Plot of Love


Plot of Love

Lovebirds, yang biasa kita sebut burung parkit, adalah salah satu dari sekian banyak burung di dunia yang menurut gue paling romantis. Menurut gosip-gosip yang menyeruak, katanya setiap burung Lovebirds itu hanya punya satu pasangan. Dan ketika salah satu pasangan mereka mati, pasangan yang ditinggalkan tidak lama kemudian akan mati juga karena sangat sedih. So sweet abis ya? Menurut gue burung Lovebirds juga lebih romantis daripada Anang – Ashanti. Dan, karena ke-sweet-an burung Lovebirds ini, dengan bangga gue jadiin primary picture yang mewakili setiap kata-kata sweet dari cerita ini.

Kata beberapa teman dekat, isi sebagian besar blog ini terlalu serius, galau, cinta-cintaan yang sekarang bisa berbunga-bunga, tapi besoknya bunganya jadi padang tandus, cengeng, childish, sok tahu tentang hidup, serasa paling tahu tentang cinta, gembel, STOP! (iya iya, udah jelas kok)

Tapi, semua komentar di atas ngga bikin gue berhenti nulis, justru bikin gue jadi ngerubah gaya nulis yang biasanya terkesan serius jadi lebih kasual dan enak di baca. Akhirnya disaat gue udah ngga galau mikirin cinta yang banyakan gagal daripada suksesnya, gue nulis Song of the Break Day dalam keadaan happy menari-nari, ngga serius-serius amat, ngga cengeng-cengengan, ngga ngambek-ngambekan, tapi tetep ngga gue lupain suasana sedih dari cerita nyatanya. Alhasil, banyak respon bagus dari beberapa temen dan saudara yang  terpaksa dengan senang hati baca blog gue. Singkatnya, gue dapet sesuatu dari sukesnya cerita terakhir itu, dan sekarang menulis cerita yang berjudul Plot of Love. Dimana suasana hati gue saat ini di ceritakan dengan sangat wajar dan tanpa kaca pembesar. Janji, ngga lebay.

Well, gue sedang jatuh cinta lagi (kaget dong!), dan gue ingin menulis tentang itu.

Now, this is the problem. Gue takut menulis tentang cinta lagi. You know, tulisan tentang cinta, adalah tulisan yang paling susah untuk ditulis. Karena, sangat susah menulis tentang cinta tanpa terlihat dangdut, corny, atau downright menya-menye. Gue ngga mau tulisan yang gue buat jadi terlihat seperti surat cinta mbak-mbak dan mas-mas pembantu rumah: “Kalau kamu jadi bunga, aku jadi lebahnya.” Atau, “Kalau kamu jadi lebah, aku jadi orang yang nimpukin sarang lebahnya… sengat aku sang lebah.” Bisa juga, “Kalau kamu jadi lubang di pohon, aku jadi burungnya.” (oke, kalimat terakhir ini agak ambigu, tapi yah sudahlah)

For me, what i have with you now, lebih dari analogi yang melibatkan binatang.

Tapi kalau mau dianalogikan, let me take a shot: falling in love with you is like; makan kacang kulit sambil nonton bola. Kuambil kacangnnya, kubuka kulitnya, kukunyah, kuambil, kubuka kulitnya, kukunyah, terus kuambil lagi, kubuka lagi kulitnya, dan kukunyah lagi. Namun, aku masih penasaran. Lalu kuambil lagi kacangnya, kubuka kulitnya, kukunyah kembali. Dan aku, tetap penasaran. Terus-terusan begitu, seolah di dalam kulit kacang ada door prize seminggu jalan-jalan bersama Megan Fox di Dubai. Gue bisa menyalahkan ini kepada sifat gue yang gampang ketagihan dan tidak pernah puas, atau kepada dia yang terus menawarkan cita-rasa yang tak kunjung habis. Atau, kepada keduanya.

Tuh kan, analogi kacang kulit gue juga masih belum se-sweet itu.

Maybe i can’t find cool analogies, pretty metaphors, or write a lovely dopey poem like i used to write before. Because i want this to be ultra simple, the most primitive form of telling how i feel: “I love you”.

Baiklah, sebentar lagi gue mau bercerita tentang cinta-cintaan (ngga bosen kan?), gue mau menggambarkan suasana hati gue yang, jujur, sedang berbunga-bunga, tapi seperti janji gue, gue ngga bakal bikin ceritanya jadi lebay. Hanya cerita sederhana tentang cinta, yang semua orang pernah mengalaminya. Agar lebih mengilhami, silahkan duduk cantik, siapin kacang kulit sama secangkir cappucino supaya ngga ngantuk. Selamat menikmati.

~ ~ ~

Seingat gue, kita ngga pernah merencanakan pertemuan pertama. Suatu waktu di minggu siang yang mendung, gue berkunjung ke suatu festifal seni lukisan di Ubud. Gue tertarik mengunjungi festival itu karena di tengah-tengah acara yang di fokuskan untuk membahas lukisan, terdapat seminar kecil yang membahas literatur/penulisan dan puncaknya adalah menampilkan beberapa penulis lokal yang menjadi pembicara.(asiik dapet ilmu gratis).

Selesai menghadiri seminar, gue menyinggahi beberapa stand lukisan dan berhujung pada salah satu galery yang kebetulan, itu adalah galery lukisan orang yang pernah gue kenal. Seorang yang gue kenal beberapa tahun lalu waktu gue masih bekerja di hotel ‘x’. Kita saling menyapa, saling menanyakan kabar dan membuka obrolan tentang hotel terakhir. Waktu itu dia menjalani cross-training di tempat gue bekerja, dan dia adalah anak dari salah satu owner pada hotel ‘x’ itu.

“Keren galery lukisannya, aku ngga tau kamu bisa melukis, dan lukisan kamu bagus-bagus.”

“Ah, kamu berlebihan.” sahutnya sambil melanjutkan menata bingkai-bingkai yang belum rapih.

“Lalu, bagaimana denganmu? aku baru baca blog kamu, kenapa ngga di jadiin buku aja sih? maksud aku, menurut penilaian orang awam sepertiku, kamu sudah cukup baik, bisa menyentuh orang dengan cerita dari setiap kegagalan itu.” ucapnya.

Gue kaget denger kalimat yang keluar dari bibirnya, bangga sih, tapi sebentar, gue ngga mau narsis berlebihan dulu, ngga ada waktu buat narsis saat itu.

“Wow, kamu pernah baca blog aku? Buku ya?” aku menggelengkan kepala sambil menjawab; “aku belum mikir ke sana, ini cuma hobby aja. Seneng deh kamu pernah baca blog aku.” Jawab gue sambil memasang tampang lugu. Terus dalam keaadaan yang sedikit ‘salting’ (nahan narsis), gue nanya balik; “Jadi, judul apa yang paling kamu suka di blog aku?”

“Mmh… Aku suka banget sama satu cerita fiksi tentang penantian. Kalo ngga salah, pertemuan manusia dengan dewi malam, dan kalau ngga salah judulnya ‘Sonador the Goddes of Night‘. Maaf ya, tapi aku agak menyayangkan judul itu hanya bagian dari puluhan cerita pendek lainnya. Menurut aku, judul itu layak kok untuk di jadikan buku. Maksudku, cerita itu hanya perlu di kembangkan sedikit.”

“Aku pernah dengar saran yang sama dari beberapa teman, dan kamu mungkin yang ke sembilan something (pemalsuan jumlah yang spontan). Kadang ada cerita yang memang lebih baik sampai di situ saja. Karena menurutku, cerita itu bisa terasa hambar kalau di kembangkan lagi. Tapi pasti aku pertimbangkan saran kamu.” Jawab gue.

“Aku suka banget lukisanmu yang ini.” Ucap gue, sambil menunjuk salah satu lukisan, dan pura-pura ngerti sama dunia seni lukis. “Kita harus kerja sama suatu saat nanti, mungkin aku akan mengawinkan bakat melukis kamu dengan kebutuhanku akan desain cover blog, atau mungkin cover buku pertamaku suatu saat nanti.” Gue melanjutkan sambil mengedipkan mata. (itu kedip, maksudnya apa coba?)

Dia tertawa kecil. “Tentu, dan kamu jelas harus menghubungiku di saat peluang itu datang, call me anytime.”

Selanjutnya.

Kita saling memberi kontak, besoknya ngebahas lukisan lewat bbm, minggu berikutnya kita janjian ketemu untuk makan siang di restoran ‘bebek tepi sawah’ Ubud, terus makan malam di ‘babi tepi jurang’ (ngarang) dan selanjutnya membahas buku di salah satu cafe di temani segelas cappucino panas. Di cafe itu kita mulai bercerita tentang hal yang tidak lagi berhubungan dengan tulisan atau lukisan, kita mulai nyaman membahas hal yang lebih pribadi, mulai dari;

“Bagaimana dengan keluargamu?” yang gue jawab santai dengan panjang lebar.

“Maaf, kenapa kamu mengahiri hubungan kamu dengan si model?” lemes dengernya, tapi harus di jawab, pertanyaan yang setiap bulan pasti muncul. Please bulan depan jangan ada yang nanya tentang ini lagi ooh Tuhan. Maaf mulai lebay. He eh ngga lagi.

“Apa kabar anak perempuanmu, Samantha?” yang gue jawab santai dengan panjang lebar.

Sampai ke;

“Berapa umur kamu sekarang? kamu belum kepikiran buat nyari temen hidup, maksudku, married?” pertanyaan ini cukup membuat wajah cantiknya merona. Saking cantiknya, jiwa mas-mas gue berontak mau nembak saat itu juga. Setelah bertempur habis-habisan, akhirnya gue memenangi pertarungan sengit melawan mas-mas di dalam diri gue, supaya ngga bertindak dangdut. Maaf atas ke-unyuan yang barusan terjadi.

Dan.

“Bagaimana denganmu, apa kamu ngga nyoba untuk masuk dalam suatu komitmen lagi, menikah lagi?” Gue ngga nyangka dia nanya balik, i was like WTF!? Gue menyembunyikan kepanikan dengan menjawab seadanya; “Kemarin-kemarin sih belum kepikiran, tapi semenjak ketemu kamu, pikiran itu muncul lagi, hahaha.” Kita tertawa kecil sambil menyeruput cappucino yang masih hangat.

Semua hujaman pertanyaan membuat kita semakin dekat, keterbukaan masing-masing mendisain suasana yang semakin nyaman lagi. Kenyamanan yang seolah berbahasa bahwa kita mulai saling membutuhkan saat itu.

Cuaca sore itu semakin gelap, tiupan angin dingin semakin terasa, membuat badan kita menggigil. Gue yang sudah janji untuk mengantarnya pulang tepat sebelum jam delapan malam, untuk menghadiri kebaktian bulanan keluarganya, membuat gue langsung bergegas mengakhiri pertemuan sore yang indah itu. Saat perjalanan di dalam mobil, kita ngga terlalu banyak bicara. Sesekali gue mengangkat pembicaraan di cafe tadi yang masih segar dan lucu untuk di bahas lagi. Dia tersenyum menatap ke seberang jendela mobil, gue menangkap sesuatu yang gue sebut ‘kenyamanan’ dari bahasa tubuhnya, bahwa gue akan mempertahankan suasana seperti ini kapanpun ada kesempatan kita bersama.

Sesampainya di depan garasi rumahnya, gue mengantarnya turun sampai ke pintu;

“Aku langsung pulang ya?” ucap gue,

“Kamu ngga mau mampir ke dalam sebentar? ucapnya sambil memainkan ujung rambutnya dengan jari. (kalau di film ‘HITCH’-nya Will Smith, mainin ujung rambut itu kode minta di kiss), all i have to do is make a first move. Mas-mas dalam diri gue makin berontak nafsu, tanpa basa-basi, gue ketok keras-keras kepala mas-mas itu pake batu sambil tereak “Mampus!”. Gemes gue. Centil amat jadi mas-mas.

“Lain kali aku pasti mampir, lagipula sebentar lagi kebaktian kan mau mulai, kamu siap-siap gih.”

“Mo, kabari aku kalau sampe rumah ya. Soalnya, setelah kebaktian aku mungkin ngga tahu mau ngapain lagi. Thank you for today mo, talk to you later.”

Hari berikutnya semakin banyak pertemuan, semakin banyak cerita, dan masuk semakin dalam; gue ke dalam hari-harinya, dia ke dalam mimpi-mimpi gue. Dan beberapa rutinitas lain, seperti: mengunjungi museum lukisan Antonio Blanco di Ubud, ke taman burung di gianyar untuk melihat segala jenis burung termasuk burung gue lovebirds, dinner bersama keluarga, menghadiri pernikahan sahabatnya, mabuk wine di atas dermaga, mendengar koleksi lagu, tidur dan akhirnya pada suatu pagi yang dingin, dia bangun dalam pelukan gue. Semua berjalan secara alami.

Malam tadi, di dalam selimut yang membelenggu tubuh kita, gue melemparkan satu-satunya kalimat yang sudah ngga pernah keluar dari bibir gue cukup lama, membuat gue sendiri ngga nyaman menyampaikanya.

Malam itu, di dalam selimut itu, akhirnya gue memberanikan diri untuk bilang;

“I love you” kalimat yang murni dari pikiran sadar gue, karena mas-mas mungkin masih di opname.

Dia ngelap keringat di dahi gue dengan kausnya yang sudah terlepas dan di letakan di samping bantal, tanpa menggubris kalimat gue barusan. Lalu;

“Will you still love me in the morning?” dia bertanya.

“I will” jawabku tegas.

~~~

Overall, ini hanya sepenggal pengalaman gue, and i’m glad its written. Kita masih berjalan secara alami, dan sekarang gue lagi seru-serunya belajar lukis dari dia, well lebih tepatnya mengembangkan bakat terpendam gue. Dan dia, lagi bantuin gue untuk koreksi ejaan yang salah di draft buku pertama yang masih mentah sebelum gue kirim ke editor.

Well, janji sudah di tepati, cerita cinta telah tertulis, dan perasaan gue sudah di telanjangi (puas). Sekian cerita cinta-cintaan dari gue, tunggu cerita selanjutnya ya. Di judul berikutnya, gue bakal membuka rahasia tentang “sesuatu“. Mungkin tulisan gue kembali agak serius, tapi tetep ngga akan ada galau-galauan, dan downrightnya masih jokes sehari-hari. Karena menurut sahabat gue, sebut saja si ‘rebek’, dia bilang gini; “hidup udah stress sac, ngga usah lo tambahin sama cerita-cerita galau lagi”. Dan kalimat dari bibir si ‘rebek’ itu, sukses menohok gue cukup dalam. Terima kasih buat saran cerdas kamu rebecca.

~ ~ ~

P.S. : I don’t know what’s going to happen from here on out but I do know is that I want to be with you. I’ve told you how I felt, all my feelings are true. You make me smile, you are always there for me, and you are just simply amazing. I’m so happy that I had the privilege to meet someone like you. We get along so well; the goofyness we share and our conversations are something I’d never trade for anything. I know we can become something special, I hope you see that too cause girl I have to tell you, I want no one else but you.

Advertisements

Author: Moussa Askey

It sounds easy, but it is not. I know because i am writing my first book: "Begin at the beginning and go on till you come to the end: then stop" (Alice in the Wonderland)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s