The Angelic

The only thing i know at this time, is that i’m preparing everything for you. You know… college, savings, life skills… that kind of stuffs. ~miamou

Advertisements

The Angelic

Doa seorang gadis yang menyelamatkan hipup kekasihnya, menjelma menjadi malaikat.

tumblr_nzfpc8kaut1s0u653o1_1280

Di tepi jurang ini dia berdiri dengan sangat putus asa, kedua kakinya lemas, dan penampilannya sangat berantakan. Seingatku kata terakhir yang aku ucapkan adalah agar dia bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk berpikir dengan tenang, aku hanya mengucapkan itu, selanjutnya aku hanya diam dan menunggu. Karna aku sangat mengerti perjalanan hidupnya, dan aku tahu bahwa pengalaman traumatis dalam dirinya sulit untuk dihilangkan saat ini. Saat dia harus menentukan pilihan yang dia buat sendiri “hidup atau mati”. Dan aku masih tetap menunggunya disini.

Seseorang pernah berkata kepadaku;  “Jika kamu sangat menginginkan sesuatu untuk jadi milikmu, lepaskanlah. Jika pada akhirnya kamu mendapatkannya, itu milikmu selamanya. Jika tidak, karena memang itu bukan milikmu.”

Namanya Benjamin, orang – orang terbiasa memanggilnya Ben. Dia orang yang cukup mudah untuk masuk dalam suatu lingkungan baru, walaupun dia bukan tipe orang yang banyak bicara. Di sisi lain dia juga sering terlihat bingung dan tampak misterius.

Namaku Elisabeth, mungkin hanya aku yang lebih mengenalnya saat ini. Kami pernah sangat dekat dahulu, menjalani hubungan cukup lama sebagai kekasih, tapi kami berpisah disaat dia merasa ada orang lain yang lebih melengkapi dirinya selain aku. Akupun memutuskan untuk menjalani hidupku sendiri seiring dengan usaha kuatku untuk merelakan dia, melepaskan dia. Karena aku tahu aku sangat menyayanginya dan masih menyayanginya. Mungkin suatu saat nanti dia akan membutuhkanku lagi, tapi bukan untuk saat ini, saat ini dia tidak butuh siapapun. Dia hanya butuh keberanian untuk meninggalkan segalanya, mengakhiri hidupnya. Karena berarti dia juga meninggalkanku, dan aku sangat takut untuk menerima kenyataan itu. Hal ini membuatku teringat sesuatu… .

Aku pernah hadir dalam suatu acara pemakaman. Aku melihat seorang janda yang di tinggal mati oleh suaminya, dia terlihat sangat hancur. Tidak cukup disampaikan hanya dari cara dia menangis, janda itu kehilangan salah satu orang yang sangat dia sayangi dalam hidupnya. Aku tahu bahwa dalam hidup ini kita semua harus bisa menerima jika suatu saat kita ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi. Tetapi bukan untuku, bukan saat ini. Karena orang yang sangat aku sayangi sekarang ada di depanku, dan aku tidak siap untuk kehilangannya lagi.

Saat ini aku hanya berdoa dengan sungguh – sungguh. Karena ini semua di luar kemapuanku, aku hanya berharap ada kekuatan lain yang bisa menolongnya dalam situasi seperti ini.

Seketika itu, Ben bergerak mundur, menjauh dari bibir jurang itu dan dia duduk ke tanah. Aku berjalan mendekatinya dengan segera memeluknya dari belakang.

Keesokan harinya, Ben datang menemuiku. Dia berterima kasih karena sudah menyelamatkannya sehingga dia dapat melupakan niatnya untuk bunuh diri.

“Banyak kata – katamu yang menenangkanku saat itu” Ucapnya, aku masih teringat pada saat itu aku hanya mengucapkan beberapa kata_tidak banyak. Setelah aku menyimak tentang apa saja yang aku katakan saat itu, aku tertegun sebentar, dan menyadar sesuatu; Bahwa aku tidak pernah mengucapkan kata – kata seperti yang dia dengar saat itu, tidak satu katapun. Kecuali “dalam doaku”.

“kamu seperti malaikat saat itu” Ucapnya, dengan senyuman khasnya.

Malaikat sudah menyampaikan doaku kepada ben. Aku hanya merasa senang_sangat senang.

~ ~ ~

“I don’t know who you are. I don’t know if, at this time, we have met or not. I tried to figure out your face, your body, your scent, but i have no idea at all.

The only thing i know at this time, is that i’m preparing everything for you. You know… college, savings, life skills… that kind of stuffs.

I barely know you. But you know what… i love you already. I love you already, my future wife. I don’t know who you are, but you are the reason of the choices i made today.” ~miamou

Like My Grandma Did

“Dia tidak pernah seperti ini dan aku tidak pernah melihatnya selemah ini, Oma orang paling kuat yang aku renal.” ~mimaou


Like My Grandma Did

Beberapa hari lagi kami sekeluarga akan merayakan hari pergantian tahun bersama. Akan banyak kesenangan di sana dan sudah pasti ada berbagai macam masakan Oma yang selalu aku dan saudara-saudaraku tunggu. Sup kacang merah kental dengan bumbu khasnya menjadi menu utama. Disandingkan dengan ayam rica-rica, ikan cakalang asap yang di bungkus dengan daun pisang khas menado, segala sayuran yang tidak pernah luput dari irisan cabai sebagai ciri khasnya, dan masih banyak lagi. Semua makanan itu adalah masakan Oma dan aku tak sabar untuk itu semua.

Tetapi,

Sekarang aku sedang terbaring di lantai, di atas kasur tipis, bahkan hampir setipis keset yang terletak sangat dekat dari tempat aku berbaring. Semua bayanganku tentang pesta beberapa hari lagi sepertinya hanya seperti mimpi, segala kesenangan tidak akan hadir dan segala masakan itu sudah pasti tidak akan tersaji di atas meja jati di rumah Oma. Semua itu karena sekarang Oma ada di sampingku, di atas kasur besi dengan baju biru muda tipis dan terbujur kaku, di dalam kamar rumah sakit yang sangat sunyi. Satu – satunya suara yang terdengar adalah mesin pengukur detak jantung. Jarum suntik tertancap di urat nadi lengan kanannya, kulitnya seperti plastik mengkilat dan keriput, jari-jari kecilnya yang dingin dan lemas lunglai dan umurnya yang hanya bergantung dengan seutas selang, melajur ke hidungnya, seolah-olah baginya dunia menciut menjadi hanya sebuah tarikan nafas_hanya sebuah tarikan nafas. Dia divonis dokter terkena kangker hati langka, dan memang umurnya tidak akan lama lagi.

“Dia tidak pernah seperti ini dan aku tidak pernah melihatnya selemah ini, Oma orang paling kuat yang aku kenal.”

Kembali ke dalam bayanganku tadi, tidak akan ada kesenangan, tidak akan ada masakan-masakanya lagi, dan semua itu bukanlah kesalahannya. Jika bisa memilih, pasti dia tidak mau seperti ini. Oma tahu dia jadi korban sesuatu yang tidak ada alasannya, dan dia tidak memilih untuk menjadi marah atau membuat orang lain menjadi korban. Harapan baginya, ialah ketika dia memberi. Mungkin dalam keadaan getir dan rapuh. Tetapi bagiku itulah pesan darinya: tetap saja ada orang yang berbuat baik, walau dalam kekalahannya. Itulah Harapan.

Dari tahun ke tahun Oma sudah mendatangkan banyak kesenangan dalam keluarga besar kami, tahun–tahun itu selalu diisi dengan segala cerita tentang masa mudanya, nasehat–nasehatnya, nyanyian–nyanyian riangnya dan segala lelucon konyolnya. Dia melakukan itu semua bahkan di saat dia sedang sakit_dia menutupi kesakitannya dengan kasih.

Oma selalu ada untuk kami. Oma mengajarkan segala hal untuk cucu–cucunya, seperti aku harus menghitung 100 hitungan dalam hati di saat aku sedang dalam emosi dan aku harus selalu mengandalkan Tuhan dan doa. Bahkan tanpa bicara Oma sudah menyampaikan pesan untukku, memberiku pelajaran paling berharga. Pada suatu situasi dalam masa kenakalan remajaku aku pernah mencoba untuk mencuri uangnya di kotak penyimpanan di dalam kamarnya, seketika Oma masuk ke dalam kamar dan melihat dengan jelas apa yang sedang aku lakukan, tetapi bukan tamparan atau hukuman yang aku terima: dia hanya diam, dan di dalam diam ada pertanda. Beberapa waktu berlalu, tidak lama setelah kejadian itu. Oma masih belum keluar dari kamarnya, itu membuatku ingin tahu apa yang dia lakukan selama itu di dalam kamarnya. Aku melihatnya sedang berdoa.

“Dia berdoa, dia mendoakanku.”

Kembali ke kamar sunyi ini, dalam hati aku berbicara kepadanya.
“Kalau Oma mau pergi, pergilah secepatnya. Tuhan mungkin sudah menunggu Oma di sana, dan dibanding kami semua, Tuhanlah yang lebih membutuhkan Oma.” Aku tidak mendoakan agar dia cepat pergi, aku hanya tidak bisa melihat dia seperti ini lebih lama lagi. Aku terlalu mengasihi dia, tetapi kita harus sadar, bahwa Tuhan lebih menyayanginya. Dengan damai, Oma pergi.

Hari pergantian tahun berlalu, kami sekeluarga masih berkumpul bersama, mencoba melupakan kesedihan yang baru saja berlalu, mencoba mengenang segala sukacita yang belum tentu ada lagi di hari depan.

Dia, Omaku, sudah berjuang dari awal hingga akhir hidupnya. Kenangan tentang Oma sudah pasti akan kami ingat. Dengan merelakan kepergiannya berarti kami siap untuk meneruskan “Kasih”nya kepada anak dan cucu kami di kemudian hari, “Aku mau melakukannya sama seperti yang Oma buat.”

Notes: Oma Marry G. Warbung, tutup usia pada 31 Desember 2005; usianya 65 tahun saat itu; dia memiliki 10 cucu yang selalu merindukannya; dia pergi dalam damai, senyuman di peti itu mengatakannya.

If you are brave to say “good bye”, life will reward you with a new “hello” ~Paulo Coelho

~~~