yang dia sampaikan lewat sms (Blackberry Massanger sudah dia hapus dengan cantik), “Thanks for the beautiful story”. Yet, seharusnya gue berterimakasih. Thanks for making the story beautiful.

~The birds they sang~

~Break of  day~

~Start again i hear them say~

~Its so hard to just walk away~

~~~

Sepenggal lirik ‘Up with the Birds’ Coldplay melantun menjadi teman yang menyemangati gue sambil nulis kisah kegagalan ini. Kegagalan hubungan gue dengan orang yang paling gue cinta yang bernama Kesia (its sounds dangdut), but you know that you truly love someone when you’re willing to leave everything behind just in order to be with them. Ok, apa yang mau gue sampein ke pembaca dari kegagalan ini: kita ngga punya banyak waktu buat belajar dari kegagalan sendiri. Maka itu, belajar juga dari kegagalan orang lain. There’s a lot more to say, but so far i think there’s a lot to take in. It is a learning process for me as well.

———————————————  ~ ~ ~  ———————————————

: Komentar, kritik dan saran sangatlah diterima. Silahkan klik kolom [Comments] di bawah, atau bisa langsung ke alamat email: moussaaskey@yahoo.co.id