How to Catch a Falling Star


One of a million lights in a vast sky that flares up for a brief moment, only to disappear into the endless night forever.

Untuk pertama kalinya gue akan bercerita tentang sejarah “sesuatu” dalam hidup gue. Bukan karena cerita itu sangat penting dan besar, tapi justru karena kesepeleannya yang membuat gue sadar.

Seminggu terakhir ini gue lagi rutin banget dengerin lagunya Eva Cassidy yang judulnya Somewhere Over the Rainbow. Sebagai buktinya, lagu ini ada di peringkat satu di Itunes laptop gue dengan 117 kali play (masih di puter sampe sekarang). Sangat jauh bila dibandingkan dengan peringkat ke-dua yang di duduki Tak Pernah Padam-nya Sandhy Sandoro, cuma 29 kali play (bentar lagi padam beneran nih lagu). Intinya, lagu yang gue denger, ngga pernah kontras sama isi pikiran gue saat itu, bahwa gue masih mikirin “sesuatu”, sesuatu yang berhubungan dengan bintang jatuh. (mungkin “sesuatu”-nya Syahrini lebih populer di dengar, tapi sumpah, yang ini beda), here goes;

Dulu gue pikir bintang jatuh itu adalah sebuah bintang yang lagi show up ke sesama bintang lainnya, masuk ke bumi dan mengeluarkan cahaya, dan kembali ke masa lebih jauh lagi bintang jatuh itu adalah Son Go Ku sama Picolo lagi ngadu kame-kame-ha. Yak, seperti biasanya pikiran gue itu cukup terbelakang di banding dengan anak-anak seumuran gue pada jamannya. Setelah beranjak dewasa, setelah telapak tangan gue sudah tidak berkeringat lagi saat bergandengan dengan pacar, dan setelah menyadari bahwa dunia dewasa ini lebih membuat tubuh gue memproduksi lebih banyak lagi keringat pada saat bersama pacar. Akhirnya gue baru tau bahwa bintang jatuh itu adalah sebuah benda langit yang melintasi bumi, dan oleh fenomena alam yaitu gesekan pada atmosfer membuat benda itu mengeluarkan cahaya, yang mana biasa kita sebut sebagai meteor. Thanks to Google.

Satu hal yang selalu membuat gue tergelitik penasaran, yaitu mitos tentang terkabulnya sebuah permintaan ketika melihat bintang jatuh. Beberapa orang yang percaya dengan mitos itu biasanya langsung make a wish. Kalau mitos itu memang benar adanya, mungkin tadi malem gue udah jadi Aladin. Bedanya, Aladin ngandelin ‘lampu ajaib’nya sambil ngelus-ngelusin lampu ajaib itu, nah gue ngelus-ngelus ‘genteng kos-kosan’ berharap agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti; jebol.

Kembali ke “Sesuatu”,

“Sesuatu” yang terlintas di pikiran gue waktu lihat bintang jatuh malem tadi. Sambil dengerin Eva Cassidy, kedinginan di atas genteng, was-was gentengnya jebol, dan parno kalau tiba-tiba gue ngeliat Lord Voldemort(sebutan keren-nya Leak).

Sesuatu yang sudah dua bulan terakhir gue coba lupain, sesuatu itu adalah; “impian yang hilang”. Seperti bintang jatuh, awal kemunculannya akan terlihat sangat terang, tapi cahaya itu akan meredup di akhir tujuannya, dan hilang.

Impian itu pernah di tawarkan oleh seorang perempuan di dalam hidup gue, perempuan yang menginspirasi gue buat nulis Butterfly, maybeshewill, Whole Hearted dan beberapa tulisan tulus lainnya setelah gue jadian sama dia. Kedatangannya, hanya menyinari hidup gue untuk sementara, dan akhirnya hilang untuk selamanya.

~ ~ ~

Kuta, 2 May, 2012 (20:47) Skype.

“Aku mau hubungan ini serius sayang, aku udah ngga ada waktu lagi buat main-main.” dia menjelasakan dengan lembut.

“Aku juga mau.” sambil menganggukan kepala gue, “umur aku sekarang, kayaknya waktu main-main sudah lewat. Kalau yang kamu maksud itu keseriusan untuk merried, walau baru dalam rencana. Paling lama tiga tahun lagi aku mau bawa kamu ke sana, jadi kamu ngga perlu khawatir. Jalani saja apa yang ada.” jawab gue serius.

“Itu masalah buat aku sayang. Tiga tahun yang kamu rencanain itu terlalu lama, aku ngga mau nunggu selama itu. Kamu tahu ngga berapa umurku tiga tahun lagi? Kamu tahu ngga berapa waktu yang akan terbuang kalau setelah sampai pada saatnya, tiga tahun itu, dan ternyata rencana itu ngga pernah terjadi? maksudku siapa yang tahu?” jawabnya.

“Apa yang aku rencanain, pasti sudah aku pikirin baik-baik, karena aku ngga mau gagal untuk yang kedua kali, aku yakin kamu tahu maksud aku. Tiga tahun yang aku rencanain itu buat ngumpulin uang, supaya semuanya jadi lebih nyaman. Kita ngga perlu memulai dari bawah sayang. Seperti yang kamu tahu, kondisi keuanganku sekarang belum bisa diandalin. Karirku memang berangsur-angsur membaik, dan aku baru bekerja di perusahan besar, begitupun karir model kamu. Menurut aku, inilah kesempatan kita, kesempatan untuk membangun suatu pondasi, dan ngga ada salahnya nunggu sesuatu yang pantas untuk di tunggu.”

“Aku ngga sepenuhnya setuju, maksudku buat apa nunggu kalau kita bisa wujudin dalam waktu dekat.” jawabnya sedikit kecewa.

“Gini deh, bayangin kalau kita married dalam waktu dekat, kamu ngga perlu mikir tentang yang jauh-jauh. Bayangin saja di awal kita memulai semuanya, contohnya seperti acara pernikahan. Sudah pasti kita mau tempat yang layak kan? Sudah pasti kita mau semua tamu puas dengan makanan yang kita siapakan, dekorasi gedung yang kita mau, dan gaun pernikahan yang bisa menjadi bahan pujian sebagian besar tamu. Aku ngga mau pesimis di sini, kita pasti bisa ke sana kalau kita percaya. Dan kalau berkat itu datang, aku ngga akan menunda-nunda lagi.” ucap gue.

“Kalau hanya pesta pernikahan yang jadi beban kamu, biarin itu jadi bebanku sekarang. Maksudku, aku bisa jual mobil, dan aku akan menggantinya dengan mobil yang lebih murah, jadi sisa penjualan mobil itu bisa kita pakai untuk pesta pernikahan yang layak, yang seperti kamu mau sayang. Gimana menurut kamu?” jelasnya dengan penuh semangat.

“Kamu ngga perlu sampai begitu, dan kalau aku mengamini rencana tulus kamu itu, aku akan menjadi laki-laki paling ngga berguna. Aku juga akan kehilangan percaya diri, dan tentu, dasar hubungan ini akan salah. Tapi, karena ini bisa bikin kamu bahagia, aku akan berusaha mewujudkan impianmu ini. Mimpi kita.” Jawab gue.

~Lagu Marry You-nya Bruno Mars berkumandang~

~ ~ ~

Hari berlalu, minggu menjadi bulan dan bulan menjadi tahun (ngga sampe setahun deng). Setelah menjalin hubungan hampir tiga bulan, setelah benturan keras terjadi di sisi otak yang menyimpan sekantung kesabaran dan dengan berjalannya waktu. Akhirnya kita sukses berpisah (baca: Sang of the Break Day). Berubah seolah kita ngga pernah saling kenal. Tidak pernah kenal. Pura-pura tidak tahu sama lipgloss favoritnya, pura-pura lupa dengan ciuman yang terjadi di saat mobil kita berhenti di setiap lampu merah di Bali. Perjanjian yang sangat aneh tapi tetep kita jalanin sampai sekarang.

Menarik nafas dalam-dalam lewat hidung, buang sedikit lewat pantat. (ngga sengaja)

Kutipan di atas adalah sepenggal mimpi yang gue alami belum lama ini, cahayanya persis seperti bintang jatuh yang baru muncul. Mimpi yang terlalu besar untuk di lupain gitu aja, lupa bahwa kita pernah berencana untuk bersama, dan lupa bahwa kita pernah sedekat apa.

Gue jadi sadar. Ketika “sesuatu” itu hadir dalam hidup gue; harapan, cinta, dan mimpi-mimpi gue itu hanya salah satu dari triliunan bintang yang jatuh. Gue ngga perlu make a wish, gue juga ngga perlu berdoa atau memberitakan keindahannya ke semua orang, biarin saja cahaya itu lewat untuk sementara, nikmatin cahayanya selagi ada. Dan kalau cahaya itu tiba-tiba hilang, gue tahu;

Cahaya itu, pasti akan jatuh melintas lagi.

~ ~ ~

If things are going good, enjoy them while they are here. If things are going bad, don’t worry it won’t last forever, because people change, and life goes on.

-gefeliciteerd met jou verjaardag-

Advertisements

Author: Moussa Askey

It sounds easy, but it is not. I know because i am writing my first book: "Begin at the beginning and go on till you come to the end: then stop" (Alice in the Wonderland)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s