The Art of Moving On


If you are brave to say “Good bye”, life will reward you with a new “Hello”

Aku mau bermain-main dalam kepalaku sebentar, mengingat sedikit dari beberapa pegalaman, dan masuk kedalam fase yang manusiawi, fase dimana saat harus meninggalkan sesuatu yang berharga_sesuatu yang hampir tidak bisa ditinggalkan. Pada awalnya aku menjadi manusia bingung, terus mencari apa yang salah dari diriku, apa yang terlewat yang aku tidak perhatikan, dan akhirnya aku mau belajar untuk melupakan untuk meneruskan hidup.

Umumnya orang baru sadar betapa berharganya hal yang dia miliki, justru ketika hal itu sudah hilang dari kehidupannya. Aku percaya bahwa, kamu (pembaca) pernah masuk dalam fase kehilangan dan pencarian, itu sebabnya sangat penting untuk membiarkan hal-hal tertentu berlalu.

Lepaskan saja. Biarkan. Orang perlu mengerti bahwa hidup ini tidak pasti; kadang kita menang, kadang kita kalah. Jangan harapkan imbalan, jangan harapkan pujian atas usahamu, jangan harapkan kejeniusanmu dikenal orang atau cintamu dimengerti. Tutup lingkarannya. Bukan karena gengsi, ketidakmampuanmu, atau arogansi, tapi karena apapun hal itu sudah tidak sesuai lagi dengan hidup kita. Tutup pintu, hapus catatan, bersihkan rumah, buang debu. Berhentilah menjadi diri kita yang dulu dan jadilah diri kita yang sekarang.

Aku tahu tidak semudah itu, karena akupun sedang  mengalaminya. Selalu saja kita menghadapi satu titik dimana kita menyerah untuk Move On, titik dimana kita tidak bisa maju_satu langkahpun, selalu ada kejadian dalam hidup kita yang menghalangi kemajuan kita: suatu trauma, kelelahan yang sangat menyakitkan, kekecewaan pada suatu hubungan yang tidak berjalan dengan semestinya, bahkan kemenangan yang tidak kita pahami, bisa membuat kita menjadi pengecut dan menghalangi kita bergerak maju.

Aku pernah mendengar cerita seorang teman yang baru saja berpisah dari pasangannya, katanya; “Sekarang aku bisa menikmati kebebasan yang selalu aku impikan”. Tapi itu bohong. Tak seorang pun yang menginginkan kebebasan semacam itu. Kita semua menginginkan teman hidup_lebih dari sekedar teman. Kita semua ingin ada seseorang disisi kita untuk menikmati keindahan pantai di Bali atau gunung-gunung di Kintamani, untuk membahas buku, film, lagu-lagu, atau bahkan hanya untuk berbagi sehelai selimut tipis dalam kedinginan malam.

Lebih baik kelaparan daripada kesepian. Karena kalau kita kesepian, dan yang saya maksud adalah kesepian karena terpaksa, bukan atas pilihan sendiri, kita akan merasa seakan-akan bukan lagi bagian dari apa-apa, tapi berada bersama orang lain dan membuat kita merasa seakan kita tidak penting dalam hidup mereka lagi, adalah jauh lebih buruk daripada merasa sendirian dan kesepian.

Kejadian 2:18

Menyatakan, TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Wahyu 21:5

“Lihatlah, Aku akan menjadikan segala sesuatu menjadi baru!”

Ada lagi yang mau aku tambahkan dari tulisan ini. Setelah kita berhasil melupakan masa lalu, dan meninggalkan sesuatu yang sulit ditinggalkan. Sebelum kita mencintai orang lain, sebaiknya kita tahu dan memahami diri kita sendiri terlebih dahulu.

Mungkin kalau bisa aku gambarkan seperti ini; Seseorang yang aku cintai bukanlah orang yang menggenapkan setengah lingkaran yang  aku punya. Aku harus menjadi utuh satu lingkaran terlebih dahulu dan dia juga merupakan lingkaran yang utuh. Jadi bukan dengan berkata “Aku tidak bisa hidup tanpamu” melainkan “Aku lebih suka hidup bersamamu”.

“Move on. It’s just chapter of past. Don’t close the book, just turn the page.” 🙂

Advertisements

Author: Moussa Askey

It sounds easy, but it is not. I know because i am writing my first book: "Begin at the beginning and go on till you come to the end: then stop" (Alice in the Wonderland)

2 thoughts on “The Art of Moving On”

  1. Aku suka post yang ini 🙂 🙂 di sini akhirnya mossa bisa ngerti kalo berusaha itu bukan berarti memaksakan. Kadang kita gak sadar, kalo kita kadang kala terlalu berpegang pada suatu hal, terlalu banyak mencari cara untuk bagaimana menyelesaikan masalah yg ada di dalamnya itu sampai kita terjebak dalam satu lingkaran yang malahan tidak membawa kita ke mana-mana. Kita terlalu sibuk mencari cara yang malahan menyulitkan kita, tanpa kita mengerti kalo cara yang harus kita lakukan adalah keluar dari lingkaran itu, membenahi diri lagi, belajar dari kesalahan dan start over again. Life taught you to take a break, to let go and to let it be. You’ve done your best, now let God do His job. Lets start over again, be someone better now..not for everyone but for yourself 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s