Shivering Process


Proses yang membuat saya menggigil. Lagi-lagi yang akan saya ungkap dari judul  “Shivering Process” ini masih tentang makna hidup. Memaksakan keterbatasan saya untuk mencerna tentang hidup secara detail dan menjabarkannya dalam satu lembar tulisan. Mendefinisikan hidup yang begitu kompleks dan rumit dengan kejadian yang terjadi secara alami atau saya desain sendiri, dan saya harap akan menghasilkan suatu hasil.

Sangat besarnya arti makna hidup, sehingga tidak mungkin bisa saya jabarkan dari pengalaman saya, yang masih sangat muda. Sebagian mungkin telah saya dapatkan dari nasihat orang tua, kata-kata bijak tentang hidup dan dari berbagai media, buku-buku tentang makna hidup yang di tulis dengan tegas oleh Mitch Albom; Tuesday with Morrie & Five people u’ve met in heaven, oleh Paulo Coelho; The Alchemist, The Zahir, by The River Piedra I Sat Down and Wept, dan masih banyak lagi. Saya memebeli beberapa buku dan judul yang berbeda, tapi kenapa saya tetap mencari dan membeli buku yang lain? karena tidak ada satupun buku yang dapat memeberikan dan kepuasan bagi saya(pembaca) untuk benar-benar menemukan apa itu arti hidup.

Ketika saya menoleh ke belakang, melihat objek-objek samar pada masa lalu, saya menggigil.  Saya berbicara di dalam hati, “Jadi, kira-kira seperti inilah hidup”, membuat saya semakin bersemangat melanjutkan petualangan ini.

“Shivering Proccess” adalah proses dalam hidup, dan tentu setiap orang pasti melewati proses dalam hidupnya. Tetapi tidak semua dari mereka mencoba meniti perjalanan hidupnya kembali. Meniti dari detail terkecil sampai ke berbagai momen besar, dan semua hanya untuk mengenali perubahan yang diciptakan terhadap sifat-sifat dari beberapa objek. Jika seseorang mengacuhkan itu, mengabaikannya. Mungkin orang itu tidak akan pernah belajar dari hidup dan bagi saya mereka hanya akan berputar-putar di tempat, tidak maju tapi mungkin bisa juga mundur.

Each and every tiny details in life has been prepared and crafted specifically to serve as a lesson for each one of us.”  Author of Glancing Through Life 

Saya sudah merasa cukup untuk menceritakan masa lalu dan proses dalam hidup saya. Tetapi bagaimana jika cerita masalalu saya dapat diganti dengan proses yang lebih penting bagi anda? Yaitu proses dalam hidup anda sendiri. Proses hidup yang baru, berbeda dan pasti lebih bermakna. Saya yakin sekali proses pejalanan hidup anda menuju ke satu titik. Satu, bukan sepasang atau beberapa. Apa yang anda telah lalui mungkin terasa biasa atau mungkin luar biasa, itu semua sama seperti anda berkendara ke suatu tempat melewati berbagai jenis jalan, yang kotor atau sebaliknya, yang rusak atau sebaliknya, naik-turun,  berbelok-belok, tetapi akhir perjalanan itu ada tujuan yang sebenarnya dan anda sudah ada di jalan yang benar.

Singkat saja, untuk melihat suatu proses dalam hidup, anda tidak perlu menggunakan rumus, membaca buku panduan atau mungkin berkutat seharian di perpustakaan, semua itu ada di kepala anda dan anda hanya perlu melihat kebelakang untuk beberapa saat, meniti setiap detail terkecil, sadari perubahan dan bersyukur.

~ ~ ~

You say grace before meals. All right. But i say grace before drink, and grace before the play, and grace before i open a book, and grace before sketching, painting, swimming, fighting, flirting, playing, dancing and grace before i dip the pen in the ink. ~Moussa Isaac Askey

Advertisements

The Chimera


Chimera yang berarti khayalan, bisa juga diartikan sebagai angan-angan, bayangan, ilusi, mimpi, fantasi dan daya cipta. Bagi saya Chimera menjadi salah satu kata yang sangat mempengaruhi sebagian besar hidup saya. Chimera menjadi pertanyaan yang belum terjawab dan juga jawaban dari pertanyaan dalam hidup saya atau mungkin anda.

Saya percaya setiap tulisan yang telah atau akan saya ciptakan ada karena saya mengandalkan Chimera yang ada dalam diri saya. Dari sana meluaplah ide-ide segar yang bisa saya bagi setiap hari dalam tulisan dan bisa juga membawa saya seperti hilang sementara dalam aktifitas dunia hanya untuk kambali ke masa lalu. Berbicara tentang masa lalu, Chimera menjadi rumus dasar bagi semua para penemu, para seniman, para pencetus dan para penulis. Saya juga percaya bahwa Chimera menjadi inspirasi bagi calon penemu untuk menciptakan “Time Machine” atau mesin waktu. Mesin yang ingin saya miliki sejak saya kanak-kanak.

Siapapun pernah berkhayal. Ini setidaknya menurut keyakinan saya. Entahlah sesungguhnya apa memang benar-benar ada orang yang hidup di dunia ini tanpa berkhayal. Jika memang ada, bagi saya orang yang tidak pernah mengalami kejadian atau pengalaman seperti ini, mungkin adalah orang yang belum memiliki mimpi. Mimpi seringkali merupakan pemenuhan hasrat kita yang tidak terlaksana di dunia nyata. Hasrat yang menguap ke dalam kepala di saat saya berkhayal.

Menurut seorang Psikolog Michael Guttridge (www.metamorph.co.uk), yang mengartikan; berkhayal bukan aktivitas mewah dari orang malas. ”Melamun dan berkhayal yang oleh masyarakat dilihat sebagai sebuah aktivitas non-produktif sebenarnya dapat menambah nilai-nilai produktivitas atau khayalan baik,” Michael menjelaskan.

Yang dimaksud khayalan yang baik menurut saya adalah khayalan yang mampu mendapatkan dan menciptakan ide-ide yang tidak terduga. Bahkan mungkin dapat mengarahkan anda untuk menjalin hubungan lebih baik, mengurangi stress, membuat Anda lebih kreatif dan berpikir produktif tentang tujuan-tujuan masa depan yang membuat cita-cita itu dapat diraih .

In life, many thoughts are born in the course of a moment, an hour, a day. Some are dreams, some visions. Often, we are unable to distinguish between them. To some, they are the same; however, not all dreams are visions. Much energy is lost in fanciful dreams that never bear fruit. But visions are messages from the Great Spirit, each for a different purpose in life. Consequently, one person’s vision may not be that of another. To have a vision, one must be prepared to receive it, and when it comes, to accept it. Thus when these inner urges become reality, only then can visions be fulfilled. The spiritual side of life knows everyone’s heart and who to trust. How could a vision ever be given to someone to harbor if that person could not be trusted to carry it out. The message is simple: commitment precedes Chimera. ~Moussa Isaac Askey

Still in Memory


“Past is good to visit, but certainly not a good place to stay”

Prologue

Saya mencari sesuatu yang berhubungan dengan ingatan, segala hal yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang masa lalu yang masuk kedalam kepala saya yang rumit. Semua itu dapat disimpulkan dengan mudah dan sesederhana menyebut kata “ingatan”. Kemudian saya menemui kata yang menarik perhatian saya; “masih dalam ingatan”. Kata beberapa peneliti mengenai ingatan: “Ingatan atau memori adalah sebuah fungsi dari kognisi yang melibatkan otak dalam pengambilan informasi”. Ingatan banyak dipelajari dalam psikologi kognitif dan ilmu saraf. Kata “ingatan” juga memotivasi sebagian penulis untuk dijadikan bahan menulis buku atau suatu karya tulisan. Termasuk saya pada saat ini.

Saya kembali ke masa sepuluh tahun lalu, kembali ke masa-masa sulit. Masa di mana hidup saya seperti berada di atas pohon yang tinggi, dilempari batu dan tidak tahu caranya untuk turun. Pertengkaran keluarga, percintaan dan kenakalan remaja yang saya lakukan dengan kesalahan sendiri. Seolah-olah saya ada di sana untuk sementara. Saya bisa merasakan suasananya, dapat menyentuh, dan dapat melihat dengan detail. Ingatan ini bukan hadir untuk menuntun saya ke jalan penyesalan yang berlarut, justru kenangan ini menjadi pembuka jalan dalam setiap lembar kertas, setiap huruf, setiap kata, setiap kalimat, setiap paragraf dan akhirnya menjadi sebuah tulisan. Tulisan tentang “masih dalam ingatan” atau dalam bahasa inggrisnya ‘Still in memory’. Dengan perasaan lega saya tidak ingin mengingat lagi kedalam masa-masa pelik itu, karena di sana masih ada tempat tentang ingatan masa-masa indah, dan saya sangat bangga masih menyimpan itu dalam ingatan.

~Jawaban pagi itu~

Pagi itu aku datang lebih pagi, menjadi satu-satunya siswa yang ada di lorong itu. Aku melihat secarik kertas tertempel dimajalah dinding saat aku melintasi kelas-kelas yang sepi. Dengan segera aku membaca berita itu, sesaat mataku mengidap, nafasku sesak lalu air mata seolah menerjang mataku, aku menangis sekencang-kencangnya. Mungkin teriakan tangisanku pagi itu hanya bergaung ke seberang ruangan atau mungkin ke sepanjang lorong, tetapi ingatan tentang dia akan bergaung ke sepanjang hidupku.

~Pertemuan~

Aku kembali ke masa lalu, di pertama kali kami bertemu.

Di lorong sekolah itu. Lorong pemisah kelas-kelas tempat kami para murid bermain dan berkumpul disaat istirahat makan siang. Lorong panjang tempat kami merencanakan segala hal untuk kegiatan sepulang sekolah nanti. Lorong dengan lantai berwana gelap tempat kami dihukum keluar kelas disaat salah-satu dari kami melanggar peraturan. Dan bagiku lorong itu menjadi lorong pertemuan.

“Theo”, dia menyebut namaku dengan keras dan jelas. Sesaat aku hanya memperhatikan reaksi di wajahnya, hanya untuk meyakinkan bahwa dia benar-benar memanggilku. Dalam ingatanku, saat itu aku melihat dia memegang sebuah buku. Buku yang sepertinya aku kenali, corak dan gambar buku tulis itu sangat familiar. Dan ya, itu buku catatanku. Aku menjadi semakin yakin karena terdapat namaku pada sudut buku tulis itu, ditulis dengan spidol hitam yang sudah mulai habis dan ditiban lagi dengan pulpen agar semakin jelas. Tetapi mengapa buku itu ada di tangannya, ada di tangan orang yang menjadi sebagian besar tulisan, gambar-gambar dan beberapa puisi. Seingatku terakhir kali aku melihat buku itu tepat disaat bel istirahat berbunyi, kira-kira baru dua puluh menit yang lalu. Segala pertanyaan dan kecurigaanpun menguap ke dalam kepalaku. Mencoba menebak apa reaksi dia selanjutnya jika aku menjawab sapaan dia tadi.

“Kamu memanggilku?” Jawabku dengan penuh rasa cemas, paling tidak aku masih punya harapan kecil kalau buku itu belum dibaca olehnya.

“Ya, aku memanggilmu, apa ada nama Theo lagi di sekolah ini selain kamu?” Menjawab pertanyaanku, sambil tersenyum.

“Kamu kenal dengan buku ini?” Lanjutnya, sambil mengikat rambutnya, berlagak santai dan mengacuhkan keteganganku.

Aku menganggukan kepala dan menjawab; “Ya, itu buku catatanku” ucapku, berharap pembicaraan ini akan berakhir dengan cepat.

“Ini aku kembalikan.” Dia mengembalikan buku itu. Sesuai denagan harapanku, pembicaraan kami pun berakhir. Tetapi, apa dia membacanya? Kalau iya, mengapa tidak ada reaksi sedikitpun darinya? Perasaanku kacau, meraba-raba apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku malu dan takut bila dia tahu isi buku catatanku, tapi aku senang karena ini kali pertama dia menyapaku dan menyebut namaku.

Dia, Darla, siswi kelas C yang berada di seberang kelasku. Aku memujanya saat pertama masuk sekolah ini, dan seingatku dia tidak mengenalku _tidak sama sekali. Dengan rambut hitam dan selalu diikat dengan ikatan khasnya, memakai tas ransel biru muda dan ada aksesoris gantungan tokoh Pikachu dalam cerita kartun Pokemon, kaos kaki pendek dan rok sedikit dibawah lutut. Dia selalu memeluk sekumpulan buku walaupun tas ranselnya terlihat masih bisa menampung buku-bukunya itu.

Aku suka dengan rambut hitam yang selalu diikat itu, aku suka pilihan tasnya yang tidak mengikuti tren tas selempang yang sudah banyak dipakai siswi kebanyakan, aku suka pilihan warnanya yang tidak mengikuti tren warna pink atau biru muda agar terlihat lebih feminin, aku suka dia menyukai tokoh Pikachu, aku menyukai kaos kaki pendeknya yang tidak mengikuti tren kaos kaki panjang, dan aku suka rok selututnya karena tidak mengikuti tren rok pendek agar terlihat seksi atau rok panjang agar terlihat siswi baik-baik. Aku suka segala hal yang ada padanya dan apa adanya.

Keesokan harinya, dalam suatu kesempatan kami bertemu lagi. Entah mengapa temanku tiba-tiba memperkenalkan kami disaat istirahat dalam lorong itu. Mungkin karena gossip tentang isi buku catatanku yang cepat beredar dari mulut ke mulut di sekolah ini. Singkat cerita, hari-hari berlalu. Kami selalu bertemu di lorong itu saat istirahat dan sepulang sekolah, seperti mimpi menjadi kenyataan, sekarang kami sudah sangat dekat, seperti sahabat.

Kami bercerita disaat bertemu di lorong, saat di kantin dan bahkan saat di rumah kami melanjutkan cerita melalui telepon. Cerita tentang berbagai hal yang tidak penting tapi menjadi sangat seru. Betapa bahagianya aku bisa sedekat ini dengannya. Aku masih ingat disaat aku melompati sofa, meja dan segala isi rumah yang bisa aku lompati dengan perasaan bahagia, dan berakhir di tempat tidur sambil berguling-guling bahagia saat aku menutup telepon setelah kami bercerita panjang lebar dengannya. Aku suka leluconnya tentang hutan, tentang ramalan yang aneh, aku suka cerita tentang wajah cantiknya yang dihajar bola saat kakak laki-lakinya meminta untuk menjadi penjaga gawang di garasi rumahnya, dan aku sangat menikmati saat dia bernyanyi salah satu lagu dari S club seven, M2M atau Savage Garden di telepon, selera lagunya yang sedikit berbeda tetapi tidak mengapa, aku sangat menyukainya. Aku menjadi sangat mencintainya.

Tetapi kebersamaan itu segera berakhir.

Saat itu sekolah kami sedang libur, karena hari itu adalah hari raya Natal. Sudah dua hari aku menghubunginya melalui telepon tapi tidak ada yang menjawab, tidak ada kabar dan tidak ada yang tahu tentang dimanakah dia berada atau kemana dia pergi, dia menghilang seperti ditelan bumi, dan aku menjadi sangat-sangat cemas. Aku menenangkan diri sendiri dengan alibi-alibi yang aku buat, segala kemungkinan terbaik yang bisa kuterima; mungkin dia sedang keluar kota merayakan natal, atau mungkin telepon rumahnya sedang tidak berfungsi dengan baik. Tapi yang aku ingat sangat jelas, saat itu aku  tidak ada di ruangan keluargaku saat merayakan malam natal bersama, mungkin tubuhku ada di sana, tetapi tidak dengan jiwaku. Jiwaku bersedih, dan terus menyebut namanya; “Darla, Darla”.

Sudah hampir seminggu berlalu, bagiku ini sudah terlalu lama. Aku butuh jawaban atas segalanya, adakah teman yang dapat memberitahuku. aku mungkin pernah sedikit kehilangan saat dia harus operasi usus buntu di singapura, tapi tidak untuk saat ini, kehilangannya kini menyiksaku.

Besok libur sudah selesai, itulah waktu yang tepat untuk mencari jawaban dimana dia berada, dan kemana saja dia selama ini. Aku berencana bangun lebih pagi dan berangkat kesekolah lebih awal dari biasanya.

Pagi itu aku datang ke sekolah sangat pagi, menjadi satu-satunya siswa yang ada dilorong itu. Aku berjalan menyusuri tangga dan lorong-lorong sekolah dengan penuh harapan, sesaat di antara langkahku ada yang menarik perhatianku dari buntut mataku, aku melihat secarik kertas putih tertempel di majalah dinding, hanya ada satu kertas di papan itu. Sambil membetulkan ransel aku membaca berita itu, dan aku menangis. Aku menangis sekencang-kencangnya, sekeras-kerasnya, memecahkan keheningan pagi.

Kertas itu bertuliskan berita duka cita, aku tidak sanggup melanjutkan membaca berita itu lebih jauh disaat aku membaca ada nama Darla tertulis di situ.

Belakangan aku baru tahu bahwa Darla dan keluarga mengalami kecelakaan hebat saat mereka sedang melakukan perjalanan keluar kota untuk merayakan natal.

~Cerita ini berdasrkan kisah nyata yang sedikit dirubah dari cerita aslinya~

“The best of memory inspired me to think on many subjects and left me many nights sleepless.”  ~Moussa Isaac Askey~

The Experience of Young Lover I


The Experience of Young Lover
Remaja laki-laki berbagi cerita tentang cinta kasih dan pengorbanan

tumblr_n0fq9pp9cs1rq1et8o1_1280

Catatan

Segala sesuatu indah pada waktuNya, apa yang aku alami merupakan jawaban dari pilihanku yang Tuhan telah sediakan dalam hidupku. Emosi, ego, keceriaan, kesedihan, dan mimpi-mimpi, semua melebur jadi satu. Menjadi pengakuan yang berarti dalam perjalanan hidupku. Mungkin terasa sederhana namun ini sisi hidupku yang pernah aku alami dan ingin aku bagi saat ini, semua berarti. Baik ataupun buruk, hidupku sungguh berarti. Semua yang aku alami sampai hari ini, ada karena cinta kasih dan pengorbanan. Jalani hidup dengan apa adanya, percaya bahwa segala sesuatu ada waktunya, dan indah pada waktuNya.

Persembahan

Akhirnya pesta pernikahan itu sudah berlalu, aku masih bisa berkhayal sesaat, dan ini sudah menjadi rutinitasku sebelum tertidur. Khayalan tentang masa lalu dan juga masa yang akan datang. Bagaimana sebuah kata “what – if” menjadi kata yang mempengaruhi setiap cerita dalam  khayalanku. Di kamar itu kukatakan kepadanya bahwa aku sangat letih, dan mungkin besok pagi kita bisa berbagi aneka momen luar biasa yang kita lalui beberapa bulan terakhir. Aku melihat di matanya yang sudah hampir terpejam, dia memutar-mutar cincin di jarinya, memainkannya sampai ke buku jarinya dan tidak mengucapkan satu kata pun. Dia hanya merasa senang__sangat senang.

Pendingin ruangan di kamar dan beberapa gelas anggur pada pesta malam ini membawa kami tenggelam dalam lelap. Aku bermimpi, mimpi yang terkadang menjadi lanjutan cerita dalam khayalanku. Aku tidak pernah bermimpi seperti ini sebelumnya, tidak pernah ada dalam khayalanku sebelumnya, dan tidak pernah mengalami ini sebelumnya… .
Buku ini kupersembahkan untuk keluarga kecilku, Nasthasya istriku dan Samantha, putri kecilku.

Kejadian 2:18

menyatakan, TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Pertemuan Ajaib

Malam itu aku dan temanku memilih untuk singgah di restoran langganan kami untuk makan malam. Salah satu restoran terbaik yang ada di daerah Legian, Bali. Dengan dekorasi yang dipenuhi rajutan bambu di setiap detailnya. Pramusaji yang ramah dan bersahabat, mereka berseragam baju adat bali. Dengan mengandalkan makanan western terbaik, restoran itu juga tidak memungut tax dan service. Bagiku itulah yang paling penting.

Seperti biasanya, restoran itu selalu dipenuhi turis-turis asing. Karena keunikan restoran ini, dengan luas yang cukup kecil, maka tidak jarang bagi kami untuk sharing table dengan tamu-tamu lain agar tidak harus menunggu lama untuk mendapat kursi. Tentu harus dengan seizin dari tamu yang lebih dulu duduk di meja itu.

Musik Balinesse gamelan orchestra melantun pelan saat aku melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam restoran ini.

“Anda boleh duduk disini jika anda mau,” Sebuah suara berat menawariku tempat untuk duduk, melihatku kikuk mencari-cari meja yang kosong. Dengan bahasa Inggris dan logat Perancisnya yang sangat kental. Pria yang menawariku itu kira-kira berumur diatas 50 tahunan, Di meja lain aku sempat melihat garpu dan pisau sudah tersusun diatas hot plate yang menyisakan beberapa buncis, tanda bagi pramusaji untuk segera clear up table. Mereka hanya menunggu pramusaji membawakan bill dan mereka bisa meninggalkan meja itu. Setelah itu kami dapat duduk di meja itu tanpa harus berbagi meja dengan orang asing.

Akan tetapi,

“Baiklah, terima kasih” jawabku, menerima tawarannya. Aku sudah sangat lapar dan aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi untuk makan malam. Lagipula tidak ada salahnya bila kita makan bersama dalam satu meja dengan orang asing. Dia duduk sendiri di meja yang cukup untuk digunakan empat orang atau lebih. Seperti biasanya, karena kami berbagi meja untuk makan malam dengan orang lain, etikanya, kami berkenalan. Nathanael adalah nama pria beraksen Perancis itu, dan dari perkenalan awal dia memang berasal dari Perancis. Pada awalnya aku dan temanku sedikit canggung dan kaku, temanku memainkan ponselnya. Kuperhatikan dia hanya membuka-buka folder inbox tanpa ada maksud membaca pesan atau menulis pesan.

Pramusaji di restoran itu sedang melayani meja-meja lain, hanya sedikit pramusaji yang mungkin bisa melayani meja kami dalam waktu cepat. Dan akhirnya pramusaji itu datang,

“Apa kabar? Anaknya kok nggak diajak?”, sambil memegang notebook dan pena, pramusaji itu menyapaku. Dia adalah pramusaji yang sama saat minggu lalu aku makan di restoran ini dengan keluargaku.

“Baik-baik, kasihan kalau dia keluar terlalu malam” jawabku, sambil tersenyum.

Kamipun memesan makanan dan setelah itu pramusaji itupun pergi untuk menyiapkan makan malam yang sudah kami pesan. Setelah memesan makanan, ingin mencairkan suasana yang kaku, akupun membuka perbincangan. Awalnya dari budaya disini dan juga budayanya di Perancis, aku bertanya berapa lama dia berlibur di Bali, dan kami juga membahas tentang restoran ini. Sambil menunggu makan malam kami, kami melanjutkan percakapan panjang yang tidak terasa percakapan kami sudah masuk ke dalam hal-hal yang pribadi. Dari pengalamanku bertemu dengan beberapa turis asing, tentang budaya mereka yang membuatku tertarik untuk mempelajarinya. Mereka, budaya Eropa, sangat tidak nyaman untuk bercerita tentang hal pribadi, apalagi kepada orang yang baru dikenal. Tetapi tidak dengan budaya negara ini, dan tidak di restoran ini. Kami menciptakan budaya kami sendiri. Budaya yang sangat mudah untuk bercerita sampai ke hal-hal yang terkadang tidak perlu dibicarakan atau bersifat pribadi. Mungkin karena belum tentu kami akan bertemu lagi esok hari.

“Dengan siapa Anda tinggal di sini?”, sambil mengusap keringat di dahi dengan handuk putih kecil yang kuperhatikan selalu dia pegang dari tadi.

“Dengan istri dan putriku” jawabku.

“Oh ya, istri dan anak? Berapa umurmu?”

“22 tahun”

Young married guy” dengan ekspresi wajah yang sudah biasa kulihat, sambil melempar senyuman yang bisa mengandung banyak arti. Entah apa arti senyumannya. Mungkin ini adalah kenyataan unik yang membuatnya tersenyum, atau ada hal lain. Aku tidak tahu, dan melupakan arti senyuman itu untuk sementara. Lalu kami melanjutkan bercerita singkat. Mulai dari proses menikah, bagaimana aku dan istriku bertemu, tanggung jawab, resiko dalam pernikahan muda, dan pandangan pria itu mendefinisikan pernikahan, cara pandang yang sangat berbeda.

Di tengah obrolan kami, pramusaji datang untuk segera menyajikan makan malam kami. Aku mulai menyantap makan malam, namun aku masih memikirkan tentang pernikahan, hal yang membuatku menjadi laki – laki paling sensitif di planet ini. Aku teringat saat pria itu mengatakan “young married guy” kepadaku tadi.
Sambil menyantap makanan, kami rehat sejenak dari cerita-cerita, dan ini menjadi kesempatanku untuk kembali berpikir dalam khayalanku. Aku mengolah kata demi kata tentang pernikahan dan cara pandang dia tentang menjalani hidup karena dia belum sekalipun mengalami pernikahan. Umurnya sudah terlampau tua untuk berstatus single. Kuamati potongan rambutnya, caranya berpenampilan, dan bahasa tubuhnya, hanya untuk meyakinkan diri dari pikiran picikku, apakah dia seorang gay? Tapi dia tidak terlihat seperti itu. Sepertinya dia telah memilih untuk menjalani hidupnya sendiri dengan suatu alasan, dan dia terlihat sangat menikmati pilihannya itu, bahagia menjadi “orang bebas”. Aku percaya bahwa setiap orang punya alasan dan kepuasannya sendiri untuk menentukan bahwa dirinya adalah orang yang bahagia. Dan kebebasan menjadi alasan dan kepuasan pria itu.

Tapi, apakah sebenarnya kebebasan itu? Pertanyaan yang muncul seketika dalam pikiranku, dalam khayalanku.

Aku telah menghabiskan sebagian besar hidupku menjadi pelayan dari satu dan lain hal, bahkan aku melanjutkan pendidikanku yang berkaitan erat dengan pelayanan. Jadi seharusnya aku tahu arti kata itu. Sejak kecil aku sudah berjuang untuk membuat kebebasan menjadi komoditas yang paling berharga. Dan disaat aku remaja aku mulai menentang orang tuaku yang menginginkanku untuk menjadi ini dan itu, menasihatiku ini dan itu. Aku menentang bukan karena aku merasa lebih baik dari mereka, tetapi mereka terkadang masih seperti kanak-kanak dan pada saat itu menurutku, lebih baik mereka perhatikan dirinya sendiri. Karena pada akhirnya aku yang harus menghadapi dan menyelesaikan masalahku sendiri. Aku membuat pilihan, dan sangat sering pilihan itu menjadi satu-satunya pilihan. Pilihan untuk keluar dari rumah, merantau ke berbagai kota. Hidup dan tinggal di lingkungan baru dan tentu dengan peraturan baru. Menikmatinya dan belajar menjadi “orang bebas”. Sampai aku bisa menunjukkan pada mereka bahwa paling tidak aku bisa hidup mandiri. Baru kusadari bahwa di sini tidak ada tuntutan untuk jadi ini dan itu, tidak ada nasihat ini dan itu, sehingga tidak ada yang membatasi langkahku. Aku boleh berbuat apapun kecuali memaksa orang lain untuk mengikuti kegilaanku.

Akhirnya segala hidangan sudah kami habiskan dan kami kembali bercerita di restoran pada malam itu, dia termasuk orang perancis yang sangat fasih berbahasa inggris, sehingga kami bisa bercerita apapun tanpa ada halangan dari keterbatasanku untuk berbahasa perancis. Kami memesan anggur sebagai penutup makan malam. Anggur di restoran ini bukanlah anggur yang terbaik, tetapi anggur adalah teman paling baik untuk bercerita.

Aku melanjutkan cerita tentang keluarga kecilku. Istriku dengan mood-nya yang berubah-ubah dan putri kecilku yang sedang bertumbuh. Kebanggaanku untuk bisa melihat putriku bertumbuh bersamaku.

“Apa anda bahagia?” Pria itu memotong cerita tentang keluarga kecilku. Aku tidak tahu harus menjawab apa, dan dari mana harus memulai berpikir untuk bisa menjawab pertanyaan sesederhana itu. Walaupun jawabanya hanya membutuhkan kata “ya” atau “tidak” atau mungkin “belum”.

Tetapi aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu dengan sederhana.

“Anda bahagia. Saya bisa melihat itu dari mata anda”, Dia menjawab pertanyaannya sendiri, sambil tertawa kecil memecah kekakuan di meja ini. Aku masih belum menjawab pertanyaannya. Aku kembali masuk dalam perdebatan khayalanku untuk menjawab apa aku bahagia. Tapi aku belum memiliki segalanya, jika itulah arti dari bahagia. Maksudku, aku memang sudah memiliki istri terbaik dan Tuhan telah memberiku putri kecil yang sempurna, sungguh aku tidak pernah berhenti bersyukur untuk itu. Tetapi aku masih belum bisa mewujudkan mimpi-mimpiku yang lain; Memiliki rumah impian, rumah kayu dan perabotan antiknya, dengan halaman belakang menghadap pantai memperlihatkan laut yang menghampar, yang berada di daerah Uluwatu, Bali. Memiliki pekerjaan yang bisa dibanggakan dengan penghasilan yang berlimpah sehingga limpahannya hanya bisa digunakan untuk berbagi dengan orang lain. Membeli mobil impianku juga mobil impian istriku, menyekolahkan putri kecilku di international school yang biaya masuknya saja bisa mencapai harga sebuah mobil, dan masih banyak lagi.

Jadi untuk pertanyaan ini, seharusnya satu-satunya  jawaban yang tersedia untuk aku pilih adalah “Belum, aku belum bahagia” Ya, aku mengakui aku belum bahagia, aku masih berjuang untuk itu. Dan aku yakin, aku bukan satu-satunya.

Alunan musik gamelan bali dan riuh kecil dalam restoran itu mengiringi khayalanku.

Selama hidupku, aku sudah mengenal segala macam manusia: mereka yang kaya, mereka yang miskin, mereka yang berkuasa dan yang hidup seadanya. Aku melihat kepahitan yang sangat dalam di mata setiap orang, bahkan tidak bisa ditutupi walaupun orang itu mencoba memanipulasinya dengan lelucon-lelucon konyolnya, tawa lepas dan nyanyian riangnya. Aku tetap bisa melihat kepahitan itu. Sebagian orang mungkin terlihat bahagia, tetapi sebetulnya mereka tidak pernah memikirkan hal itu dengan sungguh-sungguh. Sebagian lain membuat rencana. Mereka ingin punya suami atau istri yang aku dambakan, rumah, dua orang anak, dan villa di luar kota. Selama mereka sibuk dengan itu, mereka bagai mobil yang berjalan dalam kegelapan, dengan hanya mengandalkan cahaya yang tidak bisa lebih jauh dan lebih terang dari batas kemampuan lampu mobil itu. Mereka berjalan secara naluriah. Menabrak ini dan itu, tanpa mengetahui tujuan mereka yang sebenarnya. Mereka bisa punya rumah, tidak jarang bahkan rumah yang sangat mewah. Mereka mengira itulah arti hidup ini, dan mereka tidak pernah mau membahas hal itu. Tetapi mata mereka tetap menunjukan kepahitan yang bahkan tanpa mereka sadari kepahitan itu sudah lama tinggal dalam jiwa mereka.

Aku tidak yakin apakah orang-orang yang aku kenal telah berhasil dalam karir dihidupnya sudah merasa bahagia. Yang aku tahu mereka semua masih selalu berjuang untuk itu. Dan hidup sudah seperti ini sejak dahulu. Mereka berjuang untuk menjadi yang terbaik di kalangannya, apapun caranya, jika cara yang terbaik bertemu jalan buntu maka cara terburukpun menjadi jalan yang paling baik, walau mereka harus curang. Ya curang. Mereka sibuk bekerja tidak kenal waktu. Mereka berjuang untuk mendapatkan dunianya yang tenteram agar tidak perlu khawatir pada pasangannya, khawatir pada anak-anaknya, khawatir pada kariernya dan khawatir pada gelarnya. Mereka tidak perlu khawatir akan apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi hari esok, dan tidak perlu khawatir akan kepuasan-kepuasan yang belum mereka miliki. Dengan pencapaian yang sudah mereka raih, dan dengan kekhawatiran yang mereka rasakan tetap saja aku tidak pernah menangkap mata mereka dengan tulus memancarkan kebahagiaan.

Aku terlalu lama berpikir, anggur inipun ikut menuntunku. Dan aku sadar sudah meninggalkan obrolanku dengan pria itu terlalu jauh, temanku sudah menyambung cerita dengan pria itu. Sesaat setelah aku mulai diam, berpikir dan keluar dari obrolan, berkhayal sendiri. Untungnya dengan Bahasa Inggris seadanya temanku sudah menyelamatkanku untuk melanjutkan pikiran dalam khayalanku lagi, aku mengamati orang – orang disekelilingku dalam restoran ini. Mencoba menghakimi mereka dari mata dan pikiranku. Mereka terlihat bahagia, tetapi mereka hanya tertawa-tawa, tenggelam dalam kehidupan kecil mereka yang mengabaikan kehidupan kecil yang lainnya. Mereka masih memegang prinsipnya bahwa keluarga, rumah, pekerjaan, mobil dan segala hal yang menunjukan hasil dari usahanya adalah arti hidup. Dan aku yakin itu semua adalah hal terkecil dari hidup. Pasti masih banyak hal lain yang aku dan mereka belum pahami.

Aku bisa saja mendesak dan menghujam mereka dengan pertanyaan-pertanyaanku ini secara terus menerus, dan pada akhirnya mereka semua akan menyebutkan sesuatu yang belum bisa mereka wujudkan. Orang yang kaya raya, punya segalanya dan bisa membeli apa saja, yang putus asa karena dia pikir bisa membeli cinta. Orang itu menderita karena tidak ada cinta untuknya, mungkin banyak wanita yang hadir dalam hidupnya, akan tetapi wanita – wanita itu hadir hanya karena materi, bukan karena cinta tulus adanya. Tetapi cinta tulus itulah kepuasan dan kebahagiaannya. Orang yang sangat sederhana, memiliki cinta sejatinya tetapi tidak tahu harus dibawa ke mana, karena dia sendiri tidak punya bekal untuk menghidupi kekasihnya, bahkan dia tidak punya sedikitpun peluang untuk mewujudkan itu. Mereka yang diberi karunia kepintaran memburu gelar agar menjadi ahli dalam bidangnya, tetapi pada akhirnya tidak jarang mereka bekerja di tempat yang bukan keahliannya, bukan bidangnya, bidang yang mereka keluti bertahun-tahun lamanya. Akhirnya dalam hati mereka mengaku kalah, sadar bahwa mereka sesungguhnya belum bahagia dan masih jauh dari kata itu.

“Aku mengagumi perdebatan dalam pikiran dan hatimu” Ucap pria itu, melihat aku melamun sepanjang makan malam.

“Maksud anda?” Jawabku

“Ya, anggap saja kata-kataku tidak ada maksud apa-apa, Akan tetapi aku paham sekali bahwa dalam diri anda masih banyak perdebatan yang sepertinya tak terselesaikan. Sebaiknya anda fokus kepada Tuhan, bukan pada kelemahanmu”, sambil mengusap keringat di dahinya lagi.

“Aku masih belum mengerti apa yang anda coba katakan kepadaku. Maksudku, kenapa anda tiba-tiba berbicara seperti itu? Apa yang anda lihat dariku di saat aku melamun tadi?” aku sedikit merasa terusik dengan kata-katanya yang membingungkan.

“Aku hanya melihat anda terdiam sesaat setelah anda bercerita tentang pernikahan tadi, aku hanya menebak mungkin anda sedang memikirkan itu”

“Semua keluarga punya masalahnya masing-masing, demikian dengan pernikahan, mungkin anda belum menemui masalah pada saat ini. Tapi jika anda menemuinya nanti, yakinlah bahwa itulah sesungguhnya pernikahan. Sehingga pada saatnya tiba nanti, anda tidak akan bingung, dan tahu anda harus kemana” lanjutnya.

“Kemana?”

“Tuhan” dia menjawabnya.

“Entah mengapa, aku percaya suatu saat nanti anda akan bertemu denganku lagi, dan pada saat itu anda sudah tahu segala jawaban dalam hidup anda. Anda hanya perlu membaca pertanda-pertanda disekeliling anda, menjalaninnya dengan tulus dan biarkan tangan-tangan lain berkerja untuk hidup anda”. Dengan cepat pria itu memecahkan perdebatan di dalam pikiranku, aku masih mencerna perkataanya. Belum sempat mencerna dengan baik perkataannya tadi, dia menasihatiku lagi. Membuatku merasa takut dengan kalimat tentang kemungkinan kami bertemu kembali, tapi aku tidak terlalu menganggap serius ucapnya itu.

“Dalam hidup ada penderitaan dan ada kekalahan. Tak seorangpun dapat menghindarinya. Tetapi lebih baik kalah dan menderita dalam beberapa pertarungan demi impian-impianmu, daripada kalah tanpa mengetahui apa yang kau perjuangkan”, nasihatnya lagi.

Anggur di gelasku juga telah habis, aku harus menghentikan pikiran-pikiranku yang sudah menguap hanya untuk menjawab pertanyaan pria Perancis itu. Mencari arti dari kata “Bahagia”, yang bisa kuuraikan dengan bijak dalam pikiranku tetapi belum bisa aku buktikan dalam langkahku.

“Ingatlah bahwa di mata Tuhan, kebijakan manusia adalah kegilaan. Namun kalau kita mau mendengarkan suara kanak-kanak yang tinggal dalam jiwa kita akan mengerti arti kehidupan.”, Seolah dia bisa membaca pikiranku.

Tidak terasa kami sudah menghabiskan banyak waktu untuk makan malam, setelah membayar bill, Nathanael sepertinya akan segera pergi. Di tengah-tengah obrolan kami tadi Nathanael mengatakan bahwa malam ini adalah malam terakhirnya di pulau dewata, sehingga dia tentunya tidak ingin menghabiskan malamnya hanya bercerita di restoran ini.

“Baiklah, Senang bisa bicara dengan anda. Selamat malam Nathanael.” Ucapku.

Young married guy…” Dengan mata yang menyorotkan ketenangan dan penghiburan. ”Ada beberapa hal dalam hidup yang layak diperjuangkan hingga titik terakhir, percayalah, perjuangan itu adalah; keluarga kecilmu.” ucapnya.

Nice talkin’ to you, see you bye” Jawabku. Hanya itu yang bisa aku katakan. Kata-kata terakhirnya sungguh berarti buatku. Sungguh aku butuh seseorang mengulangi kata-kata seperti itu setiap hari.

Malam yang tidak biasa ini telah menyelamatkanku. Seperti pertemuan kami memiliki pesan dan pertanda untukku. Aku juga harus segera pulang, karena tidak seperti masih sendiri dulu, kali ini istri dan putriku sudah menungguku di rumah untuk segera pulang. kamipun berpisah.

Belakangan baru aku ketahui bahwa Nathanael adalah seorang Pendeta. Informasi yang tidak aku dapat di saat aku meninggalkan meja untuk pergi ke kamar kecil di tengah-tengah percakapan makan malam tadi, dan temanku menjadi satu-satunya pendengar pada waktu itu. Pantas saja dia tidak menikah, dan apa tujuan seorang pendeta dari Perancis itu datang ke pulau ini? Nathanael adalah Pendeta dari desa di Perancis yang bernama Saint Savin, Lourdes. Nama desa yang pernah aku baca ada pada salah satu novel terkenal. Desa yang menjadi salah satu tempat tujuan ziarah bagi umat Katholik, disana terdapat patung Bunda Maria, tempat dimakamkannya orang kudus dan tempat dimana banyak orang yang meninggalkan kota datang ke pegunungan itu untuk mencari Tuhan. Aku pernah berbicara dengan istriku untuk berencana berziarah ke sana bersamanya dan putriku.

Malam yang ajaib. Bagiku ilmu yang aku dapat dari setiap kata pria itu sangatlah berarti. Kami mungkin hanya bertemu beberapa jam yang lalu, tapi aku merasa setiap kata yang diucapkanya itu sangat tulus seperti nasihat seorang ayah kepada anaknya. Bahkan aku belum pernah mendapatkan nasihat seperti itu dari ayaku sendiri, tidak sedikitpun.

Dari pengalaman malam itu aku menyadari bahwa kita hanya dapat menerima keajaiban dalam hidup sepenuhnya jika kita mengizinkan hal-hal tak terduga untuk terjadi. Maksudku, bagaimana jika pada awalnya aku memilih untuk tidak makan malam bersama dengan pria Perancis itu, dan sedikit bersabar untuk menunggu meja lain yang kosong… .

Bersambung>>>

The Witnes of Forgiveness

“When you forgive, you in no way change the past – but you sure do change the future.” ~miamou


“Aku bebas, lalu sekarang harus apa?” Ucapnya, sambil membetulkan ransel berbahan jeans lusuhnya itu.

tumblr_o0znhqpkab1uq45zxo1_1280

Pria itu bernama Limo, kurang lebih sudah lima belas tahun dia terkurung dalam sel-sel yang pengap dan sempit. Dia telah banyak tertinggal oleh cerita-cerita di luar sana, cerita tentang mantan istrinya yang sudah meninggalkan anaknya di rumah itu, pergi dari kota itu untuk mencari pekerjaan ke kota-kota besar.

Cerita tentang ayahnya, bahwa kurang lebih dua tahun lalu, dia telah meninggal. Cerita tentang anak yang dia tinggalkan karena harus menjalani hukuman, pada saat umur anak itu belum genap lima tahun. Dan cerita terakhir itulah yang akhir-akhir ini menggerogoti jiwanya. Dia menunggu saat-saat untuk bertemu lagi dengan anak lelakinya itu. Karena hanya ke anaknya dia akan berlabuh disaat hari kebebasannya, tidak ada tempat lain.

Satu-satunya pertanyaan terbesar dalam jiwa kembali menguap keatas kepalanya, membuatnya cemas, tidak bersemangat lagi, dan menggigil ketakutan. Lupa bahwa hari ini adalah hari kebebasannya. Pertanyaan besar itu adalah;

“Apakah anakku dapat memaafkan kesalahanku dengan mudah?” Limo bertanya dalam hati.

Sebulan sebelum hari kebebasannya, dia telah menulis dan mengirim surat kepada anaknya;

Anakku, bulan depan kepala sipir memberitakan tentang kebebasanku dari penjara, maafkan kebodohanku yang telah lama meninggalkanmu karena harus menjalani hukuman. Dihari kebebasanku nanti, aku akan pulang untuk bersama lagi denganmu. Aku tahu mungkin akan sulit untuk menerimaku kembali dalam hidupmu, atau sebenarnya mungkin tidak ada jalan pulang untukku.

Maukah kamu menyalakan lilin di depan pintu rumah, lsebagai tanda bahwa kau telah memaafkanku, dan menerimaku untuk kembali bersama. Jika tidak, kau tidak perlu melakukan itu_biarkanlah tetap gelap.

Terimakasih,

Ayahmu.

Tindakan memaafkan itu terlihat seperti tidak adil, karena memaafkan menyebabkan berkurangnya motivasi untuk menangkap dan menghukum seseorang juga meredam kemarahan yang dibenarkan.

Siang itu, kereta terus melaju ke arah timur. Sinar matahari terbit perlahan mulai menghangatkan badan kereta api yang hampir semuanya terbuat dari logam itu. Dia mempersiapkan matanya yang lelah hanya untuk melihat pertanda nanti malam.

Malam itu, dia berjalan kaki melintasi jalan-jalan sempit, melintasi pelosok-pelosok kota dan akhirnya dia tiba diasana. Di kota masa lalunya, dan dia sudah tidak sabar untuk segera melihat pertanda di depan rumah. Rumah yang juga menjadi tempat dia berbulan madu bersama istrinya, rumah dimana pernah ada tawa, tangisan dan pertengkaran yang dia alami, rumah yang menjadi tempat kelahiran anaknya, dan itu adalah kebebasan yang sesungguhnya bagi dia. Kebebasan yang selama ini menginspirasikan setiap puisi yang dia tulis di dinding-dinding sel penjara.

Rumahnya hanya beberapa gang dari stasiun tempat dia turun. Dia hanya perlu mengayunkan beberapa langkah untuk sampai di depan pintu rumah. Beberapa langkah untuk melihat pertanda itu. Tetapi, di stasiun yang sepi, ada beberapa orang datang dari arah berlawanan, melewati sisi bahunya. Salah satu dari orang itu sepertinya sedang berkomentar tentang sesuatu yang baru saja mereka lihat, dan tertangkap oleh telinga Limo;

“Aneh sekali rumah itu, tengah malam buta mereka menyalakan lilin-lilin yang bertaburan hingga kejalan” kata mereka, sambil tertawa kecil.

Seseorang pernah berkata kepadaku,

“Kita bisa membebaskan diri kita dengan memaafkan, dengan perdebatan dalam diri dan dengan berdoa. Maka memaafkan dapat membawa perbaikan besar dalam hubungan kita dengan seseorang yang kita maafkan.”

~ ~ ~

“When you forgive, you in no way change the past – but you sure do change the future.” ~miamou

The Angelic

The only thing i know at this time, is that i’m preparing everything for you. You know… college, savings, life skills… that kind of stuffs. ~miamou


The Angelic

Doa seorang gadis yang menyelamatkan hipup kekasihnya, menjelma menjadi malaikat.

tumblr_nzfpc8kaut1s0u653o1_1280

Di tepi jurang ini dia berdiri dengan sangat putus asa, kedua kakinya lemas, dan penampilannya sangat berantakan. Seingatku kata terakhir yang aku ucapkan adalah agar dia bisa memanfaatkan waktu yang ada untuk berpikir dengan tenang, aku hanya mengucapkan itu, selanjutnya aku hanya diam dan menunggu. Karna aku sangat mengerti perjalanan hidupnya, dan aku tahu bahwa pengalaman traumatis dalam dirinya sulit untuk dihilangkan saat ini. Saat dia harus menentukan pilihan yang dia buat sendiri “hidup atau mati”. Dan aku masih tetap menunggunya disini.

Seseorang pernah berkata kepadaku;  “Jika kamu sangat menginginkan sesuatu untuk jadi milikmu, lepaskanlah. Jika pada akhirnya kamu mendapatkannya, itu milikmu selamanya. Jika tidak, karena memang itu bukan milikmu.”

Namanya Benjamin, orang – orang terbiasa memanggilnya Ben. Dia orang yang cukup mudah untuk masuk dalam suatu lingkungan baru, walaupun dia bukan tipe orang yang banyak bicara. Di sisi lain dia juga sering terlihat bingung dan tampak misterius.

Namaku Elisabeth, mungkin hanya aku yang lebih mengenalnya saat ini. Kami pernah sangat dekat dahulu, menjalani hubungan cukup lama sebagai kekasih, tapi kami berpisah disaat dia merasa ada orang lain yang lebih melengkapi dirinya selain aku. Akupun memutuskan untuk menjalani hidupku sendiri seiring dengan usaha kuatku untuk merelakan dia, melepaskan dia. Karena aku tahu aku sangat menyayanginya dan masih menyayanginya. Mungkin suatu saat nanti dia akan membutuhkanku lagi, tapi bukan untuk saat ini, saat ini dia tidak butuh siapapun. Dia hanya butuh keberanian untuk meninggalkan segalanya, mengakhiri hidupnya. Karena berarti dia juga meninggalkanku, dan aku sangat takut untuk menerima kenyataan itu. Hal ini membuatku teringat sesuatu… .

Aku pernah hadir dalam suatu acara pemakaman. Aku melihat seorang janda yang di tinggal mati oleh suaminya, dia terlihat sangat hancur. Tidak cukup disampaikan hanya dari cara dia menangis, janda itu kehilangan salah satu orang yang sangat dia sayangi dalam hidupnya. Aku tahu bahwa dalam hidup ini kita semua harus bisa menerima jika suatu saat kita ditinggalkan oleh orang yang kita sayangi. Tetapi bukan untuku, bukan saat ini. Karena orang yang sangat aku sayangi sekarang ada di depanku, dan aku tidak siap untuk kehilangannya lagi.

Saat ini aku hanya berdoa dengan sungguh – sungguh. Karena ini semua di luar kemapuanku, aku hanya berharap ada kekuatan lain yang bisa menolongnya dalam situasi seperti ini.

Seketika itu, Ben bergerak mundur, menjauh dari bibir jurang itu dan dia duduk ke tanah. Aku berjalan mendekatinya dengan segera memeluknya dari belakang.

Keesokan harinya, Ben datang menemuiku. Dia berterima kasih karena sudah menyelamatkannya sehingga dia dapat melupakan niatnya untuk bunuh diri.

“Banyak kata – katamu yang menenangkanku saat itu” Ucapnya, aku masih teringat pada saat itu aku hanya mengucapkan beberapa kata_tidak banyak. Setelah aku menyimak tentang apa saja yang aku katakan saat itu, aku tertegun sebentar, dan menyadar sesuatu; Bahwa aku tidak pernah mengucapkan kata – kata seperti yang dia dengar saat itu, tidak satu katapun. Kecuali “dalam doaku”.

“kamu seperti malaikat saat itu” Ucapnya, dengan senyuman khasnya.

Malaikat sudah menyampaikan doaku kepada ben. Aku hanya merasa senang_sangat senang.

~ ~ ~

“I don’t know who you are. I don’t know if, at this time, we have met or not. I tried to figure out your face, your body, your scent, but i have no idea at all.

The only thing i know at this time, is that i’m preparing everything for you. You know… college, savings, life skills… that kind of stuffs.

I barely know you. But you know what… i love you already. I love you already, my future wife. I don’t know who you are, but you are the reason of the choices i made today.” ~miamou

Like My Grandma Did

“Dia tidak pernah seperti ini dan aku tidak pernah melihatnya selemah ini, Oma orang paling kuat yang aku renal.” ~mimaou


Like My Grandma Did

Beberapa hari lagi kami sekeluarga akan merayakan hari pergantian tahun bersama. Akan banyak kesenangan di sana dan sudah pasti ada berbagai macam masakan Oma yang selalu aku dan saudara-saudaraku tunggu. Sup kacang merah kental dengan bumbu khasnya menjadi menu utama. Disandingkan dengan ayam rica-rica, ikan cakalang asap yang di bungkus dengan daun pisang khas menado, segala sayuran yang tidak pernah luput dari irisan cabai sebagai ciri khasnya, dan masih banyak lagi. Semua makanan itu adalah masakan Oma dan aku tak sabar untuk itu semua.

Tetapi,

Sekarang aku sedang terbaring di lantai, di atas kasur tipis, bahkan hampir setipis keset yang terletak sangat dekat dari tempat aku berbaring. Semua bayanganku tentang pesta beberapa hari lagi sepertinya hanya seperti mimpi, segala kesenangan tidak akan hadir dan segala masakan itu sudah pasti tidak akan tersaji di atas meja jati di rumah Oma. Semua itu karena sekarang Oma ada di sampingku, di atas kasur besi dengan baju biru muda tipis dan terbujur kaku, di dalam kamar rumah sakit yang sangat sunyi. Satu – satunya suara yang terdengar adalah mesin pengukur detak jantung. Jarum suntik tertancap di urat nadi lengan kanannya, kulitnya seperti plastik mengkilat dan keriput, jari-jari kecilnya yang dingin dan lemas lunglai dan umurnya yang hanya bergantung dengan seutas selang, melajur ke hidungnya, seolah-olah baginya dunia menciut menjadi hanya sebuah tarikan nafas_hanya sebuah tarikan nafas. Dia divonis dokter terkena kangker hati langka, dan memang umurnya tidak akan lama lagi.

“Dia tidak pernah seperti ini dan aku tidak pernah melihatnya selemah ini, Oma orang paling kuat yang aku kenal.”

Kembali ke dalam bayanganku tadi, tidak akan ada kesenangan, tidak akan ada masakan-masakanya lagi, dan semua itu bukanlah kesalahannya. Jika bisa memilih, pasti dia tidak mau seperti ini. Oma tahu dia jadi korban sesuatu yang tidak ada alasannya, dan dia tidak memilih untuk menjadi marah atau membuat orang lain menjadi korban. Harapan baginya, ialah ketika dia memberi. Mungkin dalam keadaan getir dan rapuh. Tetapi bagiku itulah pesan darinya: tetap saja ada orang yang berbuat baik, walau dalam kekalahannya. Itulah Harapan.

Dari tahun ke tahun Oma sudah mendatangkan banyak kesenangan dalam keluarga besar kami, tahun–tahun itu selalu diisi dengan segala cerita tentang masa mudanya, nasehat–nasehatnya, nyanyian–nyanyian riangnya dan segala lelucon konyolnya. Dia melakukan itu semua bahkan di saat dia sedang sakit_dia menutupi kesakitannya dengan kasih.

Oma selalu ada untuk kami. Oma mengajarkan segala hal untuk cucu–cucunya, seperti aku harus menghitung 100 hitungan dalam hati di saat aku sedang dalam emosi dan aku harus selalu mengandalkan Tuhan dan doa. Bahkan tanpa bicara Oma sudah menyampaikan pesan untukku, memberiku pelajaran paling berharga. Pada suatu situasi dalam masa kenakalan remajaku aku pernah mencoba untuk mencuri uangnya di kotak penyimpanan di dalam kamarnya, seketika Oma masuk ke dalam kamar dan melihat dengan jelas apa yang sedang aku lakukan, tetapi bukan tamparan atau hukuman yang aku terima: dia hanya diam, dan di dalam diam ada pertanda. Beberapa waktu berlalu, tidak lama setelah kejadian itu. Oma masih belum keluar dari kamarnya, itu membuatku ingin tahu apa yang dia lakukan selama itu di dalam kamarnya. Aku melihatnya sedang berdoa.

“Dia berdoa, dia mendoakanku.”

Kembali ke kamar sunyi ini, dalam hati aku berbicara kepadanya.
“Kalau Oma mau pergi, pergilah secepatnya. Tuhan mungkin sudah menunggu Oma di sana, dan dibanding kami semua, Tuhanlah yang lebih membutuhkan Oma.” Aku tidak mendoakan agar dia cepat pergi, aku hanya tidak bisa melihat dia seperti ini lebih lama lagi. Aku terlalu mengasihi dia, tetapi kita harus sadar, bahwa Tuhan lebih menyayanginya. Dengan damai, Oma pergi.

Hari pergantian tahun berlalu, kami sekeluarga masih berkumpul bersama, mencoba melupakan kesedihan yang baru saja berlalu, mencoba mengenang segala sukacita yang belum tentu ada lagi di hari depan.

Dia, Omaku, sudah berjuang dari awal hingga akhir hidupnya. Kenangan tentang Oma sudah pasti akan kami ingat. Dengan merelakan kepergiannya berarti kami siap untuk meneruskan “Kasih”nya kepada anak dan cucu kami di kemudian hari, “Aku mau melakukannya sama seperti yang Oma buat.”

Notes: Oma Marry G. Warbung, tutup usia pada 31 Desember 2005; usianya 65 tahun saat itu; dia memiliki 10 cucu yang selalu merindukannya; dia pergi dalam damai, senyuman di peti itu mengatakannya.

If you are brave to say “good bye”, life will reward you with a new “hello” ~Paulo Coelho

~~~