The Messages from Random Passengers


“Penumpang kami yang terhormat, sesaat lagi kita akan lepas landas dari Bandar Udara International Soekarno-Hatta, waktu setempat saat ini menunjukan pukul sembilan malam waktu Indonesia bagian.. .”

Aku memejamkan mata, mengeraskan sedikit volume music  dari PSP yang memutar album Coldplay, dan kepalaku tetap memikirkan sesuatu yang membuatku gelisah, kenyatan bahwa keputusan besarku untuk meninggalkan zona nyamanku di Bali dan pergi ke Jakarta untuk memperbaiki sesuatu yang ternyata tidak bisa diperbaiki, dan pada akhirnya kembali lagi ke Bali.

Kenyataan bahwa aku akan memulainya lagi dari NOL, tangan kosong tanpa apa-apa.

Kenyataan bahwa kepulanganku ke Bali hanya untuk menemui seseorang.

Seseorang yang menjadi teman mainku, teman untuk berbagi berbagai momen dan sebagai bunga tidurku, dia aku sebut sebagai “Sang pengalih”. Dia datang ditengah-tengah menit-menit terakhir perceraian yang sedang aku jalani, menjadi penghangat di tengah-tengah pertengkaran dingin, dia menjadi pengalih rasa sakit dari luka perceraian yang membingungkan dan menjadi pengalih dari perhatianku pada masa lalu yang pelik. Dia: Kekasihku.

Kenyataan bahwa perceraian ini membuatku untuk tidak ingin kembali dalam suatu komitmen, karena takut untuk kembali ke satu titik ketika yang ada hanya kebencian luar biasa.

“Commitment is a funny thing for me, its almost like getting a tattoo, you think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep.”

Kembali ke dalam kenyataan tentang “Sang pengalih”, seseorang yang aku ceritakan sangat sempurna pada awalnya, yang pada kenyataanya telah menimbun kebohongan besar selama ini, yang baru saja aku ketahui setelah berbulan-bulan menjalani hubungan, dan aku memilih untuk tetap bertahan sebentar dalam luka, tetapi dengan hati yang mungkin sudah tidak sesempurna seperti awal. Karena ketika kita terluka kita tidak mati, tapi lukanya membuat kita tidak bisa berjalan seperti dulu lagi.

Aku tidak ingin menyalahkannya, karena akulah orang yang membawa dia kedalam petualangan ini, dan dia tentu belum siap dengan hubungan ini. Sebenarnya aku sudah sangat bosan menulis tentang luka dan sakit hati karena suatu hubungan yang tidak berjalan dengan semestinya, tapi berat rasanya untuk menjadi munafik dan menulis sebaliknya.

Aku duduk di antara puluhan penumpang didalam pesawat ini, perjalanan ini terasa seperti perjalanan yang sudah biasa dalam setahun terakhir ini, Bali dan Jakarta. Karena tempat tinggal dan mata pencarianaku ada di Bali namun semua keluargaku ada di Jakarta, jadi minimal dua kali aku pulang ke Jakarta dalam setahun. Entah mengapa, selalu saja disaat para penumpang duduk dalam pesawat dan menunggu untuk lepas landas, aku menemukan beberapa wajah yang tegang, mereka telah meninggalkan sesuatu dan bersiap untuk bertemu sesuatu, wajah yang terlihat tenang, wajah yang lelah dan siap untuk melakukan perjalan satu jam lima puluh menit tersingkat dalam hidupnya, sebagian mungkin siap untuk berlibur sebagian lain mungkin siap untuk merantau.

Satu jam lima puluh menit yang aku lalui dengan memikirkan seluruh hidupku, apa yang akan aku lakukan setibanya disana, keputusan besar apa lagi yang akan aku ambil, dan begitu rumitnya sampai aku memutuskan untuk menulis pesan;

“Jujur saja, aku lelah berjuang terus. Tapi aku belum akan menyerah dulu. Mungkin aku harus berusaha lebih keras. Mungkin aku harus mencoba sekali lagi_entahlah. Aku tidak akan mengeluh.”

Pesan yang tidak pernah ditujukan untuk siapapun, yang hanya tersimpan dalam draft messages, pesan yang hanya ditulis dalam suatu perjalanan singkat, dan akan terlupakan dengan kesibukan setelah menjalani kehidupan lagi ditempat tujuan, sampai akhirnya tidak sengaja terbaca lagi seperti aku saat ini.

“Penumpang kami yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Bandar Udara International Ngurah Rai Bali, waktu setempat saat ini menunjukan pukul sebelas malam waktu Indonesia bagian.. .”

~~~