She’s My Black Artist


Di dalam kepalanya seperti ada malaikat hitam.

painted_ladies__twilight_dancer

Dengan tiba-tiba dia menggerakkan tangan. Membuatnya meraih cat minyak yang hanya berwarna hitam. Lalu ke atas kanvas dia torehkan. Tapi mendadak dia terpaku diam. Depresi. Meyakinkan hati, bahwa semuanya itu benar, semua tidak ada aturan dan segalanya dibolehkan. In the end, everything is just an art.

~ ~ ~

Tangannya lunglai bergerak di atas kanvas. Menyalurkan apa yang tersirat dari benak. Terkadang dia menggerak-gerakkan tangannya dengan kasar sampai kanvas terlempar dari meja walnut itu. Dengan sengaja dia injak kanvas yang sudah menyerah di lantai tanpa perlawanan itu, dan dengan kuas ukuran besar diputar-putarnya cat hitam sampai hampir keseluruhan bidang putih tertutup. Hitam! Hanya warna itu yang ingin dia lihat. Namun kemudian dia mundur teratur ketika dilihatnya yang tersisa dari bidang kanvas putih itu berbentuk gambar serupa langit kelam. Inikah malaikat hitam yang mempengaruhi jari-jemarinya di atas kanvas?

Dia merasa geraknya yang bebas berubah menjadi terbatas. Justru ketika aku muncul tiba-tiba dengan lukisan berwarna merah darah. Membuatnya sedikit terkejut akan warna merah darah yang justru lebih terkesan sisi depresinya dibandingkan dengan warna hitam itu. Menyanyikan luka. Walaupun bukan warna merah darah yang sebenarnya, luka bagaimanapun adalah luka yang mungkin tidak bisa sembuh selamanya. Luka, karena apa yang selama ini diajarkan dan dianggapnya benar ternyata salah. Hitam bukanlah luka.

Seketika dia kehilangan kendali atas alam pikiran dan jiwanya sendiri, karena kehadiran lukisanku yang menempel di kanvas itu mengingatkan pada kesalahannya. Semula dia hanya ingin menyiksa kanvas putih itu dengan warna hitam saja. Menginjak-nginjak supaya hitam itu pecah berberai tak lagi menyatu seperti luka yang masih bertahan dalam hatinya. Jika pada akhirnya yang tercipta justru hanya warna hitam polos, yang tidak berarti apa-apa, dia sama sekali tidak menyangkanya.

Kenapa yang muncul justru harus salah satu lambang monoteisme yang selama ini dia anggap hanya membodohi manusia? Tidak terima, dia ambil cat putih dan dengan keyakinan tinggi dan hanya dengan satu garisan dia lengkapi kanvas hitam tersebut menjadi sebuah garis terang yang sempurna. Dia diam sejenak dan merasa ada sesuatu yang masih salah, dengan kanvasnya, dengan dirinya, dengan semuanya.

Garis putih di depannya itu menatap beku. Persis seperti tatapan mata orang-orang dalam kenangannya dulu. Tidak ada bola hitam di kedua mata mereka kala itu. Hampir menyerupai Hanibal Lecter yang pernah dia lihat di layar televisi. Membuat bulu kuduknya pun mau tak mau berdiri. Masih jelas benar mata-mata tanpa bola mata hitam itu merusak dosis anti depresan yang telah membantunya.

Dia tidak tahu apakah harus merasa bersyukur atau menyesal karena bertemu denganku. Untuk apa hidup jika hanya untuk membuat luka baru yang dari hari ke hari semakin infeksi. Dia ingat bahwa perasaan itulah yang membuatnya jadi pelukis. Untuk menyampaikan kenyataan. Tapi tidak jarang juga sebagai sarana untuk menghapus kenangan. Kenangan tentang laki-laki yang dia tinggalkan tanpa perasaan. Dia bercerita kepadaku; “aku meninggalkan seorang pria tanpa pamit setelah pria itu memberiku cincin untuk meminangku, aku lari bersama cincin berlian itu dari Moscow ke Bali hanya untuk menghibur diri bahwa aku perempuan paling bajingan di usiaku saat itu”. Ucapnya.

Dia menatap kembali garis putih yang sempurna di atas kanvas. Rahangnya pun mengeras. Diraihnya kuas yang lebih besar dan dicelupkannya ke cat hitam. Lagi. Dipulasnya garis putih yang sudah sempurna itu dengan geram. Kini kanvas itu sudah benar-benar hitam legam. Dengan penuh kepuasan, dia lepas kuas yang digenggam. Dan betapa kagetnya dia ketika melihat ke telapak tangan yang sudah dipenuhi bercak hitam.

Aku katakana kepadanya; “tidak pernah ada aturan garisan warna dalam kanvas, semuanya di benarkan. Orang tidak perlu mengerti apa arti dalam kanvas itu, kamulah satu-satunya orang yang paling tahu maksud atau arti dari isi dalam kanvas itu. Anyway, I like the way you’ve paintings” ucapku.

Mata birunya melihat tepat ke tengah-tengah retinaku.

“I’m afraid to fall in love with you moussa” ucapnya.

“Me too olga, but you have to know that i have bad track record in love. I do, and I’m an asshole.” Jawabku

“I’m bitch smile, but i really like you very much. I don’t care you are an asshole.”

“What a beautiful mess this is” kalimat yang terucap di dalam hati.

Dan kita terdiam dalam keheningan, bersama lukisan-lukisan kita. Dia bersama dengan pikirannya tentang aku dan segala tulisan yang telah aku buat. Aku bersama dengan pikiranku tentang dia si pelukis hitam.

~ ~ ~

Advertisements

Author: Moussa Askey

It sounds easy, but it is not. I know because i am writing my first book: "Begin at the beginning and go on till you come to the end: then stop" (Alice in the Wonderland)

2 thoughts on “She’s My Black Artist”

  1. You could definitely see your expertise in the work you write. The arena hopes for even more passionate writers like you who aren’t afraid to mention how they believe. Always go after your heart.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s