The Experience of Young Lover I


The Experience of Young Lover
Remaja laki-laki berbagi cerita tentang cinta kasih dan pengorbanan

tumblr_n0fq9pp9cs1rq1et8o1_1280

Catatan

Segala sesuatu indah pada waktuNya, apa yang aku alami merupakan jawaban dari pilihanku yang Tuhan telah sediakan dalam hidupku. Emosi, ego, keceriaan, kesedihan, dan mimpi-mimpi, semua melebur jadi satu. Menjadi pengakuan yang berarti dalam perjalanan hidupku. Mungkin terasa sederhana namun ini sisi hidupku yang pernah aku alami dan ingin aku bagi saat ini, semua berarti. Baik ataupun buruk, hidupku sungguh berarti. Semua yang aku alami sampai hari ini, ada karena cinta kasih dan pengorbanan. Jalani hidup dengan apa adanya, percaya bahwa segala sesuatu ada waktunya, dan indah pada waktuNya.

Persembahan

Akhirnya pesta pernikahan itu sudah berlalu, aku masih bisa berkhayal sesaat, dan ini sudah menjadi rutinitasku sebelum tertidur. Khayalan tentang masa lalu dan juga masa yang akan datang. Bagaimana sebuah kata “what – if” menjadi kata yang mempengaruhi setiap cerita dalam  khayalanku. Di kamar itu kukatakan kepadanya bahwa aku sangat letih, dan mungkin besok pagi kita bisa berbagi aneka momen luar biasa yang kita lalui beberapa bulan terakhir. Aku melihat di matanya yang sudah hampir terpejam, dia memutar-mutar cincin di jarinya, memainkannya sampai ke buku jarinya dan tidak mengucapkan satu kata pun. Dia hanya merasa senang__sangat senang.

Pendingin ruangan di kamar dan beberapa gelas anggur pada pesta malam ini membawa kami tenggelam dalam lelap. Aku bermimpi, mimpi yang terkadang menjadi lanjutan cerita dalam khayalanku. Aku tidak pernah bermimpi seperti ini sebelumnya, tidak pernah ada dalam khayalanku sebelumnya, dan tidak pernah mengalami ini sebelumnya… .
Buku ini kupersembahkan untuk keluarga kecilku, Nasthasya istriku dan Samantha, putri kecilku.

Kejadian 2:18

menyatakan, TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Pertemuan Ajaib

Malam itu aku dan temanku memilih untuk singgah di restoran langganan kami untuk makan malam. Salah satu restoran terbaik yang ada di daerah Legian, Bali. Dengan dekorasi yang dipenuhi rajutan bambu di setiap detailnya. Pramusaji yang ramah dan bersahabat, mereka berseragam baju adat bali. Dengan mengandalkan makanan western terbaik, restoran itu juga tidak memungut tax dan service. Bagiku itulah yang paling penting.

Seperti biasanya, restoran itu selalu dipenuhi turis-turis asing. Karena keunikan restoran ini, dengan luas yang cukup kecil, maka tidak jarang bagi kami untuk sharing table dengan tamu-tamu lain agar tidak harus menunggu lama untuk mendapat kursi. Tentu harus dengan seizin dari tamu yang lebih dulu duduk di meja itu.

Musik Balinesse gamelan orchestra melantun pelan saat aku melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam restoran ini.

“Anda boleh duduk disini jika anda mau,” Sebuah suara berat menawariku tempat untuk duduk, melihatku kikuk mencari-cari meja yang kosong. Dengan bahasa Inggris dan logat Perancisnya yang sangat kental. Pria yang menawariku itu kira-kira berumur diatas 50 tahunan, Di meja lain aku sempat melihat garpu dan pisau sudah tersusun diatas hot plate yang menyisakan beberapa buncis, tanda bagi pramusaji untuk segera clear up table. Mereka hanya menunggu pramusaji membawakan bill dan mereka bisa meninggalkan meja itu. Setelah itu kami dapat duduk di meja itu tanpa harus berbagi meja dengan orang asing.

Akan tetapi,

“Baiklah, terima kasih” jawabku, menerima tawarannya. Aku sudah sangat lapar dan aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi untuk makan malam. Lagipula tidak ada salahnya bila kita makan bersama dalam satu meja dengan orang asing. Dia duduk sendiri di meja yang cukup untuk digunakan empat orang atau lebih. Seperti biasanya, karena kami berbagi meja untuk makan malam dengan orang lain, etikanya, kami berkenalan. Nathanael adalah nama pria beraksen Perancis itu, dan dari perkenalan awal dia memang berasal dari Perancis. Pada awalnya aku dan temanku sedikit canggung dan kaku, temanku memainkan ponselnya. Kuperhatikan dia hanya membuka-buka folder inbox tanpa ada maksud membaca pesan atau menulis pesan.

Pramusaji di restoran itu sedang melayani meja-meja lain, hanya sedikit pramusaji yang mungkin bisa melayani meja kami dalam waktu cepat. Dan akhirnya pramusaji itu datang,

“Apa kabar? Anaknya kok nggak diajak?”, sambil memegang notebook dan pena, pramusaji itu menyapaku. Dia adalah pramusaji yang sama saat minggu lalu aku makan di restoran ini dengan keluargaku.

“Baik-baik, kasihan kalau dia keluar terlalu malam” jawabku, sambil tersenyum.

Kamipun memesan makanan dan setelah itu pramusaji itupun pergi untuk menyiapkan makan malam yang sudah kami pesan. Setelah memesan makanan, ingin mencairkan suasana yang kaku, akupun membuka perbincangan. Awalnya dari budaya disini dan juga budayanya di Perancis, aku bertanya berapa lama dia berlibur di Bali, dan kami juga membahas tentang restoran ini. Sambil menunggu makan malam kami, kami melanjutkan percakapan panjang yang tidak terasa percakapan kami sudah masuk ke dalam hal-hal yang pribadi. Dari pengalamanku bertemu dengan beberapa turis asing, tentang budaya mereka yang membuatku tertarik untuk mempelajarinya. Mereka, budaya Eropa, sangat tidak nyaman untuk bercerita tentang hal pribadi, apalagi kepada orang yang baru dikenal. Tetapi tidak dengan budaya negara ini, dan tidak di restoran ini. Kami menciptakan budaya kami sendiri. Budaya yang sangat mudah untuk bercerita sampai ke hal-hal yang terkadang tidak perlu dibicarakan atau bersifat pribadi. Mungkin karena belum tentu kami akan bertemu lagi esok hari.

“Dengan siapa Anda tinggal di sini?”, sambil mengusap keringat di dahi dengan handuk putih kecil yang kuperhatikan selalu dia pegang dari tadi.

“Dengan istri dan putriku” jawabku.

“Oh ya, istri dan anak? Berapa umurmu?”

“22 tahun”

Young married guy” dengan ekspresi wajah yang sudah biasa kulihat, sambil melempar senyuman yang bisa mengandung banyak arti. Entah apa arti senyumannya. Mungkin ini adalah kenyataan unik yang membuatnya tersenyum, atau ada hal lain. Aku tidak tahu, dan melupakan arti senyuman itu untuk sementara. Lalu kami melanjutkan bercerita singkat. Mulai dari proses menikah, bagaimana aku dan istriku bertemu, tanggung jawab, resiko dalam pernikahan muda, dan pandangan pria itu mendefinisikan pernikahan, cara pandang yang sangat berbeda.

Di tengah obrolan kami, pramusaji datang untuk segera menyajikan makan malam kami. Aku mulai menyantap makan malam, namun aku masih memikirkan tentang pernikahan, hal yang membuatku menjadi laki – laki paling sensitif di planet ini. Aku teringat saat pria itu mengatakan “young married guy” kepadaku tadi.
Sambil menyantap makanan, kami rehat sejenak dari cerita-cerita, dan ini menjadi kesempatanku untuk kembali berpikir dalam khayalanku. Aku mengolah kata demi kata tentang pernikahan dan cara pandang dia tentang menjalani hidup karena dia belum sekalipun mengalami pernikahan. Umurnya sudah terlampau tua untuk berstatus single. Kuamati potongan rambutnya, caranya berpenampilan, dan bahasa tubuhnya, hanya untuk meyakinkan diri dari pikiran picikku, apakah dia seorang gay? Tapi dia tidak terlihat seperti itu. Sepertinya dia telah memilih untuk menjalani hidupnya sendiri dengan suatu alasan, dan dia terlihat sangat menikmati pilihannya itu, bahagia menjadi “orang bebas”. Aku percaya bahwa setiap orang punya alasan dan kepuasannya sendiri untuk menentukan bahwa dirinya adalah orang yang bahagia. Dan kebebasan menjadi alasan dan kepuasan pria itu.

Tapi, apakah sebenarnya kebebasan itu? Pertanyaan yang muncul seketika dalam pikiranku, dalam khayalanku.

Aku telah menghabiskan sebagian besar hidupku menjadi pelayan dari satu dan lain hal, bahkan aku melanjutkan pendidikanku yang berkaitan erat dengan pelayanan. Jadi seharusnya aku tahu arti kata itu. Sejak kecil aku sudah berjuang untuk membuat kebebasan menjadi komoditas yang paling berharga. Dan disaat aku remaja aku mulai menentang orang tuaku yang menginginkanku untuk menjadi ini dan itu, menasihatiku ini dan itu. Aku menentang bukan karena aku merasa lebih baik dari mereka, tetapi mereka terkadang masih seperti kanak-kanak dan pada saat itu menurutku, lebih baik mereka perhatikan dirinya sendiri. Karena pada akhirnya aku yang harus menghadapi dan menyelesaikan masalahku sendiri. Aku membuat pilihan, dan sangat sering pilihan itu menjadi satu-satunya pilihan. Pilihan untuk keluar dari rumah, merantau ke berbagai kota. Hidup dan tinggal di lingkungan baru dan tentu dengan peraturan baru. Menikmatinya dan belajar menjadi “orang bebas”. Sampai aku bisa menunjukkan pada mereka bahwa paling tidak aku bisa hidup mandiri. Baru kusadari bahwa di sini tidak ada tuntutan untuk jadi ini dan itu, tidak ada nasihat ini dan itu, sehingga tidak ada yang membatasi langkahku. Aku boleh berbuat apapun kecuali memaksa orang lain untuk mengikuti kegilaanku.

Akhirnya segala hidangan sudah kami habiskan dan kami kembali bercerita di restoran pada malam itu, dia termasuk orang perancis yang sangat fasih berbahasa inggris, sehingga kami bisa bercerita apapun tanpa ada halangan dari keterbatasanku untuk berbahasa perancis. Kami memesan anggur sebagai penutup makan malam. Anggur di restoran ini bukanlah anggur yang terbaik, tetapi anggur adalah teman paling baik untuk bercerita.

Aku melanjutkan cerita tentang keluarga kecilku. Istriku dengan mood-nya yang berubah-ubah dan putri kecilku yang sedang bertumbuh. Kebanggaanku untuk bisa melihat putriku bertumbuh bersamaku.

“Apa anda bahagia?” Pria itu memotong cerita tentang keluarga kecilku. Aku tidak tahu harus menjawab apa, dan dari mana harus memulai berpikir untuk bisa menjawab pertanyaan sesederhana itu. Walaupun jawabanya hanya membutuhkan kata “ya” atau “tidak” atau mungkin “belum”.

Tetapi aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu dengan sederhana.

“Anda bahagia. Saya bisa melihat itu dari mata anda”, Dia menjawab pertanyaannya sendiri, sambil tertawa kecil memecah kekakuan di meja ini. Aku masih belum menjawab pertanyaannya. Aku kembali masuk dalam perdebatan khayalanku untuk menjawab apa aku bahagia. Tapi aku belum memiliki segalanya, jika itulah arti dari bahagia. Maksudku, aku memang sudah memiliki istri terbaik dan Tuhan telah memberiku putri kecil yang sempurna, sungguh aku tidak pernah berhenti bersyukur untuk itu. Tetapi aku masih belum bisa mewujudkan mimpi-mimpiku yang lain; Memiliki rumah impian, rumah kayu dan perabotan antiknya, dengan halaman belakang menghadap pantai memperlihatkan laut yang menghampar, yang berada di daerah Uluwatu, Bali. Memiliki pekerjaan yang bisa dibanggakan dengan penghasilan yang berlimpah sehingga limpahannya hanya bisa digunakan untuk berbagi dengan orang lain. Membeli mobil impianku juga mobil impian istriku, menyekolahkan putri kecilku di international school yang biaya masuknya saja bisa mencapai harga sebuah mobil, dan masih banyak lagi.

Jadi untuk pertanyaan ini, seharusnya satu-satunya  jawaban yang tersedia untuk aku pilih adalah “Belum, aku belum bahagia” Ya, aku mengakui aku belum bahagia, aku masih berjuang untuk itu. Dan aku yakin, aku bukan satu-satunya.

Alunan musik gamelan bali dan riuh kecil dalam restoran itu mengiringi khayalanku.

Selama hidupku, aku sudah mengenal segala macam manusia: mereka yang kaya, mereka yang miskin, mereka yang berkuasa dan yang hidup seadanya. Aku melihat kepahitan yang sangat dalam di mata setiap orang, bahkan tidak bisa ditutupi walaupun orang itu mencoba memanipulasinya dengan lelucon-lelucon konyolnya, tawa lepas dan nyanyian riangnya. Aku tetap bisa melihat kepahitan itu. Sebagian orang mungkin terlihat bahagia, tetapi sebetulnya mereka tidak pernah memikirkan hal itu dengan sungguh-sungguh. Sebagian lain membuat rencana. Mereka ingin punya suami atau istri yang aku dambakan, rumah, dua orang anak, dan villa di luar kota. Selama mereka sibuk dengan itu, mereka bagai mobil yang berjalan dalam kegelapan, dengan hanya mengandalkan cahaya yang tidak bisa lebih jauh dan lebih terang dari batas kemampuan lampu mobil itu. Mereka berjalan secara naluriah. Menabrak ini dan itu, tanpa mengetahui tujuan mereka yang sebenarnya. Mereka bisa punya rumah, tidak jarang bahkan rumah yang sangat mewah. Mereka mengira itulah arti hidup ini, dan mereka tidak pernah mau membahas hal itu. Tetapi mata mereka tetap menunjukan kepahitan yang bahkan tanpa mereka sadari kepahitan itu sudah lama tinggal dalam jiwa mereka.

Aku tidak yakin apakah orang-orang yang aku kenal telah berhasil dalam karir dihidupnya sudah merasa bahagia. Yang aku tahu mereka semua masih selalu berjuang untuk itu. Dan hidup sudah seperti ini sejak dahulu. Mereka berjuang untuk menjadi yang terbaik di kalangannya, apapun caranya, jika cara yang terbaik bertemu jalan buntu maka cara terburukpun menjadi jalan yang paling baik, walau mereka harus curang. Ya curang. Mereka sibuk bekerja tidak kenal waktu. Mereka berjuang untuk mendapatkan dunianya yang tenteram agar tidak perlu khawatir pada pasangannya, khawatir pada anak-anaknya, khawatir pada kariernya dan khawatir pada gelarnya. Mereka tidak perlu khawatir akan apa yang harus dipersiapkan untuk menghadapi hari esok, dan tidak perlu khawatir akan kepuasan-kepuasan yang belum mereka miliki. Dengan pencapaian yang sudah mereka raih, dan dengan kekhawatiran yang mereka rasakan tetap saja aku tidak pernah menangkap mata mereka dengan tulus memancarkan kebahagiaan.

Aku terlalu lama berpikir, anggur inipun ikut menuntunku. Dan aku sadar sudah meninggalkan obrolanku dengan pria itu terlalu jauh, temanku sudah menyambung cerita dengan pria itu. Sesaat setelah aku mulai diam, berpikir dan keluar dari obrolan, berkhayal sendiri. Untungnya dengan Bahasa Inggris seadanya temanku sudah menyelamatkanku untuk melanjutkan pikiran dalam khayalanku lagi, aku mengamati orang – orang disekelilingku dalam restoran ini. Mencoba menghakimi mereka dari mata dan pikiranku. Mereka terlihat bahagia, tetapi mereka hanya tertawa-tawa, tenggelam dalam kehidupan kecil mereka yang mengabaikan kehidupan kecil yang lainnya. Mereka masih memegang prinsipnya bahwa keluarga, rumah, pekerjaan, mobil dan segala hal yang menunjukan hasil dari usahanya adalah arti hidup. Dan aku yakin itu semua adalah hal terkecil dari hidup. Pasti masih banyak hal lain yang aku dan mereka belum pahami.

Aku bisa saja mendesak dan menghujam mereka dengan pertanyaan-pertanyaanku ini secara terus menerus, dan pada akhirnya mereka semua akan menyebutkan sesuatu yang belum bisa mereka wujudkan. Orang yang kaya raya, punya segalanya dan bisa membeli apa saja, yang putus asa karena dia pikir bisa membeli cinta. Orang itu menderita karena tidak ada cinta untuknya, mungkin banyak wanita yang hadir dalam hidupnya, akan tetapi wanita – wanita itu hadir hanya karena materi, bukan karena cinta tulus adanya. Tetapi cinta tulus itulah kepuasan dan kebahagiaannya. Orang yang sangat sederhana, memiliki cinta sejatinya tetapi tidak tahu harus dibawa ke mana, karena dia sendiri tidak punya bekal untuk menghidupi kekasihnya, bahkan dia tidak punya sedikitpun peluang untuk mewujudkan itu. Mereka yang diberi karunia kepintaran memburu gelar agar menjadi ahli dalam bidangnya, tetapi pada akhirnya tidak jarang mereka bekerja di tempat yang bukan keahliannya, bukan bidangnya, bidang yang mereka keluti bertahun-tahun lamanya. Akhirnya dalam hati mereka mengaku kalah, sadar bahwa mereka sesungguhnya belum bahagia dan masih jauh dari kata itu.

“Aku mengagumi perdebatan dalam pikiran dan hatimu” Ucap pria itu, melihat aku melamun sepanjang makan malam.

“Maksud anda?” Jawabku

“Ya, anggap saja kata-kataku tidak ada maksud apa-apa, Akan tetapi aku paham sekali bahwa dalam diri anda masih banyak perdebatan yang sepertinya tak terselesaikan. Sebaiknya anda fokus kepada Tuhan, bukan pada kelemahanmu”, sambil mengusap keringat di dahinya lagi.

“Aku masih belum mengerti apa yang anda coba katakan kepadaku. Maksudku, kenapa anda tiba-tiba berbicara seperti itu? Apa yang anda lihat dariku di saat aku melamun tadi?” aku sedikit merasa terusik dengan kata-katanya yang membingungkan.

“Aku hanya melihat anda terdiam sesaat setelah anda bercerita tentang pernikahan tadi, aku hanya menebak mungkin anda sedang memikirkan itu”

“Semua keluarga punya masalahnya masing-masing, demikian dengan pernikahan, mungkin anda belum menemui masalah pada saat ini. Tapi jika anda menemuinya nanti, yakinlah bahwa itulah sesungguhnya pernikahan. Sehingga pada saatnya tiba nanti, anda tidak akan bingung, dan tahu anda harus kemana” lanjutnya.

“Kemana?”

“Tuhan” dia menjawabnya.

“Entah mengapa, aku percaya suatu saat nanti anda akan bertemu denganku lagi, dan pada saat itu anda sudah tahu segala jawaban dalam hidup anda. Anda hanya perlu membaca pertanda-pertanda disekeliling anda, menjalaninnya dengan tulus dan biarkan tangan-tangan lain berkerja untuk hidup anda”. Dengan cepat pria itu memecahkan perdebatan di dalam pikiranku, aku masih mencerna perkataanya. Belum sempat mencerna dengan baik perkataannya tadi, dia menasihatiku lagi. Membuatku merasa takut dengan kalimat tentang kemungkinan kami bertemu kembali, tapi aku tidak terlalu menganggap serius ucapnya itu.

“Dalam hidup ada penderitaan dan ada kekalahan. Tak seorangpun dapat menghindarinya. Tetapi lebih baik kalah dan menderita dalam beberapa pertarungan demi impian-impianmu, daripada kalah tanpa mengetahui apa yang kau perjuangkan”, nasihatnya lagi.

Anggur di gelasku juga telah habis, aku harus menghentikan pikiran-pikiranku yang sudah menguap hanya untuk menjawab pertanyaan pria Perancis itu. Mencari arti dari kata “Bahagia”, yang bisa kuuraikan dengan bijak dalam pikiranku tetapi belum bisa aku buktikan dalam langkahku.

“Ingatlah bahwa di mata Tuhan, kebijakan manusia adalah kegilaan. Namun kalau kita mau mendengarkan suara kanak-kanak yang tinggal dalam jiwa kita akan mengerti arti kehidupan.”, Seolah dia bisa membaca pikiranku.

Tidak terasa kami sudah menghabiskan banyak waktu untuk makan malam, setelah membayar bill, Nathanael sepertinya akan segera pergi. Di tengah-tengah obrolan kami tadi Nathanael mengatakan bahwa malam ini adalah malam terakhirnya di pulau dewata, sehingga dia tentunya tidak ingin menghabiskan malamnya hanya bercerita di restoran ini.

“Baiklah, Senang bisa bicara dengan anda. Selamat malam Nathanael.” Ucapku.

Young married guy…” Dengan mata yang menyorotkan ketenangan dan penghiburan. ”Ada beberapa hal dalam hidup yang layak diperjuangkan hingga titik terakhir, percayalah, perjuangan itu adalah; keluarga kecilmu.” ucapnya.

Nice talkin’ to you, see you bye” Jawabku. Hanya itu yang bisa aku katakan. Kata-kata terakhirnya sungguh berarti buatku. Sungguh aku butuh seseorang mengulangi kata-kata seperti itu setiap hari.

Malam yang tidak biasa ini telah menyelamatkanku. Seperti pertemuan kami memiliki pesan dan pertanda untukku. Aku juga harus segera pulang, karena tidak seperti masih sendiri dulu, kali ini istri dan putriku sudah menungguku di rumah untuk segera pulang. kamipun berpisah.

Belakangan baru aku ketahui bahwa Nathanael adalah seorang Pendeta. Informasi yang tidak aku dapat di saat aku meninggalkan meja untuk pergi ke kamar kecil di tengah-tengah percakapan makan malam tadi, dan temanku menjadi satu-satunya pendengar pada waktu itu. Pantas saja dia tidak menikah, dan apa tujuan seorang pendeta dari Perancis itu datang ke pulau ini? Nathanael adalah Pendeta dari desa di Perancis yang bernama Saint Savin, Lourdes. Nama desa yang pernah aku baca ada pada salah satu novel terkenal. Desa yang menjadi salah satu tempat tujuan ziarah bagi umat Katholik, disana terdapat patung Bunda Maria, tempat dimakamkannya orang kudus dan tempat dimana banyak orang yang meninggalkan kota datang ke pegunungan itu untuk mencari Tuhan. Aku pernah berbicara dengan istriku untuk berencana berziarah ke sana bersamanya dan putriku.

Malam yang ajaib. Bagiku ilmu yang aku dapat dari setiap kata pria itu sangatlah berarti. Kami mungkin hanya bertemu beberapa jam yang lalu, tapi aku merasa setiap kata yang diucapkanya itu sangat tulus seperti nasihat seorang ayah kepada anaknya. Bahkan aku belum pernah mendapatkan nasihat seperti itu dari ayaku sendiri, tidak sedikitpun.

Dari pengalaman malam itu aku menyadari bahwa kita hanya dapat menerima keajaiban dalam hidup sepenuhnya jika kita mengizinkan hal-hal tak terduga untuk terjadi. Maksudku, bagaimana jika pada awalnya aku memilih untuk tidak makan malam bersama dengan pria Perancis itu, dan sedikit bersabar untuk menunggu meja lain yang kosong… .

Bersambung>>>

Advertisements

Author: Moussa Askey

It sounds easy, but it is not. I know because i am writing my first book: "Begin at the beginning and go on till you come to the end: then stop" (Alice in the Wonderland)

20 thoughts on “The Experience of Young Lover I”

  1. alurnya lo buat menarik mos nice..tp perbendaharaan katanya lo banyakin
    notes : rasa syukur adalah “rem” terbaik dalam mencari kepuasan duniawi..

  2. Bab 1-nya bagus sa..
    Cuma masalahnya tetap pada apa yg gw blg wkt itu. Kl itu dibenerin lg pst jd tmbh bagus nih ceritanya..hehe. Misalnya: “Baik – baik mbok” itu harusnya ‘baik-baik’. Ga spasi di tanda strip-nya. Terus.. “Lalu kami melanjutkan bercerita panjang lebar dan semakin mel.” ‘Mel’ maksudnya apa? hehe.. coba deh u perhatiin lg kata per kata nya.. Nice story.^^

  3. Hmmm,,idE??? gA aDa juGa…
    tp yG pasti,,aQ nuNggu ceRitanya smp km bAhagia kAk.. ^^
    ceRitain aja tentang pernikAhanMu n kehiduPan kLuargaMu,,yg di Atas kAn mAsih separuh tuh,,tp nTar mAsukin juGa kLimaKsnya,,sAmpe aKhirnya km uDah bAhagia trus bisa keTemu Lg deh ma si buLe itu bAreng mA aNak n iStri,,heheheh… :-p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s