Convo of Balloons


Sometimes in life you meet that someone who’s just…… .a little “off”

“the Weirdos”

Can anyone else’s sister beat mine? Don’t think so! Ninces is my most favorite weirdos in the world! these are the convo in blackberry massanger between Me and Karina a.k.a Ninces, enjoy 🙂

~ ~ ~

Ninces: Ka, how many helium balloons does it take to lift me off the ground? 🙂

Me: Do you really think i’m into MATH or some scientific calculation? i don’t even know with group it belongs to, math or science.

Ninces: OMG. 4000 balloons. Cool, i want to try. Can u blow me up 4000 helium balloons? each has to be 30cm in diameter, 15 cm radius.

Me: U think this is the movie UP? I’m not gonna blowing 4000 balloons!

Me: U know what we can do? DO IT ON MOCHO (my hamster) OMFG he’s only less than 1 kgs! it takes only two balloons.

Ninces: That’s sounds good ka….but he might get carried away by the wind.

Me: Not outdoor!!! Inside the house can? Up till the ceiling.

Ninces: No, i want it to be in a meadow..so much space.. 🙂

Me: MEADOW?! MEADOW!!!?!?!?!??!? YA THINK i will allow u to let my poor hamster float with helium balloons in a meadow?!?!?!?!?? Don’t be blonde!

Ninces: Don’t worry…i will bring a bow and a few arrows to shoot off balloons if he gets too high off the ground or get carried away by the wind.

Me: … and now she thinks she’s katniss. Smart.

Ninces: Why do u relate whatever i say to movies?!

Me: Because what ur doing is toooo high of an imagination that nobody in REAL LIFE would do!

Ninces: It’s in my bucket list now.

Me: You know ces, even the movie “BUCKETLIST” has more realistic things listed!

Ninces: I’ll find someone to do it with me! epic 8000 balloons! unless that person is heavier then we’ll probably need 10000..

Me: ..i should post this, maybe i’ll find that crazy person who wants to do it with u. wish me luck.

Ninces: Thank you ka. :*

Me: Seriously!?

~ ~ ~

Youre the best sister! Sometimes I wonder why I didn’t get your looks and your brains.

Advertisements

Mimi & Paris


Ada yang beda dari terbitnya postingan gue yang baru ini (iya tau, ngga ada yang peduli). Mimi & Paris bertema tentang proses perubahan yang gue alami beberapa bulan terakhir ini. Proses penulisan gue dari satu judul ke judul yang lain bukanlah suatu lompatan kuantum yang terjadi secara mendadak dan penuh letupan energi. Melainkan sebuah perjalanan yang berubah sedikit-demi sedikit, sampai akhirnya terlihat jelas bahwa gue sudah berubah.

By the way, gue mau ngenalin dua tokoh inoocent di atas, yang bakal lari-larian di dalam cerita ini; itu yang abu-abu namanya paris, karakternya lugu dan dungu, kurang lebih seperti gue. Nah, yang putih masang muka melas namanya mimi, nama aslinya milan, karakternya suka cari muka, petakilan, manja, dan suka jahatin paris, yang juga kurang lebih seperti cewe gue. Well, selamat menikmati tulisan gue, di mana kegelisahan yang gue alami gue coba taruh di atas kaca pembesar, dan kita tersenyum bersama-sama.

Mini & Paris

“Semoga kamu bisa tersenyum sambil merenung, atau mungkin sebaliknya.”

~~~

Juni akhir, segera berakhir. 

Siang yang terik, jalan tol yang lancar, dan lantunan syahdu album Adele mengiringnya tidur dalam perjalanan Bandung – Jakarta yang cukup menyita sisa tenaga semalam. Di perjalanan, kita hanya membahas sepenggal kecil cerita kemarin. Kepergian gue ke Bandung minggu lalu tidak lain didorong oleh tuntutan yang dia buat. Di titik itu gue udah siap untuk pergi dengan cara baik-baik, pergi selamanya darinya. Intinya: “Hubungan ini sudah tidak sehat”. Seberapapun besarnya untuk kita bertahan lagi, walaupun kita sangat ingin, kedatangannya ke Bandung makin mempertegas keinginannya itu.

Pagi tadi, kita saling meletakan mata, menebarkan sejuta makna, tanpa satupun kata.

Dalam letih dan dengan lembut, dia meminta untuk; “Jangan pernah tinggalin aku sayang.”

Mixtape state of trance-nya Armin van Buuren masih terputar dalam volume sangat kecil di kamar dingin itu.

Kembali ke perjalanan ini. Kita sedang mengejar waktu untuk menghadiri satu sesi pemotretannya, yang kita berdua tahu, kita pasti telat banget! dengan melihat kondisi badanya yang drop membuat gue menancap gas lebih dalem lagi, dan hanya ke satu tujuan: Rumahnya.

Siang di Jakarta berubah menjadi sangat mendung, dengan peluang hujan rintik-rintik. Lagu ‘don’t you remember’ dengan sengaja gue puter berulang-ulang di saat dia tidur, remote dengan tamak gue jepit di selangkangan. Sambil mendalemi lirik dari lagu itu. Dalem.

Setibanya di rumah, dia minta gue nginep untuk jagain dia selama dia sakit. Gue setuju, selain udah ngga sanggup menempuh perjalanan pulang Pondok Indah – Bintaro, belum lagi ditambah ngebayangin macetnya yang bisa bikin ngedrop.

Indahnya kebersamaan malam itu.

Gue, dia, nyokapnya dan kedua anjingnya: mimi si petakilan yang dianak-emaskan oleh cewe gue. Yaah ngga ada pilihan lain, gue pasrah nerima sisa, paris si bijak resmi jadi kesayangan gue.

Kita tenggelam dalam perbincangan karir modeling sang pacar, melihat foto demi foto di setiap lembar dalam beberapa katalog juga majalah yang di dokumentasi oleh nyokapnya, dan dikemas seadanya dalam kardus bekas. Karir sebagai model sudah dia mulai sejak bangku SMP, menuntunnya menjadi model yang sangat menjanjikan di umurnya yang sudah matang saat ini. Gue menanggapi wajar setiap hasil-hasil fotonya itu. Tapi di dalem hati: bangga bukan main – bukan main bangganya.

Sesekali gue menoleh ke belakang untuk menangkap senyum kecilnya di tengah kebersamaan malam yang menurut gue, kesederhanaan itu bikin gue dengan senang hati untuk terlibat dalam keluarga kecil ini seutuhnya, sepenuhnya. Sesekali tangannya mengelus-elus pundak gue (momen indah tak ternilai).

Setelah menyeruput majalah sampai setengah kardus, dan dia tampak sudah terbius (reaksi kantuk yang timbul oleh panasnya geliga yang gue oles di titik-titik pegal badannya), malam yang semakin larut, dan beberapa faktor lain yang membuat kita sepakat menutup sesi malem ini untuk bersiap tidur dalam lelap letihnya malam.

Dia tidur dengan mamanya di kamar utama, gue di kamar tamu ditemani paris yg melingkar di areal selangkangan, dan mimi di atas kepala.

“Good night paris n mimi” (lewat elusan).

“Good night tante” (lewat hayalan, oneday; “good night ma”).

Trus, “Good night sayang” (lewat bbm)… .Status checklist, trus muncul ‘D’, trus berubah jadi ‘R’, truss, TRUSS!? lah?

Gue ketiduran. Setengah jam kemudian gue kebangun oleh suara bbm yang berbunyi gemerincing di samping kuping, dia membalas;”… . Gini deh, buat pembaca yang penasaran dengan apa yang gue rasain saat itu. Simple, Pasangan kirim bbm(apapun), coba deh balesnya; “iyah” (iyah, bales gituh ajah) coba yah, gue tidur dulu yah, daah.

Goodnight.

Keesokan harinya gue kebangun, gelap tadi malem udah berubah terang di celah-celah jendela. Mimi yang anteng semalem berubah jadi beringas lari-lari melintasi muka gue, bibir becek tanda telah dinodai mimi oleh jilatan binalnya waktu gue tidur, pantes semalem gue tidurnya ‘gelisah’ (geli basah). Indahnya kebersamaan semalam kerasa masih nyisa bikin gue lupa sama rasa gelisah tentang pembalasan bbm yang seadanya dari dia.

Kita bangun kesiangan, lanjut ke adegan makan siang bersama, sambil ngobrol tentang mantan terakhirnya yang sempat tinggal di rumah ini cukup lama, dan rasa syukur nyokapnya akan kehadiran gue dalam hidup anaknya saat itu. Setelah makan siang kita lanjut ke kamar tamu, kita ngebahas tentang kemungkinan masa depan yang kita “mau”, gue rasa itu cuma angan-angan karena kekenyangan. Lalu masuk dalam adegan tidur siang. Dengan alibi ketiduran, dan pintu yang kebuka lebar, membuat kita ga perlu khawatir sama mama yang tentu belum mengizinkan kita tidur berdua dalam satu ranjang. Gue memanfaatkan momen itu, dalam kehangatan siang, seperti kecanduan. Glendotan jadi hal yang paling wajib gue praktekin disaat dia tidur di sebelah gue.

Glendotan.

Glendotan yang gue maksud ngga ada hubungannya sama hal-hal yang berbau porno. Ini murni glendotan. Glendotan menurut salah satu psikolog di negara Burkinafaso (negara yang namanya paling ribet), adalah bentuk lain dari seks yang dilakukan dengan pikiran yang bersih dan tanpa gerakan frontal, kegiatan yang bisa dilakukan oleh semua kalangan dan tidak mengenal umur. Glendotan ternyata sudah pernah di lakukan oleh nenek moyang kita sejak dulu, ditemukan oleh beberapa arkeolog di dataran rendah meksiko, sepasang fosil manusia purba diduga sedang glendotan. Unyu deh. (tapi itu mati dalam kondisi glendotan apa karena glendotan mereka mati?)

Tiba-tiba, seperti petasan di siang bolong, seperti lolongan serigala hutan di ruang tamu, dan seperti ketawa perempuan cekikikan di atas pohon pisang di malam jumat. Kemesraan, rasa damai dan kehangatan itu ternyata cuma dateng sekali dalam hidup gue. Dan Ini yang terakhir.

Jadi gini, sore itu gue bangun duluan, posisi terakhir gue, persis sama seperti posisi mulai tidur siang, ga berubah satu pose-pun. Gue, masih glendotin cewe gue. Mimi, berusaha glendotin si paris. Mama, glendotin pintu. (kesel ngeliat semuanya glendotan)

Setelah mengalami beberapa kali putus-nyambung. Dengan hembusan nafas lega yang di mix sama rasa kecewa. Akhirnya, hubungan ini ketemu juga di titik putus, fix putus. Titik di mana kata ‘nyambung’ itu di larang oleh enam agama diakui di Indonesia, dan di tentang negara. Bahkan hanya sekedar bercanda mengucapkan kata ‘nyambung’ di rumah yang sepi, seorang pria separuh buaya(baca: paruh baya) di sweeping organisasi anarkis FPPGPN (Front Pembela Putus Ga Pake Nyambung). Intinya siapa yang ngajak balikan/nyambung, dia yang terima tamparan dari depan. FYI, tamparan dari depan itu *jenis tamparan yang sakitnya lebih nyebelin dibanding tamparan dari samping*

Yang gue inget waktu itu gw di usir dari rumah, a.ĸ.a kamar utama, a.ĸ.a di depan nyokapnya, a.ĸ.a bukan salah gue! Ga ada tujuan buat self defence, tapi faktanya, dia yang ada permainan, masa gue yang diusir? Iya sih, lebih aneh kalo gue yang usir dia dari rumahnya.

Dia, dengan suara serak (lagi sakit) agak tinggi, berjuang untuk teriak tapi yang keluar. Maaf, sedikit mirip suara nenek-nenek kejepit pintu gudang. (tuh kan nenek, udah dibilangin ga boleh main di gudang).

Cewe gue: “pergi kamu!”,”kok masih disini?”,”pokoknya pergi!”

Gue: “iya aku pergi. Tapi boleh ga, at least kita pisah baik-baik? or should i beg you to get our final kiss?” *sok di sama-samain sama sepenggal lirik Adele; “no final kiss”

Cewe gue: mengamini lagu Adele dan menjawab; “ngga!”,”aku ga mau deket kmu lagi, pergi sekarang!”

Trakhir. Gue butuh dipecut biar gw beneran pergi, butuuh banget. Memanfaatkan dia yang lagi emosi, plus gue kok smakin enjoy ya kalo pengalaman gue lebih dramatis? Akhirnya demi di pecut, gue lemparlah pertanyaan innocent itu;

Gue; “kmu pilih aku, apa dia?”

Dan jawabannya adalah!; “aku pilih dia!” Ke..Pe..Cut.. (those simple words hit so hard)

Gue keluar kamar dengan langkah lunglai, nyamperin nyokapnya, say nothing. Cuma gue peluk aja, dan tetesan air mata ini pun tidak kuasa gue bendung, pelukan dan air mata gue secara tidak langsung menyampaikan perasaan gue saat itu; letih memenuhi tuntutan dan kecewa akan permainannya.

Mendung sore itu membuat semakin terasa suasana drama romantis yang sad ending. Persis kaya adegan dalam film ‘Sweet November’, di mana Keanu Reeves harus merelakan si Saraa pergi di tengah jembatan pagi-pagi buta, padahal om Keanu Reeves udah main hati, sampe ajakin Saraa married, padahal Saraa umurnya ga panjang lagi, dan padahal baru kenal sebulan. “Ribet banget hidup lo Saara!!” Gue yang komen karena gemes. Ga terima sama aturan aneh nan lebay yang Saraa buat, Saraa keras kepala banget, si om juga nurut mulu. *ampir sama deh karakternya: Cewe gue kaya Saraa pas lagi ribet, gue kaya keanu pas lagi ganteng didodolin. Cut! Teriak sutradara.

Trus.

Nyokapnya: “biarin aja dia sendiri, kasih dia waktu, tante bantu bicara baik-baik ke dia nanti, sabar ya Moussa.” (nyokapnya baik banget, tapi ga mungkin gue pacarin)

Gue: langkah pertama keluar dari pager rumahnya, langsung ngrogoh kantong ambil bb. Otak kreatif dan suasana mellow bikin gue gercep (gerak cepat) open music, add new playlist, masukin lagu-lagu yang nyambung sama situasi saat itu.

Playlist name : So this is the real goodbye.

1.Adele – don’t you remember

2.Dash Berlin – better half of me

3.Armin – not givin’ up on us

4.Usher – let it burn

5.Coldplay – fix you

6.Coldplay – what if

7. Maroon 5 – pay phone

8. Feist – inside and out

8.Coldplay – viva la vida (ga match banget, tapi mager buat hapus dari playlist.)

Play.

Playlist galau telah menemani hati yang sedang terluka, luka baru yang menganga. Setiap lirik yang match dengan keadaan gue saat itu terasa seperti garam, yang disaat lantunan dan lirik sedih bertemu di suatu titik. Di titik itu luka menganga gue kaya di jejelin garem. Perih. Maaf atas ke-unyuan yang barusan terjadi.

Gue pernah party silent disco, seru! (tau ga nyambung, but let me continue) dari istilah silent discolah, gue mencetuskan istilah: silent crying. Hari itu, tanggal itu nama gue di catet di Guiness Book Record sebagai penemu dan pencetus silent crying.

Gue ngalamin silent disco, di acara rave party Gorilazz di GWK Bali. Kalo silent crying gue ngalaminnya di travel City Trans Jakarta – Bandung, duduk di samping pak supir. Serius deh, drivernya mirip gorila. Jadi ada satu momen gue nangis kejer, air mata meluncur deras, ingus ngepul-ngepul, tapi ga keluar suara. That’s what i called skill! Tapi ada efek sampingnya, pedihnya kaya ngumpul di dada gitu. Buat pembaca: kalo ngga mepet-mepet amat, jangan ikutin cara gue ini deh, gue kan udah pro kebiasaan. Saat itu perasaan gue campur aduk, antara sedih mengenang masa-masa bersama dia, di tamabah di ganggu-gangguin sama ‘Waiting’nya Emma Hewit yang melantun keras di earphone gue, disaat yang sama, gue juga takut sama si driver yang gue bilang mirip gorila. Gue liat ke langit, meletakan mata pada bulan, thank God! bukan bulan purnama. Parno drivernya jadi manusia gorila. *lirik si driver dari buntut mata yang becek was-was

Pengusiran yang didasari oleh tertangkapnya bbm-an mesra yang diduga menggunakan bahasa suku Arya kuno atau suku Aztec, atau kemungkinan yang paling ngga mungkin: bbm-an mesra tersebut menggunakan bahasa misterius dari U.F.O (baca: piring terbang kendaraannya alien) yang tertangkap dalam salah satu chanel radio FM di angkot S14 jurusan gang mesjid-lebak bulus. Kan jadi panjang (ˇ_ˇ’!!) !

I make it short: contoh bbm-an mesra dengan lelaki yang memiliki hak namanya di samarkan demi privacy, sebut saja: ALI

Dan demi hak mempertahankan nama baik cewe gue (mantan sih pada saat ini), juga demi masih teruntainya tali silahturahmi, cewe gue bisa kita sebut: CEWE GUE

Pemilihan nama samaran yang CERDAS. Sangat mengecoh!

Nih contoh bbm-an mesra yang tertangkap basah oleh mata gue waktu lagi BM kepo-in bbnya. Keadaan sore itu: gue lagi duduk-duduk ganteng megang bb, dia masih tidur, mamanya lagi rapiin meja makan, paris dan mimi kedua anjingnya yang ga punya hak namanya di samarkan karena keduanya memang tidak butuh privacy sejak lahir. Paris dan mimi seinget gue sih lagi sibuk sama bulunya masing-masing.

Di bawah ini adalah penampakan bbm misterius yang sudah ditunggu-tunggu dari tadi. (boleh kok nyiapin tissue sebelum menjadi saksi dari kejamnya teknologi komunikasi saat ini)

(Bbm-an mesra)

Ali: :* :* :* :*

Cewe gue: :* :* :* :*

Ali: :* :*

Cewe gue: :* :* :*

Ali: :* :*

Cewe gue: :* :* :* :*

Ali: :* :* :* :* :* :*

Cewe gue: :* :* :*

Ali: :* :* :*

Cewe gue: :* :*

Ali: :* :* :*

Cewe gue: :* :* :*

:* = Jika di ketik di kolom bbm akan berubah jadi emoticon kiss (baca: ciuman, cipokan, cumbuan?)

Hold!!

Setelah panampakan bbm barusan, kayanya gue bakal nulis tentang “cipokan” hampir di setiap paragraf, mungkin sampe ceritanya the end. Nah, karena kita berbudaya timur dan ber-etika, di samping itu ada saja kemungkinan om dan tante, opa dan oma, ada kakak atau adik dari pihak keluarga gue atau dia yang baca blog ini. Membuat gue rada ngga nyaman pake bahasa yang gengges seperti “cipokan” dkk. Pake inggris aja ya? gue ambil dari kata ‘french kiss’, gue singkat jadi ‘fk’ (nice).

Pokoknya kalo ada yang nyempilin ‘u’ sama ‘c’ di tengah istilah ‘fk’, mandul! Deal ya sama istilah ‘fk’?

Yuuk om & tante, mariii.

Kembali ke bbmannya dengan ALI.

Mereka berkomunikasi hanya dengan emoticon kiss, begituuu teruus bbm-annya sampe seterusnya, dari awal sampai akhir.

Gue; “menyebut nama dia pelan” (speechless, hopeless, maless)

Gue seperti di toyor-toyorin sama si cupid yang ga bertanggung jawab. Secara otomatis otak gue nyeting mindset baru; terlalu percaya sama pasangan BERARTI terlalu siap di bohongin, bbm flat dari pasangan yang ditanggapi positive dan cuek nganggep semuanya baik-baik aja BERARTI ngasih dia ruang buat bermain-main sama hati gue yang udah di stikerin fragile sejak lama. Harusnya mulai was-was waktu dia udah bales bbm “iyah” doang. Canggih juga otak gue bisa gitu. Tapi secanggih-canggihnya otak gue saat itu, Jadi ngga guna kalo udah ketipu gini. Telat nyeting mindset-nya tak!.

Seinget gue, level ke-kepo-an gue saat itu meningkat drastis. Sampe dua kali scroll di track pad-nya dengan hentakan panjang menyusur keatas, tetep aja gue ngga nemu huruf vokal atau apapun yang bisa dipahami oleh peradaban manusia jaman sekarang. Masih ga percaya, gue pastiin lagi liat bbm zinah itu!*maaf kasar (kebawa emosi) pas gue tau gue ngga salah liat, jantung gue nglewatin degupannya satu kali.

Gue coba tenangin diri sendiri dan coba liat lagi bbm nyakitin itu dengan perlahan, gue pastiin partner bbm-an-nya itu adalah: Sepupu, atau gay penata rambutnya, atau gay make up artist-nya, atau gay sahabatnya. Apapun deh yang penting gay, jadi gue bisa tenang. Tapi ngga ada sedikitpun pertanda itu! jantung gue nglewatin degupannya dua kali. Disaat hayalan binalku berkelana, dan saat akal sehat bermain, ditambah logika yang ikutan main bareng sama akal sehat. Hasilnya bakal lebih simple kalo gue gambarkan dalam rumus, berikut tampilan rumusnya;

Hayalan Binal = HB

Akal Sehat = AS

Logika =LG

HB+AS+LG = HB1AS1LG1 = ???? arrrgh!

Ya kesimpulannya ???? = BIG possibility mereka pernah fk beneran. Mereka telah mempraktekan fk di dunia nyata. Mereka telah fk di luar nikah! Ngebayangin, bibir yang gue fk semalem, kemungkinan besar kemaren paginya abis fk sama ALI. Dengan kesadaran akan pentingnya slogan “safety can be fun“, gue tuang detol cair dalam gelas, 2 sendokan antis, trus gue rendem tissue basah mitu tiga menitan ke dalem gelas tersebut, trus tissue yang telah berlumur zat-zat kimia jahat langsung gue kompres ke bibir. Sampe gue yakin bahwa bakteri telah pergi, bibir telah perih, dan gue telah terhindar dari virus berbahaya.

Gue bertanya-tanya dalam hati, “kok bisa setega itu ya?”, “bisa kali putusin gue dulu baru dia bisa nyaman ngapain aja sama orang lain”, “trus, kenapa setiap gue mau pisah baik-baik dia ngga pernah ngijinin?”. I was like WTF OMFG!!

Dan seperti biasa candaan jantung gue kalo lagi lebay karena sakit hati, pasti deh main-mainin degupan (ˇ_ˇ’!!). Tapi kali ini bukan lagi ngelewatin satu atau dua, sambil ngitungin, kali ini kok ga berdegup ya? Ngomong dalem hati; “sumpah ga lucu becandaannya organ”. Tiba-tiba, mata kerasa sepet, badan lemes, dan perlahan semuanya gelap.

~sirene ambulance dari kejauhan perlahan terdengar makin jelas. Oke stop, ngayalnya kejauhan.

Tapi pengen banget gue beneran jatuh pingsan, trus didiagnosis ada pembuluh darah gue yang putus di bagian otak yang nyimpen memory tentang keindahan dia yang membuat gue jatuh cinta. Jadi pas keluar dari RS gue lupa kalo gue pernah cinta sama dia, kaya film ‘The Vow’ gitu. Serah gih mau fk sama ALI di bbm kek, dunia nyata kek, dunia lain kek. Don’t know, don’t care.

Tapi dia si bibir yang berasa beraneka buah, ngga rela banget gue bagi-bagi.

Gue potong bentar deh. Ini tentang fakta bibirnya, cukup penting kok. Bibir lembut bermultivitamin yang dimiliki dia adalah nyata adanya. Kebiasaanya untuk memipir lip balm/gloss hampir setiap sepuluh menit sekali, dan sudah sejak lama kebiasaan ini menjadi rutinitasnya, membuat bibirnya merona-rona sepanjang hari. Pengkonsumsi lip balm/gloss terbanyak ini, membuat dia ditawari member produk kecantikan body shop, dan pengalaman fk dengan dia tidak pernah merasa monoton, karena gue bisa milih rasa buah-buahan se-enak dengkul. My favorite: Still, one and only; LECI. Seperti ada kandungan adiktifnya, karena kelamaan fk dengan rasa leci bisa berasa giting gitu. Gue adalah salah satu pasien sukarelanya, dulu bibir gue pecah-pecah, nah, singkat punya singkat, cerita punya cerita, mencium bibirnya membuat bibir gue berubah warna, dari warna coklat belel, jadi merah manja, dan jingga di garis bibir, berasa bibir Tao Ming Tse.

Dengan rasa ingin tahu yang tinggi, gue ambil sampel bibir cewe gue dengan cara, pada saat fk, bibirnya gue gigit kecil dengan gigitan halus tanpa sepengetahuannya. 0,0023mili kulit bibirnya telah gue dapatkan. Berlagak peneliti bibir jenius lulusan Harvard, gue cemplungin ke dalem gelas cangkir berisi aqua, gue bawa ke laboraturium jadi-jadian. Setelah melihat hasil, gue tereak klimaks; “MIAPAAH?!!”

Seperti hasil dari penelitian ini mampu mempengaruhi kalender suku Arya yg berakhir di 2012 jadi mundur berapa taun lagi. Masih menghela nafas panjang seolah gue baru aja menemukan salah satu pertanda bahwa kiamat sudah dekat. Akhirnya gue ambil kesimpulan, satu menit saja fk dengan cewe gue sama seperti minum 1 botol Mizone yang di blend sama 5 buah kiwi madu dan dua pisang sunpride juga stengah sendok rum. Hasilnya: kandungannya benar-benar setara. Intinya i’m lucky i was experience her lips.

Sekian cerita tentang bibir yang menurut gue cukup penting, thank you for your attention!

Kembali ke benang merah.

Kembali ke dalam fakta perselingkuhan yang tertangkap di detik-detik akhir hubungan. Bahwa dia mulai kenal tepat 1 minggu setelah kita sepakat pacaran, kerjasama hubungan pacar yang melewati frase gemesnya tarik-ulur yang bikin deg-degan, ditambah penembakan jarak jauh antara Bali dan Jakarta yang harus melalui media yang paling jantan (baca: nembak cewe by phone, sms, bbm berarti harus di sunat lagi) dan media yang paling oke, ya cuma SKYPE yang entah sudah diatur sutradara (signalnya tumben lancaarr? biasanya ngadat, ngeleg) ngga kebayang kalo pas gue nembak trus keputus, trus ulang lagi dari awal, trus malah jadi salah paham, trus ulang lagi dari awal. Bisa mati gemes.

Singkat cerita, kita deal pacaran! 🙂 Bahagianya. Ganti status di FB dengan bangga, orang se-keren se-biasa gue bisa di dampingi perempuan sangat luar biasa seperti dia, saat itu keadilan Tuhan terasa nyata.

Sedikit ngga percaya, apa gue Skype-genic ya? (bertanya dalam hati) atau pembawaan gue yang lagi deg-degan, nervous, telapak tangan terasa dingin dan becek, dubur berminyak, kedua kuping terkena gejala tremor (gejala langka, karena biasanya terjadi pada telapak tangan yang selalu bergetar halus, tapi ini kok dikuping?) dan gue bisa ngerasain pangkreas gue ngilu (?lebih langka?). Semua gejala itu dijadiin satu, dan di kemas dengan serba apa adanya yang coba gue sampikan lewat percakapan sederhana.

Hasilnya: Gejala yang ditangkap oleh i-pad di seberang pulau sana berkata lain, pembawaannya mungkin ya? jadi keliatan bijak + kemungkinan kalo gue itu skype-genic = diterima 🙂 anyway ngerasa ngga sih jadi merembet kemana-mana? biar ga bertele-tele. Sekarang gue mau serius.

Serius!

Gue rubah dikit cara gue menyampaikan isi dalam tulisan ini, langkah besar yang gue ambil yaitu; merubah penyebutan diri dari “gue” menjadi “aku”. Enjoy the difference.

Aku di tampar fakta-fakta yang membelalakan mataku. Fakta bahwa hubungannya dengan lelaki lain itu hampir seumur hubunganku dengannya, aku hanya selisih seminggu lebih dulu mencuri start, yang mungkin membuat dia kembali ke dunianya yang labil, yang mungkin menuntunnya kedalam permainan hati ini. Membuatnya bertanya-tanya dalam hati; apakah status yang terkesan terlalu cepat ini adalah yang terbaik bagi dia? Dia punya hak untuk memilih siapa yang pantas untuk mengisi sebagian besar hari-harinya.

Mungkin pria itu punya segalanya, yang aku belum memilikinya, atau mungkin dengan perubahan itu semua, bisa mengubah aku menjadi layak untuk paling tidak, pantas bergabung dalam lingkungannya?

Semua itu cuma terkaan orang depresi karena sakit hati. Jangan pernah berubah atau berkorban untuk orang yang ngaku cinta sama kita, karena orang yang mengaku cinta dengan kita, tidak akan pernah rela melihat kita menderita dalam pengorbanan.

Aku bukan sedang berlagak manusia yang paling mengenal dia, tapi terkadang dalam suatu hubungan, ada waktunya kita tidak perlu berbicara satu dengan yang lainnya untuk menyampaikan isi hati. Aku tidak menyebut ini sejenis dengan ilmu telepathy. Bila kita kenal hati dari pasangan kita, terkadang di dalam diam, kita tahu apa yang ingin diutarakan yang secara tidak langsung; tubuhnya berbahasa dan bahasa tubuhnya telah menjelaskan semuanya.

Anyway, it’s been a great experience for me so far. Seinget gue, kalimat terakhir yang dia sampaikan setelah baca tulisan ini; “Thanks for the beautiful story”.

Yet, seharusnya gue berterimakasih. “Thanks for making the story beautiful”.

~The birds they sang~

~Break of  day~

~Start again i hear them say~

~Its so hard to just walk away~

~~~

Sepenggal lirik ‘Up with the Birds’ Coldplay melantun menjadi teman yang menyemangati gue sambil nulis kisah kegagalan ini. Kegagalan hubungan gue dengan orang yang paling gue cinta yang bernama Kesia (its sounds dangdut), but you know that you truly love someone when you’re willing to leave everything behind just in order to be with them. Ok, apa yang mau gue sampein ke pembaca dari kegagalan ini: kita ngga punya banyak waktu buat belajar dari kegagalan sendiri. Maka itu, belajar juga dari kegagalan orang lain. There’s a lot more to say, but so far i think there’s a lot to take in. It is a learning process for me as well.

———————————————  ~ ~ ~  ———————————————

: Komentar, kritik dan saran sangatlah diterima. Silahkan klik kolom [Comments] di bawah, atau bisa langsung ke alamat email: moussaaskey@yahoo.co.id

Kekasihku Kupu – Kupu


Beautiful and graceful, varied and enchanting, small but approachable, butterflies lead me to the sunny side of my life.

Dia yang terbang. Dia kupu-kupu yang berenang. Dan aku, adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang.

Dia menatapku dengan pancaran mata riang, temannya yang peramal menyatakan dia itu tabir, yang berbinar riang walau mungkin lain dalam hatinya. Syahdu meliputi butir-butir terik matahari yang jatuh menimpa tubuh kita melalui kaca mobil dalam perjalanan yang diam-diam menggelinjang.

Dia mengganti sinar bulan yang tidak hadir malam itu. Kita menikmati deru ombak diiringi samar suara musik dari kafe di kejauhan pantai yang saling berebut perhatian. Ada satu pecahan jatuh tepat di antara bibirku yang tengah berjuang tentang perasaan hati saat ini. Seolah dengan sengaja ingin berenang dalam perasaan senang yang aku tahan beberapa minggu terakhir.

Dia kupu-kupu, melayang-layang di halaman kepalaku, menari-nari dalam mataku, dan warna-warni sayapnya menumpahi hari-hari biasaku.

Dia kupu-kupu, yang menghargai masa laluku, baik dan buruk.

Dia kupu-kupu, yang membuatku berpikir sekali lagi, bahwa tidak perlu pesimis dengan kejauhan. Karena kupu-kupu ini akan tetap kembali bermain di halamanku.

Sekarang, kupu-kupu itu telah menjadi kekasihku.

~~~

The Art of Moving On

If you are brave to say “Good bye”, life will reward you with a new “Hello”


If you are brave to say “Good bye”, life will reward you with a new “Hello”

Aku mau bermain-main dalam kepalaku sebentar, mengingat sedikit dari beberapa pegalaman, dan masuk kedalam fase yang manusiawi, fase dimana saat harus meninggalkan sesuatu yang berharga_sesuatu yang hampir tidak bisa ditinggalkan. Pada awalnya aku menjadi manusia bingung, terus mencari apa yang salah dari diriku, apa yang terlewat yang aku tidak perhatikan, dan akhirnya aku mau belajar untuk melupakan untuk meneruskan hidup.

Umumnya orang baru sadar betapa berharganya hal yang dia miliki, justru ketika hal itu sudah hilang dari kehidupannya. Aku percaya bahwa, kamu (pembaca) pernah masuk dalam fase kehilangan dan pencarian, itu sebabnya sangat penting untuk membiarkan hal-hal tertentu berlalu.

Lepaskan saja. Biarkan. Orang perlu mengerti bahwa hidup ini tidak pasti; kadang kita menang, kadang kita kalah. Jangan harapkan imbalan, jangan harapkan pujian atas usahamu, jangan harapkan kejeniusanmu dikenal orang atau cintamu dimengerti. Tutup lingkarannya. Bukan karena gengsi, ketidakmampuanmu, atau arogansi, tapi karena apapun hal itu sudah tidak sesuai lagi dengan hidup kita. Tutup pintu, hapus catatan, bersihkan rumah, buang debu. Berhentilah menjadi diri kita yang dulu dan jadilah diri kita yang sekarang.

Aku tahu tidak semudah itu, karena akupun sedang  mengalaminya. Selalu saja kita menghadapi satu titik dimana kita menyerah untuk Move On, titik dimana kita tidak bisa maju_satu langkahpun, selalu ada kejadian dalam hidup kita yang menghalangi kemajuan kita: suatu trauma, kelelahan yang sangat menyakitkan, kekecewaan pada suatu hubungan yang tidak berjalan dengan semestinya, bahkan kemenangan yang tidak kita pahami, bisa membuat kita menjadi pengecut dan menghalangi kita bergerak maju.

Aku pernah mendengar cerita seorang teman yang baru saja berpisah dari pasangannya, katanya; “Sekarang aku bisa menikmati kebebasan yang selalu aku impikan”. Tapi itu bohong. Tak seorang pun yang menginginkan kebebasan semacam itu. Kita semua menginginkan teman hidup_lebih dari sekedar teman. Kita semua ingin ada seseorang disisi kita untuk menikmati keindahan pantai di Bali atau gunung-gunung di Kintamani, untuk membahas buku, film, lagu-lagu, atau bahkan hanya untuk berbagi sehelai selimut tipis dalam kedinginan malam.

Lebih baik kelaparan daripada kesepian. Karena kalau kita kesepian, dan yang saya maksud adalah kesepian karena terpaksa, bukan atas pilihan sendiri, kita akan merasa seakan-akan bukan lagi bagian dari apa-apa, tapi berada bersama orang lain dan membuat kita merasa seakan kita tidak penting dalam hidup mereka lagi, adalah jauh lebih buruk daripada merasa sendirian dan kesepian.

Ada lagi yang mau aku tambahkan dari tulisan ini. Setelah kita berhasil melupakan masa lalu, dan meninggalkan sesuatu yang sulit ditinggalkan. Sebelum kita mencintai orang lain, sebaiknya kita tahu dan memahami diri kita sendiri terlebih dahulu.

Mungkin kalau bisa aku gambarkan seperti ini; Seseorang yang aku cintai bukanlah orang yang menggenapkan setengah lingkaran yang  aku punya. Aku harus menjadi utuh satu lingkaran terlebih dahulu dan dia juga merupakan lingkaran yang utuh. Jadi bukan dengan berkata “Aku tidak bisa hidup tanpamu” melainkan “Aku lebih suka hidup bersamamu”.

“Move on. It’s just chapter of past. Don’t close the book, just turn the page.” 🙂

26 things for my 26 years

 You learn something every year if you really pay attention.


1. I’ve learned-
that no matter how much I care, some people just don’t care back.

2. I’ve learned-
that it takes years to build up trust, and only seconds to destroy it.

3. I’ve learned-
that no matter how good a friend is, they’re going to hurt you every once in a while and you must forgive them for that.

4. I’ve learned-
that it’s not what you have in your life but who you have in your life that counts.

5. I’ve learned-
that you should never ruin an apology with an excuse.

6. I’ve learned-
that you shouldn’t compare yourself to the best others can do.

7. I’ve learned-
that you can do something in an instant that will give you heartache for life.

8. I’ve learned-
that it’s taking me a long time to become the person I want to be.

9. I’ve learned-
that you should always leave loved ones with loving words. It may be the last time you see them.

10. I’ve learned-
that we are responsible for what we do, no matter how we feel.

11. I’ve learned-
that either you control your attitude or it controls you.

12. I’ve learned-
that the hottest love has the coldest end.

13. I’ve learned-
that money is a lousy way of keeping score.

14. I’ve learned-
that my best friend and I can do anything or nothing and have the best time.

15. I’ve learned-
that sometimes the people you expect to kick you when you’re down will be the ones to help you get back up.

16. I’ve learned-
that sometimes when I’m angry I have the right to be angry, but that doesn’t give me the right to be cruel.

17. I’ve learned-
that true friendship continues to grow, even over the longest distance. Same goes for true love.

18. I’ve learned-
that just because someone doesn’t love you the way you want them to doesn’t mean they don’t love you with all they have.

19. I’ve learned-
that maturity has more to do with what types of experiences you’ve had and what you’ve learned from them and less to do with how many birthdays you’ve celebrated.

20. I’ve learned-
that your family won’t always be there for you. It may seem funny, but people you aren’t related to can take care of you and love you and teach you to trust people again. Families aren’t biological.

21. I’ve learned-
that it isn’t always enough to be forgiven by others. Sometimes you are to learn to forgive yourself.

22. I’ve learned-
that no matter how bad your heart is broken the world doesn’t stop for your grief.

23. I’ve learned-
that just because two people argue, it doesn’t mean they don’t love each other. And just because they don’t argue, it doesn’t mean they do.

24. I’ve learned-
that two people can look at the exact same thing and see something totally different.

25. I’ve learned-
that the people you care about most in life are taken from you too soon.

26. I’ve learned-
that people will forget what you said, and people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.

~~~

Dear Samantha

“Anything i’ve done up till 10 April 2008 was kind of an illusion, existing without living. My daughter, the birth of my daughter, gave me life.”


“Anything I’ve done up till 10 April 2008 was kind of an illusion, existing without living. My daughter Samantha. The birth of you, gave me life.”

My greatest accomplishment, and my greatest pride and joy are my daughter (Maisha Samantha Askey). You are truly my greatest success.

Dear Samantha,

Daddy wants to share you something that you missed when you are too young to know and understand.

There is no difference between you and daddy, still there exists something that makes our relation between a father and daughter very special, even when i’m not on your side.

In this world, so many men and women had tried to imprison the love of they relationship in action and result was some very remarkable compare the love from father to his daughter_the love that daddy gives to you.

I know that you are my mirror image can, somehow, survive in the harsh world that exists on the other side of the doorstep. In my view to being a man and once a child, knows through my personal experience, realize something; what is waiting for my little angel?.

However, i can not fathom and understand, being a man, how my little angel is going to fare and face the realities of life without me. This makes me insecure and this feeling overshadows our relationship.

It makes me protective towards you. For me, you never grows up and is always, the small girl who depended on me for anything, or just to fix a broken hand or a leg of your doll, teach you how to ride bicycle, give my shoulder to cry on and to hug.

Just listen my advise; “Focus on God, not on your weakness.”

Someday, i have faith that we will be together as it was before, as a little warm family.

I’ll be there. 🙂

“What i wanted most for you was that you be able to soar confidently in your own sky, whatever that may be.” ~Daddy

~ ~ ~

Sonador the Goddes of Night

Penantian seorang manusia kepada sosok Dewi malam.


Sonador the Goddes of Night

Penantian seorang manusia kepada sosok Dewi malam.

Catatan Penulis

Cerita dalam tulisan ini terinspirasi dari kisah para Dewa dalam kepercayaan Yunani kuno. Dewi malam dalam mitos Dewa-Dewi Yunani bernama Dewi Nyx, nama Sonador saya ambil dari istilah dalam bahasa spanyol yang berarti “dreamer” atau “pemimpi”, dan nama Michel de Nathan yang terinspirasi dari seorang yang menjadi guru besar dalam ilmu astronomi dan astrologi, yaitu Nostradamus. Semua tokoh dalam cerita ini adalah fiksi dan murni dari hasil “Chimera” (baca: Chimera) dalam kepala saya.

Persembahan

Tulisan ini kupersembahkan untuk kekasihku, yang menantangku untuk membuat tulisan tentang “Penantian”. Semoga kamu suka sayang.

Sonador the Goddes of Night

Malam, bintang ke 999

Pria itu membakar kayu untuk membuat perapian dalam rumahnya, membuatnya paling tidak sedikit lebih hangat dari cuaca dingin dan semakin dingin karena dinding–dinding rumahnya terbuat dari batu. Dia melanjutkan tulisannya lagi, melanjutkan puisi–puisi, dan visualisasinya dalam melihat bintang–bintang berikutnya. Melihat masa depan. Tetapi kali ini dia sangat berbeda, tangannya gemetar, nafasnya tidak berirama dan tumit-tumit kakinya yang selalu di goyangkan naik-turun. Dia terlihat sangat khawatir.

Dia menjadi sangat khawatir karena penantiannya kepada sesosok Dewi. Dewi malam yang dahulu pernah hadir dalam setiap malam-malamnya. Dia menjadi satu-satunya manusia yang pernah bertatapan dan bercakap langsung dengan sesosok Dewi malam itu.

Pria itu bernama Michel de Nathan, lebih dikenal sebagai Mikha. Dilahirkan pada bintang ke 900, di St Hills de Provence, desa yang terletak sangat jauh dari pemukiman. Dia adalah seorang penulis dan dapat melihat perjalanan waktu hidup dalam dua realitas. Dia juga ahli dalam astrologi dan astronomi. Dia menggunakan ilmu untuk menafsirkan visi-visi rahasia yang dia tuangkan pada buku-buku yang tertumpuk di meja kayunya.

Rumahnya terletak di kaki bukit, dikelilingi pohon pinus tua, dan dia hanya tinggal sendiri disana. Di atas meja kayu walnutnya itu, dia memperkirakan beberapa peristiwa sejarah yang paling monumental dari beberapa bencana besar yang terjadi diseluruh peradaban di bumi, orang-orang menganggapnya sebagai nabi Azab. Orang tuanya adalah keturunan sederhana dari sekitar desa. Mikha adalah anak tertua, dan memiliki empat saudara, sejak remaja adik-adiknya sudah memilih jalannya masing-masing, mereka merantau ke kota-kota besar dan berpencar ke segala penjuru dunia.

Kembali dalam kekuatirannya, dan dalam hubungannya dengan sosok Sonador, Dewi malam.

Mereka pernah saling bercerita selalu disaat malam tiba, kira-kira saat itu adalah malam bintang ke 936, hitungan 1 bintang pada masa itu sama dengan hitungan 1 tahun pada saat ini. Wujud Dewi malam yang cantik terbentuk di langit, terkadang seperti sekumpulan awan yang menyatu dengan sekumpulan bintang, seperti lukisan Tuhan yang paling indah ada di langit pada malam Sonador menampakan wujudnya.

Pada malam pertama dalam bintang ke 936, Sonador masuk kedalam mimpi-mimpi Mikha, itulah kali pertama mereka berinteraksi, dalam mimpinya Sonador memberi pertanda.

Dalam kata-katanya yang lembut.

“Mikha, pergilah ke bukit bintang esok malam, bawalah beberapa puisimu yang indah itu” ucap Sonador.

Mendapatkan pertanda, atau imajinasi visualisi di dalam mimpi bukanlah hal baru baginya, dalam beberapa tulisan, puisi dan ramalan yang dia buat, sebagian besar memang berasal dari sana.

Keesokan malam, Mikha berdiri di depan meja kayunya, mempersiapkan beberapa puisi untuk dibawa kebukit, sambil bertanya-tanya dalam hati, siapakah sosok perempuan cantik dalam mimpinya itu. Dia mengira sosok itu adalah malaikat mimpi, tetapi dia ragu. Mikha melangkahkan kakinya menuju hutan, jalur yang harus dilewati bila dia mau pergi ke bukit bintang. Walau dalam suhu yang teramat dingin, keringat halus masih bisa menggenang di antara kerutan di dahinya, tetapi dia terlihat sangat bersemangat. Setibanya di bukit, dia memilih untuk duduk bersandar pada sebuah pohon pinus besar, dan menonggakan kepalanya ke langit untuk melihat pertanda itu, dia menunggu.

Di dalam penantiannya akan pertanda, dan dalam kesunyian malam itu mikha membuat puisi baru, dia membuat puisi tentang “malaikat malam”, Isi puisi itu;

~ ~ ~

“Where did you come from ? Out of the everywhere into here.

Where did you get your eyes so blue? Out of the sky as I came through.

What makes the light in them sparkle and spin? Some of the starry spikes left in.

Where did you get that little tear? I found it waiting when I got here.

What makes your forehead so smooth and high? A soft hand stroked it as I went by,

What makes your cheek like a warm white rose? I saw something better than anyone knows.

Whence that three-comer’d smile of bliss? Three angels gave me at once a dreams. 

Where did you get this pearly ear? God spoke, and it came out to hear.

Where did you get those arms and bands? Love made itself into hooks and hands.

Feet, whence did you come, you darling things? From the same box as the cherubs’ wings.

Where did you get that dimple so cute, God touched my cheek as I came through.

How did they all come just to be you? God thought of me, and so I grew.

But how did you come to me, only in my dreams? God thought of you, and so I am here, waiting for you.”

~ ~ ~

Tiba-tiba, terkumpulah awan, merangkailah bintang-bintang, sosok itu hadir lagi, perempuan cantik itu lagi. Tetapi kali ini tidak dalam mimpi.

“Mikha, sahabat malamku. Aku adalah Sonador, akulah perangkai langit, pembentuk bintang-bintang, penyusun awan. Akulah yang memberi cahaya pada bulan, dan akulah Dewi malam.” Sonador menyapanya.

“Aku juga yang selalu merangkai cerita dalam mimpi-mimpimu, juga mimpi-mimpi seluruh umat manusia. Tetapi, dalam semua kemampuanku itu, aku merasa seperti bukanlah seorang Dewi bagimu, aku seperti sederajat, bahkan lebih kecil di antara tulisan dan puisi-puisi indahmu itu.” Ucapnya lagi.

Mikha duduk tertegun, melihat sosok Sonador. Melayang-layang di langit, dan langit sebagai latar belakangnya sepeti kain bludru dan terhampar bintang yang menyerupai koin-koin perak. Sangat indah.

Pertemuan malam itu berlanjut terus menerus. Mikha berbagi puisi-puisi indahnya, sementara Sonador berbagi cerita tentang Dewa-Dewi di langit. Memberi inspirasi bagi setiap tulisan juga puisi. Dan hubungan antara Dewi dan manusia itu berlangsung sangat lama hingga pada suatu waktu. Malam bagi Mikha telah hilang, Sonador tidak pernah menampakan wujudnya lagi, tidak dalam rangkaian langit ataupun rangkaian mimpi.

Rupanya Sonador, Dewi malam itu telah dihukum oleh para Dewa, atas pertemuannya dengan manusia. Sonador dihukum selama waktu yang dirahasiakan. Tetapi beberapa hari setelah lenyapnya sosok Sonador dalam hidup Mikha. Pada suatu malam Sonador berbisisk dalam mimpinya.

“Mikha, Aku akan datang lagi pada suatu bintang didepan sana, tunggulah aku.” Bisikan lembut Sonador di dalam mimpi Mikha.

Mikha melalui harinya melewati bintang demi bintang dengan satu tujuan, menanti pertemuannya lagi. Tetapi saat ini tubuhnya semakin tua, pengelihatanya rabun dan kakinya yang sudah tidak berfungsi dengan baik lagi, langkahnya tertatih berat dan sangat membutuhkan tongkat untuk keseimbangannya. Dalam kondisi yang sangat mengenaskan, Mikha tetap membuat puisi tentang Sonador setiap hari, hingga saat ini, dengan berharap pertemuannya dengan Sonador dapat terjadi lagi, baginya waktu bukanlah masalah.

Malam bintang ke 1000

Langit malam itu sangat tenang, tidak berawan dan juga tidak berbintang. Tidak jauh berbeda dengan ketenangan yang ada di dalam rumah Mikha. Mikha hanya terbaring lusuh di atas tempat tidur kayunya, obat-obatan dijejali ke mulutnya agar mengurangi rasa nyeri disekujur tubuhnya. Dia juga sudah tidak sanggup lagi untuk berjalan ke bukit bintang. Bahkan dia sudah tidak sanggup berdiri dari tempat tidurnya. Ahli pengobatan di desannya memperkirakan bahwa hidup Mikha mungkin tidak akan lama lagi, bukan karena penyakit langka atau kutukan. Dia hanya sudah terlalu tua. Tumpukan buku-buku dan beberapa kertas kosong terlihat sudah berdebu di meja kayunnya, botol-botol tintapun sudah tidak dapat digunakan lagi karena tinta yang sudah membeku. Mikha terbaring dengan selimut kulitnya, matanya menerawang ke sudut-sudut ruangan sambil menghemat nafasnya. Tiba-tiba,

“Tok-tok” suara ketukan pintu kayu rumahnya.

“Siapa di sana? pergilah saya tidak akan menerima tamu” ucap Mikha dengan ketus.

Orang itupun dengan lancang masuk kedalam rumahnya, duduk di samping tempat tidurnya dan mengusap dahinya dengan lembut. Dia adalah perempuan yang sangat cantik, tangannya sangat hangat. Tangan yang lain memegang secarik kertas yang bertuliskan puisi buatannya, Mikha tersenyum bahagia. Menyadari bahwa dia masih bisa bertemu sosok itu lagi walau di detik akhir penantiannya. Perempuan itupun membacakan puisinya sebagai lantunan penghantar kepergian mikha pada malam itu.

~ ~ ~

“I am the Goddes of the Night

Whose flaming wheels began to run

Whose come to earth to be human

When God ‘s almighty breath

Said to the darkness and the Night,

Let there be light! and there was light.”

~ ~ ~

Akhirnya malam itu Mikha menghembuskan nafas terakhirnya. Sosok perempuan cantik itu adalah Sonador. Setelah dihukum puluhan bintang dia dilempar ke bumi dan rela menjadi manusia untuk bertemu kembali dengan sahabat malamnya, Mikha, walau dia tau bahwa itu pertemuan terakhirnya.

~ ~ ~

Sonador Dewi malam hadir pada malam seribu bintang. Istilah malam seribu bintang dikenal bagi orang-orang jaman sekarang adalah malam yang panjang_tentang waktu. Tetapi bagi saya malam itu adalah malam yang penuh dengan penantian, tentang keindahan malam, tentang persahabatan dan kesetiaan.