Brothers & Sisters


~~~

Tulisan ini diperuntukan bagi orang yang masih ingat saat-saat ketika masih kanak-kanak mulai berlalu dan dihadapkan dengan jalan menuju kedewasaan yang telah terbentang.

Foto itu ada dihadapanku, bersanadar pada salah satu perabotan di atas meja kerjaku. Beberapa tulisan telah aku ciptakan dengan ditemani secarik foto tua itu. Aku telah membuat cerita tentang cinta, kematian, kesetiaan, kenangan manis dan bahkan penyesalan. Tetapi tidak satu paragrafpun aku menulis tentang isi foto yang telah kusam dan sedikit larut dengan noda percikan air. Mereka, saudaraku, adik-adikku. Disaat aku mengenang mereka sekelibat aku melihat sesuatu dalam pandangan akan masa yang akan datang, aku melihat dengan jelas sekelumit fakta yang justru membuatku resah.

Aku Isaac, kakak paling tua dalam keluarga ini. Ya, aku paling tua dari sepuluh bersaudara. Label “Paling tua” ini sedikit membebaniku untuk menentukan pilihan dalam hidup. Sedikit aturan tentang tanggung jawab menjadi kakak dari sembilan adik. Ibuku pernah berkata berkata demikian;

“Jika kamu perduli dengan adik-adikmu, dan menyayangi mereka. Perhatikan langkahmu, setiap langkah kecil kamu akan menjadi contoh bagi mereka” Ucapnya

Aku tidak mengartikan ucapannya menjadi beban berat yang akan mungkin akan aku bawa kemana-mana. Tetapi, kalau bisa memilih, izinkan aku untuk tidak menjadi “contoh”. Karena aku tidak siap untuk itu, tidak siap menjadi contoh yang baik. Tetapi demi ibuku, aku telah berjanji untuk menjadi “contoh” yang baik bagi adik-adikku kelak.

Kami memiliki orang tua yang sangat luar biasa. Mereka selalu menuntunku dan adik-adiku. Kami selalu merasa aman dan tentram dengan menyadari kehadiran mereka. Ibuku adalah seorang ibu yang sempurna, dia selalu memperhatikan kami persis seperti malaikat penjaga. Dia juga seorang pelukis rumahan yang handal, anehnya dia tidak menjadikan itu sebagai suatu profesi, dia hanya sangat mencintai itu. Dan harus aku akui dia memiliki bakat yang sangat baik. Sampai pada suatu hari beberapa kerabatnya berminat untuk membeli salah-satu lukisan terbaiknya dengan harga yang sangat tinggi, tetapi dia menolak tawaran itu dengan halus, dan mengatakan;

“Segala lukisanku akan kuwariskan untuk cucu-cucuku” Padahal pada saat itu aku baru berumur 12 tahun.

Ayahku adalah seorang pria besar dan lembut. Kerut-kerut diwajahnya melambangkan kerja kerasnya, lekukan cekung pada kelopak matanya melambangkan pengalamannya yang luar biasa, dan kebijaksanaannya melambangkan apa yang dia kerjakan selalu menuai hasil yang baik. Dia seorang jurnalis, dia juga dianggap sebagai wartawan senior di tempat dia berkerja. Dia pernah ditugaskan seorang diri di gurun Sahara. Dia juga pernah ditugaskan meliput perang Vietnam, dan salah satu penghargaan terbaiknya adalah, manakala dia pernah meliput kegiatan Presiden pertama disaat sang Presiden diculik dan disembunyikan pada suatu daerah yang bernama Rengasdengklok. Aku merasa mungkin profesinya itu sedikit menuntunku untuk menjadi penulis, walaupun semua karya tulisku hanya menumpuk diantara karya-karya lain di salah satu meja ruang editor. Dan sampai sekarang belum ada satupun buku yang telah disetujui oleh para editor untuk siap diedarkan. Tetapi dia, Ayahku, selalu mendukung apapun yang aku kerjakan tanpa melihat hasil. Baginya proses adalah yang paling penting. Suatu saat dia pernah berkata kepadaku;

“Kamu akan menjadi penulis buku “Best Seller” suatu saat nanti dan kamu pantas untuk itu. Semua orang berpeluang, penulis senior ataupun penulis pemula peluangnya sama, peliharalah keyakinan itu baik-baik” Tuturnya .

Kembali keruanganku, kedalam kenanganku pada secarik foto itu, kedalam fakta yang membuatku cemas. Karena kebersamaan manis yang ada di dalam foto tua itu hanya bisa aku lihat dan aku kenang. Semua itu sudah tidak akan hadir lagi, saat ini dan mungkin seterusnya dalam jangka waktu yang sangat panjang. Aku dan mereka sudah disibukan dengan kehidupan kecil masing-masing. Aku tidak mencoba untuk melebih-lebihkan keadaan saat ini atau mendramatiskan keadaan ini dengan kritis. Aku hanya merasa sangat sensitif akhir-akhir ini, beberapa botol minuman alkohol yang menjadi temanku saat ini dan 2-3 pil obat anti depressan setiap haripun belum bisa meluputkanku dari kerinduanku kepada mereka, adik-adikku. Kami menjadi sangat jauh hari demi hari, seperti ditelan dunia dan menunggu saat untuk dimuntahkan lagi.

Saat itupun tiba, kami seperti dimuntahkan dari perut dunia, kami berkumpul serentak. Tepat satu tahun lalu kami baru saja kehilangan sepaket orang tua kami, dalam suatu momen duka yang sangat dalam. Mereka menutup usia dalam tenang dan damai. Dengan saling memeluk, menutup mata dan tidak membukanya lagi, pergi bersama dengan nafas terakhir mereka disuatu pagi, di kamar tidur mereka. Raut tua dan tersenyum kecil seolah meninggalkan pesan bahwa mereka sudah siap untuk itu_siap untuk meninggalkan kami. Pada saat itu aku memahami bahwa suatu keluarga besar dapat berkumpul bersama kembali hanya jika ada suatu perayaan Agama atau pada salah satu momen penting, yaitu kematian. Akhirnya setelah kematian orang tua kami, kami menjadi solid, semakin dekat dan mencoba merakit lagi saat-saat bersama masa kanak-kanak dahulu.

Adik laki-laki pertamaku bernama Zefano. Dia seorang sales di kota tempat kami bertumbuh, kami dipisahkan sejauh ratusan mil. Sepertiku, dia memilih jalan yang dianggap salah bagi beberapa orang. Aku mungkin telah gagal menjadi contoh yang baik bagi dia.

Adik keduaku bernama Maura, dia perempuan paling keras kepala. Keputusan-keputusannya dianggap unik bagi aku dan orang tuaku. Tetapi sekarang dia sudah di jalan yang benar, mandiri dan mencoba menebus kesalahannya terhadap orang tuaku. Mungkin aku juga belum bisa memberi contoh yang terbaik untuknya.

Adik ketigaku bernama Zaneta, dia adik perempunaku yang bisa di katakan lebih menonjol dari seluruh adik-adiku, dia mandiri, sukses di umurnya yang masih sangat muda dan terkenal, dia seorang artis. Seingatku pada saat kanak-kanak dahulu dialah yang paling keras kepala. Mungkin dalam kesuksesannya dia tidak melihatku sebagai contoh.

Adik keempatku bernama Ezra. Dia laki-laki paling bijak di keluarga ini setelah ayahku, dia juga atlet tenis berbakat. Aku rasa dia tidak perlu mencontohku.

Adik kelima, keenam dan ketujuh bernama Andrea, Marsha, dan Alexa. Mereka gadis-gadis yang sangat pintar, dunia sudah siap memanfaatkan kelebihan mereka. Mereka hanya perlu mengandalkan Tuhan dan otaknya, dan tentu bukanlah aku.

Adik ke delapan hingga yang terakhir bernama Marlon, Rafael dan Darren. Mereka muda dan bertalenta, tetapi mereka masih butuh bimbingan dan nasihat dariku dan kakak-kakaknya yang lain. Bimbingan dan nasihat yang belum sempat banyak mereka dapat ketika kedua orang tuaku masih hidup.

Aku mencoba melihat dari mataNya; bahwa aku lahir kedunia ini untuk menjadi contoh bagi adik-adikku, mengganti peran orang-tuaku disaat mereka telah tiada.

Faktanya, aku belum layak untuk contoh yang baik bagi mereka. Tetapi aku menganggap itu bukan arti dari semua ini, lagipula seperti apa kata ayahku, proseslah yang paling penting. Hasil akan datang dengan sendirinya. Intinya kami masih saling perduli, kami tetap bersama, apapun yang terjadi, sejauh apapun jaraknya dan aku bersyukur untuk itu.

“there’s no other love like the love for a brothers and siters.”

~~~

Advertisements

Author: Moussa Askey

It sounds easy, but it is not. I know because i am writing my first book: "Begin at the beginning and go on till you come to the end: then stop" (Alice in the Wonderland)

6 thoughts on “Brothers & Sisters”

  1. i know you love your family so much. this story was good. you are who you are, either its good or bad. you are someone!

    1. wew,,aQ baru tau kLu dirimu 10 bersAudara,,hohohoho…
      Tuhan meMberi keSempatan utk meNjadi coNtoh yg baik bagi aNak n istriMu,,sAyangi meReka sebeLUm wAktu.. ^^

      bUat aYah terCinta,,dan uNtuk iBu nO.1 di dUnia,,I Love tHem.. ^^

      1. des, itu ga 100% true story, yang aku tulis 10 bersaudara itu sebetulnya aku gabungin sama sepupuku semuanya, sebenernya sih aku cuma 4 bersaudara…hehe..trus karakter ayah disitu, itu sebenernya kakekku..n karakter ibu di situ aku bikin tokoh baru..tapi inspirasinya dari sepupu-sepupuku semua kok.hehe

  2. Nice Bro.. two thumbs up..
    gw yakin suatu saat lo pasti bakal jadi penulis terkenal, semua karya lo akan jadi Best Seller.. God Bless You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s