E11even


Tulisan ini terinspirasi dari The Zahir-nya Paulo Coelho, buku yang menemaniku setahun terakhir , tentang makna cinta dan kekuatan takdir, tentang saat merobek dan saat menjahit, tentang being lost and being founded, tentang menelusuri perjalanan cinta.

Catatan Penulis

Setahun terakhir aku hanya mampu menyelesaikan 161 halaman dari 437 halaman, dan dari 161 halaman itu telah menginspirasikan beberapa tulisan di blog ini. Selain rutinitas kerja yang menyibukanku dan malam-malam yang menyita waktu istirahatku, ada satu hal lain yang membuatku belum bisa menyelesaikan buku ini, adalah setiap kata dan kalimat yang membuatku terhenti sebentar dan berimajinasi, membuka mataku sedikit demi sedikit yang entah ini suatu kebetulan atau hanya rekayasa pikiranku bahwa cerita dalam buku ini sama persis dengan apa yang aku alami saat ini.

Aku akan menelusuri perjalanan cintaku dalam tulisan ini, menelanjangi satu-persatu dari masing-masing hubungan, ini sangat melegakan.

Eleven, judul yang aku pilih untuk men-describe isi tulisan ini. Eleven yang berarti angka 11, adalah jumlah pemain dalam sepak bola; Jika angka 1 adalah pemain paling belakang maka angka 11 merupakan pemain paling depan, si penyerang, si pengambil keputusan akhir dan si penentu. Angka 11 adalah satu jam terakhir untuk pergantian hari, satu jam terakhir menuju suatu perayaan; Tahun baru, ulang tahun, peringatan hari bersejarah. Ada momennya satu jam terakhir itu menjadi saat yang ditunggu-tunggu. Jumlah sebelas yang juga aku artikan sebagai jumlah wanita yang pernah dan sedang masuk dalam cerita di hidupku dan akan aku telanjangi satu-satu.

Sebelas

Sekarang situasiku bisa dikatakan mendekati sempurna, jangan sampai sempurna, karena kesempurnaan akan membuatku bosan. Aku memiliki kekasih yang ceria dan menarik, karirku berangsur-angsur membaik, dan besar kesempatan bahwa dengan berjalannya waktu semua akan beres sendiri.

Aku akan membuka cerita dari wanita pertama yang datang dalam hidupku sampai yang ke sebelas yang sedang aku jalani sekarang. Aku akan mencoba mengingat satu-persatu, kata seorang kepadaku; “masa lalu adalah rancangan masa depan, yang membentuk kita menjadi seperti saat ini.” Adakah keterkaitan cerita masa lalu yang menuntunku untuk mengetahui kelanjutan kisah hidupku dengan wanita yang sedang aku ajak bertualang saat ini? Adakah pertanda yang terlewat yang aku tidak perhatikan?

Aku percaya pada pertanda-pertanda. Setelah segalanya telah berubah, semua yang perlu kita pelajari  ada di sekeliling kita, kita hanya perlu melihat sekeliling kita dengan penuh respek dan perhatian, untuk melihat ke mana Tuhan menuntun kita dan langkah apa yang harus kita ambil. Aku juga belajar untuk respek pada suatu misteri: Seperti kata Einstein; “Tuhan tidak bermain dadu dengan Alam Raya.” Menurutku semuanya saling berkaitan dan mempunyai arti. Arti itu mungkin tersembunyi hampir sepanjang waktu, tapi setiap kita melakukan sesuatu dengan antusias, kita sudah tahu kita sudah dekat dengan tujuan kita yang sesungguhnya.

Satu – Sebelas

  1. Wanita yang pertama hadir dalam hidupku adalah Christie Adelheid Kanter, yang juga menjadi inspirasi beberapa tulisan: ‘Still in Memory’ dan ‘One Step Closer to Love’. Beberapa kesamaan pada kondisi kita pada masa itu membuat sisi innocent-ku membuatku berpikir bahwa kita itu jodoh. Alur cerita cukup singkat dan berakhir dengan tindakanku yang memalukan; aku memberi hadiah natal yang aku ambil dari koleksi tanteku tanpa izin, dan akhir cerita boneka yang sudah aku kasih harus dikembalikan ke pemiliknya (tanteku sendiri) dan tidak ada satu percakapanpun setelah kejadian itu. Rasa malu yang membuatku jadi pengecut dan menghindar dari dia. Jujur, pada saat itu aku tidak tahu harus memberi apa, aku tidak mempunyai uang yang cukup untuk membeli hadiah natal yang sederhana, dan pada saat itu aku akan melakukan segala hal hanya untuk menarik perhatian dia_mendapatkan hatinya. Wanita yang membuatku terlalu terobses dan mambawa kegilaan dalam cinta.
  2. Wanita ke-dua adalah Sarah Rebecca, kita hanya beberapa minggu menjalani hubungan, dan berakhir menjadi sahabat sampai saat ini, bahkan persahabatan ini akan berlangsung selamanya menurutku, dia sudah seperti keluarga, seperti adik-adikku. Tidak ada batasan antara kita, kita begitu bebas dan lepas jika bersama, tidak ada aturan, tidak ada sakit hati, kita memang ditakdirkan untuk menjadi sahabat sejati.
  3. Wanita ke-tiga. Rani, hubungan yang berjalan cukup lama walau dalam keadaan sulit, kenyataan bahwa kita berbeda iman yang cukup menggangu hubungan ini untuk berjalan terus. Bersamanya aku mendapatkan pengalaman sex pertamaku dan menjadi laki-laki pertama yang menembus perawannya, kita sama-sama berpetualang sembunyi-sembunyi, kita bercinta di warung internet sepulang sekolah, bercinta di kamarnya pada saat orangtuanya sedang berkumpul diruang tamu persis di seberang kamarnya, aku sembunyi di lemari pakaian hampir berjam-jam hanya untuk mendesain rencana untuk menginap di kamarnya dan bercinta semalaman, di rumahku, di kamar orang tuaku, di ruang tamu, hampir di detiap sudut ruangan.
  4. Gladys adalah wanita ke-empat. Jujur, dia mungkin tidak berparas cantik bila di bandingkan dengan wanita-wanita sebelumnya, tapi dia sangat manis, dan sex yang kurang begitu hebat. Menurutku dia adalah wanita paling berhati emas yang pernah aku miliki, hanya saja aku terlalu sombong dan angkuh pada saat itu dan menyia-nyiakannya.
  5. Elfride adalah wanita ke-lima. Wanita yang sempurna dari segi fisik, seiman dan se-hobby. Dulu dia hanya seorang bocah yang sangat senang dengan olahraga basket dan sekarang dia menjadi wanita yang menjanjikan di dunia modeling, termasuk dalam sepuluh besar Wajah Femina adalah prestasi terbaiknya. Dia yang datang, dia yang mengetuk pintu, dia yang memanggil nama lengkapku hampir setiap hari dan harus berakhir dengan pertengkaran kata yang kasar dan bermusuhan. Dari situ dapat saya simpulkan “The hottest love, has the coldest end”.
  6. Wanita ke-enam bernama Ima, Hampir sempurna, Seiman, wanita pujaan di kampus yang aku memenangkan hatinya dalam persaingan sehat dari laki-laki lain yang mencoba mendapatkan hatinya juga. Umur hubungan kita tidak sampai satu bulan, sahabatku sendiri yang menjadi dalang berakhirnya hubungan kita. Ima, hadirnya dia dalam hidupku memberi aku pelajaran, bahwa dunia tidak akan berhenti menungguku menangisi kehilangan akan sesuatu, aku perlu berjalan terus.
  7. Ratih, gadis Bali yang menjadi wanita ke-tujuh dalam hidupku. Wanita penjelajah, wanita yang bertangan kuat dan penuh permainan. Kita tidak berjalan lama, adanya hubungan ini tidak lain terdorong akan kebutuhan masing-masing akan sex. Sex sepulang kuliah atau sex sebelum menerima materi dalam kuliah, kitapun berdamai dalam perbedaan dan berakhir dengan baik-baik. It was a great sex, she’s a Balinesse Dancer, and her sexy body is undoubtable.
  8. Wanita ke-delapan bernama Grace. Satu iman, sedikit keluar dari tipe wanita-wanita sebelumnya, dia bukan wanita cantik jelita yang bertubuh sexy, maaf dia tidak masuk dalam kriteria itu sama-sekali. Tapi, kedewasaanya dalam spiritual. Kedekatannya akan Tuhan cukup mengubah cara aku berpikir, membuatku secara otomatis ikut menjadi manusia yang ingat akan Tuhan. Kita berakhir karena tingginya hasrat memuja laki-laki dalam dirinya mengaggu ego-ku dan membawa kecemburuan yang membuatku yakin untuk pergi darinya.
  9. Thasya, wanita ke-sembilan, mantan istriku. Bisa dilihat dari artikel yang berjudul “The Experience of Young Lover”. Aku hanya terus bertanya kepada Tuhan, untuk apa nasib mempertemukan kami? Perjalanan ini memberiku pelajaran bahwa; “Sometimes you have to be knocked down lower than you ever have, in order to be able to stand up higher than you have.”
  10. Savira Fachrina si bocah ke-sepuluh, perbedaan, pertemuan yang salah, dia wanita yang penuh dengan kebohongan hampir setiap kata adalah rekayasa yang patut dipertanyakan, karma, kebangkrutan financialku, kebutaan akan realita bahwa seharusnya hubungan ini tidak pernah terjadi, kita sama-sama hilang di tengah hutan belantara, kejenuhan long distance dengan kekasihnya dan ketidaksiapan kesindirianku dalam last minute divorce menuntun kita pada cinta tanpa harapan, salah satu sex terbaik dalam hubunganku, bercinta di villa mewah yang aku sewa sebulan penuh, bercinta di private pool, di Ubud yang bergelinjang, air panas Bedugul yang bergelora, Jakarta dan bandung juga masuk dalam daerah petualangan kita. Hubungan ini mengajarku menjadi lebih bijaksana, membuatku bisa mengendalikan emosi dan membuatku menjadi laki-laki yang lebih pemaaf. And don’t ask why she’s keep hurting me. I have to ask my self why I am allowing it to happen.
  11. SEBELAS, Kesia adalah wanita ke-sebelasku. Dia seorang model, cantik dan sexy, kupu-kupuku, salah satu jawaban dalam doaku, masa depanku (hopefully),  kita masih dalam masa adaptasi, long distance yang segera berakhir, satu-satunya wanita yang bisa membuatku meninggalkan Bali. Masih ada kenyataan lain yang aku rasa harus aku simpan sendiri sampai dia mengizinkan untuk aku tulis.

Saat ini kisah cinta sedang mengujiku, aku bisa menganggapnya sebagai siksaan atau sebagai berkat. Aku belajar: Instead of saying all of my goodbye, I have to let them know that I realize that life goes fast, it’s hard to make it good things last.

Duniaku sudah berubah sekarang_sangat-sangat berubah, kebijaksanaan datang dengan sendirinya, duniaku tidak ada yang pasti, masih banyak kemunginan yang bisa terjadi.

Di Duniaku yang dulu, bila seorang anak disuruh beli lima apel tapi pulang kerumah dengan hanya membawa dua, aku akan mengambil kesimpulan anak itu telah memakan yang tiga. Di duniaku yang sekarang, ada kemungkinan-kemungkinan lain: bisa saja dia telah memakan tiga apel itu, tapi bisa juga dirampok, atau uang yang diberikan padanya mungkin tidak cukup untuk membeli lima apel, atau tiga apel itu hilang di jalan, atau dia bertemu dengan orang yang kelaparan dan memberikan tiga apel pada orang itu, dan kemungkinan lainnya.

Di duniaku yg baru, semua kemungkinan bisa terjadi, dan semua kemungkinan saling berkaitan.

~~~

Published in: on May 24, 2012 at 2:18 pm  Leave a Comment  

Whole Hearted


Ketulusan sepasang kekasih

Catatan Penulis

Cerita dalam tulisan ini terinspirasi dari buku ‘by the river piedra I sat down and wept’ karangan Paulo Coelho dan sangat berhubungan erat dengan hidupku saat ini. Judul ‘Whole Hearted” sendiri yang berarti; sepenuh hati, kesungguhan dan tulus.

Persembahan

Tulisan ini kupersembahkan untuk Kesia kekasihku, yang menjadi inspirasi untuk membuat tulisan tentang ‘Ketulusan’. “Semoga kamu suka sayang.”

Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia dan kau pun mungkin akan melakukan hal yang sama hanya untuk membuatku bahagia. Pada akhirnya kita hanya dua orang yang mencoba untuk saling membahagiakan, tidak ada hal lain.

Seorang anak laki-laki dan perempuan jatuh cinta setengah mati. Mereka memutuskan untuk bertunangan sebelum anak laki-laki itu pergi berlayar. Dan ketika itulah kedua calon mempelai saling bertukar hadiah. Anak laki-laki itu sangat miskin, miliknya yang paling berharga hanya arloji yang diwarisinya dari kakeknya. Ketika dia membayangkan rambut kekasihnya yang indah, dia memutuskan menjual arloji itu untuk membelikan jepit rambut perak bagi kekasihnya.

Anak perempuan itu juga tidak mempunyai uang untuk membeli hadiah bagi kekasihnya. Dia pergi ke toko milik pedagang paling sukses di kota itu, dan menjual rambutnya. Dengan uang yang didapat, dia membelikan rantai jam emas bagi kekasihnya.

Ketika bertemu di pesta pertunangan, si anak perempuan memberikan rantai jam untuk arloji yang telah dijual kekasihnya, dan si anak laki-laki memberinya jepitan untuk rambut yang tak lagi dimiliki kekasihnya.

“Key, you have my whole heart for my whole life.”

“The qualities of love of a relationship are in direct proportion to the depth of the commitment by both people to making the relationship successful. Commit yourself whole heartedly and unconditionally to the most important people in your life.”

~~~

Published in: on May 22, 2012 at 10:31 am  Leave a Comment  

The Grey


“Sometimes we have to be apart until we both know that we’re belong together.”

Ada dua macam dunia; dunia yang kita impikan dan dunia yang nyata. Aku merasa ada diantara dua dunia itu.

Di dunia impianku; aku telah meruntuhkan pondasi rapuh masa lalu, sambil menyusun lagi dengan teliti setiap susunan pondasi awal, mengganti dengan yang baru.

Kesia kekasihku, ada di suatu tempat menunggu dengan tulus sampai aku menyadari bahwa ketulusan akan menghasilkan kebaikan.

Di dunia nyata; kita masih abu-abu, kita melihat dunia apa adanya bukan apa yang ada di imajinasi kita. Kita menyusun rencana, kita membuat cita-cita. Untuk mencapai kesana aku harus pergi mengumpulkan beberapa puzzle yang dapat menyusun gambar masa depan kita, kita harus berpisah untuk beberapa waktu sampai kita sadar bahwa kita baiknya bersama.

Kita percaya tidak ada yang terlalu cepat dan tentu tidak ada yang terlalu lambat, aku perlu berjalan terus sampai aku sadar, bahwa kesia ada di dunia untuk menemukanku.

~~~

Published in: on May 22, 2012 at 7:48 am  Leave a Comment  

Butterfly


Beautiful and graceful, varied and enchanting, small but approachable, butterflies lead me to the sunny side of my life.

Dia yang terbang. Dia kupu-kupu yang berenang. Dan aku, adalah saksi yang melihat semua itu dengan mata telanjang.

Dia menatapku dengan pancaran mata riang, temannya yang peramal menyatakan dia itu tabir, yang berbinar riang walau mungkin lain dalam hatinya. Syahdu meliputi butir-butir terik matahari yang jatuh menimpa tubuh kita melalui kaca mobil dalam perjalanan yang diam-diam menggelinjang.

Dia mengganti sinar bulan yang tidak hadir malam itu. Kita menikmati deru ombak diiringi samar suara musik dari kafe di kejauhan pantai yang saling berebut perhatian. Ada satu pecahan jatuh tepat di antara bibirku yang tengah berjuang tentang perasaan hati saat ini. Seolah dengan sengaja ingin berenang dalam perasaan senang yang aku tahan beberapa minggu terakhir.

Dia kupu-kupu, melayang-layang di halaman kepalaku, menari-nari dalam mataku, dan warna-warni sayapnya menumpahi hari-hari biasaku.

Dia kupu-kupu, yang menghargai masa laluku, baik dan buruk.

Dia kupu-kupu, yang membuatku berpikir sekali lagi, bahwa tidak perlu pesimis dengan kejauhan. Karena kupu-kupu ini akan tetap kembali bermain di halamanku.

Sekarang, kupu-kupu itu adalah kekasihku.

~~~

Published in: on May 2, 2012 at 4:29 pm  Leave a Comment  

maybeshewill


If things are going good, enjoy them while they are here. If things are going bad, don’t worry it won’t last forever.

~~~

Sebelum aku mulai bercerita, sebelum aku mulai mengungkit-ungkit cerita nyata, aku mau menggambarkan suasana kepalaku beberapa minggu terakhir; terus beradaptasi pada suasana baru, terus membuat suatu standar, terus menemukan arti di balik cerita dan terus melamun pada satu senyuman.

Malam itu langit mendung dengan peluang air mata rintik-rintik. Head set melantun lagu-lagu sedih, pipiku kaku kedinginan di tempat yang pernah kita sebut “kamar kita”. Tempat yang baru aku sadari seperti neraka yang bisa kusebut rumah. Dari jendela  kamar aku bisa melihat masa depan kita menuju ke arah yang sama namun tersendat di banyak tempat. Berbicara dalam hati “We can work it out” harus, karena kalau tidak aku bisa terlunta-lunta seperti sampah di pinggir pantai. Kita memaksakan diri ingin segera menuju what’s next selanjutnya. Dan akhirnya aku bisa bangga pada diriku bahwa “kita”, ternyata sudah berlalu.

“Kamu masih punya mimpi besar untuk jadi orang” katanya.

Orang? Siapa? Kenapa dia bisa berlagak bijaksana disaat seperti ini, kadang kesuksesan berbanding lurus dengan frekuensi jalan-jalan ke luar negeri. Di satu titik aku merasa cukup menjalani yang sudah aku punya saja. Di titik ini kadang kita bisa sangat sinis dan sensitif, titik dimana pasangan harus segera sadar bahwa hubungan mulai tidak sehat. Tapi kadang juga manusia malah menikmati sesuatu yang tidak sehat, bahkan sampai kecanduan.

Kembali tentang satu senyuman.

Senyuman yang aku tangkap dengan jaring kupu-kupu beberapa minggu terakhir, senyuman yang melayang-layang di langit cerah, senyuman yang tidak pernah letih bermain-main di kepalaku, membuat suasana indah seperti nyata, karena sebelumnya suasana indah hanya buah-buah khayalan buatku.

The world always looks brighter from behind her smile.

Senyumnya membuatku sadar, bahwa sesuatu yang buruk akan segera berakhir, dan karena senyumnya adalah baik, aku mau menikmatinya setiap hari.

Will she still smile for me in the morning?

~~~

Published in: on April 26, 2012 at 1:24 pm  Leave a Comment  

The Art of Moving On


If you are brave to say “Good bye”, life will reward you with a new “Hello”

Aku mau bermain-main dalam kepalaku sebentar, mengingat sedikit dari beberapa pegalaman, dan masuk kedalam fase yang manusiawi, fase dimana saat harus meninggalkan sesuatu yang berharga_sesuatu yang hampir tidak bisa ditinggalkan. Pada awalnya aku menjadi manusia bingung, terus mencari apa yang salah dari diriku, apa yang terlewat yang aku tidak perhatikan, dan akhirnya aku mau belajar untuk melupakan untuk meneruskan hidup.

Umumnya orang baru sadar betapa berharganya hal yang dia miliki, justru ketika hal itu sudah hilang dari kehidupannya. Aku percaya bahwa, kamu (pembaca) pernah masuk dalam fase kehilangan dan pencarian, itu sebabnya sangat penting untuk membiarkan hal-hal tertentu berlalu.

Lepaskan saja. Biarkan. Orang perlu mengerti bahwa hidup ini tidak pasti; kadang kita menang, kadang kita kalah. Jangan harapkan imbalan, jangan harapkan pujian atas usahamu, jangan harapkan kejeniusanmu dikenal orang atau cintamu dimengerti. Tutup lingkarannya. Bukan karena gengsi, ketidakmampuanmu, atau arogansi, tapi karena apapun hal itu sudah tidak sesuai lagi dengan hidup kita. Tutup pintu, hapus catatan, bersihkan rumah, buang debu. Berhentilah menjadi diri kita yang dulu dan jadilah diri kita yang sekarang.

Aku tahu tidak semudah itu, karena akupun sedang  mengalaminya. Selalu saja kita menghadapi satu titik dimana kita menyerah untuk Move On, titik dimana kita tidak bisa maju_satu langkahpun, selalu ada kejadian dalam hidup kita yang menghalangi kemajuan kita: suatu trauma, kelelahan yang sangat menyakitkan, kekecewaan pada suatu hubungan yang tidak berjalan dengan semestinya, bahkan kemenangan yang tidak kita pahami, bisa membuat kita menjadi pengecut dan menghalangi kita bergerak maju.

Aku pernah mendengar cerita seorang teman yang baru saja berpisah dari pasangannya, katanya; “Sekarang aku bisa menikmati kebebasan yang selalu aku impikan”. Tapi itu bohong. Tak seorang pun yang menginginkan kebebasan semacam itu. Kita semua menginginkan teman hidup_lebih dari sekedar teman. Kita semua ingin ada seseorang disisi kita untuk menikmati keindahan pantai di Bali atau gunung-gunung di Kintamani, untuk membahas buku, film, lagu-lagu, atau bahkan hanya untuk berbagi sehelai selimut tipis dalam kedinginan malam.

Lebih baik kelaparan daripada kesepian. Karena kalau kita kesepian, dan yang saya maksud adalah kesepian karena terpaksa, bukan atas pilihan sendiri, kita akan merasa seakan-akan bukan lagi bagian dari apa-apa, tapi berada bersama orang lain dan membuat kita merasa seakan kita tidak penting dalam hidup mereka lagi, adalah jauh lebih buruk daripada merasa sendirian dan kesepian.

Kejadian 2:18

Menyatakan, TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Wahyu 21:5

“Lihatlah, Aku akan menjadikan segala sesuatu menjadi baru!”

Ada lagi yang mau aku tambahkan dari tulisan ini. Setelah kita berhasil melupakan masa lalu, dan meninggalkan sesuatu yang sulit ditinggalkan. Sebelum kita mencintai orang lain, sebaiknya kita tahu dan memahami diri kita sendiri terlebih dahulu.

Mungkin kalau bisa aku gambarkan seperti ini; Seseorang yang aku cintai bukanlah orang yang menggenapkan setengah lingkaran yang  aku punya. Aku harus menjadi utuh satu lingkaran terlebih dahulu dan dia juga merupakan lingkaran yang utuh. Jadi bukan dengan berkata “Aku tidak bisa hidup tanpamu” melainkan “Aku lebih suka hidup bersamamu”.

“Move on. It’s just chapter of past. Don’t close the book, just turn the page.” :)

Published in: on April 5, 2012 at 2:21 pm  Comments (2)  

The Messages from Random Passengers


“Penumpang kami yang terhormat, sesaat lagi kita akan lepas landas dari Bandar Udara International Soekarno-Hatta, waktu setempat saat ini menunjukan pukul sembilan malam waktu Indonesia bagian.. .”

Aku memejamkan mata, mengeraskan sedikit volume music Coldplay dari PSP, dan kepalaku tetap memikirkan sesuatu yang membuatku gelisah, kenyatan bahwa keputusan besarku untuk meninggalkan zona nyamanku di Bali dan pergi ke Jakarta untuk memperbaiki sesuatu yang ternyata tidak bisa diperbaiki, dan kembali lagi ke Bali.

Kenyataan bahwa aku akan memulainya lagi dari NOL.

Kenyataan bahwa kepulanganku ke Bali hanya untuk menemui seseorang.

Seseorang yang menjadi teman mainku, teman untuk berbagi berbagai moment dan dia juga teman tidurku, dia aku sebut “Sang pengalih”. Dia datang ditengah-tengah last minute divorce yang sedang aku jalani, dia menjadi penghangat dalam pertengkaran dingin, dia menjadi pengalih rasa sakit dari luka perceraian dan menjadi pengalih dari perhatianku pada masa lalu yang pelik. Dia: Kekasihku.

Kenyataan bahwa perceraian ini membuatku untuk tidak ingin kembali dalam suatu komitmen, karena takut untuk kembali kesatu titik ketika yang ada hanya kebencian luar biasa.

“Commitment is a funny thing for me, its almost like getting a tattoo, you think and you think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep.”

Kembali kekenyataan tentang “Sang pengalih”, seseorang yang aku ceritakan sangat sempurna awalnya, yang nyatanya telah menimbun kebohongan besar selama ini, kebohongan yang baru saja aku ketahui setelah berbulan-bulan menjalani hubungan, dan aku memilih untuk tetap bertahan sebentar dalam luka, tetapi dengan hati yang mungkin sudah tidak sesempurna seperti awal, karena ketika kita terluka, kita tidak mati, tapi lukanya membuat kita tidak bisa berjalan seperti dulu lagi.

Aku tidak pernah menyalahkannya, karena akulah orang yang membawa dia kedalam petualangan ini, dan dia tentu belum siap dengan hubungan ini, sebenarnya aku sudah sangat bosan menulis tentang luka dan sakit hati karena suatu hubungan yang tidak berjalan dengan semestinya, tapi berat rasanya untuk menjadi munafik dan menulis sebaliknya.

Aku duduk di antara puluhan penumpang didalam pesawat ini, aku sudah sangat terbiasa melakukan perjalanan pulang-pergi , Bali dan Jakarta, karena tempat tinggal dan mata pencarianaku ada di Bali namun semua keluargaku ada di Jakarta, jadi minimal dua kali aku pulangke Jakarta dalam setahun. Entah mengapa, selalu saja disaat para penumpang duduk dalam pesawat dan menunggu untuk lepas landas, aku menemukan beberapa wajah yang tegang, mereka telah meninggalkan sesuatu dan bersiap untuk bertemu sesuatu, wajah yang terlihat tenang, wajah yang lelah dan siap untuk melakukan perjalan satu jam lima puluh menit tersingkat dalam hidupnya, sebagian mungkin siap untuk berlibur sebagian lain mungkin siap untuk merantau.

Satu jam lima puluh menit yang aku lalui dengan memikirkan seluruh hidupku, apa yang akan aku lakukan setibanya disana, keputusan besar apa lagi yang akan aku ambil, dan begitu rumitnya sampai aku memutuskan untuk menulis pesan;

“Jujur saja, aku lelah berjuang terus. Tapi aku belum akan menyerah dulu. Mungkin aku harus berusaha lebih keras. Mungkin aku harus mencoba sekali lagi_entahlah. Aku tidak akan mengeluh.”

Pesan yang tidak pernah ditujukan untuk siapapun, yang hanya tersimpan dalam draft messages, pesan yang hanya ditulis dalam suatu perjalanan singkat, dan akan terlupakan dengan kesibukan setelah menjalani kehidupan lagi ditempat tujuan, sampai akhirnya tidak sengaja terbaca lagi seperti aku saat ini.

“Penumpang kami yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Bandar Udara International Ngurah Rai Bali, waktu setempat saat ini menunjukan pukul sebelas malam waktu Indonesia bagian.. .”

~~~

Published in: on March 27, 2012 at 1:16 am  Comments (1)  

Thats Why We Pray


No father wants to be separated from his kids. But, as separated families become more common, millions of dads now live apart from their children. Luckily, with faith in pray, a little common sense and compromise from me and my child’s mom, i can still have a great time with my daughter.

~~~

The greatest gift i ever had come from God, and i call him Dad. ~Samantha

~~~

Sometimes when i visit with some of my single father friends, i’m imagine of the challenge that they are facing raising children alone. But i still just don’t get it. How to raise a child by myself.  I absolutely adore and love my daughter. She does have, mostly due to the influence of mine, become strong. But i afraid to think how she might have turned out if i was her lone parent. So, single dads, i hope you can feel my admiration for your taking on the challenge of raising a daughter alone. In trying to understand the keys to success in raising a daughter as a single dad, i turned to some of my friends who have done it well.

Whether you are divorced or separated parent, or whether you are a widowed dad, the challenges are very similar. So, given the advice from those who have walked in your shoes, here are some of my current stories.

When we found her problem, many men tend to take an “I Must Fix It” mentality in their lives and their relationships. We tend to listen long enough to identify the problem, solve and pray then we are off on the solution. My daughters usually don’t want us to fix their issues; She would rather we listen for understanding and let her learn to work our solutions. I always try to keeping the lines of communications open requires time, patience and a willingness to make it a priority, even though in distance.

At first, it is hard to continue my life after last minute divorce and i don’t want to remind my memories or thinking how those things happen in my life. Forget, forgive and moved on. But the purpose about what i’m trying to convey to all of you is the separated between me and my lovely daughter (Samantha).

Someone once said to me that my father leave my mom, my sister and me with no responsibility and no regrets, i have learned that i don’t want to be like him. I know i am failed to maintain my marriage, but this is certainly not my decisions and i had tried to fix it many time until i founded that this is not about how to maintain or to fix, this is about her life, i am admitted thaw “We_parents” too selfish to ignore her; that she’s deserve to have a parents completely.

I have faith that one day we will be together as a family, maybe not now, not tomorrow or  maybe in the other ways or anything possible, we never know. Sometimes it feels impossible; “That’s why we pray”.

Messages;

“I know more people than you can count have probably told you, but you should not give up. I hope you never do. Son, my husband, your father leave us in a bad way almost twenty years ago. I know what it’s like to experience loss but, for the sake of your daughter and me, you have to learn that we cannot give up. Be strong, and know that at least one person out there is wishing the best for you at every possible moment. I love you.” – Mom

“Be strong, we all experience loss at some point of our lives. I’m sure your daughter is proud of you. Because she has such a strong Father and trust me, seeing you cry makes her cry too. She wants her daddy to be happy, so go out there and live your life. First, take a look in the mirror and smile.” – Best Friends

~moussa isaac askey-

Published in: on February 5, 2012 at 9:09 pm  Leave a Comment  

Dreaming what my last day would be.


Today is the last day of an era past

Today is my last day, i have been dreaming last night that it was fun to do this. Just wondering.

Whenever i get to put in my one month notice here is ultimately what i would like to do on my last day. I hope i get these annoying guests that come in and constantly leave 10%.

First i would like to go over to the table on my operator office while they are calling every second to order almost everything on last minute and rude. Then i continue to introduce myself as a operator and offering assistance to get their attention.

After that, i would take their orders and when they ask me; “Is it good?”

I will say “Not at all it sucks, try the Angus Rib Eye instead it’s our most expensive item”

Then while they were trying to order i would pull out my cell phone and hold up the phone that they should wait while i finish my personal call.

This would go something like this “Hey what’s up? No i am not busy just waiting on some people here at the hotels. No i doubt, i can make the 21:00 movie they are campers. Yeah i know, etc.”  Then while hear the other phone they completely baffled by my behavior i would finish taking the order.

I will intentionally omit asking a relevant question only so when i am sitting at the computer entering the order so i can call back to the guest room and asking; “Sir, you the one who order Angus right?, sorry man i forget to ask your name. Make it quick Sir, how did you want your steak cooked?”

Then i would excuse myself tell my senior i was going out for a cigarette and if they need anything they will just have to wait until i am done. Finally when received they call for assisting to clear up the dishes i would say thanks, today is my last day so i did not give great service like it was before…I just treated you the way i have always been treated by you, so feel free to go ahead and leave my usual 10% services because you got an 10% effort.

Enjoy the rest of your stay.

Published in: on January 29, 2012 at 11:55 am  Leave a Comment  

26 things for my 26 years


 You learn something every day if you pay attention.

1. I’ve learned-
that no matter how much I care, some people just don’t care back.

2. I’ve learned-
that it takes years to build up trust, and only seconds to destroy it.

3. I’ve learned-
that no matter how good a friend is, they’re going to hurt you every once in a while and you must forgive them for that.

4. I’ve learned-
that it’s not what you have in your life but who you have in your life that counts.

5. I’ve learned-
that you should never ruin an apology with an excuse.

6. I’ve learned-
that you shouldn’t compare yourself to the best others can do.

7. I’ve learned-
that you can do something in an instant that will give you heartache for life.

8. I’ve learned-
that it’s taking me a long time to become the person I want to be.

9. I’ve learned-
that you should always leave loved ones with loving words. It may be the last time you see them.

10. I’ve learned-
that we are responsible for what we do, no matter how we feel.

11. I’ve learned-
that either you control your attitude or it controls you.

12. I’ve learned-
that the hottest love has the coldest end.

13. I’ve learned-
that money is a lousy way of keeping score.

14. I’ve learned-
that my best friend and I can do anything or nothing and have the best time.

15. I’ve learned-
that sometimes the people you expect to kick you when you’re down will be the ones to help you get back up.

16. I’ve learned-
that sometimes when I’m angry I have the right to be angry, but that doesn’t give me the right to be cruel.

17. I’ve learned-
that true friendship continues to grow, even over the longest distance. Same goes for true love.

18. I’ve learned-
that just because someone doesn’t love you the way you want them to doesn’t mean they don’t love you with all they have.

19. I’ve learned-
that maturity has more to do with what types of experiences you’ve had and what you’ve learned from them and less to do with how many birthdays you’ve celebrated.

20. I’ve learned-
that your family won’t always be there for you. It may seem funny, but people you aren’t related to can take care of you and love you and teach you to trust people again. Families aren’t biological.

21. I’ve learned-
that it isn’t always enough to be forgiven by others. Sometimes you are to learn to forgive yourself.

22. I’ve learned-
that no matter how bad your heart is broken the world doesn’t stop for your grief.

23. I’ve learned-
that just because two people argue, it doesn’t mean they don’t love each other. And just because they don’t argue, it doesn’t mean they do.

24. I’ve learned-
that two people can look at the exact same thing and see something totally different.

25. I’ve learned-
that the people you care about most in life are taken from you too soon.

26. I’ve learned-
that people will forget what you said, and people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel.

~~~

 

Published in: on January 26, 2012 at 1:08 am  Comments (2)  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.