The Experience of Young Lover II


Awal Petualanganku

1 John 4:18 : “There is no fear in love. But perfect love drives out fear, because fear has to do with punishment. The one who fears is not made perfect in love”
…..

January 01, 2005 (6 tahun lalu)

Perjalananku menuju bandara Soekarno-Hatta terasa sangat melegakan. Sahabat baiku dengan semangat menjadi satu-satunya orang yang mengantarkan kepergianku. Walau dengan kenakalan kecil, temanku telah membawa kabur mobil orang tuanya saat mereka sedang keluar kota dan kegilaannya itu hanya untuk mengantar kepergianku.

Jarak dari rumahku ke bandara memang jauh, dan terasa seperti tidak akan pernah sampai tujuan karena perjalanan itu bertamabah beberapa teman lagi, yaitu beberapa linting marijuana yang sudah dipersiapkan temanku jauh-jauh hari sebelum keberangkatanku. Dan tentu alasan lain mengapa terasa jauh yaitu kemacetan yang sudah menjadi trendmark Ibu kota tercinta.

Perjalananku ini tidak lain didorong oleh impianku sejak kanak-kanak, aku berjuang keras untuk mimpiku, dan sekarang terasa mimipikulah yang sedang bekerja untuk aku_sampai saat ini.

Seseorang pernah berkata kepadaku; “hidup itu selalu berubah, cara menjalankannya, cara menghadapinya dan apapun, termasuk manusianya juga.”  Itu tidak terjadi sepenuhnya dalam hidupku. Maksudku memang hidupku terus menuju kearah yang lebih tinggi, lebih lurus dari sebelumnya dan jauh lebih jelas atau mungkin berputar-putar dan seperti berjalan di tempat.  Karena impianku mungkin tidak pernah berubah, impian kanak-kanak yang tetap aku impikan pada saat aku remaja, impian kanak-kanak yang aku tunggu pada saat kedewasaan tiba, mimpi itu tetap ada.

Kembali kedalam mobil yang mengepul asap ini, kedalam gelak tawa dan kegelian setiap momen-momen unik yang hanya ada dalam mobil ini. Sahabatku bertanya sedikit serius; “Apakah keputusanmu ini sudah direstui orang tuamu?”

Aku berpikir sejenak lalu menjawab; “ya tentu, walau harus melalui perdebatan kecil” sambil menarik nafas dalam-dalam.

Awalnya aku sempat mencari pilihan lain untuk meredam keegoisanku, juga sedikit meminimalisir gesekan antara keputusanku dan kehendak mereka yang tidak selalu menyatu, mereka orang tuaku memang telah mendukungku sepenuhnya dengan kekhawatiran yang wajar, tapi tetap menganggapku masih terlalu muda untuk itu semua. Tetapi setiap malam, setiap doa dan setiap air mata yang aku lalui di akhir keputusanku ini menghasilkan suatu jawaban, akhirnya aku bisa berdamai dengan hatiku bahwa ini adalah keputusan yang telah aku buat sejak kanak-kanak; “Berpetualang”.

bersambung>>>