Still in Memory


“Past is good to visit, but certainly not a good place to stay”

Prologue

Saya mencari sesuatu yang berhubungan dengan ingatan, segala hal yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang masa lalu yang masuk kedalam kepala saya yang rumit. Semua itu dapat disimpulkan dengan mudah dan sesederhana menyebut kata “ingatan”. Kemudian saya menemui kata yang menarik perhatian saya; “masih dalam ingatan”. Kata beberapa peneliti mengenai ingatan: “Ingatan atau memori adalah sebuah fungsi dari kognisi yang melibatkan otak dalam pengambilan informasi”. Ingatan banyak dipelajari dalam psikologi kognitif dan ilmu saraf. Kata “ingatan” juga memotivasi sebagian penulis untuk dijadikan bahan menulis buku atau suatu karya tulisan. Termasuk saya pada saat ini.

Saya kembali ke masa sepuluh tahun lalu, kembali ke masa-masa sulit. Masa di mana hidup saya seperti berada di atas pohon yang tinggi, dilempari batu dan tidak tahu caranya untuk turun. Pertengkaran keluarga, percintaan dan kenakalan remaja yang saya lakukan dengan kesalahan sendiri. Seolah-olah saya ada di sana untuk sementara. Saya bisa merasakan suasananya, dapat menyentuh, dan dapat melihat dengan detail. Ingatan ini bukan hadir untuk menuntun saya ke jalan penyesalan yang berlarut, justru kenangan ini menjadi pembuka jalan dalam setiap lembar kertas, setiap huruf, setiap kata, setiap kalimat, setiap paragraf dan akhirnya menjadi sebuah tulisan. Tulisan tentang “masih dalam ingatan” atau dalam bahasa inggrisnya ‘Still in memory’. Dengan perasaan lega saya tidak ingin mengingat lagi kedalam masa-masa pelik itu, karena di sana masih ada tempat tentang ingatan masa-masa indah, dan saya sangat bangga masih menyimpan itu dalam ingatan.

~Jawaban pagi itu~

Pagi itu aku datang lebih pagi, menjadi satu-satunya siswa yang ada di lorong itu. Aku melihat secarik kertas tertempel dimajalah dinding saat aku melintasi kelas-kelas yang sepi. Dengan segera aku membaca berita itu, sesaat mataku mengidap, nafasku sesak lalu air mata seolah menerjang mataku, aku menangis sekencang-kencangnya. Mungkin teriakan tangisanku pagi itu hanya bergaung ke seberang ruangan atau mungkin ke sepanjang lorong, tetapi ingatan tentang dia akan bergaung ke sepanjang hidupku.

~Pertemuan~

Aku kembali ke masa lalu, di pertama kali kami bertemu.

Di lorong sekolah itu. Lorong pemisah kelas-kelas tempat kami para murid bermain dan berkumpul disaat istirahat makan siang. Lorong panjang tempat kami merencanakan segala hal untuk kegiatan sepulang sekolah nanti. Lorong dengan lantai berwana gelap tempat kami dihukum keluar kelas disaat salah-satu dari kami melanggar peraturan. Dan bagiku lorong itu menjadi lorong pertemuan.

“Theo”, dia menyebut namaku dengan keras dan jelas. Sesaat aku hanya memperhatikan reaksi di wajahnya, hanya untuk meyakinkan bahwa dia benar-benar memanggilku. Dalam ingatanku, saat itu aku melihat dia memegang sebuah buku. Buku yang sepertinya aku kenali, corak dan gambar buku tulis itu sangat familiar. Dan ya, itu buku catatanku. Aku menjadi semakin yakin karena terdapat namaku pada sudut buku tulis itu, ditulis dengan spidol hitam yang sudah mulai habis dan ditiban lagi dengan pulpen agar semakin jelas. Tetapi mengapa buku itu ada di tangannya, ada di tangan orang yang menjadi sebagian besar tulisan, gambar-gambar dan beberapa puisi. Seingatku terakhir kali aku melihat buku itu tepat disaat bel istirahat berbunyi, kira-kira baru dua puluh menit yang lalu. Segala pertanyaan dan kecurigaanpun menguap ke dalam kepalaku. Mencoba menebak apa reaksi dia selanjutnya jika aku menjawab sapaan dia tadi.

“Kamu memanggilku?” Jawabku dengan penuh rasa cemas, paling tidak aku masih punya harapan kecil kalau buku itu belum dibaca olehnya.

“Ya, aku memanggilmu, apa ada nama Theo lagi di sekolah ini selain kamu?” Menjawab pertanyaanku, sambil tersenyum.

“Kamu kenal dengan buku ini?” Lanjutnya, sambil mengikat rambutnya, berlagak santai dan mengacuhkan keteganganku.

Aku menganggukan kepala dan menjawab; “Ya, itu buku catatanku” ucapku, berharap pembicaraan ini akan berakhir dengan cepat.

“Ini aku kembalikan.” Dia mengembalikan buku itu. Sesuai denagan harapanku, pembicaraan kami pun berakhir. Tetapi, apa dia membacanya? Kalau iya, mengapa tidak ada reaksi sedikitpun darinya? Perasaanku kacau, meraba-raba apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku malu dan takut bila dia tahu isi buku catatanku, tapi aku senang karena ini kali pertama dia menyapaku dan menyebut namaku.

Dia, Darla, siswi kelas C yang berada di seberang kelasku. Aku memujanya saat pertama masuk sekolah ini, dan seingatku dia tidak mengenalku _tidak sama sekali. Dengan rambut hitam dan selalu diikat dengan ikatan khasnya, memakai tas ransel biru muda dan ada aksesoris gantungan tokoh Pikachu dalam cerita kartun Pokemon, kaos kaki pendek dan rok sedikit dibawah lutut. Dia selalu memeluk sekumpulan buku walaupun tas ranselnya terlihat masih bisa menampung buku-bukunya itu.

Aku suka dengan rambut hitam yang selalu diikat itu, aku suka pilihan tasnya yang tidak mengikuti tren tas selempang yang sudah banyak dipakai siswi kebanyakan, aku suka pilihan warnanya yang tidak mengikuti tren warna pink atau biru muda agar terlihat lebih feminin, aku suka dia menyukai tokoh Pikachu, aku menyukai kaos kaki pendeknya yang tidak mengikuti tren kaos kaki panjang, dan aku suka rok selututnya karena tidak mengikuti tren rok pendek agar terlihat seksi atau rok panjang agar terlihat siswi baik-baik. Aku suka segala hal yang ada padanya dan apa adanya.

Keesokan harinya, dalam suatu kesempatan kami bertemu lagi. Entah mengapa temanku tiba-tiba memperkenalkan kami disaat istirahat dalam lorong itu. Mungkin karena gossip tentang isi buku catatanku yang cepat beredar dari mulut ke mulut di sekolah ini. Singkat cerita, hari-hari berlalu. Kami selalu bertemu di lorong itu saat istirahat dan sepulang sekolah, seperti mimpi menjadi kenyataan, sekarang kami sudah sangat dekat, seperti sahabat.

Kami bercerita disaat bertemu di lorong, saat di kantin dan bahkan saat di rumah kami melanjutkan cerita melalui telepon. Cerita tentang berbagai hal yang tidak penting tapi menjadi sangat seru. Betapa bahagianya aku bisa sedekat ini dengannya. Aku masih ingat disaat aku melompati sofa, meja dan segala isi rumah yang bisa aku lompati dengan perasaan bahagia, dan berakhir di tempat tidur sambil berguling-guling bahagia saat aku menutup telepon setelah kami bercerita panjang lebar dengannya. Aku suka leluconnya tentang hutan, tentang ramalan yang aneh, aku suka cerita tentang wajah cantiknya yang dihajar bola saat kakak laki-lakinya meminta untuk menjadi penjaga gawang di garasi rumahnya, dan aku sangat menikmati saat dia bernyanyi salah satu lagu dari S club seven, M2M atau Savage Garden di telepon, selera lagunya yang sedikit berbeda tetapi tidak mengapa, aku sangat menyukainya. Aku menjadi sangat mencintainya.

Tetapi kebersamaan itu segera berakhir.

Saat itu sekolah kami sedang libur, karena hari itu adalah hari raya Natal. Sudah dua hari aku menghubunginya melalui telepon tapi tidak ada yang menjawab, tidak ada kabar dan tidak ada yang tahu tentang dimanakah dia berada atau kemana dia pergi, dia menghilang seperti ditelan bumi, dan aku menjadi sangat-sangat cemas. Aku menenangkan diri sendiri dengan alibi-alibi yang aku buat, segala kemungkinan terbaik yang bisa kuterima; mungkin dia sedang keluar kota merayakan natal, atau mungkin telepon rumahnya sedang tidak berfungsi dengan baik. Tapi yang aku ingat sangat jelas, saat itu aku  tidak ada di ruangan keluargaku saat merayakan malam natal bersama, mungkin tubuhku ada di sana, tetapi tidak dengan jiwaku. Jiwaku bersedih, dan terus menyebut namanya; “Darla, Darla”.

Sudah hampir seminggu berlalu, bagiku ini sudah terlalu lama. Aku butuh jawaban atas segalanya, adakah teman yang dapat memberitahuku. aku mungkin pernah sedikit kehilangan saat dia harus operasi usus buntu di singapura, tapi tidak untuk saat ini, kehilangannya kini menyiksaku.

Besok libur sudah selesai, itulah waktu yang tepat untuk mencari jawaban dimana dia berada, dan kemana saja dia selama ini. Aku berencana bangun lebih pagi dan berangkat kesekolah lebih awal dari biasanya.

Pagi itu aku datang ke sekolah sangat pagi, menjadi satu-satunya siswa yang ada dilorong itu. Aku berjalan menyusuri tangga dan lorong-lorong sekolah dengan penuh harapan, sesaat di antara langkahku ada yang menarik perhatianku dari buntut mataku, aku melihat secarik kertas putih tertempel di majalah dinding, hanya ada satu kertas di papan itu. Sambil membetulkan ransel aku membaca berita itu, dan aku menangis. Aku menangis sekencang-kencangnya, sekeras-kerasnya, memecahkan keheningan pagi.

Kertas itu bertuliskan berita duka cita, aku tidak sanggup melanjutkan membaca berita itu lebih jauh disaat aku membaca ada nama Darla tertulis di situ.

Belakangan aku baru tahu bahwa Darla dan keluarga mengalami kecelakaan hebat saat mereka sedang melakukan perjalanan keluar kota untuk merayakan natal.

~Cerita ini berdasrkan kisah nyata yang sedikit dirubah dari cerita aslinya~

“The best of memory inspired me to think on many subjects and left me many nights sleepless.”  ~Moussa Isaac Askey~

Advertisements

Author: Moussa Askey

It sounds easy, but it is not. I know because i am writing my first book: "Begin at the beginning and go on till you come to the end: then stop" (Alice in the Wonderland)

11 thoughts on “Still in Memory”

  1. eh kl gw baca lg td mending ganti namanya truman n darla ma yg lbh bgs mos..ex:juned, ,baekeuni, dudung, kikim…hahahaha!

  2. Wow 4 Thumbs up, excellent…!!!
    for the details from beging until the last word realy exiting to be explore, make the people who read the first setece seeking what will be happen in the next…

    so congratzzz…

    MANTABS..

    My Name GERRY

    dimitri :eh kl gw baca lg td mending ganti namanya truman n darla ma yg lbh bgs mos..ex:juned, ,baekeuni, dudung, kikim…hahahaha!

    dimitri :asli lebih menjual mos..!

    ngejual apanya?
    baru baca namanya dah enek orang bacanya mas…..
    hahahahahahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s